
Eno yang mendengar suara berisik merasa tergannggu, akhirnya dia mulai meregangkan otot-otot tubuhnya dan bangun. Eno tertidur selama dua jam karena kehabisan tenaga saat melahirkan, bahkan dia tidak bernaf su untuk makan.
"Mass..." panggil Eno, netranya mencari keberadaan suaminya.
Agam yang mendengar namanya dipanggil langsung mendatangi ranjang yang ditempati Eno.
"Iya, En?!" kata Agam begitu sudah di sisi ranjang.
"Bantu aku duduk! Kenapa nggak bangunin aku sih, pas Ibu datang?!" cerca Eno kesal karena tidak dibangunkan saat mertuanya datang.
"Kamu harus banyak istirahat dan kami pun tak ingin mengganggu tidurmu. Mereka ke sini hanya mau melihat cucunya, bukan kita!'' jawab Agam sambil mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas, kemudian menyerahkannya pada Eno.
Agam sudah hafal betul kebiasaan Eno setiap bangun tidur. Eno selalu mencari air putih begitu terbangun dari tidurnya.
"Minum dulu, pelan-pelan aja!" titah Agam.
Sedangkan kedua nenek yang baru mendapatkan cucu itu masih berebut ingin menggendong bayi yang masih terlelap di dalam boxnya.
"Saya dulu! Dia cucu pertama saya!" ucap Marini sambil menghalangi Warni mendekati box bayi.
"Saya dulu! Dimana-mana kalau keluarga laki-laki itu harus dihormati dan didulukan." sahut ibu Agam.
"Eh, mana ada seperti itu! Keluarga perempuan lah yang selalu didulukan kebutuhannya. Anak kami sudah mengandung dan melahirkan cucu pertama kami, jadi saya yang berhak menggendong bayi ini duluan." ucap mama Eno tak kalah sengitnya.
Agam dan papa Eno yang melihat pertengkaran itupun berinisiatif untuk melerai. Tanpa kedua nenek itu sadari, papa Eno mengangkat Richard dari box bayi. Kemudian membawanya pada Eno.
"Kasihan cucu Eyang buat rebutan, bagus gendong sama mama aja ya!" kata pak Mundarman sambil menyerahkan bayi mungil itu pada Eno.
Eno pun mendekap anaknya dan mulai belajar memberi ASI. Richard pun sepertinya sangat menyukai ASI Mamanya, bayi yang baru berusia beberapa jam itu menghisap ASI dengan lahapnya.
Kedua nenek itu masih asik berebut menggendong cucu yang saat ini sedang menyedot air penghidupannya.
__ADS_1
"Mama sama Ibu apa nggak capek adu otot dari tadi. Kami aja yang dengar capek!" celetuk Eno sambil mengusap kepala baby Richard.
Seketika kedua nenek itu mencari sumber suara yang mengejeknya. Mereka akhirnya memilih duduk di sofa yang ada di kamar itu.
***
Eno dirawat tiga hari saja di rumah sakit. Eno dan baby Richard sudah sehat sehingga mereka sudah diijinkan pulang ke rumah.
"Kalian pulang ke rumah Ibu saja, biar ada yang bantu ngurus bayi. Kalian pasti tidak tahu bagaimana mengurus bayi yang benar!" kata Bu Warni.
Saat ini Agam dan Eno sedang berkemas untuk meninggalkan rumah sakit. Kedua orang tua pun datang untuk menjemput cucu mereka.
"Ke rumah mama saja! Mama nggak punya kerjaan jadi bisa dua puluh empat jam membantu mengurus baby Richard!" Mama Eno juga tidak mau kalah.
Agam dan Eno saling pandang berbicara dengan bahasa isyarat.
"Nggak ada kerjaan bagaimana? Suami kamu nggak kamu urus kok bisa-bisanya bilang nggak ada kerjaan!" kata Bu Warni mencibir.
Melihat kedua orang tuanya yang saling berebut, mau tidak mau Agam harus tegas mengambil keputusan.
