MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Rencana Jessie


__ADS_3

Ary dan Alex hanya satu Minggu berada di Purworejo, karena Ary harus kembali bekerja. Ary hanya mengambil cuti menikah saja selama seminggu. Mereka memutuskan tinggal di rumah dinas yang Ary tempati selama ini. Alex memilih mall cabang Purworejo sebagai kantornya, karena hanya mall itu yang paling dekat dengan tempat tinggal mereka saat ini.


Sebulan sudah umur pernikahan Ary dan Alex, mereka semakin mesra dan lengket. Tapi sungguh sangat disayangkan, karena Jessie sang ibu belum juga memberikan restunya. Jessie bahkan menyusun rencana untuk memisahkan Alex dengan Ary.


Surat undangan pernikahan yang sudah tercetak akan digunakannya untuk memisahkan Alex dengan Ary. Jessie benar-benar tidak mau merestui Alex dan Ary. Jessie takut dia akan kehilangan anak laki-lakinya. Jessie takut jika Alex menikah dengan wanita pilihan sendiri, Alex akan menjauh dan melupakannya.


"Pokoknya aku harus memisahkan mereka! Bagaimana pun caranya, harus pisah!" gumam Jessie sambil meremas tangannya dan berjalan mondar-mandir di kamarnya.


"Enak saja, mau ambil anakku. Jangan jangan dia menikahi Alex karena harta, makanya walaupun tahu berbeda tetap mau menikah dengan Alex." Jessie mulai berprasangka.


Tidak ada yang tahu seberapa banyak harta peninggalan Rendy. Hanya keluarga dan teman dekatnya saja yang tahu. Ary yang selalu berpenampilan sederhana dan membaur dengan semua kalangan, tidak terlihat jika dia seorang miliarder. Begitu juga dengan Alex dan keluarganya, mereka hanya tahu Ary seorang dokter yang menjabat sebagai kepala rumah sakit, dengan penghasilan sekitar 100 juta sebulan.


***


"Yang, nanti aku pulangnya agak malam. Kamu makan malam duluan nggak usah nunggu aku pulang. Kemungkinan besar aku makan di kantor." kata Alex pagi itu sebelum berangkat kerja.


"Iya, kamu jangan telat makan! Jaga kesehatan walaupun kerjaan banyak, kamu tetap harus makan tepat waktu!" pesan Ary saat mengantarkan Alex ke depan.


Ary mengambil tangan Alex kemudian mencium punggung tangannya, sebelum Alex naik ke mobilnya. Alex membalasnya dengan mencium kening Ary. Tidak lupa mencium pipi Ary kanan kiri dan diakhiri dengan melu mat bibir Ary. Seperti itulah rutinitas mereka setiap hari sebelum berangkat kerja.


"Iya, sayang! Aku berangkat ya, byeeee. I love you!" kata Alex sambil membuat gerakan cium jauh sesaat akan memasuki mobilnya.


Setelah Alex pergi, barulah Ary bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Jarak rumah dengan rumah sakit yang dekat membuat Ary lebih santai berangkat kerja di banding Alex. Ary berangkat ke rumah sakit menggunakan motor matiknya, karena dia merasa lebih nyaman mengendarai motor dari pada mobil. Jarak yang begitu dekat jika menggunakan mobil malah semakin repot, begitu pikir Ary. Jarak rumah sakit dengan rumahnya hanya 100 meter saja.


Saat memasuki gedung rumah sakit, Ary mendapatkan panggilan telepon dari sahabat sejatinya, Eno.


"Hmm!" kata Ary sambil mengangkat panggilan dari Eno.


"Assalamu'alaikum ya ahli kubur!" kata Eno kesal.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh, ya ahli waris!" jawab Ary dengan senyumannya.


"Dasar pengantin baru lucknut! Sudah seneng ya, lupa ma yang jauh!" semprot Eno.


"Bukannya lupa, tapi pura-pura lupa!" jawab Ary sekenanya.


"Awas kau nanti, kalau terjadi apa-apa jan cari aku lagi!" ancam Eno.

__ADS_1


Ary yang mendengar ancaman dari Eno hanya tertawa.


"Sorry, aku beneran sibuk banget. Urus surat pengajuan pensiun dini, belum lagi Rend's Comp. Urus suami yang manjanya nggak ketulungan, anakku juga manja sama kek bapaknya." keluh Ary sambil kakinya terus melangkah memasuki ruangannya.


"Sudah aku alami duluan! Bahkan aku tahu rasanya dibantai selama seminggu penuh, karena dia balas dendam selama dua tahun puasa. Apalagi kamu, dia sudah lima tahun lebih puasa, jadi wajar kalau kalian tidak punya waktu buat sekedar say hallo ke aku!" cerocos Eno tanpa jeda sedikit pun.


"Malah bahas pembantaian sih!" jawab Ary cemberut.


