
Selama perjalanan menuju ke bandara Alex terus berhubungan dengan Benyamin, untuk membahas masalah yang sedang dihadapi. Karena sibuknya mengurus masalah bisnis yang mulai dirintis sejak masih kuliah, Alex menjadi lupa mengabari Ary.
Bahkan sampai masuk dalam pesawat pun, Alex masih sibuk dengan urusannya bersama Benyamin. Hingga dia harus mematikan HP-nya pun, Alex belum juga memberi kabar pada Ary. Ary yang saat ini berada di rumah sakit menunggu bunda terbangun dari komanya, berharap cemas karena tiada kabar dari suaminya.
Ary berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, dimana Widya dirawat. Ary cemas karena sang suami tidak bisa dihubungi. Sudah berulangkali mencoba, dari mengirimkan pesan hingga panggilan suara maupun video, tetap tidak bisa. Selalu operator yang menjawab panggilannya, sedangkan pesannya hanya tanda contreng satu yang terlihat.
Ary kemudian berinisiatif untuk menghubungi Anton, karena hanya dia yang dekat dengan Alex, setahu Ary.
"Halo, Anton! Tadi Alex ngantor nggak?" tanya Ary langsung, begitu terdengar suara orang menjawab panggilannya.
"Alex nggak pernah lagi ngantor di kota ini, kecuali ada keperluan sama papi. Ada apa?" Anton menjawab pertanyaan Ary dengan pertanyaan.
"Tadi dia minta ijin pulang, katanya mau menemui mami. Sampai sekarang kok belum tiba di sini!" kata Ary cemas
"Mungkin dia ke cabang lainnya. Bisa jadi ke Solo, Surabaya atau bisa jadi ke Purworejo. Bisa juga ditahan mami di rumah. Kamu tahu sendiri kan, dia itu anak kesayangan mami?!" jawab Anton menjelaskan.
"Nggak biasanya dia begini lho!" kata Ary cemas.
Bagaimana tidak cemas, suaminya meninggalkan dirinya untuk menemui sang ibu. Dimana ibunya tersebut berencana menikahkan suaminya dengan perempuan lain. Dalam hati kecil Ary berharap, semoga surat undangan itu hanya sebuah prank dari ibu mertuanya.
"Nanti aku coba hubungi dia! Kamu sabar ya, semoga tante cepat sembuh." kata Anton akhirnya, agar Ary lebih tenang.
"Iya, terima kasih!" jawab Ary sebelum mengakhiri panggilannya.
Setelah selesai melakukan panggilan dengan Anton, Ary melihat keadaan bundanya melalui kaca jendela ruangan itu.
Di tempat lain, Anton berulang kali menghubungi teman sekaligus saudara angkatnya. Anton diangkat anak oleh orang tua Alex, saat itu dia baru kelas dua SMA orang tuanya sudah meninggal semua. Karena kedekatannya dengan Alex, akhirnya dia diangkat anak, sebagai ganti kembaran Alex yang meninggal saat baru lahir.
Alex sebenarnya kembar, hanya saja kakaknya meninggal saat baru berusia seminggu. Saudara kembarnya mengalami jantung bocor, sehingga tidak bisa diselamatkan. Melihat betapa kompak dan dekatnya Alex dengan Anton, membuat Kusuma tergerak hatinya untuk mengadopsi Anton. Apalagi saat itu Anton hanya sebatang kara, tanpa orang tua dan sanak saudara.
Setelah berulang kali gagal menghubungi Alex, Anton memutuskan untuk menghubungi mami Jessie. Menurut cerita Ary, mami Jessie pasti tahu dimana keberadaan Alex.
"Mam, Alex di sana nggak?" cerca Anton begitu Jessie mengangkat panggilan darinya.
__ADS_1
"Dia ke Singapura, usahanya terancam ditutup pemerintah setempat. Tadi sebelum berangkat dia kesini, pakai acara marah-marah ke mami. Ada apa?" jawab Jessie kesal, dia mengadukan Alex pada Anton.
"Ada perlu sebentar, mami! Kenapa pergi nggak bilang-bilang, nyusahin aja. Kalau perusahaan disini juga kena masalah gimana coba?!" gerutu Anton ikutan kesal.
"Kenapa kamu jadi ikutan ngomel? Dasar!" kata Jessie, dia tidak habis pikir kenapa tiba-tiba Anton jadi menggerutu padanya.
"Disini kan tanggung jawabku juga, mami! Kalau dia seperti ini kan, aku yang repot dibuatnya." keluh Anton.
