MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Keinginan Agam


__ADS_3

Fani tampak bahagia, dia berlari ke sana kemari. Bebas berlari kemana dia mau, walaupun sering terjatuh tidak menjadikan dirinya menyerah. Fani termasuk hiperaktif, di usianya yang belum genap dua tahun, Fani bergerak lincah tanpa mengenal lelah.


"Sudah sore, kita pulang yuk!" ajak Eno, dia melihat anak sambungnya tampak kelelahan.


Selain alasan anak sudah lelah, badannya pun tak kalah penat. Di hari pertamanya sebagai menantu, dia sudah seperti babu. Mengerjakan semuanya, padahal sebelum menikah dia tidak pernah melakukan itu.


"Ayuk! Lagian kasihan Fani, nanti badannya gatal-gatal kalau tidak mandi lagi," jawab Agam.


Agam berjalan mendekati Fani, kemudian menggendong anak kecil itu. Awalnya Fani menolak digendong, anak itu masih ingin berlari bebas. Wajah Fani memerah karena terus memberontak ingin turun dari gendongan.


"Fani, kita naik motor lagi kek tadi. Mau?'' bujuk Eno.


Eno berjalan di samping Agam sambil terus membujuk anak sambungnya.


Setelah sampai di tempat di mana Agam meletakkan motornya, Fani baru diam. Apalagi dia didirikan di belakang ayahnya. Fani langsung melingkarkan tangan mungilnya ke leher Agam. Eno langsung memegang badan Fani dengan kedua tangannya, begitu Fani melingkarkan tangannya ke leher sang ayah.


Sepanjang perjalanan wajah Eno tampak berseri. Dia merasa bahagia karena bisa keluar rumah untuk mengurangi stres-nya. Walaupun badan terasa remuk redam karena lelah, tak menyurutkan kebahagiaannya. Seperti itulah Eno, dia akan melupakan semua yang membuatnya kesal jika menjauh dari sumber kekesalannya.


Dengan berjalan-jalan sebentar sudah bisa mengembalikan keceriaannya. Eno bukan tipe pendendam, jadi mudah untuk akrab dengannya.


***


Malam harinya, Fani rewel karena kelelahan bermain. Hanya neneknya yang bisa menenangkan bocah kecil itu. Jadi malam ini, Fani tidur dengan neneknya.


Di kamar Agam dan Eno, tampak Eno sedang mengoleskan minyak ke kakinya. Tadi siang tidak begitu merasakan sakit, begitu selesai makan malam tadi kaki Eno terasa pegal semua.


"Sini aku pijit, biar cepet enakan. Kamu tidur saja, nggak usah mikirin macam-macam!" ucap Agam sambil mengambil minyak kayu putih yang dipegang Eno.

__ADS_1


Eno langsung mengambil posisi wuenak (PW). Agam pun mulai mengoleskan minyak dan mengurut kaki Eno secara perlahan.


"En, besok kita pulang ke Kulonprogo aja ya! Aku kasihan lihat kamu kek gini, nggak biasa kerja berat tiba-tiba ngurus rumah semuanya sendiri," ucap Agam sambil mengurut kaki Eno.


"Jangan, mas! Nggak enak sama ibu, nanti dikira aku menantu nggak sopan. Nggak mau bantu ibu ngurus rumah ma anak. Aku ikhlas kok, ngerjain semua ini. 'Kan ada jenengan yang bantu aku!" jawab Eno dengan mata terpejam.


"Kamu aku nikahi bukan untuk jadi babu, tapi jadi ratu di rumahku!" kata Agam kesal.


"Terima kasih banyak, mas. Tapi kita juga harus jaga perasaan ibu, jadi menantu yang belum dekat dengan mertua itu nggak enak lho, mas! Nggak enaknya, pasti terjadi salah paham walaupun kita jelaskan. Kadang cara berpikir kita berbeda dengan orang tua kita. Jadi sesuai rencana awal mas Agam saja, kapan kita akan ke Kulonprogo aku ikut," Eno menjelaskan alasannya tidak mau terburu-buru pulang ke Kulonprogo.


"Baiklah kalau memang begitu mau kamu. Sekarang kita istirahat, biar besok ada tenaga buat beberes lagi!" ajak Agam sambil diselingi canda.


