
Akhirnya keputusan kapan Alex dan Ary menikah diputuskan, setelah melalui perdebatan dan pertukaran pendapat. Dua Minggu lagi mereka akan menikah. Pernikahan dilakukan secara sederhana, mengingat keduanya sama-sama sudah pernah menikah. Pernikahan dilaksanakan di kediaman orang tua Ary.
Setelah selesai membahas acara pernikahan, Alex mengajak Ary pergi ke butik langganan keluarganya. Alex ingin Ary memilih sendiri baju yang akan dikenakannya nanti. Selain fitting baju, mereka juga berencana akan membeli cincin pernikahan. Serta mencari kebutuhan lainnya yang akan digunakan saat acara akad nikah nanti.
"Kita kemana dulu, ke butik atau tempat lain?" tanya Alex ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju pusat kota.
"Kemana enaknya aja, kalau bisa cari yang searah biar gampang gak putar balik." jawab Ary menyarankan Alex.
Ary orangnya smart, nggak mau ribet tapi efisien. Ary lebih suka sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, jika bisa dikerjakan saat itu juga kenapa tidak. Jika dia belanja, dia selalu mencari toko/outlet yang berdekatan. Baginya harga tak masalah, yang penting harga dan barang sesuai. Begitulah cara berpikir Ary, yang membuat Alex semakin tidak bisa meninggalkannya.
"Kita ke butik dulu, baru ke jewelry shop. Setelahnya kita cari yang lain, gimana?" usul Alex.
"Nggak masalah sih, yang penting searah. Jadi kita tidak perlu mengelilingi kota seharian." jawab Ary menatap Alex.
"Butik sama jewelry shop deketan kok, lagian itu yang paling penting. Lainnya bisa menyusul." jawab Alex.
Akhirnya mereka sampai butik langganan keluarganya. Alex dan Ary diarahkan karyawan disana ke ruang sang pemilik butik. Disana mereka berdua mulai memilih bahan dan model yang akan dipakai. Sang pemilik sekaligus desainer mengarahkan sesuai keinginan Ary dan Alex.
Setelah satu jam lamanya mereka berada di butik tersebut, akhirnya mereka keluar dari sana. Ary menetapkan pilihan pada baju gamis berwarna putih tulang, dengan model bawahan berbentuk A.
Mereka memasuki sebuah bangunan ruko berlantai tiga. Mereka disambut dengan ramah oleh karyawan disana, karena pemiliknya adalah teman dekat Alex. Alex sering bermain ke sana untuk mengunjungi temannya.
Alex masuk ke bagian dalam, dia menuju tempat dimana pemilik tinggal, lantai dua. Karena Alex sudah terbiasa datang, maka dia bebas keluar masuk di ruko itu.
"Hai bro! Apa kabar? Lama Lo gak ke sini." sapa Gerry begitu melihat Alex dan Ary di gawang pintu.
"Kabar gue baik! Lo gimana? Makin rame ya usahanya!" jawab Alex sambil mendekati temannya sewaktu kuliah di Singapura.
Mereka berpelukan dan bersalaman, melepaskan kerinduan karena sejak Alex membuka cabang mall di Purworejo mereka belum pernah bertemu.
"Siapa bro?" tanya Gerry sambil memainkan matanya.
__ADS_1
"Nyobes!" jawab Alex sekenanya.
Ary yang mendengar jawaban Alex hanya bisa menatap Alex dengan mata melotot. Tapi Alex yang mendapat tatapan mata Ary, malah tersenyum lebar.
"Kapan kalian kawin?" tanya Gerry.
"Nikah, bro! Nikah bukan kawin. Emang wedus kawin." teriak Alex sambil mengarahkan tinjunya pada Gerry.
(Wedus \= kambing)
"Iya nikah, kawinnya sudah sering soalnya!" celetuk Gerry tertawa sambil meninggalkan Alex dan Ary, untuk mengambil minuman untuk mereka.
"Aseeem!!!" teriak Alex.
Ary sedari tadi hanya diam menjadi penonton dan pendengar yang baik. Menyimak percakapan mereka berdua, sepertinya mereka sangat dekat. Seperti kedekatan Alex dengan Anton.
