
Eno segera menyiapkan bajunya, dia terburu-buru karena mendapat kabar ayahnya sakit. Tanpa dia tahu bahwa itu adalah rencana ibunya untuk mempertemukan dirinya dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengan dirinya.
Di kediaman pak Mundarman sudah ramai dengan keluarga besar yang diundang oleh Marini. Mereka semua datang untuk acara arisan keluarga. Selain itu untuk mengenalkan laki-laki yang akan dijodohkan dengan Eno.
Marini sengaja membuat acara dadakan, untuk mengantisipasi jika Eno menolak dijodohkan. Karena selama ini sudah ada empat laki-laki yang tidak ditolak oleh Eno. Eno selalu melarikan diri saat akan diperkenalkan. Entah itu berpura-pura sakit, entah berpura-pura ada konsumen yang ingin belanja dan masih ada alasan lainnya, sehingga dia bisa lari dari acara perjodohan.
Betapa Eno terkejutnya saat melihat rumah orang tuanya ramai dengan keluarga besar dari ayah dan ibunya. Eno menjadi kalut, takut jika ayahnya meninggal. Bagaimana jika cinta pertamanya itu pergi meninggalkan dirinya dan keluarganya? Eno langsung berlari menuju kamar orang tuanya, untuk menemui cinta pertamanya.
"Papaaa!" teriak Eno di gawang pintu masuk.
Semua orang yang berada di rumah itu langsung menoleh ke arah Eno. Begitu juga kedua orang tuanya yang berada di ruang makan.
"Jangan teriak-teriak, malu sama yang lainnya!" tegur mama Rini.
"Ma, papa mana?" tanya Eno.
"Ada apa, nak?" tanya pak Mundarman, berjalan menggunakan tongkatnya menuju Eno.
Pak Mundarman sudah tidak segagah dulu lagi, di usianya yang menginjak delapan puluh tahun pak Mundarman sering sakit-sakitan. Tapi raut wajah pak Mundarman masih terlihat tampan, sudah dapat dipastikan masa mudanya banyak dikerubuti para wanita.
"Papa!" teriak Eno sambil menghambur ke pelukan sang ayah.
Eno tidak tahu jika sejak tadi dia sudah menjadi pusat perhatian seseorang karena kehebohan yang telah dibuatnya.
"Papa, sudah sehat?" tanya Eno setelah melepaskan pelukannya.
"Papa baik-baik saja! Namanya sudah tua, wajar kalau papa sering sakit-sakitan." jawab pak Mundarman menarik tangan Eno mengajak duduk di sofa ruang keluarga.
"Alhamdulillah, Eno senang dengarnya. Tapi...," Eno celingukan mencari keberadaan ibunya, "kata mama, papa sakit! Eno harus segera pulang." lanjutnya dengan nada cemas dan khawatir.
"Papa sudah mendingan, kemarin papa masih terbaring di ranjang saja. Karena semua lagi kumpul di sini, papa langsung sehat. Apalagi anak kesayangan papa sudah berada di rumah, papa jadi makin sehat." jawab pak Mundarman dengan senyum yang mengembang.
Eno kembali memeluk sang ayah, karena terharu mendengar kata-kata ayahnya. Menjadi anak kesayangan ayahnya adalah kebahagiaan tersendiri bagi Eno.
__ADS_1
"Ehemmm!" terdengar suara seseorang berdehem di dekat Eno dan ayahnya.
Eno langsung menoleh dan mencari sumber suara. Pandangan mata Eno berhenti pada seorang laki-laki yang sedang menggendong balita.
"Mas Agam?! Kok di sini?" teriak Eno lagi karena terkejut.
Agam yang tadi sempat terkejut hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Eno.
"Wahhh, kalian sudah saling mengenal ternyata! Jadi mama tidak perlu lagi mengenalkan kalian." ucap Marini dengan senyum yang manisnya.
"Kenapa bisa sampai di sini?" tanya Eno keheranan.
"Dia yang laki-laki yang akan kami jodohkan denganmu. Kebetulan sekali kalian sudah saling mengenal, jadi memudahkan perjodohan ini." kata Marini mendahului Agam.
"Saya ke sini mengantarkan ibu mertua, nenek dari anak saya. Beliau tadi minta diantar karena bapak tidak bisa mengantar." sapa Agam sambil mendekati Eno, hendak bersalaman.
"Waahh, laki-lakinya sudah tidak sabar ternyata!" celetuk seorang kerabat Eno.
Agam yang mendengar celetukan itu, akhirnya mengurungkan niatnya untuk bersalaman dengan Eno.
