
"Ini terakhir kalinya kami mengenalkan kamu dengan laki-laki! Mau atau tidak kamu harus menerima dia sebagai suami kamu nanti." Marini memberikan ultimatum pada anaknya.
"Ma, Eno sudah punya pacar. Masak Eno harus putus?" Eno merengek agar tidak dijodohkan lagi oleh orang tuanya.
"Pacaran terus! Kamu bukan anak remaja lagi, Eno! Ingat umur!" teriak Marini frustasi.
Anak perempuan satu-satunya selalu saja membangkang. Selalu saja ada alasan untuk melawan orang tuanya. Mungkin karena selama ini dia terlalu dimanja, sehingga tidak mau mendengar nasehat orang tua.
Eno tidak hanya dimanja oleh kedua orang tuanya, ibu tirinya pun juga sangat menyayanginya. Karena Eno satu-satunya anak perempuan pak Mundarman, setelah dua kali menikah.
"Setahun lagi, mama! Setahun lagi kami berencana menikah. Setelah dia menyelesaikan pendidikannya, dia akan melamar Eno." Eno menjelaskan alasannya, kenapa pacarnya belum melamarnya.
"Kalau dia memang serius sama kamu, dia pasti sudah melamar kamu. Apalagi setahun itu bukan waktu yang lama. Kalian bisa tunangan dulu, toh tunangan tidak menganggu kuliah." jawab Marini.
"Dzaky belum punya modal, ma! Tabungannya habis buat pendidikan, dia ambil spesialis lho ma, bukan dokter umum. Dokter spesialis itu biayanya mahal." Eno berusaha memberi pengertian pada ibunya.
"Pokoknya mama nggak mau tahu alasannya apa, yang mama tahu laki-laki yang memberi mawar akan kalah dengan laki-laki yang memberi mahar! Jadi, siapkan hatimu! Siapa pun yang terlebih dahulu melamar kamu, itu yang akan kami terima lamarannya." kata Marini sebelum meninggalkan kamar Eno.
Marini membanting pintu kamar Eno dengan keras, membuat Eno langsung berlari mengejar ibunya. Karena ibunya tidak akan marah jika tidak kelewatan, berarti dia sudah menyakiti perasaan ibunya.
"Ma, kasih waktu seminggu buat bawa Dzaky ke sini melamar Eno." bujuk Eno.
Sebenarnya Eno ragu, apakah Dzaky mau datang melamarnya. Melihat gelagat Dzaky selama ini, Eno sangat yakin jika Dzaky lebih memilih mundur. Berulang kali Eno membahas pernikahan, tapi tanggapan Dzaky selalu sama.
"Study belum kelar kok nikah! Nggak lah, ribet!"
Rasanya Eno sudah putus asa mengajak Dzaky cepat menikah, tapi dia tidak mau memaksa Dzaky. Walau bagaimanapun juga, Eno yakin jika Dzaky akan menepati janjinya. Oleh karena itu, Eno masih setia menunggu kedatangan Dzaky untuk melamarnya.
"Ingat hanya seminggu, jika lebih dari itu," mama Eno menjeda kata-katanya sejenak untuk meredakan emosinya.
"kamu harus menikah dengan laki-laki pilihan kami!" lanjut Marini.
__ADS_1
"Iya, ma." ucap Eno lirih, dia tidak ingin membuat ibunya marah lagi.
Sebelumnya Eno sudah berulangkali kabur ketika akan dikenalkan dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Jadi kali ini orang tua Eno, membuat suatu cara agar anaknya tidak kabur lagi.
Walaupun sudah mengancam Eno, tapi perasaan Marini tetap tidak tenang. Marini belum bisa percaya seratus persen, jika Minggu depan Ary bisa membawa pacarnya datang apalagi melamar.
Marini hanya ingin melihat anak perempuan satu-satunya bahagia. Marini tidak ingin anaknya digantung seperti jemuran. Untuk apa berlama pacaran, jika akhirnya putus. Lebih baik segera menikah jika sudah merasa cocok.
Kadang cara berpikir orang tua berbeda dengan anaknya. Orang tua akan selalu mengkhawatirkan anaknya, tapi anaknya bersikap santai seolah tidak akan terjadi apa-apa. Padahal sebagai manusia, makhluk Tuhan tidak bisa memilih atau pun menentukan apa yang akan terjadi. Manusia hanya bisa berencana dan menjalani atas apa yang sudah menjadi garis hidupnya.
