MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Wejangan Ibu Mertua


__ADS_3

Eno terbangun saat Agam membuka pintu lemari. Agam yang masih mengantuk tidak sengaja menghempaskan pintu lemari dengan kekuatan penuh, sehingga menimbulkan suara gaduh.


Eno melihat jam dinding yang tergantung, ternyata jam empat Subuh. Wajar! Biasanya Agam memang bangun sebelum adzan Subuh berkumandang.


"Mas?!" ucap Eno sambil memandangi Agam yang bertelanjang dada.


"Maaf! Karena berisik kamu jadi terbangun ya?" ucap Agam sambil memakai kaos singletnya.


"Nggak apa-apa kok, lagian sudah waktunya bangun juga!" jawab Eno sambil berdiri.


Eno melakukan peregangan sebentar sebelum akhirnya berjalan menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamar itu.


Agam langsung keluar kamar begitu selesai berpakaian. Agam mengenakan sarung dan baju kokonya untuk ke masjid, menunaikan ibadah shalat Subuh berjamaah.


Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar, Eno keluar dari kamar hendak membantu mertuanya memasak.


Sesampainya di dapur, bu Warni belum ada. Eno mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk dimasak, Eno mencari sendiri di dapur berukuran kecil itu. Eno mulai mencuci beras kemudian menanaknya. Sambil menunggu nasi matang, Eno meracik bumbu untuk sayur. Dia juga mengeluarkan sayuran dan ikan dari kulkas.


Bu Warni keluar kamar karena mendengar kegaduhan di dapur. Bagaimana tidak gaduh, Eno menjatuhkan beberapa panci dalam petualangannya di dapur berukuran kecil itu.


"Mau masak apa tha Nduk?" tanya bu Warni mendekati menantunya.


Eno terkejut tiba-tiba mendengar suara ibu mertuanya tepat di sebelahnya. Saking kagetnya, Eno menjatuhkan pisau yang dipegangnya.


"Kaget?" tanya bu Warni kemudian setelah melihat Eno menjatuhkan pisau yang dipegangnya.


"I-iya, Bu! Tadi sendirian kok tiba-tiba ada suara." jawab Eno sambil mengambil pisau yang terjatuh tadi.


"Nggak usah capek-capek masak! Rendang kemarin masih ada, dipanasi aja. Telur sisa salad Solo juga banyak. Rendangnya dipanasi, terus telurnya disambal balado saja." ucap bu di panjang dan lebar.

__ADS_1


"Si Fani lauknya apa, Bu?" tanya Eno, dia heran masih ada balita di rumah itu kenapa tidak dibuatkan sayur sendiri.


"Masak sayur bening aja! Fani nanti makan pakai telur rebus sisa kemarin sama sayur bening, sudah mau dia!" jawab Warni menanggapi pertanyaan Eno.


"Rendangnya tidak pedas, Fani juga bisa memakannya. Kamu tidak perlu masak banyak lagi," imbuhnya.


Eno hanya menganggukkan kepalanya saja, tidak berani membantah. Kemudian Eno melanjutkan mengupas wortel dan mengirisnya. Eno yang awalnya ingin membuat omelet isi wortel dan brokoli, berubah menu menjadi sayur bening wortel dan brokoli.


Keluarga Agam yang sederhana seperti rakyat biasa pada umumnya. Jika selepas acara pesta memiliki menu sisa, menu itu dibagikan pada tetangga dan teman dekatnya. Dan, jika masih ada sisa lagi, dimakan sendiri.


Eno selesai memasak saat Agam pulang dari masjid. Agam hari ini lebih lama pulang dari masjid, tadi bapak-bapak di kampung itu menahan Agam pulang.


"Masak apa? Sepertinya enak, jadi lapar nih!' ucap Agam ketika mendapati aneka makanan di atas meja makan.


"Enaklah, itu 'kan menu pesta kemarin!" jawab Eno dengan semangat.


"Mas Agam yang ajari Eno buat manfaatin makanan sisa. Masak lupa?!" cibir Eno.


"Itu telur sisa salad Solo, dijadikan telur balado. Ibu yang suruh Eno memasaknya. Seorang istri itu harus pandai menyiasati keuangan. Selagi masih bisa dimakan ya dinikmati bersama. Jangan main buang makanan seenaknya saja! Nanti kalau kenikmatan itu sudah diambil lagi oleh pemiliknya, kita hanya bisa menyesali," bu Warni memberi nasehat pada anak lelaki dan menantunya.


