
"Ibu tidak ingin kamu menikah dengan janda. Walaupun kamu duda beranak satu, tapi kamu masih muda masih bisa mendapatkan perawan!" kata bu Warni saat mereka sudah berada di asrama.
"Ary juga masih perawan, Bu!" jawab Agam.
"Dari mana kamu tahu dia masih perawan? Memangnya sudah kamu coba?! Belum kan?!" tanya bu Warni.
"Ibu kok gak percaya, mana ada janda masih perawan! Jangan bohongi ibu, kalau cuma mau dapat restu dari ibu. Ibu tetap tidak mau punya menantu janda. Titik!" lanjut bu Warni.
"Kenapa Bu?" tanya Agam.
"Karena ibu dan mertuamu sudah menyiapkan calon istri buat kamu." jawab bu Warni.
"Apa?!" Agam kaget mendengar alasan ibunya tidak merestuinya jika melamar Ary.
"Ibu tidak bisa begitu dong, seenaknya sendiri! Agam sudah dewasa, ibu! Agam sudah bisa menentukan yang terbaik untuk diri sendiri dan keluarga." kata Agam sambil mengguyar rambutnya ke belakang.
Emosi Agam sudah sampai pada puncaknya. Selama ini dia selalu menuruti keinginan ibunya. Agam ingin sekali saja menentukan pilihannya, tanpa ikut campur ibunya.
"Ibu harap kamu bisa menjadi anak yang berbakti. Jangan kurang ajar kamu sama ibumu! Hanya kamu yang bisa mewujudkan keinginan ibu. Kamu satu-satunya anak ibu, tidak mungkin ibu meminta orang lain untuk mewujudkan keinginan ibu." bu Warni beranjak dari duduknya.
Bu Warni menggendong Fani untuk ditidurkan, karena sudah waktunya tidur siang. Setiap marah bu Warni selalu meninggalkan Agam sendirian. Karena dia tidak bisa bertahan jika Agam membujuknya terus menerus.
Hanya dengan meninggalkan Agam sendirian, bu Warni akan tetap bisa mempertahankan keinginannya. Sebenarnya bu Warni sangat menyayangi anaknya, hanya saja dia terlalu takut kehilangan Agam. Bu Warni takut jika nanti Agam menikah dengan orang yang bukan pilihannya, Agam akan lebih memilih istrinya dibandingkan dengan ibunya.
Bu Warni tidak ingin kehilangan harta satu-satunya, yaitu Agam. Dengan memilihkan Agam istri, bu Warni berharap Agam dan istrinya tidak akan menelantarkannya. Bu Warni takut, Agam akan dikuasai istrinya sehingga melupakan ibunya. Membiarkan ibunya menua seorang diri.
Sebenarnya ketakutan bu Warni, bukanlah hal yang tabu lagi. Semua orang tua pasti takut jika tua nanti anaknya pergi meninggalkannya seorang diri tanpa teman. Ketakutan yang wajar yang biasa dirasakan oleh para orang tua.
***
Agam mulai memikirkan kata-kata ibunya. Baru saja dia akan menemukan tambatan hati pilihannya, sang ibu sudah memilihkan jodoh untuknya. Sebenarnya Agam ingin sekali menentang ibunya, tapi dia tidak ingin dicap sebagai anak tidak berbakti.
__ADS_1
Agam sore itu duduk-duduk dibawah pohon mangga yang berada di halaman kodim. Agam bersama Rival dan Joseph saling berbagi cerita.
"Gimana, Ndan? Sudah ditembak belum, jangan sampai terlambat membidik?!" tanya Joseph pada Agam.
"Apanya yang hendak dibidik? Senjata saja tidak ada." jawab Agam lemas.
"Jangan menyerah dulu, belum juga berperang sudah hilang semangat!'' kata Rival.
"Nyokap sudah pasang lampu merah!" jawab Agam sambil tersenyum kecut.
"Lampu merah masih bisa diterobos kalau jalanan sepi! Maju terooosss!" kata Joseph menyemangati Agam.
"Kalau menerobos lampu merah, yang ada melanggar aturan. Konsekuensinya yang ribet! Soalnya PANGDAM JAYA yang memasang lampu merah." jawab Agam.
"Buahahaha...!!!" Rival dan Joseph menertawakan Agam yang terlalu patuh pada ibunya.
"Benar-benar anak yang berbakti pada orang tua!" kata Rival mengacungkan kedua jempolnya sambil tertawa.
