
"Assalamu'alaikum!" teriak Ary sambil mengetuk pintu.
Jam sebelas malam Ary sampai di rumah orang tuanya. Ary diantar Brandon dan Rommy. Brandon yang baru pulang dari luar negeri, harus menunda istirahatnya. Semua mereka lakukan untuk menjaga Ary.
Brandon merasa kecewa karena Ary memilih kembali ke cinta pertamanya. Padahal Brandon saat ini sedang berusaha mensejajarkan dirinya dengan Ary. Bagi Brandon Ary sangat tinggi untuk dijangkau.
Tapi semua kembali pada ketetapan Allah, hidup, mati, jodoh dan rejeki sudah digariskan. Manusia hanya bisa menjalani saja. Tapi Brandon tetap memegang janjinya, akan selalu menjaga Ary dan memastikan Ary bahagia. Seperti pesan Rendy padanya.
Ary menceritakan semuanya pada Brandon dan Rommy. Mereka berdua hanya bisa memberikan dukungan apapun yang menjadi keputusan Ary. Karena mereka tidak ingin ikut campur dalam hubungan Ary dan Alex. Tapi mereka berdua berjanji, akan selalu siap sedia jika Ary membutuhkan mereka.
Ceklek... suara pintu terbuka.
Asih terkejut mendapati Ary di balik pintu. Dia tidak menyangka majikan ciliknya akan pulang tengah malam, dengan dua bodyguard di belakangnya.
"Mbak Ary? Ayo masuk mbak, temennya juga diajak masuk." kata Asih begitu tersadar dari rasa terkejutnya.
Ary, Brandon dan Rommy masuk ke dalam rumah. Cuaca malam itu sangat dingin, sehingga mereka cepat-cepat masuk ke dalam rumah untuk mengurangi rasa dingin. Sepertinya alam pun ikut menangis, merasakan kesedihan yang sama seperti Ary.
"Ayah sama bunda mana, mbak?" tanya Ary begitu mereka sudah sampai di ruang keluarga.
"Mereka baru saja masuk kamar, mbak." jawab Asih, berdiri di dekat kursi yang diduduki oleh Ary.
"Ya udah! Tolong buatin kami wedang jahe ya, mbak." kata Ary sambil melihat ke arah Asih.
"Beres, mbak!" jawab Asih sambutan berlalu meninggalkan Ary dan kawan-kawan.
"Kalian nginap di sini aja, ini sudah malam. Lagian hujan, jalanan licin." kata Ary pada Brandon dan Rommy.
"Apa kami nggak merepotkan?" tanya Rommy sambil merubah posisi duduknya, dari tegak menjadi bersandar.
"Repot emang ngapain? Cuma tumpangan istirahat saja kok." jawab Ary memeluk bantal sofa.
"Kami makannya banyak! Pasti besok pagi, menu sarapan habis oleh kami." canda Brandon.
"Nggak apa-apa habis, malah kebetulan sekali. Masakan bunda tidak pernah habis, karena kekurangan orang untuk menghabiskan." balas Ary dengan candaan juga.
Suara ribut di ruang keluarga sampai juga di kamar ayah dan bunda, karena letaknya yang tidak jauh.
"Yah, sepertinya ada tamu." kata Widya sambil mengguncang lengan Kemal.
Kemal yang mulai terlelap pun terkejut karena tangannya diguncang istrinya.
"Ada apa sih, Bun? Ini sudah malam, tidurlah!" jawab Kemal dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
"Itu ada suara Ary di ruang keluarga, yah!" kata Widya tetap mengguncang lengan suaminya.
Kemal diam sejenak mencoba memasang telinga, agar dapat mendengar suara dari luar kamar. Setelah beberapa saat mencoba mendengar suara keributan di ruang keluarga, akhirnya ayah bangun.
"Iya, Bun! Itu suara Ary, tapi dia ngobrol sama siapa ya? Kok ada suara laki-laki juga." kata Kemal sambil berjalan menuju pintu hendak keluar kamar.
Widya pun bergegas bangun mengikuti suaminya. Widya juga penasaran dengan siapa anak perempuannya bercengkrama, hingga suaranya terdengar ke kamar.
"Hmm, heboh bener malam-malam!" kata Kemal sambil mendekati Ary dan kawan-kawan di ruang keluarga.
"Assalamu'alaikum, yah!" sapa Ary begitu mendengar suara ayahnya.
Ary langsung berdiri dan mendekati kedua orang tuanya. Ary mencium punggung tangan ayah dan bunda, bergantian.
"Wa'alaikumsalam! Kapan kalian sampai?" tanya Kemal pada Ary.
"Barusan saja kok yah! Tadi siang kami ada urusan pekerjaan." jawab Ary memberi alasan.
"Kerjaan apalagi? Bukannya semua sudah diurus sama mereka berdua?" tanya Kemal sambil duduk diantara mereka.
"Kami sedang mengembangkan usaha, kami ingin menambah jangkauan pasar. Jadi kami mengajak kerjasama dengan beberapa perusahaan di luar negeri." jelas Brandon, dia menceritakan tentang usahanya mengembangkan perusahaan.
