
"Yang, kok nggak mau bangun sih?!" Alex masih berusaha membangunkan Ary.
"Yang, sudah sakit banget nih!" rengek Alex.
Alex terus mengendus dan mencium leher Ary, bahkan sedikit menyesapnya. Tapi Ary tidak kunjung bangun, malah juniornya semakin mengeras.
Ary sebenarnya merasa geli, tapi dia sangat capek dan gugup malam ini. Jadi dia tetap bertahan pura-pura tidur.
"Yang, bangun dong! Sakit keras ini." bisik Alex di telinga Ary, tidak berhenti disitu saja, Alex pun mulai menggigit kecil telinga Ary.
Begitu mendengar kata sakit keras Ary pun menggerakkan badannya. Dia melepaskan pelukannya pada Kevin kemudian berbalik badan menghadap Alex.
"Siapa yang sakit keras?" tanya Ary pelan.
"Adikku sakit keras, Yang! Obati dong!" pinta Alex sambil mengambil tangan Ary dan meletakkannya tepat di juniornya yang berdiri tegak bak menara.
"Hah??!!" Ary bengong mendengar kata-kata Alex, Ary terkejut begitu tangannya berada di antara pangkal paha suaminya. Ary reflek langsung menarik tangannya.
"Sudah tahu kan? Ini yang namanya sakit keras, keras banget malah!" kata Alex sambil tersenyum.
Alex menatap Ary sambil menganggukkan kepalanya tanda minta diiyakan oleh Ary. Rasanya sudah tidak tertahankan lagi, ingin segera masuk ke dalam lubang kenikmatan.
"Aku capek, Al! Lagian ada Kevin di sini, aku tidak ingin dia melihat kita saat melakukan itu. Jadi besok saja ya, aku capek banget ! Ngantuk lagi." kata Ary beralasan, kemudian kembali menarik selimut dan melanjutkan mimpinya yang tadi sempat terganggu.
Ary sebenarnya belum siap melakukan itu, dia mau menikah dengan Alex, karena dia tidak mau menumpuk dosa dengan berlama-lama pacaran. Sejak kejadian di Sendang saat bersama Kevin, Ary selalu berhati-hati, karena Alex sepertinya sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Sekian lama tidak pernah melakukan, membuat jiwa lelaki Alex meronta ingin dipuaskan saat sudah bersama Ary. Seperti ingin menerkam saja bawaannya. Seperti itulah lelaki, jika sudah biasa mendapatkan tiba-tiba harus berpuasa, akan sulit menahan diri jika dihadapannya yang menggugah se. lera.
"Yahhhh! Malah tidur!" teriak Alex kesal memukul udara.
"Tidurlah sudah malam, sebaiknya kamu tidur di sebelah Kevin! Sekali-kali membuat anak bahagia itu wajib." usir Ary secara halus.
Akhirnya Alex pun bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Dia harus menidurkan juniornya yang terbangun karena melihat Ary pulas sambil memeluk Kevin. Malam pertama Alex lalui dengan bersolo karir di kamar mandi. Dalam benaknya sudah memimpikan malam panjang bersama istri tercinta.
Alex pun berusaha memaklumi kondisi Ary saat ini. Ary pasti kelelahan sehingga dia memilih tidur dari pada melayani suaminya. Alex belum tahu jika Ary masih perawan, sehingga Ary memilih menundanya.
__ADS_1
Alex tidur setelah juniornya tertidur lebih dulu. Alex tidur di sebelah Kevin, sehingga Kevin berada di tengah diapit oleh kedua orang tuanya. Alex memeluk keduanya sebelum memejamkan matanya menuju alam mimpi.
***
Alex terbangun saat anak dan istrinya sudah mandi dan bersiap untuk sarapan. Jam enam lewat sepuluh menit, Alex terbangun karena mendengar suara Ary yang membantu Kevin bersiap untuk berangkat sekolah.
"Sudah ganteng anak mommy, sekarang kita sarapan. Tapi sebelumnya kita bangunin daddy dulu ya!" kata Ary dari kamar sebelah.
Kevin sebenarnya sudah disediakan kamar sendiri di sebelah kamar Ary. Sehingga semua baju dan keperluannya diletakkan di kamar sebelah.
Ibu dan anak itu keluar dari kamar sang anak menuju kamar orang tua. Saat membuka pintu, mereka membuka dengan perlahan agar Alex tidak mendengar suara pintu ataupun langkah kaki. Mereka hendak mengagetkan sang ayah agar terbangun dari tidurnya.
"Door!" teriak Ary sambil memukul kaki Alex.
