MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Mencuri Ciuman


__ADS_3

"Hah!" Ary terbengong mendengar kata-kata calon anak tirinya itu.


Hari ini dia sudah ada janji dengan Brandon dan Rommy untuk membahas kerja sama dengan beberapa retailer. Mereka akan membuka beberapa outlet di seluruh Indonesia. Jadi dia harus ikut terjun langsung mempelajari berkas kerja sama tersebut. Jika hari ini pertemuan itu batal, bisa dipastikan dia besok pagi tidak bisa pergi dinas ke rumah sakit.


"Masuk dulu, bentar! Aku ganti baju dulu!" kata Ary mempersilahkan Alex dan Kevin masuk.


Mau tidak mau dia harus menuruti keinginan ayah dan anak itu. Nanti dia bisa mencari alasan agar tidak terlalu lama keluar bersama mereka. Ary masih merahasiakan perusahaan yang baru saja berdiri untuk meneruskan cita-cita mendiang suaminya. Karena sampai saat ini, Alex belum tahu jika mendiang suaminya seorang pengusaha juga.


Setelah berganti baju dengan tunik yang dipasangkan dengan kulot serta flatshoes, Ary menemui ayah dan anak itu di ruang tamu.


"Kita jalan-jalannya sebentar aja ya, soalnya bunda mau balik ke Kulonprogo sehabis Dzuhur." kata Ary begitu sampai di hadapan Kevin dan Alex.


"Kenapa buru-buru balik? Besok pagi kan bisa!" sahut Alex. Dia merasa curiga karena Ary terburu-buru kembali ke Kulonprogo.


"Aku ini kepala rumah sakit, besok ada agenda rapat yang berhubungan dengan BPJS. Ada banyak persiapan yang harus dilakukan, jika tidak hari ini kapan lagi aku mempersiapkan semuanya?" jawab Ary mencari alasan, sebenarnya besok memang itu agendanya.


Ary sudah mempersiapkan semuanya dari beberapa hari sebelumnya. Tapi Ary belum ingin Alex mengetahui perusahaan itu ada. Walau bagaimanapun juga, Ary masih ingin tetap mengelola usahanya itu.


"Apa tidak sebaiknya kamu tidak usah ambil jabatan setelah kita menikah nanti?" tanya Alex.


"Mommy, kita mau jalan-jalan kemana?" tanya Kevin tiba-tiba.


"Kita jalan-jalan di dekat sini aja. Bunda tahu tempat rekreasi yang menyenangkan tapi sederhana. Tidak harus jauh dan mahal." jawab Ary sambil membawa beberapa makanan dan minuman untuk bekal mereka nanti.


"Emang ada?" tanya Alex belum tahu jika di dekat rumah Ary terdapat sendang yang menjadi salah satu tempat penyumbang pendapatan daerah.


"Ada! Ayo ikuti petunjuk dari ku, tempatnya di desa sebelah. Sebuah desa yang dikelilingi oleh persawahan penduduk, jadi tempat itu seperti terpencil. Sebenarnya dari ujung desa ini sudah kelihatan kok!" jawab Ary.

__ADS_1


"Mbak Asih, kami pergi ke sendang ya!" teriak Ary saat sudah sampai di teras. Dia pamitan pada Asih, asisten rumah tangga yang selama ini mengabdi di rumahnya.


Akhirnya mereka menuju ke tempat pemandian tempat favorit Ary dan Eno selama ini. Tempat yang menyajikan kuliner khas masakan pedesaan. Karena hanya disitu saja yang menyediakan kuliner ini.


Begitu sampai di tempat itu, Kevin langsung berlari menuju sendang. Ada beberapa sendang(kolam) berbagai ukuran. Sendang itu mempunyai aliran ke be beberapa sungai. Sendang itu mempunyai fungsi ganda, sebagai tempat permandian warga dan juga sebagai aliran irigasi persawahan.


"Mom, sepertinya kolamnya dalam. Kevin takut!" kata Kevin di pinggiran sendang yang berukuran lebih kecil dibandingkan dengan dua sendang lainnya.


"Iya, sayang. Kolam itu semua dalam. Kalau Kevin mau main air, Kevin bisa masuk ke sungai yang mengelilingi kolam itu." kata Ary sambil menunjuk beberapa sungai yang ada di tempat ini.


"Ramai pengunjung juga ya disini?! Aku belum pernah kesini, tapi tempatnya tidak kalah bagusnya dengan permandian yang lainnya." kata Alex mendekati Ary yang memandang ke hamparan persawahan yang mengelilingi daerah itu.