"Aku telpon kamu, karena ingin secara khusus membahas pembantaian itu!" kata Eno terkikik geli.


"Semprul! Nggak pernah berubah ya kamu! Nggak pernah apa dikasih wejangan gitu dari mas Agam?" kata Ary mulai mengeluarkan pekerjaan yang akan diselesaikan hari ini.


"Dia mah nggak kurang-kurang kasih wejangan, terutama wejangan soal pembantaian." jawab Eno.


"Woo, wong edyaaaannnn! Masih pagi bahas kek gitu." kata Ary menggelengkan kepalanya, temannya yang satu ini memang kelewat gesrek.


"Nguahahaha!" Eno tertawa lepas mendengar kekesalan Ary, sudah lama rasanya tidak bercanda dengan Ary.


Eno merindukan saat-saat dulu bersama Ary. Bercanda dan tertawa lepas bersama menghilangkan rasa penat dan suntuknya.


"Sudah! Sudah! Aku mau kerja, besok kami mau pulang ke rumah ayah. Kerjaan harus beres semua hari ini." kata Ary ingin mengakhiri percakapan mereka.


" Iya, kami seminggu sekali pulang ke rumah ayah. Kevin juga, setiap hari Sabtu diantar Anton ke rumah. Kami setiap weekend selalu menginap biar ayah dan bunda tidak kesepian." Ary menjelaskan kenapa mereka memilih tinggal di rumah orang tua Ary.


"Memang mami Jessie belum kasih restu juga buat kalian?" tanya Eno heran.


"Mami belum mau menerima aku!" kata Ary sendu.


Ary sedih karena ibu mertuanya tak kunjung memberikan restunya.


"Kamu jan menyerah! Harus tetap optimis, pasti mami Jessie mau kok merestui kalian. Mami Jessie mungkin masih memerlukan waktu." kata Eno bijak.


Ary terdiam mencerna perkataan Eno, mungkin Eno benar, mami hanya butuh waktu untuk mengungkapkan perasaannya.


"Aku tidak ingin mendengar kamu putus asa karena restu yang belum ada. Kalian harus berjuang keras untuk mendapatkan restu mami. Sebenarnya mami itu baik, hanya saja kita belum mengenalnya lebih dalam, jadi ya seperti ini!" lanjut Eno karena Ary tidak kunjung menjawabnya.


"Siaappp! Kamu memang terbaik! Selalu membuatku menjadi bersemangat menjalani ujian hidup." kata Ary dengan senyum yang lebar.

__ADS_1


"Okelah kalau begitu, aku tutup dulu ya. Besok kita ngobrol lagi." kata Eno.


"Oke, aku juga harus bereskan semua laporan hari ini. Assalamu'alaikum!" kata Ary mengakhiri percakapan mereka.


"Wa'alaikum salam!" Eno menjawab salam dari Ary sebelum memencet tombol merah di layar HP-nya.


Ary dan Alex sama-sama fokus kerja hari ini, mereka ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang ke kampung halaman. Setiap hari Jum'at mereka berdua selalu membereskan pekerjaan sebelum ditinggal. Agar saat kembali masuk kerja, tidak banyak kerjaan yang menanti untuk dikerjakan.


***


Sabtu pagi Ary dan Alex sudah bersiap-siap untuk berangkat pulang kampung. Ritual yang mereka lakukan seminggu sekali. Pulang dari perantauan untuk menemui orang tua dan anak.


Mereka berdua tiba di rumah orang tua Ary, saat matahari belum terlalu tinggi. Jam sepuluh pagi mereka sudah sampai, mereka memilih perjalanan di pagi hari. Karena udara pagi masih segar, belum banyak tercampur polusi.


"Yang, aku mau jemput Kevin! Ikut?" tanya Alex sesaat setelah mereka masuk ke dalam kamar.


"Tidak! Aku di rumah saja, mau masak buat makan siang nanti. Kamu pergilah, hati-hati di jalan." jawab Ary sambil mendorong Alex keluar kamar karena dia ingin berganti pakaian.


"Oke! Masak yang enak ya, mom! I love you." kata Alex sambil berjalan mundur meninggalkan Ary di kamar. Setelah keluar kamar, Alex berjalan seperti biasa.


List pemenang lomba podium gift


1. @W⃠R⃟etno Boulongz RHitz 💯😎😎


2. @☠@Mputcomel😁


3. @Nayla QTak Terlihat☻


4. @aish🍭


5. @paiJah🍃


Pemenang sebagian sudah ambil hadiah. Bagi yang belum ambil segera PC saya .


Untuk saudara Rafael dan Butiran debu tidak termasuk dalam top fans gift. Jadi urutan berikutnya yang menang.


__ADS_1


Maaf terlambat up karena kesibukan di RL 🙏🙏🙏


Jika readers masih memiliki voucher vote dan poin, boleh dong tampol duren ansa pakai itu🤭🤭


__ADS_2