Sebenarnya Brandon hanya mengalihkan pembicaraan saja, walaupun dia saat ini tidak berbohong. Usahanya mulai berkembang, sehingga menjadi lebih sibuk dibandingkan dengan sebelumnya.
"Oh begitu!?" jawab Widya.
"Iya, yah! Kalau tidak merepotkan ayah dan bunda." jawab Rommy sambil tersenyum malu-malu.
"Memang sebaiknya kalian menginap saja. Di luar hujan, jalanan licin. Hari juga sebentar lagi berganti." kata Widya menasehati dua sejoli itu.
"Sekarang kalian masuk kamar dan istirahat. Obrolannya dilanjutkan besok pagi lagi." kata Kemal pada ketiga anak tersebut.
"Asih!" panggil Widya sambil berjalan menuju kamar Asih.
"Dalem, Bu!" jawab Asih berdiri di depan pintu kamarnya.
(Dalem \= saya)
"Sudah kamu siapkan kamar untuk teman-teman Ary?" tanya Widya pada Asih.
"Sampun, Bu! Kamar den Handika sudah siap ditempati." jawab Asih dengan sesekali menguap karena rasa kantuk menderanya.
(Sampun \= sudah)
__ADS_1
"Nuwun ya!" kata Widya sambil meninggalkan Asih yang terkantuk-kantuk di depan pintu kamarnya.
(Nuwun, dari kata maturnuwun \= terima kasih)
"Kalian berdua menempati kamar Handika saja, kamar itu sudah lama tidak ditempati. Jangan khawatir, kamarnya luas dan ranjangnya juga besar.' kata Widya saat melihat raut wajah Rommy dan Brandon yang khawatir tidak bisa tidur karena berebut kasur.
"Baik, Bun! Terima kasih sudah diijinkan bermalam disini." kata Brandon sesaat sebelum Widya meninggalkan mereka.
Ary dan ayah juga mengikuti langkah bunda untuk memasuki kamar. Malam sudah semakin larut, badan mereka pun lelah karena aktivitas yang dilakukan. Tidak butuh waktu lama, seluruh penghuni rumah itu terlelap dalam dunia mimpi.
***
"Lho, ayah sama bunda tidak ke pasar hari ini? Kok masih santai di rumah." tanya Ary begitu mendapati kedua orang tuanya, sedang duduk-duduk santai di teras belakang rumah.
"Sini, kamu duduk sini. Ada yang mau ayah omongin sama kamu." kata Kemal sambil menepuk kursi yang ada di dekatnya
"Ayah kenapa, pagi-pagi sudah buat Ary penasaran?!" jawab Ary sambil duduk di di sebelah ayah dan bunda. Ary mengambil posisi duduk diantara keduanya.
"Ayah hanya mau tahu, hubungan kamu dengan nak Alex bagaimana? Kamu jangan pura-pura tidak tahu dan menutupi masalah yang menderamu." kata Kemal begitu Ary sudah duduk.
"Apa Alex sudah bercerita semuanya tadi malam?" tanya Ary sambil mengambil kue pancong buatan bunda, kemudian memakannya.
Rommy dan Brandon baru saja pamit kembali ke Jogja untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Dia sudah bercerita semuanya, tapi ayah ingin mendengar langsung dari kamu. Agar ayah tidak salah mengambil keputusan nantinya." jawab Kemal.
"Ary harus bagaimana, ayah? Di saat Ary diperkenalkan pada semua orang sebagai tunangannya, ternyata ibunya sudah menyediakan calon istri untuknya. Dan lebih parahnya lagi, pilihan ibunya itu adalah teman kami." kata Ary mengeluarkan isi hatinya.
"Itu berarti ibunya belum memberikan restunya pada kalian. Sekarang pilihan ada di tangan kamu, mau lanjut atau berhenti." kata Kemal mengintimidasi.
"Ingat nak, restu seorang ibu itu sangat menentukan kebahagiaan kalian nanti. Restu ibu adalah restu Tuhanmu. Jadi, bunda berharap janganlah menikah sebelum mendapatkan restu dari ibunya. Tapi semua keputusan kembali padamu, karena kamu yang akan menjalani." kata Widya menasehati Ary dengan lembut.
"Maaf, Bu! Ada tamu di depan." sela Asih tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Kemal berbalik badan menghadap ke Asih.
"Tamu yang tadi malam, pak." jawab Asih meremas jemarinya, karena gugup dan takut.
"Baiklah, kami akan menemuinya!" jawab Kemal.
"Ayo, kita ke depan. Sebaiknya kita cepat selesaikan masalah ini. Biar tidak berlarut-larut." ajak Kemal pada anak istrinya.
Begitu sampai di ruang tamu betapa kagetnya Kemal dan Widya, karena tamunya ternyata tamunya sepasang...
__ADS_1
Tolong like, komen dan vote dongππ
Terima kasih ππππ