
"Bulan depan aku mutasi ke luar Jawa. Tepatnya di Sumatera Utara!" Agam berhenti sebentar sedangkan Eno masih diam tanpa mau menyela.
"Kamu mau tetap di sini atau ikut ke luar Jawa?" tanya Agam dengan mimik serius.
Eno terkejut mendengar kabar mutasi suaminya.
"Mutasi?! Kenapa?" tanya Eno penasaran.
"Biasa, pertukaran personil. Di sana kekurangan personil jadi ada beberapa dari sini yang dimutasi ke sana. Bagaimana, kamu ikut atau tinggal di sini?!" ucap Agam sambil memainkan rambut Eno yang wangi shampo, sesekali mencium rambut itu.
"Mau 'lah! Masak nggak mau. Mana enak LDR?!" jawab Eno antusias.
"Tapi..." wajah Eno kembali murung karena mengingat bagaimana keadaan ibu mertuanya.
"Tapi?" kata Agam sambil menaikkan satu alisnya.
"Ibu gimana?" tanya Eno meragu.
"Kenapa mikirin Ibu sih? Pikirkan dirimu sendiri dan suamimu, kalau berjauhan lama bisa nggak?!" jawab Agam kesal, dia tidak ingin Eno memikirkan masalah mereka yang lalu dan sudah selesai.
Eno selalu teringat tentang masalah itu, masalah yang menyebabkan trauma.
"Dia orang tua kita lho, Mas! Karena beliau Mas Agam ada dan bisa menjadi suamiku. Nggak mungkin dong kita tutup mata. Anak durhaka itu namanya!" Eno merepet seperti radio rusak menceramahi imamnya.
"Sudah?!" tanya Agam sesaat setelah Eno selesai dengan ceramahnya.
Eno memandang cengo pada suaminya. Dia sudah ngomong panjang kali kali lebar ditambah tinggi hanya ditanggapi dengan satu kata. Eno kemudian mengangguk setelah memandang wajah suaminya.
"Bukan bermaksud tutup mata atau tidak peduli dengan orang tua, tapi kita ini sudah berkeluarga. Memiliki keluarga sendiri yang wajib kita urus dan perhatikan. Jangan karena keinginan orang tua kita mengorbankan rumah tangga kita. Kita memang berkewajiban mengurus orang tua, tapi keadaan kita saat ini belum bisa."
"Kalau aku bukan seorang abdi negara, aku pun ingin tinggal bersama Ibu dan mengurus beliau. Tapi aku menjadi seorang abdi negara itu karena mewujudkan impian Ibu. Aku tidak mungkin memilih pekerjaan atau Ibu, apalagi sampai memilih kamu atau Ibu. Aku tidak bisa!" Agam mengeluarkan semua isi pikirannya agar Eno paham.
__ADS_1
"Memang sudah kewajiban kita sebagai anak harus berbakti pada orang tua. Aku menjadi seorang abdi negara itu juga sebagai salah satu tanda baktiku pada Ibu dan negara. Ibu yang menginginkan aku menjadi prajurit. Jika saat ini aku harus pergi jauh karena tugas, bukan berarti aku tidak mau berbakti pada Ibu. Hanya saja saat ini waktuku untuk berbakti pada negara." Agam melanjutkan penjelasannya agar Eno tidak terus menerus memikirkan Ibunya.
Eno terdiam mendengar kata-kata dari suaminya. Dia mulai mencerna kata-kata itu dan memikirkan yang terbaik untuk keputusannya nanti.
"Baik, Mas! Aku ikut, tapi kita pamitan sama Ibu dan Mama sebelum berangkat. Kalau bisa weekend besok kita ke rumah Ibu. Minta Mama datang juga ke rumah Ibu." kata Eno setelah memikirkan dengan matang apa yang disampaikan oleh suaminya.
"Baiklah! Sekarang kita istirahat, ini sudah larut malam," kata Agam.
*
*
*
Hari ini Agam dan Eno sudah siap melakukan perjalanan jauh, butuh waktu sekitar tiga jam untuk pulang ke kampung halaman. Mereka sudah mengabari Bu Warni dan Bu Marini jika mereka akan pulang kampung. Jarak rumah orang tua Agam dan orang tua Eno tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu satu jam saja.