Bu Warni baru saja dari kamarnya setelah mandi.


"Ayo kita sarapan!" ajak Eno pada suami dan mertuanya.


Mereka sarapan hanya bertiga, Fani masih tertidur pulas. Balita yang usianya belum genap dua tahun itu kelelahan mengikuti acara pernikahan orang tuanya.


Setelah sarapan, Eno mengumpulkan pakaian kotor miliknya dan suaminya. Karena di rumah Agam tidak ada asisten rumah tangga, Eno yang mengerjakan semuanya dengan dibantu Agam.


Waktu sudah menunjukkan tengah hari, Eno baru selesai dengan kegiatannya mengurus rumah. Keringat bercucuran di leher dan badannya. Baru kali ini melakukan pekerjaan rumah. Selama ini selalu asisten rumah tangganya yang melakukan semuanya.

__ADS_1


Sebagai seorang istri dan menantu, Eno sadar apa yang menjadi tugasnya. Walaupun begitu Agam tidak menutup mata. Agam sebisa mungkin meringankan beban Eno, dia membantu membilas cucian serta membantu menyapu dalam rumah. Sedangkan Eno yang mencuci dan menjemur pakaian, diselingi mengurus Fani. Eno juga yang mengepel lantai dan menyapu halaman rumah itu.


"Capek?" tanya Agam sambil menyerahkan segelas es teh pada istri barunya.


"Hehehe!" Eno hanya menjawab dengan cengengesan seperti biasanya.


Eno tidak mungkin mengadu jika dirinya lelah, pasti mertuanya akan tersinggung.


"Segitu aja capek! Itu 'kan memang tugas perempuan setiap hari. Kamu tidak usah khawatir, Gam!" sahut bu Warni.


Saat ini mereka sedang duduk di meja makan. Eno sengaja duduk di sana untuk ngadem, angin dari belakang dan samping masuk dengan leluasa di ruangan itu.


Rumah orang tua Agam yang berada di perkampungan, masih banyak ditumbuhi pohon rindang di kanan kirinya. Jika siang hari Agam suka duduk di ruang makan atau di ruang tamu, ruangan itu strategis untuk peredaran udara dan angin. Sehingga tidak perlu keluar rumah jika ingin suasana yang adem.


Di rumah itu tidak terdapat AC, rumah di perkampungan yang ada Angin Cepoi-cepoi bukan AC elektronik.


"Iya, Bu! Eno tahu kok," jawab Eno dengan senyum dipaksakan.


"Jadi istri itu harus pinter semuanya! Pinter ngambil hati suami, pinter ngurus anak, pinter ngurus rumah, dan yang paling penting ngurus duit belanja. Kamu harus bisa mengelola keuangan! Apalagi suami kamu itu hanya seorang prajurit dengan gaji tidak seberapa. Kalau yang tidak penting dan mendesak jangan dibeli, beli itu yang sekiranya perlu dan darurat!" ceramah bu Warni panjang lebar.


Agam yang mendengar ceramah ibunya jadi merasa tidak enak pada istri barunya itu. Agam menggenggam tangan Eno, kemudian meremas lembut tangan Eno untuk menyalurkan kekuatan dan ketenangan.


"Ibu ngomongnya begitu? Eno baru selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah, Eno juga masih baru di sini. Masak ibu sudah bersikap begitu sama menantu ibu. Ibu lho yang memilihnya, bukan Agam," ucap Agam tak kalah panjangnya.


"Ibu cuma menasehati, mumpung masih baru jadi harus dikasih tau biar ngerti. Sekarang nggak sendiri lagi, jadi semuanya harus dipikirkan dengan matang." jawab bu Warni membela diri.


"Mas, aku nggak apa-apa kok! Ibu benar, aku berasa ada yang ingetin. Terima kasih, Bu!" Eno menyela percakapan antara ibu dan anaknya.


"Lihat, Gam! Istrimu saja tidak apa-apa ibu kasih wejangan. Kenapa kamu yang sewot?!" kata bu Warni kesal.

__ADS_1


__ADS_2