MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Pernikahan


__ADS_3

Setelah melewati beberapa tahapan tata cara pernikahan seorang prajurit, akhirnya Eno dan Agam menikah. Tata cara pernikahan yang harus dilewati oleh Agam dan Eno sangat banyak dan melelahkan. Tidak hanya melengkapi dokumen, tapi juga melakukan serangkaian tes.


Pernikahan mereka juga tidak seperti pernikahan pada umumnya, karena mereka juga harus melakukan prosesi upacara. Upacara itu sering disebut pedang pora.


Pernikahan Eno sangat megah dan mewah.Eno adalah satu-satunya anak perempuan seorang pensiunan perwira TNI, dan menikahi seorang prajurit TNI. Jadi wajar jika pernikahan mewah digelar di sebuah hotel berbintang lima milik keluarga Alex.


"Cantiknya anak mama!" ucap Marini ketika memasuki kamar Eno, di sebuah hotel tempat dilaksanakannya pesta pernikahan.


Eno yang mendengar pujian dari ibunya cuma mengulas senyum tipis. Dalam hatinya masih berharap yang bersanding dengannya adalah Dzaky. Sehingga Eno tidak terlalu bersemangat menyambut pernikahannya.


"Apalagi kalau senyumnya nggak lepas!" sahut sepupu Eno yang berada di kamar itu.


"Nah, betul itu! Selalu tersenyum sepanjang acara nanti, biar kelihatan cantiknya." ucap perias yang disewa untuk mendandani Eno.


"Acara sebentar lagi dimulai, kalau sudah selesai segera turun!" teriak kakak laki-laki Eno, dari istri pertama ayahnya, sambil membuka pintu kamar Eno.


Saat Eno akan keluar dari kamar, Ary datang bersama Brandon. Ary tidak bisa mengikuti acara hingga selesai karena masih ada urusan dengan perusahaan yang baru saja dibangun.


"Wuih, cantiknya!" puji Ary sambil berjalan mendekati Eno.


Ary memeluk Eno kemudian mencium kedua pipi Eno.


"Cantik karena make up, wajar dipuji!" jawab Eno dengan sinis.


"Kok gitu sih? Aku ngomong apa adanya lho?" jawab Ary sambil memegang kedua tangan Eno.


Ary berjalan mendampingi Eno hingga ke tempat acara pernikahan dilaksanakan.


"No, sorry ya! Aku gak bisa nemenin kamu di hari bahagiamu ini. Aku ada janji sama warga yang mau melepaskan lahannya untuk didirikan pabrik. Tidak ada keinginan sama sekali untuk meninggalkan acara pernikahan ini, tapi usaha yang baru kami bangun juga membutuhkan perhatian." jelas Ary.


Ary benar-benar merasa tidak enak, karena tidak bisa mendampingi Eno di hari bahagianya. Sebenarnya Ary ingin tinggal, tapi Brandon dan pengacaranya meminta Ary untuk hadir di depan warga yang rela menjual tanahnya pada Ary.

__ADS_1


"Santai aja! Yang penting kamu ada saat aku butuh bantuan. Kalau saat ini aku tidak butuh bantuan apa pun. Jadi urus usaha kamu, nanti kalau sudah sukses jangan lupa sama aku!" jawab Eno.


Ary pun mengulas senyum manisnya mendengar jawaban Eno.


"Iya, aku ingat! Ternyata matre mu belum sembuh juga, ya?!" sahut Ary.


"Hehehe!" Eno hanya menjawab dengan kekehan saja.


"Aku pamit dulu, pamitin juga ke suamimu. Maaf aku nggak bisa nemenin kamu hingga acara selesai." ucap Ary sambil memegang tangan Eno.


Setelah itu Eno dan Ary kembali berpelukan dan cium pipi kanan dan kiri.


"Terima kasih sudah menyempatkan datang ke sini, saat perusahaan juga membutuhkan kami." jawab Eno dengan mata berkaca-kaca.


Ary menyadari kesedihan yang ditutupi oleh Eno. Ary tahu yang Eno rasakan saat ini. Eno terpaksa menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Walaupun Eno dan Agam saling mengenal sebelumnya, tapi hati Eno sudah terpaut pada orang lain. Sehingga Eno sulit untuk menerima kehadiran Agam.


