
"I'm single and i'm very happy!" jawaban Ary masih terus terngiang-ngiang di telinga Alex.
"Halloo!' teriak Ary sambil menggerakkan tangannya di depan mata Alex.
Alex masih belum percaya jika Ary masih betah sendiri. Alex seperti mendapatkan jackpot, hatinya berbunga-bunga karena bahagianya.
Masih adakah namaku di hatimu, Ar? batin Alex bertanya-tanya.
"I-iya!" kata Alex tergagap, Alex merasa malu karena ketahuan melamun.
Ary menggerutu dalam hati, tadi nanya begitu dijawab malah bengong.
"Sorry, tadi ada rasa tidak yakin dengan jawaban kamu yang mengatakan single. Karena begitu banyak laki-laki yang mengagumi kamu. Salah satunya aku, muehehe..." kata Alex dengan tertawa kecil.
"Nggak percaya ya sudah! Aku mau balik ke rumah sakit, masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan." kata Ary sambil beranjak dari duduknya.
"Tunggu! Begitu aja ngambek!" kata Alex memegang tangan Ary, bermaksud menahan kepergian Ary.
"Kalau tidak ada yang penting lagi untuk dibicarakan, lebih baik aku kembali bekerja. Nggak baik korupsi waktu, seharusnya aku sudah berada di rumah sakit sekarang!" jawab Ary kesal.
Ary pikir dengan menjawab single, akan ada usaha Alex untuk memenangkan hatinya. Ternyata kenyataannya berkata lain. Alex masih seperti dulu, lambat bergerak.
"Okelah kalau begitu, aku antar ya!" kata Alex menyerah.
"Nanti repot, kamu mesti putar balik. Karena kita gak searah. Dari sini masih jauh lagi. Emang kamu gak sibuk?" Ary menolak secara halus.
"Kalau aku sibuk, kita nggak akan bertemu disini. Aku antar, ok?!" Alex memaksa untuk mengantar Ary ke rumah sakit tempat dinasnya.
"Baiklah, maaf ya jadi repotin kamu!" kata Ary tersenyum manis. Dalam hati Ary saat ini sedang bergemuruh, antara senang dan kesal. Senang karena Alex masih perhatian padanya, kesal karena Alex selalu saja menahan perasaannya.
Akhirnya Alex melepaskan pegangannya. Karena memang sekarang waktunya bekerja, tidak baik lama-lama menahan Ary disini. Hal itu dapat merusak nama baik Ary sebagai ASN. Mereka berjalan beriringan keluar dari rumah makan itu.
"Kita ke arah mana?" tanya Alex begitu mobilnya keluar dari halaman rumah makan.
"Putar balik, terus lurus aja. Ada patung kuda putih kita belok kiri." jawab Ary mengarahkan jalan menuju rumah sakit tempatnya bekerja.
"Oke!" jawab Alex.
Alex mulai menjalankan mobilnya sesuai arahan Ary. Agar mobil tidak terasa sunyi, Alex menghidupkan musik.
"Ini aja ya, enak didengar saat seperti ini!" kata Alex begitu terdengar suara musiknya.
Ary hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Jika teringat tentang dikau
Sempat terpikir tuk kembali
Walau beda akan ku jalani
__ADS_1
Tak ada niat untuk selamanya pergi
Jika teringat tentang dikau
Apakah sama yang ku rasa
Ingin jumpa walau ada segan
Tak ada niat untuk berpisah denganmu
Jika memang masih bisa mulutku berbicara
Santun kata yang ingin terucap
Kan ku dengar caci dan puji dirimu padaku
Kita masih muda dalam mencari keputusan
Maafkan daku ingin kembali
Seumpama ada jalan tuk kembali
Jika teringat tentang dikau
Tak ada niat untuk selamanya pergi
Jika teringat tentang dikau
Tak ada niat untuk berpisah denganmu
Jika memang masih bisa mulutku berbicara
Santun kata yang ingin terucap
Kan ku dengar caci dan puji dirimu padaku
Kita masih muda dalam mencari keputusan
Maafkan daku ingin kembali
Seumpama ada jalan tuk kembali
Jika memang masih bisa mulutku berbicara
Santun kata yang ingin terucap
Kan ku dengar caci dan puji dirimu padaku
Kita masih muda dalam mencari keputusan
__ADS_1
Maafkan daku ingin kembali
Seumpama ada jalan tuk kembali
Ary hanya tersipu mendengar lagu dari Melly Goeslow feat Ari Lasso, sedangkan Alex ikut melantunkan lagu tersebut. Mereka merasa jika lagu yang saat ini mereka dengar mewakili perasaan mereka berdua. Tapi keduanya masih sama-sama segan untuk mengawali hubungan lagi.