"Aamiin. Semangat beberes rumah!" ucap Eno langsung membenarkan posisi tidurnya.


Agam pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Eno. Tak ada pelukan apalagi ciuman, keduanya tidur saling memunggungi. Sebenarnya Agam ingin memeluk Eno, tapi Agam tahu jika Eno belum bisa menerima dirinya sepenuhnya. Niat memeluk Eno pun urung dilakukan.


"Ya Tuhan, semoga aku bisa bertahan di sisi mas Agam. Semoga ibu mertuaku wanita yang baik, sehingga berkenan membimbingku menjadi istri yang baik. Aamiin." do'a Eno dalam hati.


***


Seperti biasa, Eno dan Agam terbangun sebelum adzan Subuh berkumandang. Agam langsung bersiap menuju masjid, sedang Eno bersiap berperang dengan peralatan dapur.


Masakan Eno telah dihidangkan di meja saat Agam selesai melakukan olahraga pagi. Setelah pulang dari masjid, Agam langsung melakukan olahraga di halaman rumahnya. Sebelumnya Agam berlari mengelilingi perkampungan itu.


"Mandi dulu atau sarapan dulu, mas?" tanya Eno saat Agam ke dapur untuk mengambil segelas air putih dari kulkas.


"Aku mandi dulu ya, lengket!" jawab Agam sambil meletakkan gelas bekasnya ke wastafel.

__ADS_1


"Oke! Aku juga mau memandikan Fani," ucap Eno sambil menggandeng tangan Fani menuju kamar mandi.


Eno memandikan dan mendandani anak sambungnya dengan telaten. Eno yang memang pada dasarnya sangat menyukai anak-anak, tidak susah mengambil hati Fani. Fani langsung lengket dengannya sejak pertama kali menjadi ibunya.


"Nah, sudah wangi! Sudah cantik! Sekarang kita mamam!' ucap Eno sambil menurunkan Fani dari pangkuannya.


Eno dan Fani bergandengan tangan meninggalkan kamar Fani, menuju ruang makan yang bersatu dengan ruang keluarga.


Saat Eno sampai di ruangan itu, sang suami dan mertua sudah duduk manis mengelilingi meja makan.


Eno mendudukkan Fani di sampingnya. Eno mulai menyendokkan nasi untuk suaminya, kemudian mengisinya dengan sayur dan lauk pauk. Sarapan khas orang kampung, nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauk.


Eno yang tidak terbiasa sarapan nasi lengkap pun hanya mengambil sedikit nasi. Bukan karena diet atau jaim, terlebih pada perut yang tidak bisa diisi banyak. Eno biasa sarapan dengan makanan yang kering untuk sarapan.


Eno menyuapi anaknya dengan telaten, sambil sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri. Fani yang merasa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, menjadi semakin lengket saja pada Eno.


"Bu, Agam mau ngomong sebentar sama ibu. Bisa?" tanya Agam setelah mereka selesai sarapan.


"Mau ngomong apa?" jawab ibu sambil memegang gelas berisi air putih, hendak minum.


"Nanti sore, Agam mau membawa anak dan istri Agam ke Kulonprogo. Biar bisa istirahat cukup di sana." ucap Agam hati-hati agar tidak menyinggung perasaan ibunya.


"Kenapa terburu-buru? Bukannya cuti kamu masih ada seminggu lagi?" cerca bu Warni.


"Iya, Bu. Betul masih seminggu lagi! Tapi Agam harus memindahkan beberapa barang Agam ke rumah yang akan kami tempati nanti," Agam menjelaskan alasannya dengan pelan agar sang ibu bisa memberi ijin.


"Ibu masih kangen kamu, Le!" ucap bu Warni sedih.

__ADS_1


"Ibu masih pengen bersama kalian, bercengkrama setiap hari. Ibu hanya tidak ingin kesepian di rumah. Kalau kamu mau pulang ke Kulonprogo, pulang sendiri. Anak istrimu tetap disini bersama ibu!" lanjut bu Warni dengan suara sedikit keras.


"Eno juga harus mengurus tokonya, bu! Menantu ibu kali ini bukan pengangguran yang tidak punya kegiatan. Eno seorang pengusaha! Bagaimana dia mengurus usahanya kalau ibu menahannya di sini?" jawab Agam menahan emosinya.


__ADS_2