***
Sudah satu minggu berlalu, tapi Dzaky belum juga menampakkan dirinya. Bahkan Dzaky susah dihubungi lagi. Terakhir kali Eno bertemu Dzaky seminggu yang lalu setelah Eno pulang dari rumah orang tuanya.
Di pertemuan itu, Eno meminta Dzaky datang ke rumah orang tuanya untuk melamar.Tapi tanggapan Dzaky masih sama, dia belum ingin menikah, masih ingin mengejar karir.
Eno merasa kecewa dengan sikap Dzaky. Eno sudah berharap banyak pada Dzaky, tapi sepertinya Dzaky tidak serius dengan hubungan mereka. Akhirnya Eno melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk.
***
Marini memiliki janji untuk bertemu dengan sepupunya. Marini dan sepupunya itu ingin menjodohkan menantunya dengan Eno. Sepupu Marini hanya memiliki seorang anak perempuan, bernama Anita. Anita meninggal setahun yang lalu saat melahirkan anak pertamanya. Sehingga menantunya saat ini menyandang status duda beranak satu (duren ansa).
"Menantu kamu itu baik 'kan orangnya?" tanya Marini.
"Kalau tidak baik, aku juga tidak mau menjodohkan dia dengan Eno." jawab Riyana, kakak sepupu Marini.
"Apa pekerjaan dia?" tanya Marini.
"Sama seperti suami kamu, hanya saja dia pangkatnya belum tinggi karena usianya juga baru 31 tahun." jawab Riyana.
"TNI ya? Eno mana mau punya suami TNI." ucap Marini lesu dengan kedua pundak langsung merosot.
__ADS_1
"Tidak semua TNI itu seperti suami kamu! Banyak kok TNI yang setia, buktinya suami kamu juga setia setelah menikah denganmu." kata Riyana, mencoba menghibur.
Riyana tahu bagaimana dulu Marini melewati masa sulitnya bersama suaminya. Walaupun sekarang mereka bahagia, tapi luka yang ditorehkan terlanjur membekas. Sehingga sulit untuk melupakan atau pun menganggap tidak ada.
"Iya, pak Mundarman tidak lagi selingkuh setelah mendapat anak perempuan. Dia semakin sayang pada kami." jawab mama Eno dengan wajah cerahnya.
"Menantuku ini adalah menantu idaman. Dia baik, lemah lembut terhadap orang tua dan keluarganya. Lagian dia itu laki-laki soleh. Orangnya juga nggak neko-neko." kata Riyana mempromosikan menantunya yang jomblo.
"Baiklah kalau begitu! Besok kita pertemukan mereka. Jenengan bawa menantumu dan orang tuanya ke rumah." kata Marini antusias.
Marini sangat bahagia sekali, karena dia akhirnya mendapatkan kandidat calon menantu yang sesuai kriterianya. Ibu mana yang tidak bahagia jika anaknya bersuamikan laki-laki soleh. Marini sudah sering bertemu dengan menantu sepupunya itu, memiliki wajah tampan serta perilaku yang baik.
Setelah pulang dari bertemu dengan sepupunya, Marini menghubungi anaknya. Berbagai cara dia gunakan agar anaknya mau pulang.
"Sebentar saja, nak! Apa kamu juga tetap tidak mau?" kata Marini melalui sambungan telepon.
Marini mengatakan jika suaminya sedang sakit. Sebenarnya Marini tidak bohong, karena usia yang tidak lagi muda, Pak Mundarman mudah sakit. Sehingga itu bisa dijadikan sebagai alasan untuk meminta Eno pulang.
"Iya, ma! Eno akan pulang hari ini juga, jika papa sakit." jawab Eno pasrah.
Eno tidak bisa menolak permintaan ibunya kali ini. Dia harus pulang menemui laki-laki yang menjadi cinta pertamanya, yaitu ayahnya.
Marini yang mendapat jawaban Eno langsung bersorak gembira. Eno tidak melihat bagaimana ibunya mengepalkan tangannya saking bahagianya.
"Mama tunggu, sayang. Hati-hati di jalan, jangan kebut-kebutan di jalan." pesan Marini dengan senyum mengembang .
"Iya, ma! Eno siap-siap dulu, ma!' jawab Eno lesu.
"Oke, sudah ya. Assalamu'alaikum!" kata Marini mengakhiri panggilannya.
"Wa'alaikumusalam." jawab Eno lesu.
__ADS_1