
Akhirnya diputuskan, Eno akan ikut setelah Fani terima raport. Agam berangkat terlebih dahulu ke tempat dinas yang baru. Selama Agam berada di luar Jawa, Bu Warni tinggal bersama Eno di Kulonprogo. Kedua orang tua Eno seminggu sekali datang berkunjung. Fani tetap melanjutkan sekolah PAUD seperti biasanya.
Toko milik Eno rencananya akan tetap dilanjutkan oleh mereka berempat. Reni tetap menjadi orang kepercayaan Eno untuk mengurus toko yang di Kulonprogo, sedangkan empat cabang toko yang lainnya kembali dipegang oleh Pak Mundarman dan Bu Marini.
Sebenarnya Eno sudah menempatkan orang-orang kepercayaannya di setiap tokonya. Toko paling besar dan menjadi head office dipegang oleh anak Pak Mundarman dari istri pertama. Anak Pak Mundarman terdiri dari dua laki-laki dari istri pertama dan Eno, anak perempuan satu-satunya dari istri kedua. Mereka bertiga sudah mendapatkan bagian masing-masing dari Pak Mundarman dengan pembagian yang adil.
Empat bulan sudah Agam berada jauh dari keluarganya. Setiap hari di kala waktu senggangnya dia selalu melakukan video call pada anak istrinya untuk mengurai rasa rindunya. Tapi sejak tadi malam Agam tidak melakukan itu, sehingga Eno pun merasa cemas dan khawatir. Siang ini Eno sudah berusaha berulangkali menghubungi Agam tetapi selalu operator yang menjawab.
Agam sengaja ingin membuat kejutan. Agam langsung memesan tiket pesawat ketika mendapat kabar besok Fani akan terima raport semester pertama. Dia sudah sangat merindukan istri dan anak-anaknya, terutama si Embul. Baby Richard saat ini sudah berumur delapan bulan, sehingga sudah pandai menanggapi jika diajak ngomong.
Sore harinya Agam baru sampai rumahnya, saat dia sampai keadaan rumah dan toko sepi. Eno mengajak anak-anaknya main ke rumah Ary, sedangkan Bu Warni kemarin pamitan pulang ke kampung halaman. Para karyawannya berada di dalam ruko, sebagian mandi dan juga ada yang menjaga toko.
Agam masuk ke rumah melalui pintu belakang, dilihatnya garasi, ternyata mobil Eno tidak ada. Hanya mobilnya saja yang masih tetap terparkir, mobil pick up sedang dipakai mengantarkan barang konsumen. Agam langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Arum tidak melihat kedatangan Agam karena sedang berada di kamarnya. Gadis itu tidak menyadari jika majikan gantengnya sudah berada di dalam kamar. Setelah selesai mandi, Arum ke dapur untuk menyiapkan makan malam sesuai perintah Eno.
Ketika waktu menjelang Maghrib Eno dan anak-anak baru pulang, tadi Eno mengadu pada Ary kalau suaminya tidak bisa dihubungi. Eno dinasehati Ary untuk bersabar menunggu kabar dari suaminya. Eno pulang setelah hati dan pikirannya sudah tenang.
Agam yang mendengar suara mobil Eno langsung bergegas menuju garasi mobil. Dia berdiri di gawang pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan garasi.
"Kalian dari mana?" tanya Agam sambil berdiri dengan sebelah tangannya berada di pinggang dan satunya lagi dia sandarkan di kusen pintu.
Eno yang kaget melihat suaminya langsung menghambur ke pelukan sang suami, melupakan anak-anaknya untuk meluapkan rindu pada suaminya.
Fani yang sudah bisa membuka pintu sendiri pun langsung keluar dari mobil, sedang si Embul masih terkurung di carseat-nya menangis sekencang-kencangnya. Sedang Fani berlari mendekati orang tuanya karena ingin ikut memeluk ayahnya.
Agam yang menyadari salah satu anaknya tidak ada di antara mereka langsung menyentil kening Eno.
"Kebiasaan! Selalu ceroboh!'' omel Agam sambil berjalan menuju mobil untuk mengambil si Embul.
Eno hanya meringis menyadari kesalahannya. Saking senangnya mendapati suaminya di depan mata menjadi lupa kalau anak masih tertinggal di dalam mobil.
Agam mengambil baby Richard dan menggendongnya. Bocah balita itu langsung tertawa kecil ketika melihat ayahnya datang menggendongnya.
"Pa pa pa... ya ya ya..." oceh baby Richard girang.
Baby Richard mulai memainkan tangannya di wajah sang ayah sambil mengoceh dan tertawa. Agam yang merindukan bayi itu pun menciumi pipi Richard. Fani pun ikut bermain bersama, sehingga rumah itu ramai dengan gelak tawa.