"Maaf ya, Ar! Temenku kalau ngomong asal saja, jangan diambil hati. Tapi dia baik kok sebenarnya, sama kek Anton." kata Alex meminta maaf atas ucapan Gerry tadi.
Gerry hanya tahu Alex adalah pewaris mall besar yang ada di pulau Jawa, pernikahan yang gagal dan memiliki anak satu. Selain itu Gerry hanya sedikit mengetahui.
"Nggak apa-apa, sudah biasa sih bercanda seperti itu." jawab Ary dengan senyum manisnya.
"Bercanda sama cowok?" tanya Alex.
"Ada yang cowok, ada juga cewek. Pokoknya sudah sering dengar aja." jawab Ary dengan asal.
Hampir saja dia mengungkapkan persahabatannya dengan mantan trio ember besutan Rend's Comp. Karena sampai saat ini, Ary belum pernah menceritakan tentang almarhum suaminya dan kawan-kawannya. Ary merasa belum saatnya. Rencananya setelah mendapat restu dari ibu Alex, Ary baru akan memberitahukan semuanya.
"Di rumah sakit, karyawannya banyak yang bocor juga ya?" tanya Alex penasaran.
"Dimana-mana sama saja, jika orang dewasa berkumpul pasti bahasannya ya itu." jawab Ary santai.
__ADS_1
Ary bisa menguasai keadaan kembali. Dia bersikap biasa saja seperti semula.
"Kalian kesini mau ngundang gue ke pernikahan kalian, iya kan?" tebak Gerry. Gerry tiba-tiba muncul membawa tiga minuman kemasan.
"Kami mau beli cincin pernikahan, gue yakin disini pasti terjamin kualitasnya. Karena outlet Lo yang di mall gue selalu ramai pengunjung." jawab Alex menjelaskan maksud kedatangannya.
"Kalian langsung kenapa nggak langsung milih aja di etalase? Atau gue suruh karyawan gue buat bawa kesini aja, iya?" Gerry menawarkan pilihan pada Alex dan Ary.
"Suruh karyawan Lo bawa kesini saja, kami males berdesakan di depan. Tadi aja kami lihat penuh sesak begitu." pinta Alex karena males berdesakan dengan pembeli lainnya.
"Begitulah setiap hari, itulah yang bikin gue minta kerjasama sama Lo. Karyawan gue sampai kuwalahan melayani pembeli." kata Gerry jumawa.
Gerry melakukan penggilan, meminta beberapa karyawannya mengantarkan beberapa model cincin ke kediamannya. Tak lama kemudian datanglah dua karyawannya membawa dua nampan besar berisi bermacam-macam model cincin.
"Nah, silahkan pilih! Mana tahu ada yang cocok dengan kalian." kata Gerry begitu karyawannya datang.
Alex dan Ary mulai memilih cincin yang cocok dan pas dengan ukuran mereka. Setelah beberapa saat, Ary menemukan cincin yang disukainya dan Alex menyetujuinya. Alex dan Ary berpamitan setelah selesai melakukan transaksi.
Mereka kemudian mencari kebutuhan lainnya yang akan digunakan untuk acara pernikahan. Selesai mencari semua kebutuhan mereka memutuskan mencari restoran untuk mengisi perut mereka yang mulai keroncongan minta diisi.
"Sudah dapat semua kan? Seneng?" tanya Alex begitu mereka duduk di pojokan restoran.
Mereka sengaja mencari tempat duduk yang letaknya di pojokan, karena dirasa lebih tenang.
"Alhamdulillah, seneng sih tapi lumayan capek wara-wiri kesana kemari." jawab Ary.
"Kenapa tadi milih cincin yang tadi, bukannya memilih yang aku tunjukkan. Kan sudah dibilang pilih sesuka hatimu, harga tak masalah buatku." tanya Alex, dia heran dengan pilihan Ary.
Cincin polos dengan batu permata satu kecil di tengah. Batu permata berwarna safir. Harganya terlalu murah menurut Alex, tapi bagi Ary yang dicari bukan harganya. Karena Ary lebih suka kesederhanaan.
Maaf seyengkuuuhhh, disini setiap hari mati lampu jadi susah mau buka NT. Maaf ya baru bisa up 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1