MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Jalan-jalan ke Kota


__ADS_3

Acara launching toko milik Eno berjalan lancar, walaupun pembangunan toko itu belum selesai 100 persen. Di hari pertama pembukaan, toko Eno diserbu para petani yang tinggal di sekitar perkampungan itu. Stok pupuknya langsung habis, padahal dia sudah menyediakan beberapa ratus ton pupuk.


Tidak salah ternyata saran Ary untuk membuka toko pertanian di daerah itu. Para petani masih kesulitan untuk mendapatkan pupuk, obat pertanian dan peralatan pertanian. Karena letaknya yang jauh dari kota, membuat para petani hanya mengandalkan pupuk kandang dan obat-obatan yang diracik sendiri untuk mengusir hama.


Sampai sore hari pun toko Eno tetap kedatangan pembeli. Beberapa karyawan Eno yang Eno bawa dari toko lamanya sibuk melayani pembeli.


"Wow! Baru dibuka sudah kehabisan stok. Semoga besok-besok penjualan stabil ya, dan semakin bertambah terus pelanggannya." kata Ary dengan mata berbinar.


"Aamiin. Semoga grafik penjualan menunjukkan kenaikan terus. Jadi gue gak rugi pasang harga murah." jawab Eno sibuk dengan HP-nya.


Eno berusaha menghubungi agen pupuk, untuk memesan pupuk lagi dan beberapa obat-obatan pertanian. Selain itu banyak pembeli menanyakan beberapa obat hama dan buah yang tidak ada di tokonya.


"Gue ke atas dulu, sinyal disini kurang kuat!" pamit Eno. Eno bermaksud menelepon agennya.


Di daerah itu memang harus mencari tempat yang sedikit tinggi, agar dapat sinyal yang kuat. Daerah yang Ary dan Eno tempati dekat dengan pantai dan juga daerahnya berbukit-bukit. Tidaklah heran jika di daerah itu susah sinyal.


Setelah selesai dengan urusan dagangannya, Eno turun dari lantai dua. Toko Eno berlantai dua, lantai satu untuk gudang dan etalase. Sedangkan para karyawan tinggal di lantai dua. Eno sendiri masih tinggal bersama Ary. Sebenarnya Eno juga membuat rumah di belakang toko, hanya saja bangunan itu belum bisa ditempati.


"Ar, besok kita jalan-jalan yuk ke kota! Lihatlah lemari etalase ku masih kurangnya. Kalau barang-barang daganganku datang gak ada tempat lagi." rengek Wulan.


"Kalau perabot rumah gak usah beli, pindahkan aja perabotan yang ada di rumah sewa. Saya kalau tak terpakai." saran Ary.


"Iya iya! Tapi gue ke kota kan mau beli perlengkapan buat toko gue, dodol!" jawab Eno.


"Ya udah, besok pagi kita ke kota. Belanja sekalian cuci mata!" celetuk Ary sambil tertawa.


"Sudah mulai nakal ya sekarang! Dulu aja sebelum dekat sama Brandon dan Rommy, gak pernah bercanda bawaan serius mulu. Alhamdulillah Brandon dan Rommy sudah mengembalikan kebahagiaanmu." kata Eno sambil menengadahkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Ih, lebay amat! Amat aja gak lebay!" kata Ary memutar bola matanya.


"Biarin! Yang penting gue seneng, lihat Lo bisa bercanda lagi seperti sebelum kenal Rendy." jawab Eno.


"Sampai kapan aku harus meratapi kepergiannya? Bukankah lebih baik mengikhlaskan kepergiannya? Mendo'akan dia. Kalau aku terus bersedih, pasti dia disana pun mendapat siksa. Lebih baik sekarang aku nikmati hidupku ini." jawab Ary panjang kali lebih kali tinggi.


***


Keesokan harinya, Ary dan Eno sudah bersiap-siap untuk pergi ke kota. Ary berniat membeli beberapa bunga hias untuk halaman rumahnya. Sedangkan Eno membeli beberapa perlengkapan untuk tokonya.


Ary sangat menyukai mawar, sehingga dia membeli beberapa varian mawar dengan berbagai warna. Ary banyak membeli bunga, hal ini dikarenakan halaman rumahnya masih gersang tanaman hias.