*
*
*
Kepulangan Agam untuk menjemput istri dan anak-anaknya disambut dengan bahagia oleh keluarganya. Sebelum berangkat ke Sumatera Utara, Agam mengajak istri dan anak-anaknya mengunjungi Bu Warni dan orang tua Eno untuk pamitan.
Sesaat sebelum kembali ke Sumatera Utara, Agam menemani Eno dan Ary serta Brandon menghadiri acara reuni SMA sekolah Eno dan Ary. Agam yang posesif melarang istrinya terlalu lama bergabung dengan teman-temannya. Agam mengijinkan istrinya menghadiri acara reuni SMA tapi dengan waktu terbatas.
Dua hari kemudian Agam memboyong istri dan anak-anaknya ke Sumatera Utara. Mobil Eno serta barang bawaan lain rencananya akan diantarkan sopir Pak Mundarman.
*
*
*
Istri dan anak-anak Agam bahagia tinggal bersama di tempat baru. Tempat tinggal mereka saat ini sangat strategis. Walaupun agak jauh dari kota, tapi dekat dengan Sekolah, Rumah Sakit, Stasiun Kereta Api serta Kantor Pos. Sehingga Eno tidak merasa kesulitan untuk mendapatkan pelayanan umum.
__ADS_1
Sore hari di Minggu yang cerah...
Eno sedang santai menunggu anak-anaknya bangun tidur. Sambil menunggu, Eno membaca artikel kesehatan sambil mendendangkan lagu sholawat yang ceritanya mirip dengan kisah cintanya dengan Dzaky yang berakhir menikah dengan Agam. Mendung Tanpa Udan versi Gus Azmi.
πΆ Jujur aku masih nyaman denganmu
Hancur harapanku memilikimu
Ternyata cintamu palsu
Kok aku baru tahu
Khilaf mencintaimu sebuah dosa
Maaf rasa itu sudah binasa
Semoga engkau bahagia
Selamat tinggal cinta
Lebih baik cukup
Terpaksa hatiku tutup
Jika memang kau tak sanggup
Bersamaku jadi teman hidup
Sejuk tanpa angin
Kamu hanya main-main
Ditinggal awakmu aku cari yang lain
Aku pengen meminang (dipinang)mu serius
Jika cintamu tak tulus
Selesai mending putus
Cinta bukan sekedar sayang
Hati 'kan kubuka untuk yang datang
Silahkan pergi menghilang
Tak 'kan kau kukenang
Lebih baik cukup
Terpaksa hatiku tutup
Jika memang kau tak sanggup
Bersamaku jadi teman hidup
Sejuk tanpa angin
__ADS_1
Kamu hanya main-main
Ditinggal awakmu aku cari yang lain
Jangan bilang hatiku 'kan terluka
Bukan aku bukan pengemis cinta
Akhlak yang utama
Yo wes itu saja
Bodoh jika kau masih mengharapkan
Jodoh sudah ada di tangan Tuhan
Pergilah bawa kenangan
Kau kulepaskan
Lebih baik cukup
Terpaksa hatiku tutup
Jika memang kau tak sanggup
Bersamaku jadi teman hidup
Sejuk tanpa angin
Kamu hanya main-main
Ditinggal awakmu aku cari yang lain
Mlaku bebarengan
Ben dino sayang sayangan
Kadang beda pilihan
Nganti pedot balikan
Mendung tanpa udan
Ketemu lan kelangan
Kabeh kuwi sing diarani perjalanan πΆ
Agam yang kebetulan melewati Eno ikut berdendang. Mendekati Eno dan memeluknya dari belakang.
"Enak ya lagunya! Pas kena di hati, hahaha!" kata Agam sambil tertawa, menertawakan masa lalu yang penuh lika-liku perjalanan.
Awal mula hanya ingin berbakti pada orang tua dan menyempurnakan ibadah, berakhir dengan kehidupan yang bahagia. Siapa yang akan menyangka jika pernikahan yang awalnya tanpa cinta sekarang berakhir bahagia dengan penuh cinta.
"Hehehe... Nggak usah diingat lagi. Yang penting sekarang kita bahagia seperti lagu sholawat itu." ucap Eno sambil tersenyum dan mengeratkan pelukannya.
TAMAT
__ADS_1
Terima kasih banyak atas dukungan kalian para readers setia MDA yang selalu mengikuti karya recehku. Tanpa kalian MDA tidak akan pernah selesai, kalian adalah penyemangatku dalam menulis. Tanpa kalian aku bukan apa-apa, aku hanya sebutir debu yang hanya mengganggu kenyamanan. Saya butiran debu memohon maaf yang sebesar-besarnya bila dalam penulisan ada kata yang menyinggung perasaan readers. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih πππ
Peluk hangat online dari butiran debuπ€π€π€π€