
"Bagaimana? Jadi putus atau terus?" tanya Eno.
Saat ini Ary dan Eno sedang mengobrol melalui telepon selulernya. Sudah lama mereka tidak bercengkrama, sehingga kerinduan melanda mereka.
"Judika keles!" jawab Ary cekikikan sambil bersandar di headboard ranjang.
"Habisnya kalian kek anak kecil, padahal sudah bau tanah. Yang satu on on, yang satunya lagi baperan. Pas! Cocok memang kalian!" cerocos Eno tanpa jeda.
"Kalau kami bau tanah, berarti kamu juga sama!" jawab Ary jengkel.
"Enak aja! Aku masih unyu-unyu ya, aku yang paling muda diantara kalian, asal kamu tahu!" seloroh Eno.
"Unyu-unyu kalau dilihat pakai sedotan!" sahut Ary.
"Buahahaha..." tawa mereka berdua serempak.
"Kamu ketawa kek gitu, emang anak ma suami nggak terganggu?" tanya Ary tiba-tiba teringat jika siang telah berganti malam.
"Aman! Mas Agam masih di luar, Richard dan Fany sudah tidur semua. Aku di kamar kok, jadi mereka berdua nggak dengar." jawab Eno menenangkan Ary.
"Kamu ketawa kenceng gitu, mas Agam pulang nggak tahu. Suara ketukan pintu nggak sampai ke telinga kamu." kata Ary tidak mau kalah, selalu saja saling mencari alasan agar candaan mereka tidak berhenti.
"Mas Agam bawa kunci rumah, jadi masih aman terkendali." jawab Eno serius.
"Serius amat Bu!" ledek Ary sambil menahan tawanya.
"Habisnya, ada saja balasan ocehan mu." jawab Eno.
"Malam malam begini kenapa belum tidur? Biasanya kan cepetan kamu yang tidur dari pada aku." tanya Eno kemudian, dia merasa malam sudah larut tapi Ary masih betah ngobrol dengannya.
__ADS_1
"Tidak bisa tidur!" jawab Ary singkat dan jelas.
"Kenapa lagi? Masih ragu, hmm?!" tanya Eno.
"Begitulah! Tapi aku sudah ambil keputusan, jadi aku harus belajar bertanggung jawab atas keputusan yang telah aku ambil. Walaupun... yaa. Kamu tahu sendiri, selalu saja ada cobaan yang menghampiri." Ary akhirnya mengeluarkan apa yang menjadi ganjalan hatinya.
Tak dapat dipungkiri memang, Ary masih bimbang antara lanjut atau berhenti. Jika lanjut akan semakin banyak cobaan yang harus dihadapi. Jika berhenti, berarti dia menyerah dengan keadaan. Cinta memang butuh perjuangan, semoga cinta yang diperjuangkan memberikan kebahagiaan pada Ary dan Alex.
"Cinta itu butuh perjuangan untuk bersatu, Ary. Aku yakin cinta yang kalian perjuangkan tidak akan sia-sia. Kalian berdua saling mencintai, cinta akan menguatkan ikatan kalian berdua." kata Eno mencoba memberi semangat pada Ary.
Eno tahu Ary masih dalam keraguan untuk melangkah bersama Alex, karena cobaan hidup bersama yang berbeda itu butuh adaptasi. Karena tidak mudah menyatukan perbedaan.
Setiap rumah tangga pasti memiliki masalah yang berbeda-beda. Masalah itu bisa berupa ekonomi, keturunan, kesehatan dan perbedaan. Perbedaan keyakinan yang paling sulit, jika cinta yang mereka miliki tidaklah kuat. Karena perbedaan itu akan susah mendapatkan restu dari kedua belah pihak.
Ibunya Alex, Jessie sampai sekarang masih belum mau memberikan restunya. Dan lebih parahnya lagi, Jessie tidak mau bertemu dan berbicara dengan Alex. Jessie masih menginginkan Tere manjadi menantunya. Baginya Tere adalah wanita yang pantas menjadi menantunya, bukan wanita lain.
"Aku hanya tidak ingin Alex menjadi anak durhaka, karena memilih mempertahankan aku. Padahal ibunya sangat menentang pernikahan kami, itulah kenapa aku belum mengiyakan ajakannya untuk mempercepat pernikahan." kata Ary setelah beberapa saat keheningan melanda.
