
"Nggak usah histeris! Sebaiknya sekarang kamu mandi terus dandan yang cantik biar Agam nggak cari yang lain!" saran Ary pada Eno.
Tanpa banyak bicara, Eno pun langsung berlari ke kamar mandi.
"Mas Agam! Bisa minta tolong beli test pack?" kata Ary kala tinggal berdua bersama Agam.
"Bisa!" jawab Agam tegas.
Agam langsung berdiri meninggalkan Ary di kamarnya.
Tak lama kemudian, Eno selesai mandi dan mulai memoleskan bedak ke wajahnya.
"Mas Agam mana, Ar?" tanya Eno sambil menyisir rambutnya.
"Aku suruh ke apotik beli test pack, aku kehabisan stok!" jawab Ary enteng.
Eno membulatkan matanya mendengar kata test pack.
"Test pack buat apa? Aku hanya merasa lemas aja, itu yang buat aku malas melakukan apapun!" sanggah Eno.
Ary berjalan mendekati Eno yang sedang menghadap pada cermin di depannya. Ary memegang pundak Eno pada kedua sisi, sisi kanan dan kiri.
"Kamu sudah menikah, jadi wajar jika kamu hamil. Dugaanku sementara itu. Eno yang aku kenal selama ini adalah seorang wanita yang tidak bisa lepas dari make up. Tiba-tiba tidak mau menyentuh make up, jangankan memakai make up menyisir rambut saja malas. Itu merupakan salah satu tanda orang mengidam." Ary menjelaskan ciri-ciri hamil.
"Semoga saja aku hamil beneran, biar mama dan papa senang hatinya." ucap Eno sambil mengikat rambutnya seperti ekor kuda.
Tak lama setelah Eno selesai berdandan, Agam datang membawa sekantung plastik berisi test pack. Agam membeli beberapa test pack dengan harga yang berbeda. Agam menyerahkan semuanya pada Ary.
Ary menerimanya dan memilih satu test pack yang bisa digunakan kapan saja.
"No, kamu kencing dulu sana! Jangan lupa ditampung di wadah ini!" perintah Ary sambil menyerahkan cawan stainless pada Eno.
Eno mengambil wadah itu kemudian masuk ke kamar mandi. Perasaan Agam seperti diaduk, antara rasa bahagia dan cemas menanti kabar kehamilan Eno.
__ADS_1
Agam berharap Eno benar-benar hamil, tapi di satu sisi yang lain dia merasa cemas, tidak bisa mendampingi Eno selama kehamilannya nanti. Mengingat tupoksi yang harus dijalankannya.
Ceklek...
Eno membuka pintu kamar mandi sambil membawa wadah yang berisi air seninya. Sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, Ary sudah mendatanginya.
Ary langsung mencelupkan test pack ke dalam wadah berisi air seni Eno, tak lama kemudian diangkatnya test pack itu. Setelah itu, Ary membuang air seni Eno ke dalam kloset dan mencuci wadah stainless itu hingga bersih.
"Kita lihat apa hasilnya, semoga positif!" ucap Ary sambil mengangkat test pack.
Ary melihat ada dua garis merah di test pack tadi. Ary langsung tersenyum lebar begitu melihat hasil yang tertera pada test pack yang dipegangnya.
"Malah senyum-senyum kek orang gila!" celetuk Eno kesal ketika Ary hanya senyum-senyum sendiri nggak jelas.
"Selamat mas Agam! Usahanya membuat anak berhasil! Nggak sia-sia bikin temanku gempor!" ucap Ary sambil mengulurkan tangannya, menyalami Agam.
Agam terkejut mendengar kabar bahagia yang disampaikan oleh Ary. Begitu Agam selesai bersalaman dengan Ary, Agam langsung mendekati Eno. Agam memeluk istrinya kemudian mencium puncak kepalanya berulangkali, bahkan wajah Eno pun tak luput dari bibirnya.
"Sayang, kita mau punya baby!" teriak Eno histeris saking bahagianya.
***
Berita kehamilan Eno disambut bahagia oleh kedua belah pihak keluarga. Tidak hanya itu saja, Fani dan semua karyawan Eno termasuk pengasuh Fani pun turut bahagia.