"Sudahlah, anggap saja kamu sedang berbakti pada orang tua. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang bisa diandalkan. Dari dulu juga, Alex hanya setengah hati mengurus usaha keluarga. Dia lebih memilih mengurus usaha yang dibuat sendiri. Padahal dia belum mampu secara finansial." Jessie pun menasehati Anton agar tetap semangat mengurus mall milik suaminya.
"Iya, mami! Anton kerja lagi ya, bye mami! Muaachhh😙😙" kata Anton akhirnya.
Panggilan pun terputus, dilanjutkan dengan Anton yang berusaha menghubungi Ary untuk memberitahukan keberadaan Alex.
"Iya, Anton! Gimana, sudah dapat kabar dari Alex?" tanya Ary begitu mengangkat panggilan dari Anton.
"Sabar! Tenang dulu!" jawab Anton sambil tersenyum.
"Perasaanku nggak enak, Anton! Gimana bisa bersabar." jawab Ary sedikit meninggikan suaranya.
"Makanya sabar, biar bisa tenang!" jawab Anton menasehati.
"Iya, iya! Sabar! Terus sekarang, kamu mau kasih kabar apa? Jangan yang buruk, aku gak mau!" cerocos Ary.
"Mana ada sabar, dari tadi nge gas kok sabar!" jawab Anton menahan tawanya.
"Iya, wis arep ngomong apa? Aku meneng!" kata Ary kemudian diam.
(Iya, sudah mau ngomong apa? Aku diam!)
"Alex pergi ke Singapura. Mendadak dapat kabar kalau semua kafenya mau ditutup pemerintah setempat. Katanya menyalahi aturan. Padahal sudah sepuluh tahun dia membangun kafe itu, baru sekarang bermasalah. Takutnya ada sabotase." kata Anton akhirnya menjelaskan, agar Ary tidak cemas memikirkan suaminya.
"Mungkin saat ini dia masih dalam perjalanan, jadi HP-nya dimatikan." imbuh Anton.
__ADS_1
Ary yang mendengar penjelasan dari Anton akhirnya bisa sedikit tenang. Suaminya hanya mengurus bisnisnya, bukan mengurus pernikahannya dengan perempuan lain.
"Oh! Terima kasih kalau begitu." kata Ary dengan tenang dan sedikit tersenyum.
"Ary, besok kalau aku nikah kamu hadir ya!" kata Anton seperti gumaman.
Dia merasa tidak yakin bisa menikahi wanita yang menjadi cinta dalam diamnya.
"Hah?! Kamu ngomong apa, ulangi!" kata Ary kaget karena hanya mendengar suara gumaman Anton yang tidak jelas didengar.
"Enggak! Nggak jadi! Sudah ya, aku ada rapat sebentar lagi." kata Anton mengelak.
Anton merasa tidak percaya diri jika menyangkut percintaan. Kisah cintanya belum pernah dimulai, karena dia ragu. Hanya cinta dalam diam yang selalu menemani harinya.
"Iyaa! Sekali lagi terima kasih banyak sudah banyak membantu." ucap Ary sebelum Anton memutuskan panggilan.
***
Hari pun berganti, bunda Widya masih betah dengan tidur panjangnya. Sedangkan Alex masih sibuk dengan urusannya, sehingga lupa jika dia sudah beristri. Alex tidak pernah bisa memegang HP untuk sekedar membalas atau pun menghubungi. Selama dia di Singapura, hanya berada di kantornya. Setiap saat pandangan matanya hanya terarah pada laptop. Sesekali keluar untuk mengajukan proposal kerjasama.
Setelah tiga hari koma, akhirnya bunda tersadar. Saat bunda membuka matanya, hanya ada Ary yang menjaganya. Ary saat itu sedang membaca Al Qur'an digitalnya yang sudah didownload di HP-nya.
"Ha... haus...." kata bunda Widya lirih.
Ary yang mendengar kata-kata bundanya langsung mengehentikan bacaannya. Dia langsung mengambil Ary untuk minum ibundanya.
"Bunda jangan banyak gerak dulu. Bunda mau apa, biar Ary ambilkan." kata Ary dengan lembut dan wajah bersinar ceria.
Betapa senangnya Ary melihat sang ibu terbangun dari tidur panjangnya.
"Bunda hanya haus, sayang. Bunda mau minum." jawab Bunda Widya.
Ary menyimpan kembali gelas ke atas nakas. Ary kemudian memeriksa kondisi ibunya. Sudah terlihat lebih baik, tapi Ary ingin memastikan sendiri bahwa dia tidak salah mendiagnosa.
__ADS_1