Agam dan Eno disambut dengan senyum lebar oleh kedua orang tuanya. Bu Marini dan Pak Mundarman lebih dulu sampai di rumah Bu Warni, sebenarnya rumah milik Agam yang ditempati oleh ibunya.
"Sebelumnya Agam minta maaf jika mengganggu waktu istirahat Papa, Mama dan Ibu. Agam ke sini karena ingin menyampaikan kabar, bisa dikatakan kabar baik juga buruk!" ucap Agam dengan tenang, tampak sekali jiwa kepemimpinannya.
"Kabar apa, Gam?" tanya Bu Warni sudah tidak sabar menunggu.
"Kabar baik apa kabar buruk dulu?'' Agam balik bertanya pada ibunya.
"Kabar baiknya apa?" tanya Pak Mundarman menyela ketika dilihatnya Bu Warni mulai membuka mulut hendak berbicara.
Agam tahu kedua orang tuanya sudah tidak sabar menunggu jawaban darinya, dia juga tidak ingin menunda untuk menyampaikan kabar mutasinya.
"Kabar baiknya, Agam naik pangkat!" jawab Agam singkat.
"Selamat anak muda! Pertahankan prestasimu dalam berkarir!" ucap Pak Mundarman sambil memberikan selamat dengan salam komando, kemudian menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Terima kasih, Pa!" jawab Agam memeluk ayah mertuanya yang sudah dianggap sebagai ayah sendiri.
"Selamat, Nak!" ucap Bu Warni memeluk anak semata wayangnya.
"Selamat, Gam! Semoga kamu semakin semangat menjadi abdi negara!" gantian Bu Marini yang memberikan ucapan selamat, dia mencium kening Agam sebagai tanda sayang seorang ibu pada anaknya.
(Malah kebalik, ibu mertuanya yang sayang. Emak sendiri kagak!🤦 Pripun tha Bu Warni)
Mereka kembali duduk di posisi semula. Ingin mendengar kabar buruknya.
"Kabar buruknya apa, Gam?" tanya Pak Mundarman dengan perasaan was-was.
"Iya, Gam! Apa kabar buruknya?" tanya Bu Warni dan Bu Marini kompak.
"Hhhh!" Agam mende sah, rasanya tidak tega menyampaikan kabar ini.
"Agam dimutasi ke Sumatera Utara, Pa!" jawab Agam lesu.
Pak Mundarman yang melihat raut wajah menantunya yang lesu itupun berusaha menghiburnya.
"Bagus itu! Kesempatan untuk naik golongan dan jabatan semakin terbuka.
"Kok bagus sih? Mereka mau meninggalkan kita kok bagus!" jawab Bu Warni mulai emosi karena mendengar jawaban dari besannya.
"Kalau dia di tempat yang sekarang, karir dia akan berhenti. Walaupun harus berpisah jauh dan lama, setidaknya dia bisa berkembang. Karirnya akan terus naik. Untuk apa bekerja jika stagnan, tidak ada perubahan yang berarti. Lihatlah pohon kelapa dan pohon pisang. Pohon kelapa bernilai tinggi karena dia bisa hidup di mana saja, sedangkan pohon pisang dia selalu hidup di mana induknya berada. Ujung pohon pisang itu mati sendiri karena tidak ada lagi makanan untuk diserap." Pak Mundarman mencoba memberi pengertian dan penjelasan pada besannya.
Pak Mundarman heran kenapa Bu Warni belum juga berubah, tidak mau mengambil hikmah dari masalah sebelumnya.
"Seharusnya dia tahu konsekuensi memiliki anak seorang TNI, dulu dia menginginkan Agam menjadi prajurit. Kenapa sekarang dia yang menghalangi karir anaknya?" batin pak Mundarman, tidak habis pikir dengan jalan pikiran besannya itu.
Bu Warni terdiam tak bisa berkata-kata lagi. Benar apa yang dikatakan Pak Mundarman, dia harus membiarkan anaknya menjalani hidupnya sebagai seorang abdi negara yang bisa kapan saja dimutasi.
__ADS_1
"Baiklah! Ibu mengijinkan kalian pergi. Tapi apa tidak sebaiknya menunggu sekolah Fani terima raport dulu? Dia sudah terlanjur sekolah, sayang kalau harus berhenti," kata Bu Warni mencoba mengulur keberangkatan anak dan cucunya.