
Keesokan harinya, Alex langsung pulang menuju kediaman orang tuanya. Dia ingin meminta penjelasan pada ibunya, kenapa menyebarkan surat undangan palsu.
"Pagi, Pi! Mami sudah bangun?" sapa Alex begitu melihat ayahnya di teras sedang bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Pagi-pagi sudah sampai disini, ada apa?" tanya Kusuma.
"Ada perlu sama mami, Pi! Papi mau berangkat sekarang?" jawab Alex sambil meraih tangan ayahnya kemudian mencium punggung tangannya.
"Mami di dalam sedang sarapan. Papi mau berangkat, kamu sekalian sekalian sarapan sama mami sana!" kata Kusuma sebelum meninggalkan Alex.
Alex langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Dimana ibunya berada, sedang menikmati sarapan. Karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Kevin sudah berangkat sekolah sehingga Alex tidak bertemu dengan darah dagingnya itu.
"Apa maksud mami memberikan surat undangan pernikahan palsu pada orang tua Ary?" kata Alex langsung tanpa basa-basi.
"Mami tidak ada menyebar undangan palsu. Mami memang mau buat pesta paling mewah di kota ini." kata Jessie sambil tetap menikmati sarapannya.
Alex kemudian memanggil asisten rumah tangga yang kemarin ditanyai nya.
"Kemarin sore, saat saya mengantar Kevin ke rumah ini. Apa yang kamu katakan saat saya bertanya?" tanya Alex dengan wajah tidak bersahabat.
"Nyonya pergi mengantarkan surat undangan, den!" jawab asisten rumah tangga itu dengan kepala tertunduk dan tangan saling mere mas.
"Mami dengar sendiri kan? Mami tidak usah repot-repot berbohong padaku." kata Alex menahan suaranya agar tidak meninggikan suara pada orang tua.
Semenjak menikah dengan Ary, Alex banyak mengalami perubahan. Perubahan yang lebih baik tentunya. Ary yang lemah lembut dan sabar, selalu menghormati orang tua. Sebulan bersama Ary dan mengamati Ary ketika bersama kedua orang tuanya, menjadikan Alex secara tidak langsung belajar bersikap.
"Terserah kamu! Toh di mata kamu, mami tidak ada artinya dibandingkan perempuan itu dan orang tuanya." jawab Jessie santai, dia tetap melanjutkan makannya.
__ADS_1
Kusuma yang penasaran dengan percakapan anak istrinya akhirnya mengurungkan niatnya untuk ke kantor. Dia meminta sopirnya untuk putar arah dan pulang ke rumahnya.
"Apalagi yang kamu lakukan Jessie?" tanya Kusuma begitu sampai di ruang makan.
Tadi Kusuma meminta sopirnya melaju dengan kecepatan tinggi, agar tidak ketinggalan percakapan anak istrinya.
"Aku melakukan apa yang seharusnya seorang ibu lakukan untuk kebahagiaan anak-anaknya." jawab Jessie masih betah dengan raut wajah tenangnya.
"Alex sudah bahagia sekarang! Jangan kamu rusak kebahagiaannya." kata Kusuma menasehati istrinya.
"Bunda pingsan dan sekarang masih belum sadarkan diri setelah menerima kartu undangan dari mami!" kata Alex lirih, dia menghempaskan tubuhnya ke kursi terdekat.
Alex merasa sangat bersalah pada Ary dan keluarganya. Karena ulah ibunya, ibu mertuanya sekarang koma di rumah sakit.
"Kamu keterlaluan, Jessie!" teriak Kusuma dengan amarah yang berkobar.
"Oh ya? Siapa yang keterlaluan di sini, aku atau kamu?" tanya Jessie sudah mulai terpancing emosinya.
Jessie menyelidiki siapa yang akan menjadi besannya kala itu. Jika bukan karena masa lalu suaminya, mungkin dia akan dengan lapang dada memberikan restunya pada anaknya.
Perasaan Kusuma yang sampai saat ini belum juga bisa mencintainya, membuatnya gelap mata. Puluhan tahun mendampingi tapi tidak sedikitpun merasa dicintai. Cinta Kusuma untuk Widya masih terlalu dalam, sehingga tidak bisa berpaling sedikit pun padanya. Istrinya!