"Eits! Jangan salah biarpun durhaka begini, saya tetap sayang sama keluarga! Karena keluarga itu no satu." Rival membela diri.
"Kalian berdua ini, memang anak-anak kebanggaan keluarga. Nggak seperti aku yang selalu melawan orang tua. Karena aku tidak suka disetir orang, yang menjalani aku jadi yang menentukan pilihannya juga aku sendiri." kata Joseph.
"Iya sih, yang menjalani hidup ini diri sendiri. Tapi tidak ada salahnya menyenangkan hati orang tua, karena itu merupakan salah satu bentuk balas budi. Karena kita tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan ibu. Walaupun kita menggendong ibu keliling dunia, hingga kaki kita berdarah dan ber. nanah sekalipun." jawab Agam sambil menjelaskan alasannya selalu menuruti keinginan ibunya.
"Bukannya tidak mau membalas kebaikan mama, hanya saja aku tak suka dipaksa. Apalagi sampai nikah dengan wanita pilihan mama, big no! Menikah itu sekali seumur hidup, jadi harus nyari yang benar-benar pas atau tidak sama sekali." Joseph mengemukakan pendapatnya.
"Tahukah kalian pepatah witing trisna jalaran saka kulina? Atau paling tidak pernah mendengarnya." tanya Agam sesaat setelah mereka terdiam.
(Tumbuhnya cinta karena terbiasa)
"Pernah dengar sih, tapi apa hubungannya?" tanya Rival.
__ADS_1
"Hubungannya, tidak ada salahnya mengikuti keinginan orang tua. Awalnya kita terpaksa, tapi karena sudah terbiasa maka dengan sendirinya kita akan menyukainya." jawab Agam.
"Bagaimana kalau sudah sekian lama tapi tetap tidak bisa suka juga?" tanya Joseph.
"Sekarang saya tanya kalian, sewaktu pendidikan kalian pernah tidak menggerutu? Karena tidur yang kurang, latihan yang berat di atau apalah yang kalian rasakan saat pendidikan dan pelatihan!" tanya Agam.
Mereka bertiga terdiam sesaat mengingat saat mereka menjalani pendidikan awal mula masuk TNI.
"Iya, pernah! Berat banget awalnya , tapi karena sudah terbiasa jadi ringan saja." jawab Rival antusias.
"Begitu juga dengan pasangan hidup! Kita tidak pernah tahu siapa yang membuat kita jatuh cinta dan menjadikannya sebagai pilihan terakhir untuk berlabuh. Seseorang yang sudah lama kita suka dan kita selalu berdo'a untuknya, bisa jadi hanya akan menjadi cerita dan kenangan saja."
"Sementara itu orang asing atau orang yang tidak kita harapkan kehadirannya, malah datang dan berhasil memenangkan hati kita. Meluluhkan hati kita dan kita menyerahkan cinta padanya. Orang itulah yang akhirnya menjadi orang terpenting dalam hidup kita dan menjadi belahan jiwa kita. Semua itu karena kita sudah terbiasa dengan kehadirannya. Oleh karena itu, cinta tumbuh karena terbiasa itu benar adanya." jelas Agam panjang lebar.
"Itu semua kalau kita menjalani hidup dengan ikhlas, semuanya dijalani karena semata-mata untuk ibadah. Itu kalau menurut aku ya!" imbuh Agam.
"Cocok banget kamu jadi pak Ustadz!" jawab Rival.
"Kamu cocoknya jadi penasehat pernikahan!" celetuk Joseph.
"Aseeem!" jawab Agam sambil meninju lengan Joseph.
" Habisnya, nasehat itu pantesnya buat kamu sendiri. Kalau kami mau memilih sendiri pasangan kami. Tapi nasehat kamu boleh juga, akan aku pikirkan nanti." jawab Joseph.
"Tapi bener lho, yang dibilang Agam. Orang jaman dulu kan, nikah karena perjodohan tapi mereka bahagia. Sedangkan jaman sekarang ini, banyak yang milih sendiri pasangannya akhirnya cerai." kata Rival membenarkan kata-kata Agam tadi.
Maaf ya kalau garing, lagi kurang sehat.
Maaf juga karena telat up, karena jaringan ilang timbul melulu.
Terima kasih banyak ya buat yang sudah vote dan gift, tanpa kalian saya bukanlah apa-apa 🤗🙏🙏
__ADS_1