"Kebakaran! Kebakaran! Dad, ada kebakaran!" teriak Kevin sambil menarik selimut yang membungkus badan Alex.
Kevin dan Ary berteriak bersamaan sehingga menimbulkan suara bising dalam kamar itu. Mau tidak mau, Alex harus bangun dari mimpi indahnya. Padahal dia tadi masih ingin tidur lagi.
"Masih pagi berisik banget sih!" gerutu Alex sambil meregangkan tubuhnya.
Alex melirik sekilas ke arah dinding yang terdapat jam gambar karakter Winnie the Pooh tertempel pada di dinding itu. Jam menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Pantas saja anaknya sudah ribut, karena jam masuk kelas Kevin jam tujuh tepat.
"Iyaa, daddy bangun!" teriak Alex sambil menyingkap selimut yang menutupi setengah badannya.
Alex berdiri kemudian berjalan menuju kamar mandi.
"Berangkat sekolah sama daddy! Jadi tunggu daddy selesai mandi dulu!" titah Alex melongok keluar dari pintu kamar mandi.
"Siap, Bos!" jawab Kevin dengan telapak tangan kanan menempel di pelipis seperti gerakan hormat.
Kevin meninggalkan kamar orang tuanya, sedangkan Ary membereskan tempat tidur. Selesai membereskan tempat tidur dan membuka jendela serta gordennya, Ary menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Selesai mengeluarkan baju Alex dari dalam koper, Alex sudah keluar dari kamar mandi.
"Mandi bebek?" tanya Ary, heran karena Alex mandi tidak butuh waktu lama, sepuluh menit.
__ADS_1
"Mandi di bawah shower tidak butuh waktu lama, tinggal berdiri di bawahnya sambil memakai sampo dan sabun. Sudah selesai!" jawab Alex menjelaskan kenapa dia cepat mandinya.
"Yakin bersih?" tanya Ary dengan senyum meledek.
"Yakinlah! Seperti yakinnya aku menikahi kamu." kata Alex sambil memeluk Ary dari belakang.
"Pagi-pagi sudah nge gombal!" jawab Ary sambil berusaha melepaskan tautan tangan Alex, yang melingkar di perutnya.
"Aku berkata apa adanya! Nggak bisa nggombal aku!" Alex membela diri.
"Udah cepetan, keburu terlambat anak orang!" kata Ary mengakhiri perdebatan antara mereka.
Ary meninggalkan Alex sendirian di kamarnya untuk memakai pakaiannya. Ary langsung menuju meja makan dimana anak sambungnya sudah menunggu.
"Kevin mau sarapan nasi atau roti?" tanya Ary begitu berada di samping Kevin.
"Roti aja, mom! Pakai selai kacang ya!" jawab Kevin nyengir.
Kevin sudah terbiasa sarapan dengan roti bakar dioles selai kacang, dia kurang menyukai nasi sejak dulu.
"Ok, roti bakar selai kacang siap dihidangkan!" kata Ary sambil mengoles roti bakar dengan selai kacang, kemudian meletakkannya di piring Kevin.
Kevin langsung mencomot roti tersebut lalu berdiri, karena dilihatnya sang ayah sudah berjalan menuju ke arahnya.
"Kevin! Kalau makan itu sambil duduk, nak! Kasihan lambung kamu harus bekerja keras, mengolah makanan yang masuk ke dalam perut kamu. Kalau makan dan minum itu duduk, jangan sambil berdiri apalagi sambil berjalan. Tidak bagus untuk kesehatan kalau tetap ngeyel!" teriak Ary begitu melihat Kevin yang makan sambil berjalan.
"Kenapa pagi-pagi sudah teriak, Ary?" tanya Kemal dari gawang pintu kamarnya, karena kamar Kemal berdekatan dengan ruang makan.
"Itu si Kevin, yah! Makan sambil berjalan!" jawab Ary dengan wajah ditekuk.
"Maaf yah, Kevin sudah terbiasa begitu. Makan sambil berjalan bila kesiangan berangkat ke sekolah." kata Alex menengahi keributan di ruang makan.
Sedangkan Kevin sudah kabur masuk ke dalam mobil ayahnya, sambutan menikmati roti bakarnya.
"Jangan dibiasakan seperti itu, kasihan dia masih kecil! Harus dibiasakan hidup sehat sejak kecil." kata Kemal menasehati Alex.
__ADS_1
"Dan kamu Ary, lain kali nasehati anak pelan-pelan. Jangan teriak-teriak seperti itu, tidak enak didengar orang lain. Kalau di dalam rumah masih hanya kita saja yang mendengar, kalau di luar banyak yang dengar kan malu." imbuh Kemal, ganti menasehati Ary.