Kusuma terdiam mendengar kata-kata yang diucapkan Jessie. Dia memang belum bisa menghilangkan perasaan itu, tapi dia juga sudah bisa menerima Jessie sebagai istrinya. Dua wanita yang menempati hatinya, menempati sudut yang berbeda. Keduanya sama-sama dicintainya.
"Kamu bicara apa Jessie? Aku mencintaimu Jessie! Kalau aku tidak mencintaimu, aku pasti sudah meninggalkan kamu sejak dulu." kata Kusuma akhirnya.
"Aku menerima kamu apa adanya, puluhan tahun kita bersama. Jika tidak saling mencintai apa kita masih bisa bertahan sampai sekarang?" kata Kusuma lirih, dia begitu terpukul karena sikap Jessie.
__ADS_1
"Karena kamu butuh tubuhku untuk memuaskanmu!" jawab Jessie.
"Itu tidak benar Jessie! Kalau hanya menginginkan tubuhmu, aku tidak akan meminta pendapatmu mengenai semuanya." sanggah Kusuma.
Jessie pun memikirkan kata-kata suaminya. Dia memang merasakan semua perhatian dari suaminya. Tapi tak jarang suaminya menyendiri tanpa mau didekati. Jessie pernah mendapati suaminya memeluk foto usang, ketika dilihatnya ternyata membuatnya sesak.
Jessie tahu, posisi Widya tidak tergantikan oleh siapapun. Selama menjadi istrinya, Kusuma memang baik dan penuh perhatian. Tapi hati Kusuma masih untuk Widya. Oleh karena itu, Jessie begitu membenci Ary dan keluarganya, terutama ibunya.
Sewaktu bertatap muka langsung dengan Widya tempo hari, Jessie mengakui kecantikan Widya. Wajah cantik Widya menawarkan keteduhan dan kenyamanan, sebagai seorang wanita dia juga merasakan apalagi laki-laki. Begitu juga wajah Ary, Jessie tidak ingin Alex selalu merasakan cemburu seperti dirinya. Karena Jessie tahu, Ary belum sepenuhnya melupakan suaminya yang telah meninggal.
"Apa aku salah jika aku ingin melindungi perasaan anakku? Aku tidak ingin anakku merasakan kesakitan seperti yang aku rasakan. Raganya aku miliki, tapi tidak hatinya." kata Jessie akhirnya, suaranya lemah dan air matanya menetes.
"Kamu memiliki raga dan hatiku, aku mencintaimu Jessie!" Kusuma kembali menegaskan isi hatinya agar Jessie mempercayainya.
Jessie hanya menyunggingkan senyum tipisnya, belum bisa percaya sepenuhnya pada sang suami.
Tiba-tiba Alex mendapatkan telepon dari Benyamin, tangan kanannya yang berada di Singapura. Benyamin mengabarkan kondisi usahanya yang diambang kehancuran.
Kafenya terancam ditutup pemerintah karena beberapa aduan dari masyarakat. Ada yang menyebarkan isu miring tentang kafenya.
Benyamin meminta Alex segera datang untuk membantunya menangani secara langsung masalah yang sedang dihadapi. Alex langsung menyanggupi permintaan tangan kanannya itu, karena kafe itu hasil keringatnya sendiri. Sebuah bisnis yang dibangunnya karena tidak ingin ada bayang-bayang nama besar keluarganya. Oleh sebab itu tanpa berpikir panjang Alex langsung memesan tiket pesawat untuk melakukan perjalanan ke Singapura.
"Mami harus meminta maaf pada keluarga Ary. Mami sudah keterlaluan kali ini, semoga saja bunda dapat diselamatkan." kata Alex pada ibunya setelah mengakhiri panggilan dengan Benyamin.
"Pi, Alex harus ke Singapura sekarang. Usahaku di sana terancam ditutup pemerintah setempat. Ada masalah yang harus aku selesaikan segera. Akan aku usahakan secepatnya pulang." Alex menatap ayahnya, berbicara sebentar sebelum meninggalkan rumah besar itu.
"Kamu harus memberitahukan pada istrimu, agar dia tidak menunggu kepulanganmu. Hati-hati dan jaga kesehatan!" Kusuma berpesan pada anaknya.
__ADS_1
"Iya, Pi! Nanti setelah di bandara Alex akan mengabari Ary. Papi juga jaga kesehatan. Titip anak istriku Pi!" kata Alex sambil berjalan menuju kamarnya untuk membawa beberapa potong pakaiannya.
Alex pergi ke bandara diantarkan oleh sopir keluarganya.