"Gila Lo! Lo mau ziarah ke makam Rendy? " tanya Eno begitu melihat Ary memborong tanaman bunga.


"Ini juga untuk rumahmu nanti, biar nampak asri. Rumah tanpa tanaman hias di halaman, akan nampak tandus dan gersang. Nggak ada cantik-cantiknya! Tak sedap dipandang mata!" jelas Ary.


"Setiap hari mama telpon aku, si Gita juga kadang ikut nimbrung kalau pas mama telpon." jawab Ary.


"Sayang banget ya mama mertuamu, anaknya sudah meninggal pun masih tetap menjalin komunikasi." kata Eno.


"Kata mama, anak mama cuma Abang sama Gita. Jadi gue sudah dianggap anak sendiri bukan anak menantu." jawab Ary.


"Wuih enak banget, pengen deh! Punya mama mertua seperti mama Hotmaida." kata Eno dengan wajah berbinar.


"Tadi pagi juga habis telepon, katanya aku disuruh ke Medan. Mereka sudah kangen aku, tapi mereka masih repot jadinya aku yg disuruh datang." cerita Ary sambil berjalan membawa tanaman ke mobil.


Hari ini mereka memakai mobil Rendy, mobil yang baru dibelinya sebelum menikah. Mobil Pajero sport warna putih. Mobil itu memiliki banyak kenangan, karena kemana Ary dan Rendy pergi memakai mobil itu.

__ADS_1


Saat akan kembali mengambil tanaman yang tertinggal, tidak sengaja Ary menabrak seorang balita yang baru berusia satu tahun. Anak itu masih belajar berjalan, jadi jalannya pun masih belum tegak. Untungnya Ary langsung menangkap anak kecil itu saat tertabrak.


Balita nangis karena digendong Ary, selain itu juga karena kaget sewaktu Ary tabrak tadi. Balita itu menjerit dan meronta-ronta di gendongan Ary.


Mendengar cucunya menangis, seorang ibu paruh baya yang sedang melakukan penawaran, langsung berbalik dan melihat ke arah cucunya. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena dia melihat sang cucu sudah ada yang menjaga, pikirnya. Ibu itu kembali melanjutkan acara tawar menawar.


"Diem dong! Mana mamanya adek?" kata Ary membujuk anak balita dalam gendongannya.


Anak itu lama-lama terdiam, karena Ary terus mengajaknya berbicara dengan lembut. Sesekali tangan Ary mengusap punggung bocah itu.


"Sudah pantes Lo gendong anak! Cocok banget Lo jadi simboknya!" kelakar Eno saat Ary melewatinya begitu saja.


Ary masih sibuk menenangkan balita cantik itu. Balita itu terus menunjuk ke arah ibu setengah baya yang sedang menawar bunga. Karena bunga itu sedang trend saat ini, jadi harganya sangat mahal. Sehingga ibu itu tetap asik menawar bunga, tanpa memperhatikan cucu perempuannya.


"Enak aja simboknya, nanti yang punya anak marah tahu!" jawab Ary.


"Saya nggak apa-apa kok, kalau Ary mau jadi simboknya Fani." suara seorang laki-laki menginterupsi percakapan Ary dan Eno.


Ary dan Eno langsung berbalik ketika mengenali suara laki-laki itu. Begitu juga dengan balita cantik dalam gendongan Ary. Balita itu langsung meronta minta diturunkan dari gendongan Ary.


"Mas Agam?!" teriak Eno dan Ary bersamaan.


Agam hanya mengangguk sambil mengangsurkan tangannya untuk mengambil balita cantik yang digendong Ary.


"Iya, ini putri saya. Namanya Fani, umurnya baru satu tahun lebih satu Minggu." jelas Agam sambil menggendong anaknya.


"Owh, anaknya mas Agam?! Lain kali jaga anak yang bener, mas Agam! Untung saja anaknya gak lari ke jalan! Coba tadi anaknya lari ke jalan raya, pasti sudah..." omel Ary.

__ADS_1


Ibu Agam yang mendengar omelan Ary tersenyum. Dia terharu karena ada wanita yang memperhatikan cucunya. Selama ini wanita yang dekat dengan Agam, kurang peduli pada cucunya. Padahal ibunya Agam sangat menginginkan anaknya menikah lagi, agar ada yang mengurus Agam dan Fani.


__ADS_2