Selama kehamilannya Eno sangat malas dan manja. Saking malasnya, wajah yang biasa berpoles make up kini tanpa polos tanpa lipstik maupun bedak. Jangankan untuk bersolek, mandi saja Eno enggan. Untungnya selama kehamilan Eno, Agam tidak pernah lagi bertugas ke lapangan yang jauh dari tempat tinggalnya. Agam bisa setiap hari memandikan Eno dan mendadani Eno Agat lebih sedap dipandang.
Eno akan bersemangat menyambut hari jika mendapatkan suntikan jarum tumpul, jika tidak mendapatkan suntikan itu Eno akan lemas dan akhirnya malas beranjak dari tempat tidur. Setiap pagi selalu morning sickness, tapi itu hanya pada trisemester pertama saja. Pada trisemester kedua dan ketiga morning sickness hilang dengan sendirinya.
"Mas, pengen nasi goreng seafood! Tapi mas Agam yang masakin," ucap Eno manja sambil mengelus dada bidang suaminya.
Agam saat ini sedang istirahat selepas olah raga sore, duduk di bawah pohon mangga belakang rumah. Agam rajin olah raga berat, seperti saat ini dia baru saja lari mengelilingi desa tempat tinggal mereka. Sehingga wajar saja jika tubuhnya atletis dan kuat.
"Mau sekarang, hmm?" tanya Agam sambil mengelap keringat di lehernya dengan handuk kecil yang tersampir di pundaknya.
__ADS_1
"Bukan! Dua tahun lagi." jawab Eno kesal dengan bibir maju satu senti.
Melihat bibir istrinya yang maju, Agam langsung menyambar bibir itu sedikit melu matnya. Eno yang terkejut feflek memukul dada bidang Agam.
"Mas ihh! Bau!" ucap Eno mencebik begitu Agam melepaskan pagutannya.
"Hahaha..." Agam tertawa sambil meninggalkan Eno yang kesal karena habis dikerjain.
Agam masuk dalam rumah untuk mencuci tangannya sebelum menyiapkan bahan yang akan dimasaknya. Agam pun segera memasak nasi goreng seafood pesanan istrinya. Agam yang sudah mahir memasak sangat cekatan membuat nasi goreng seafood. Sehingga tidak butuh waktu lama, nasi goreng seafood spesial sudah tersusun rapi di atas meja.
"En, nasi gorengmu mau dimakan nanti apa sekarang?" tanya Agam dari gawang pintu dapur yang menghubungkan dengan halaman belakang rumah.
"Bawa sini aja, Mas!" jawab Eno masih duduk manis di bawah pohon mangga.
Agam tidak heran jika Eno memintanya membawa keluar nasi goreng tersebut. Eno yang manja selama beberapa bulan terakhir membuat Agam siap sedia melayani bumi yang mager (malas gerak). Di usia kehamilannya yang ketujuh bulan, badan Eno banyak mengalami kenaikan berat badan karena Eno mager.
"Ini pesanannya tuan Putri!" ucap Agam sambil menyerahkan sepiring nasi goreng seafood kepada Eno.
"Hmm, wanginya! Pasti enak banget ini, seperti biasanya." kata Eno sambil mengulurkan tangan untuk mengambil nasi yang diserahkan Agam.
"Pasti dong! Siapa dulu? Chef Agam!" jawab Agam jumawa.
"Iyain aja, biar senang hatinya!" ucap Eno sambil tersenyum mengejek.
"Nggak gitu juga kali! Sudahlah! Aku mau mandi badan sudah lengket," kata Agam sambil meninggalkan Eno sendirian di bawah pohon mangga.
Fani sekarang lebih sering bersama pengasuhnya dan para karyawan toko. Sejak Eno hamil, Fani kurang terurus karena Eno lebih banyak tidur dari pada keluar kamar. Sehingga Fani mau tidak mau bermain bersama pengasuhnya.
****
Maaf baru bisa up 🙏🙏🙏
Setiap hari rewang sama melayat. Sebenarnya pengen banget up, tapi apa daya kesibukan RL menyita semua waktu.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan gift 🙏🙏🙏
Terima gajeeeeeee 🤗🤗🤗