
"Kamu 'kan bisa pulang seminggu sekali! Nggak jauh-jauh amat ini, tiga jam juga sampai!" kekeh Bu Warni.
Agam tidak pernah menyangka jika ibunya begitu keras kepala. Sudah berulangkali diberi pengertian bahwa dia tidak bisa sering pulang ke kampung halamannya, tapi sepertinya sang Ibu tidak kunjung mengerti.
"Ibu, kalau berkunjung sebulan sekali akan kami usahakan. Jika kami tinggal di bersama Ibu di kampung halaman, kami tidak bisa. Walau bagaimanapun juga mas Agam terikat dinas dengan negara, jadi tidak bisa seenaknya bekerja." ucap Eno memberanikan diri membuka suara.
Bu Warni yang mendengar kata-kata Eno menjadi sedikit tersinggung karena salah paham. Dalam pikiran Bu Warni, Agam membantah karena hasutan istrinya, perempuan yang dipilih sendiri untuk menjadi menantu. Dia kecewa dengan anak dan menantunya. Dia berpikir jika anak dan menantunya tidak mau menemani dan mengurus di hari tua.
"Oo... sudah pinter ya sekarang?! Jeng Marini lihatlah anak jenengan, sudah merasa pinter sekarang. Ceramah di depan orang tua! Apa pantes kayak gitu?" ucap bu Warni dengan kekesalan yang menumpuk.
Kedua orang tua Eno terkejut mendengar kata kasar yang terlontar dari mulut si besan. Anaknya sudah berkata lemah lembut, menjelaskan kenapa tidak bisa tinggal bersama Bu Warni. Ternyata disalahartikan oleh besannya itu.
"Bu, bukan masalah pinter atau enggak! Tapi memang itu kenyataan! Agam tidak bisa pulang pergi seenaknya sendiri. Hari Sabtu dan Minggu kadang Agam dan teman-teman harus dilempar ke luar kota untuk membantu negara. Jika ada bencana alam dan kejadian yang tidak terduga, seperti demo dan kerusuhan massal, kami harus siap sedia!" Agam akhirnya mengeluarkan suara keras pada sang Ibu, orang tua satu-satunya yang dimiliki.
Bu Warni yang kesal pun menjadi semakin marah. Dia langsung meninggalkan kamar Eno dan Agam.
Eno yang melihat mertuanya sangat marah menjadi ketakutan. Dia yang baru beberapa hari melahirkan harus dihadapkan pada masalah rumit rumah tangganya. Dia tidak pernah terpikir olehnya, sang mertua akan memaksakan kehendak.
Awal menikah, Eno selalu membayangkan akan adanya pelakor dalam rumah tangganya. Setelah menjalani pernikahan lebih dari setahun, hampir dua tahun, ternyata bukan pelakor yang menjadi masalah dalam biduk rumah tangganya. Sang ibu mertua yang menginginkan mereka tinggal bersama di kampung halaman, menjadi kendala terbesar dalam rumah tangga Eno dan Agam.
Bagaimana Eno tidak kepikiran pelakor, dilihat secara fisik Agam menang dalam segalanya. Dilihat dari sikap dan kepribadian Agam juga bernilai plus. Tidak heran jika banyak cewek yang terpesona padanya. Agam adalah sosok lelaki idaman setiap kaum hawa. Menikahi Agam seperti mendapatkan hadiah terindah dari Tuhan. Sebisa mungkin Eno akan mempertahankan Agam sebagai imamnya.
"Mas, jagain Richard ya! Aku mau susulin Ibu ke kamarnya. Mama sama Papa do'akan Eno bisa memberi pengertian pada Ibu!" pinta Eno pada suami dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Iya, Nak! Kami selalu mendo'akan kamu," jawab mama Eno.
Eno pun melangkahkan kakinya menuju kamar Bu Warni. Eno merasa tidak enak karena telah menyinggung perasaan sang mertua. Padahal tak sedikit pun terpikir olehnya untuk melawan Bu Warni. Kesalahpahaman terlanjur terjadi dia harus segera meluruskan jika tidak ingin dicap sebagai menantu durhaka.