Ary kembali memeluk Eno, kemudian melepaskan pelukannya. Brandon pun menyalami Eno untuk pamitan juga. Setelah itu Ary dan Brandon meninggalkan acara pernikahan Eno.


Acara pernikahan Eno berjalan lancar sesuai rencana. Sepanjang acara, Eno selalu memperlihatkan senyum palsu. Berbeda dengan Eno, Agam hanya sesekali saja Ia tersenyum. Agam selalu memasang wajah datar jika di hadapan orang banyak.


Saat ini Eno dan Agam sudah masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan untuk mereka.


"Aku atau kamu yang duluan mandi?" tanya Agam sambil membuka koper miliknya, dengan posisi berjongkok.


"Aku duluan ya, mas!" jawab Eno, memasang wajah melas ingin dikasihani.


"Ya udah, kamu duluan!" jawab Agam sambil berdiri dari posisi semula.


Eno langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi tanpa membawa baju ganti. Sedangkan Agam, memilih duduk di ranjang. Setelah menunggu beberapa saat, Agam pun merebahkan tubuhnya yang lelah di kasur.


Eno melakukan ritual mandi yang lama, sehingga Agam yang menunggu giliran untuk mandi pun ketiduran.

__ADS_1


"Gawat! Kenapa bisa lupa bawa baju ganti si?" Eno merutuki kecerobohannya.


Eno memang ceroboh, sangat ceroboh bahkan! Eno kebingungan mencari cara agar tidak malu masuk ke dalam kamar hanya menggunakan sehelai handuk saja. Eno pun mengintip kamar dengan melongokkan kepalanya. Terlihat Agam sudah berbaring di atas ranjang. Kemudian dengan berjingkat, Eno perlahan mendekati koper miliknya.


Eno langsung mengambil pakaiannya dalam koper dengan terburu-buru. Saat Eno mengambil baju ganti, mata Agam masih terpejam.


"Aman!" ucap batin Eno.


Eno langsung berlari ke kamar mandi begitu mendapatkan baju gantinya. Tanpa Eno sadari, lantai di depan pintu kamar mandi ada tetesan air yang berasal dari tubuhnya tadi. Eno terpeleset, pantatnya pun mendarat dengan sempurna di lantai. Dengan posisi terlentang dan handuk terbuka, sehingga tubuhnya terlihat dengan jelas.


Agam yang mendengar suara sesuatu terjatuh langsung membuka matanya dan mencari sumber suara. Betapa kagetnya Agam, ketika mendapati Eno terkapar di lantai dengan posisi handuk terbuka. Agam hanya bisa menelan salivanya yang tersangkut di tenggorokan.


Eno langsung berusaha bangun sambil menutupi kembali badannya dengan handuk. Eno sangat malu sekali karena kejadian barusan. Eno memasuki kamar mandi tanpa menoleh lagi, saking malunya.


Agam masih pada posisi semula, rebahan di atas ranjang. Agam memikirkan tontonan yang baru saja dilihatnya. Badan putih mulus tanpa noda sedikitpun. Jangan lupakan dua tonjolan yang membukit, membayangkan saja sudah membuat tongkat saktinya langsung berdiri sempurna.


"Arghhh!" seru Agam sambil mengusap wajahnya dengan kasar untuk membuang pikiran mesumnya.


Agam bangkit dari tidurnya, dia kemudian mengambil baju gantinya dan berjalan ke arah kamar mandi. Agam mengetuk pintu kamar mandi.


"En, gantian dong! Badanku sudah lengket semua. Kamu kenapa lama sekali di dalam?" ucap Agam sambil terus menggedor pintu kamar mandi.


"Iya, bentar! Masih pakai baju. Nggak sabaran amat sih jadi orang, amat aja sabar!" jawab Eno dengan gerutuan panjang.


"Kamu ngapain dari tadi nggak kelar? Aku sudah kegerahan ini," ucap Agam sambil bersandar di dinding, mau bersandar di pintu takut terjatuh saat pintu terbuka.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Tampak Eno menggunakan piyama tidurnya, baju lengan panjang dan celana panjang.


"Sudah sana mandi! Nggak sabaran banget jadi orang!" jawab Eno.


Agam mengacuhkan gerutuan Eno, saat ini Agam hanya membutuhkan air dingin untuk menidurkan tongkat sakti yang terbangun karena tontonan gratis tadi.

__ADS_1


__ADS_2