"Jauh juga ya?" kata Alex setelah mematikan musik.
"Kan tadi sudah dibilang, kamunya yang maksa. Nyesel kan?!" jawab Ary sambil tersenyum mengejek.
"Nyesel sih enggak, seneng malah. Tapi apa kamu nggak takut melakukan perjalanan sendirian di daerah sini. Sepi banget lho?!" kata Alex.
"Kalau siang masih ramai, banyak warga yang melintas. Kalau malam baru sepi. Tapi selama disini jarang sih, keluar malam, kalaupun harus keluar aku bawa sopir." jawab Ary.
"Betah disini?" tanya Alex sambil sesekali melihat ke arah Ary.
"Betah banget!" jawab Ary antusias.
"Kenapa? Disini sepi lho, ke kota pun lumayan. Lagian kotanya kan belum maju, belum lengkap." tanya Alex penasaran.
"Disini itu suasananya tenang, warganya masih memiliki rasa peduli yang tinggi, terus udaranya juga masih segar. Pokoknya enak banget!" jawab Ary membanggakan tempat tinggalnya sekarang.
"Iya, sih masih segar udaranya. Belum banyak polusi. Tapi kalau membutuhkan barang tertentu susah kan disini?"
"Orang-orang disini lebih banyak memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Tidak harus memakai barang yang baru untuk memenuhi kebutuhan dan bekerja. Prinsip orang disini tak ada rotan, akar pun jadi." jelas Ary.
Alex mendengar penjelasan Ary hanya menganggukkan kepalanya. Alex berjanji pada dirinya sendiri, jika nanti akan kembali ke sini lagi.
"Nah, depan itu rumah sakitnya." kata Ary beberapa saat kemudian.
Alex membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah sakit. Dia memarkirkan mobilnya di sebelah kanan pintu masuk.
"Ikut masuk atau mau langsung jalan?" tanya Ary bermaksud menyuruh Alex singgah tapi gengsi
"Boleh ikut masuk? Nanti tidak menganggu pekerjaan kamu?" tanya Alex ragu-ragu.
"Boleh lah, masak gak boleh. Asal jangan buat kerusuhan aja disini!" jawab Ary sambil keluar dari mobil Alex dan berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.
"Kecil rumah sakitnya?" tanya Alex yang mengikuti Ary dari belakang.
"Iya, baru empat tahun terakhir ini beroperasi. Tenaga medisnya juga masih sedikit, walaupun banyak pasien yang datang." jawab Ary.
"Selama aku disini, sudah berulangkali gonta-ganti dokternya. Yang bertahan cuma aku!" imbuh Ary sambil terkekeh.
"Bukannya sebuah rumah sakit itu harus ada beberapa dokter?" tanya Alex sambil pandangan matanya berkeliling, memindai rumah sakit itu.
"Ada tiga dokter disini. Dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam dan aku. Kalau perawat ada sekitar sepuluh orang, karyawan lainnya ada lima orang. Lima orang itu, bagian administrasi dan petugas kebersihan. Selain itu ada sopir, tukang kebun serta petugas jaga malam." jelas Ary sambil memasuki ruangannya.
Alex mengikuti Ary, kemudian duduk di sofa yang ditunjukkan Ary. Sofa itu berada di depan meja kerja Ary. Di ruangan itu juga terdapat bed untuk istirahat jika sedang jaga malam.
__ADS_1