"Maaf Ma, Ibu! Anak Agam masih merah, baru berusia tiga hari. Belum bisa dibawa perjalanan jauh. Jadi dia akan kami bawa pulang ke rumah kami. Jika kalian berkenan mengunjungi kami, kami akan sangat senang sekali. Tapi jika ingin mengajak kami untuk pindah di salah satu rumah kalian, terus terang kami tidak bisa. Mengingat usia anak kami, pasti sangat rawan penyakit ataupun terkilir karena salah pegang." jelas Agam panjang lebar agar tidak menyinggung perasaan kedua ibunya.
Akhirnya kedua nenek itu diam, tidak lagi meminta tinggal bersama mereka. Bukan karena tidak menginginkan anak cucunya tinggal bersama mereka, tapi menunggu baby Richard sedikit lebih besar sehingga bisa diajak perjalanan jauh.
***
Saat ini usia baby Richard tiga puluh lima hari atau biasa disebut selapan. Nanti malam akan diadakan acara aqiqah serta tasyakuran. Agam mengadakan pesta kecil-kecilan yang dihadiri oleh teman-temannya dan juga keluarga terdekat.
Acara berlangsung meriah dan hidmat walaupun sederhana. Acara digelar pada siang hingga sore hari mengingat tamu undangan yang hadir sebagian besar jauh dari tempat tinggalnya.
Malam harinya setelah acara, kedua orang tua Eno dan Bu Warni sedang berkumpul di ruang keluarga bersama Agam. Eno sedang menidurkan baby Richard di kamarnya.
__ADS_1
"Gam, besok antar Ibu pulang. Sekalian bawa anak istrimu, ajak mereka menginap satu Minggu!" titah Bu Warni.
Kedua orang tua Eno hanya menggelengkan kepala saja. Mereka berpikir bu Warni tidak akan meminta lagi anaknya dan Agam tinggal bersamanya.
Melihat Agam yang diam aja, papa Eno pun bersuara.
"Maaf, jeng! Apa tidak sebaiknya kita bertanya dulu pada mereka, mau tidak tinggal di rumah ibu. Jangan memaksa anak untuk tinggal bersama kita, mereka sudah berkeluarga. Kemungkinan tidak nyaman tinggal bersama itu pasti ada." saran papa Eno, dia kasihan melihat anaknya jika harus tinggal bersama mertuanya.
Bu Warni mendengar saran dari besannya. Dia pun langsung mencari Eno di kamarnya, ingin membujuk agar mau tinggal bersamanya.
"Eno mau 'kan tinggal sama Ibu? Ibu kesepian di rumah sendiri. Hanya kalian milik. Mau ya?!" bujuk Bu Warni sambil memegang lengan Eno.
Eno terkejut dengan tindakan mertuanya. Eno tidak mendengar perbincangan mereka tadi, Eno kelelahan jadi ikut terlelap saat menidurkan baby Richard. Dia terbangun karena lengannya disentuh ibu mertuanya.
Agam mengikuti ibunya ke kamarnya, takut menganggu istrinya.
"Ibu, lain kali kami akan mengunjungi Ibu. Maaf jika akhir-akhir ini kami tidak mengunjungi Ibu. Semua itu karena kehadiran baby Richard yang tidak mungkin kami melakukan perjalanan jauh saat usianya masih sangat muda." Agam mencoba memberi pengertian pada ibunya.
"Ibu bisa tinggal di sini bersama kami kalau ibu merasa kesepian di kampung halaman!" sahut Eno, mulai memahami arah pembicaraan ibu mertuanya tadi.
"Iya, ibu tinggal di sini saja. Di sini ramai, jadi Ibu tidak kesepian lagi," Agam membenarkan ucapan Eno.
"Ibu sudah di sini satu Minggu! Ibu bosan nggak ada kerjaan, cuma makan tidur aja!" bantah Bu Warni.
Agam dan Eno saling pandang karena tidak tahu alasan apalagi yang akan diutarakan agar Bu Warni mengerti keadaan mereka.
"Ibu, kalau Eno dan anak-anak tinggal bersama Ibu nanti siapa yang akan mengurus Agam di sini. Bukan hanya Agam saja yang mau diurus tapi toko juga." bujuk Agam lagi.
Tinggal beberapa BAB lagi End ya, maaf jika ceritanya flat kek sepatukuπ
Boleh minta like, komen dan vote/gift tak ππ
__ADS_1
Boleh ya, ya, ya???
Terima gajeeeeeee πππ