Tak lama kemudian, ustadz yang mengisi acara datang. Mereka duduk bersama karena acara arisan akan segera dimulai. Acara dimulai dengan pembacaan do'a untuk keluarga yang sudah meninggal. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.
Eno dan Agam dibiarkan duduk berdua oleh keluarganya, agar mereka berdua lebih akrab.
"Mas Agam menyetujui perjodohan ini?" tanya Eno.
Saat ini, mereka berdua duduk di teras samping rumah, sambil menikmati kue dan minuman yang dihidangkan.
"Saya hanya ingin membahagiakan ibu. Jika mbak Eno, tidak mau menikah dengan saya, saya tidak apa-apa." jawab Agam sambil memainkan gelas yang dipegangnya.
"Jangan terlalu formal, mas. Seperti biasa saja, panggil Eno." ucap Eno merasa risih dipanggil mbak oleh orang yang lebih tua.
"Kalau saya tidak formal, pasti dianggap sok akrab. Padahal kita tidak seakrab itu." jawab Agam.
__ADS_1
"Bukan begitu, mas! Eno tahu kok, mas Agam sebenarnya sukanya sama Ary. Mas Agam berjuang untuk mendapatkan Ary. Aku berjuang untuk tetap bersama dengan pacarku." Eno mengeluarkan isi hatinya.
Agam terkejut mendengar perkataan Eno, dalam hati kecilnya bertanya, "Dari mana dia tahu?"
"Suka bukan berarti cinta, begitu juga kagum bukan berarti cinta juga. Saya hanya sebatas suka dan kagum saja. Jarang ada perempuan seperti Ary. Jadi wajar jika saya menyukai dan mengaguminya." Agam menjelaskan bagaimana perasaannya.
"Kalau sudah suka dan kagum, setelah itu merasa nyaman. Terus jatuh cinta!" kata Eno.
"Tidak juga! Banyak orang mengagumi dan menyukai artis atau tokoh tertentu. Tapi mereka belum tentu mencintai." jawab Agam.
Eno terdiam, dia kebingungan mencari alasan untuk menolak perjodohan ini. Biar bagaimanapun juga, dia tidak mau menikah tanpa cinta. Agam yang menyukai teman dekatnya, pasti akan susah menerima dirinya. Begitu pula dengan Eno, dia mencintai Dzaky, jadi akan sulit untuk menerima Agam sebagai pasangannya.
Eno belum mengiyakan perjodohan itu, dia belum bisa menerima Agam untuk menempati ruang hatinya. Agam memang tampan, selain itu juga Agam orangnya baik dan soleh. Tapi hati dan pikiran Eno sudah dipenuhi dengan nama Dzaky.
Agam dan keluarganya pun pamitan, karena memang acara sudah selesai.
***
"Ma, Eno tidak mau! Dia itu TNI, pasti seperti papa!" Eno akhirnya memberanikan diri mengutarakan isi pikirannya pada sang ibu.
"Tidak semua laki-laki itu sama. Kalau pun seperti papa kenapa, hmm?" jawab Marini.
"Eno takut! Takut kata-kata mama Siska menjadi kenyataan. Karma pasti berlaku, karena mama merebut suaminya maka nanti suami Eno juga akan direbut wanita lain." kata Eno menunduk.
Marini memeluk anaknya, dia pun merasa bersalah karena menjadi orang ketiga dalam pernikahan Siska dan Mundarman. Tapi semua sudah berlalu, dia dan Mundarman sudah memperbaiki kesalahan mereka.
* Flash back on*
Dengan wajah tampannya, pak Mundarman mudah mendapatkan wanita manapun. Bahkan para gadis pun secara sukarela memberikan harta berharganya. Seperti juga dengan Marini, secara sukarela menyerahkan kehormatannya pada pak Mundarman yang waktu itu sudah tidak muda lagi.
Sebagai seorang prajurit, tubuh pak Mundarman sangat kekar, dengan otot yang menonjol serta perut sixpack. Dapat dengan mudah mendapatkan wanita yang disukainya. Pak Mundarman sering berpindah tempat tugas, sehingga anak istrinya enggan mengikuti.
Setiap mendapat tempat tugas baru, Pak Mundarman selalu memiliki seorang WIL dan diantara wanita itu adalah Marini. Marini bukanlah wanita yang bodoh, dia membuat dirinya hamil agar dinikahi Mundarman. Padahal saat itu, anak-anak Mundarman dari istri pertama berusia tidak jauh dari Marini.
__ADS_1
Berawal dari WIL dan berakhir menjadi ratu, itulah Marini. Walaupun usia Mundarman dan Marini terpaut jauh, bahkan seperti anak dan ayah.
*Flash back off*