Kevin mulai bermain air dengan masuk ke sebuah sungai kecil yang dangkal. Air yang mengalir di sungai itu sangat jernih. Aliran airnya juga tenang, tidak deras. Banyak anak-anak kecil yang juga bermain di sungai itu.


Saat Ary asik mengedarkan pandangannya ke hamparan persawahan di depannya, Alex memeluk Ary dari belakang secara diam-diam.


Ary yang kaget karena tiba-tiba mendapat pelukan dari Alex, berusaha melepaskan diri dari pelukan Alex.


"Banyak orang disini. Malu!" kata Ary sambil berusaha mengurai tangan Alex dari tubuhnya.


"Kenapa mesti malu? Tidak usah urusi tanggapan orang lain!" kata Alex sambil mengetatkan pelukannya, bahkan Alex mencuri ciuman di pipi Ary.


Ary yang kaget mendapatkan ciuman dari Alex, mecoba menutupinya dengan bersikap jutek pada Alex. Hatinya berdesir dan jantungnya pun berdebar tidak karuan. Bahkan rona merah juga telah menghiasi pipinya.


"Banyak anak kecil disini, jangan kotori mata dan pikiran anak-anak dengan sifat mesummu!" kata Ary sambil mengeluarkan tenaganya untuk melepaskan pelukan itu.


Akhirnya Alex pun mengalah mulai mengendurkan pelukannya, karena dirasakannya usaha Ary begitu kuat melepaskan pelukannya. Tapi sebelum pelukan itu terlepas, Alex kembali mengecup pipi Ary. Setelah terlepas, Alex menyambar bibir Ary.

__ADS_1


Ary terkesiap ketika Alex berhasil menyambar bibirnya. Ary tidak menyangka jika Alex nekat menciumnya di tempat umum. Jantungnya kembali berdebar, antara malu dan berbagai macam perasaan bercampur menjadi satu.


"Ini di kampung, bukan di kota besar! Dimana semua orang bebas mengekspresikan diri. Di sini setiap gerakan kita menjadi sorotan orang banyak. Lama tinggal di luar negeri, sepertinya sudah merubah kepribadian kamu!" Ary tampak marah karena Alex berulangkali mencuri ciuman darinya.


"Itu kan sudah biasa dilakukan anak muda sekarang. Jadi bukan masalah kan?!" jawab Alex.


Tapi Ary memilih mendiamkan Alex, dari pada ribut. Dia mulai membanding-bandingkan Alex dengan mendiang suaminya. Walaupun dulu suaminya mantan bad boy, tapi dia begitu menghormati dan menghargai Ary. Dia tidak akan menyentuh Ary tanpa ijin dari Ary.


Walaupun Rendy pernah menciumnya, itu dilakukan di tempat tertutup bukan di tempat umum. Alex pria dewasa yang sudah berpengalaman, sehingga baginya wajar mengekspresikan perasaan dimana pun berada.


Ary mulai berjalan menuju tempat Kevin berada, dia melepaskan flatshoes yang dipakainya. Kemudian Ary duduk di pinggiran sungai itu sambil memasukkan kedua kakinya. Kakinya mulai berayun memainkan air sungai itu.


Alex pun mengikuti apa yang dilakukan Ary. Dia duduk di samping Ary, dan mulai ikut memainkan air dengan kakinya.


"Daddy, ayo kita perang air!" teriak Kevin begitu menyadari keberadaan Alex dan Ary di dekatnya.


"Tidak! Daddy tidak membawa baju ganti!" jawab Alex sambil menggelengkan kepalanya.


"Masuk aja, airnya dingin kok!" kata Ary juga meminta masuk ke dalam sungai.


Alex tampak diam sejenak memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian Alex masuk ke dalam sungai dan mendekati anaknya. Alex dan Kevin mulai saling memukul air hingga airnya menciprat kemana-mana. Tak berapa lama, tampak ayah dan anak itu mulai melemparkan air dengan kedua tangan mereka. Sehingga mengagetkan Ary, karena air membasahi badannya. Akhirnya mereka bertiga perang air hingga lelah dan basah kuyup.


Setelah puas bermain air, mereka pun memesan makanan yang menjadi ciri khas di daerah itu. Nasi yang murah meriah bagi mereka, walaupun harganya murah tapi tidak mengurangi kenikmatan rasanya.


Alex dan Kevin yang baru saja mencicipi makanan itu, berulang kali meminta tambahan nasi dan lauknya.


"Enak, mom! Kevin mau lagi!" teriak Kevin sambil makan dengan lahapnya.

__ADS_1


"Daddy juga mau lagi, mom! Dua ya!" teriak Alex tidak mau kalah.


__ADS_2