Seperti itulah persahabatan antara Ary dan Eno, saling mengingatkan dan saling mendukung. Setiap masalah yang mereka hadapi, selalu mereka diskusikan bersama. Sehingga hasil akhirnya dapat memuaskan.
"Iyaa, aku akan selalu berusaha menjadi pendamping dikala suka dan duka. Walaupun berat untuk dijalani, tapi itu semua sudah menjadi keputusanku." jawab Ary merasa lebih lega dari sebelumnya.
Mengeluarkan semua isi hati yang menyesakkan dadanya. Dengan bertukar pikiran dengan Eno, sedikit banyak beban Ary berkurang.
"Tetap semangat menyongsong hari esok, semoga lebih baik dari pada hari ini." kata Eno menimpali Ary.
Ary pun tergelak mendengar kata-kata Eno baru saja. Eno selalu membuatnya tertawa dan terhibur. Bagi Ary, Eno adalah belahan jiwanya karena Eno selalu tahu apa yang ada dalam pikirannya. Walaupun Ary diam tanpa cerita apapun, Eno pasti tahu apa yang sedang Ary pikirkan. Ikatan batin mereka melebihi anak kembar. Padahal mereka bertemu saat usia menginjak remaja.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak atas saran dan dukungannya. Kamu memang d best!" kata Ary dengan semangat.
__ADS_1
"Siapa dulu, Eno gitu loh! Si cantik jelita mempesona sepanjang masa." jawab Eno dengan pongahnya.
"Iya iyaaa... Aku sudah ngantuk, besok kita lanjutkan ngobrolnya. Byeeee, assalamu'alaikum!" kata Ary mengakhiri percakapan mereka.
"Ok, bye. Wa'alaikum salam!" jawab Eno kemudian.
***
Ary terbangun dari tidurnya saat suara adzan berkumandang. Ary langsung bergegas menuju kamar mandi dan melakukan ritualnya setiap pagi hari. Setelah selesai, Ary keluar kamar untuk membantu bunda di dapur. Hari ini dia harus benar-benar menggunakan waktu sebaik-baiknya, agar tidak ada penyesalan.
Sarapan pagi itu hanya ada keheningan, Kemal melahap nasi goreng buatan Ary hingga piringnya bersih tak bersisa. Pagi ini, Ary yang memasak semua menu sarapan serta menghidangkannya di meja. Seperti itulah kebiasaan Ary jika di rumah. Dia ingin belajar menjadi istri yang baik, salah satunya menjamin semua penghuni rumahnya tidak kelaparan.
Setelah selesai sarapan Ary pun membereskan semuanya, kemudian mencuci piring dan gelas. Karena peralatan masak yang tadi digunakan sudah dicuci oleh Asih. Ary sudah terbiasa hidup sederhana, walaupun uangnya melimpah. Hasil didikan kedua orang tuanya, menjadikan Ary wanita yang mandiri dan serba bisa.
"Maaf, pak, Bu! Di depan ada tamu. Saya persilahkan masuk atau dibiarkan saja duduk di teras." tanya Asih menunduk, takut menganggu kebersamaan para majikannya.
"Biar ayah saja yang temui, kalian tunggu sini saja. Jika kalian dibutuhkan akan ayah panggil!" kata Kemal sambil beranjak.
"Padahal kita kan juga pengen tahu, siapa sih yang pagi-pagi begini sudah bertandang ke sini!" gerutu Ary.
Widya yang mendengar gerutuan terkekeh geli. Ternyata Ary masih seperti anak kecil yang mudah merajuk, jika jiwa ingin tahunya sangat tinggi. Tapi walaupun demikian, Ary selalu berusaha untuk mencari jawabannya.
Kemal tahu jika istrinya masih marah dan jengkel pada Alex. Dan Kemal sangat yakin, bahwa tamunya yang bertandang Alex. Sehingga Kemal yang tidak ingin istrinya sakit lagi, makanya Kemal yang akan menghadapi Alex.
Kemarahan Kemal yang sudah berada pada ambang batasnya, keluar menemui tamu tersebut. Saat sampai di teras, kemarahan itu sedikit mereda karena sudah terkontrol dengan baik.
Maaf jika masih ada typo mohon segera beritahukan, karena othor juga manusia biasa. Punya banyak salah dan khilaf.
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen dan vote.
__ADS_1
Terima gajeeeeeee 😘😘😘😘