Tok... tok... tok...
Eno mengetuk pintu kamar ibu mertuanya.
Tidak ada jawaban...
Eno memutar kenop pintu, ternyata tidak terkunci. Eno memberanikan diri mendorong pintu setelah memutar kenop. Tampak olehnya Bu Warni duduk di ujung ranjang menghadap ke jendela. Posisi Bu Warni yang membelakangi pintu kamar tidak melihat jika Eno memasuki kamar.
Eno melangkah perlahan mendekati Bu Warni.
Eno duduk di lantai bersimpuh menghadap ke arah Bu Warni. Eno rela merendahkan dirinya dihadapan mertuanya demi kebahagiaan rumah tangga yang hampir dua tahun terbina. Demi rasa sayangnya pada keluarga, Eno akan melakukan apapun untuk keutuhan keluarganya.
Bu Warni diam tidak menanggapi perkataan Eno. Setiap Bu Warni marah, dia akan memilih diam hingga marahnya reda oleh bujukan Agam, si anak semata wayang.
Agam yang was-was dengan istrinya langsung menyusul Eno ke kamar ibunya.
Betapa terkejutnya Agam melihat Eno sedang bersimpuh di kaki ibunya sambil menangis. Agam merasa itu tidak seharusnya dilakukan oleh Eno. Agam takut keadaan Eno akan mempengaruhi baby Richard karena masih ASI eksklusif. Agam mendekati Eno dan mengajaknya berdiri.
"Bangun, sayang! Kamu jangan menyiksa diri seperti ini. Ingat Richard sangat membutuhkanmu. Kamu tidak boleh stress karena akan mempengaruhi ASI dan Richard. Sekarang kamu kembali ke kamar, istirahat!" ucap Agam sambil mengajak Eno berdiri dengan merangkul pinggang Eno.
__ADS_1
"Kamu tidak usah mikirin omongan orang. Biarkan dia berkata pedas, asalkan tidak ada maksud menyakiti perasaannya. Hanya orang yang berpikiran luas yang dapat mengerti keadaan kita saat ini. Kamu harus sabar dan jangan terlalu dipikirkan!" imbuh Agam mengajak Eno keluar dari kamar Bu Warni.
"Tapi, Mas?! Ibu?!" kata Eno ragu-ragu, bertahan di gawang pintu kamar.
Agam tetap mendorong tubuh Eno untuk keluar dari kamar itu.
"Ibu? Kamu nggak akan bisa menghancurkan batu yang keras hanya dengan sekali pukul. Jadi lebih baik kita keluar dari sini, biarkan waktu yang menghancurkan batu itu!" ucap Agam terus mendorong tubuh Eno agar segera keluar.
Bu Warni yang mendengar Agam mengatainya batu, semakin kesal.
Anak sendiri tega mengatai ibunya batu. Benar-benar anak durhaka! batin Bu Warni.
Setelah anak dan menantunya meninggalkan tempat itu, Bu Warni tampak bergerak perlahan dia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang disediakan Eno.
"Hhhh!" Bu Warni gelisah memikirkan apa yang akan dilakukan esok hari agar Agam mau membawa anak istrinya tinggal bersamanya di kampung halaman.
Bu Warni seperti orang amnesia, dia melupakan jika dia yang meminta Agam untuk menjadi seorang tentara. Dia juga yang meminta Agam untuk menikahi Eno. Dia jadi membenci sesuatu yang telah digenggam, padahal dulu dengan penuh pengorbanan untuk dapat menggenggamnya.
Begitulah manusia, seakan tidak pernah puas dengan apa yang dicapainya. Tahukah kamu semakin kamu genggam kuat, maka akan semakin cepat terlepas???
Eno mulai berbaring di sebelah Agam, dengan posisi miring menghadap suaminya. Sedangkan Agam sendiri melingkarkan satu tangannya di atas perut Eno. Satunya lagi dipakainya untuk bantal sang istri.
"Tidurlah! Aku akan berjaga malam ini. Jangan dipikirkan lagi kata-kata Ibu!" ucap Agam, kini tangannya beralih mengusap rambut Eno.
__ADS_1