MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Ngambek


__ADS_3

"Sayang..." panggil Alex lirih, dia terbangun setelah dua jam tertidur karena pengaruh obat.


Ary saat ini sedang membaca artikel bisnis di HP-nya, dia mulai fokus belajar bisnis. Karena setelah pensiun nanti dia akan mulai ikut langsung mengelola usahanya. Brandon dan Rommy sudah meminta ijin untuk membuka usaha sendiri. Berarti mau tidak mau, Ary harus turun tangan sendiri.


"Sayang!" panggil Alex dengan suara lebih kuat, agar Ary mendengar suaranya.


Ary yang mendengar suara suaminya memanggil, langsung berdiri dan mendekati, tapi sebelumnya Ary mematikan HP-nya.


"Sudah bangun! Mau minum?" tanya Ary datar.


Sejak Alex pergi ke Singapura tidak pamit, Ary bersikap datar pada suaminya. Kekesalannya tidak mau hilang, padahal dia sudah berusaha ikhlas.


"Iya." jawab Alex lirih, dia tidak berani mengajak bercanda istrinya karena saat ini sang istri mode jutek on.


Ary langsung mengambil gelas berisi air putih, saat Ary mengambil gelas Alex berusaha untuk duduk. Ary yang melihat sekilas langsung kembali meletakkan gelas tersebut. Ary merubah posisi ranjang agar Alex bisa sedikit tegak walaupun tanpa duduk.


Ary membantu Alex minum. Alex tersenyum untuk mengucapkan terima kasih pada istrinya.


"Makan buburnya habis itu minum obat, biar cepat sembuh." kata Ary datar.


"Iya, tapi kamu suapi ya!" jawab Alex manja.


Ary menyuapi Alex hingga habis, setelahnya Ary membukakan obat dan memberikan pada Alex untuk diminum.


"Terima kasih." ucap Alex masih dengan senyum terukir di bibirnya.


"Hmm!" jawab Ary sambil meletakkan kembali gelas ke meja.


"Sayang, jangan ngambek lagi dong. Harusnya suami pulang itu disambut dengan senyum manis, biar suami seneng. Ini malah dari tadi jutek terus." ucap Alex mencoba menggoda Ary agar tidak marah lagi


Ary yang dikatakan jutek oleh suaminya, langsung membulatkan matanya.


"Oh, jutek ya. Baru nyadar? Kenapa dulu kamu ngejar si jutek buat dijadiin istri? Sekarang nyesel?!" kata Ary dengan senyum sinis.


"Bu- bukan begitu, sayang! Jangan marah dulu!" kata Alex tergagap. Dia tidak menyangka sama sekali jika istrinya akan semakin marah.

__ADS_1


"Nggak marah kok, tenang saja! Aku sudah terbiasa dikatakan jutek." jawab Ary berpaling dari hadapan Alex.


Dengan pelan tapi pasti, Ary berjalan meninggalkan Alex sendirian tanpa disadari.


Alex yang tersadar saat Ary sudah memegang kenop pintu.


"Yang, mau kemana? Kok aku ditinggal sendiri lagi!" teriak Alex saat Ary membuka pintu.


"Ada yang nggak mau lihat si jutek. Jadi si jutek pergi ajah. Byeeee!" kata Ary sambil melambaikan tangannya.


"Yang, jangan pergi dulu!" teriak Alex lantang.


"Ogah!" jawab Ary sambil menutup pintu, kemudian berjalan menuju kamar ibunya dirawat.


Kekesalan Ary makin bertambah karena dikatakan jutek oleh suaminya.


"Kenapa kamu kesini lagi? Siapa yang menemani suami kamu?" tanya Kemal pada anaknya.


Ary tetap memasang wajah cemberut, walaupun dia sudah duduk di dekat ayahnya. Art tidak tahu kenapa moodnya akhir-akhir ini tidak bagus. Sering sedih dan marah tiba-tiba.


Kemal begitu menyayangi Ary, sehingga dia selalu menasehati Ary agar Ary bisa hidup bahagia. Karena kebahagiaan Ary baginya anugerah Tuhan yang terindah.


Setiap orang tua pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Menginginkan kebahagiaan anak-anaknya, walaupun kadang anak membuat kesalahan.


"Dia pergi nggak ada kabar, terus pulang dalam keadaan sakit. Lalu usahanya yang terbelengkalai. Apa Ary tidak boleh kesal, jika selalu membuat kesalahan?" tanya Ary sedikit meninggikan suaranya.


Mood Ary benar-benar hancur, sejak melihat suaminya dibawa ke UGD oleh Anton.


"Kamu meninggikan suara pada ayah, nak?" tanya Kemal heran, tidak biasanya Ary meninggikan suaranya pada orang yang lebih tua.


"Hiks.. hiks..." Ary terisak.


"Sudah jangan nangis lagi. Sebenarnya kamu kenapa, hmm?" tanya Kemal akhirnya, mendekati Ary dan memeluk anak kesayangannya itu.


"Ary tidak tahu kenapa, yah! Ary hanya merasa kesal yang sangat hingga rasanya ingin menangis." jawab Ary sambil terus terisak dalam dekapan ayahnya.

__ADS_1


Sementara itu, Kusuma dan Jessie datang ke rumah sakit untuk menjenguk anaknya.


"Istri seperti apa yang tega membiarkan suaminya terbaring di rumah sakit sendirian!" cela Jessie begitu masuk ke ruang rawat Alex.


Jessie dan Kusuma hanya mendapati Alex sendirian terbaring di atas ranjangnya. Jessie langsung murka tanpa tahu alasannya.


Alex terkejut saat mendengar suara ibunya yang menggelegar di kamarnya. Padahal Alex hampir saja terlelap.


Ary dan Kemal juga mendengar teriakan Jessie dari kamar sebelah. Ary dan Kemal langsung keluar menuju asal suara. Sedangkan Widya dibiarkan tertidur.


Betapa terkejutnya Ary saat melihat kedua mertuanya sudah berada di dalam kamar rawat Alex. Ary langsung mendekati mereka, kemudian mengulurkan tangannya untuk meraih tangan mertuanya. Ary menyalami dan mencium punggung tangan Kusuma. Saat Ary ingin menyalami tangan Jessie, Jessie langsung bersedekap. Jessie tidak mau disalam oleh Ary.


Ary dan Kemal tampak kecewa dengan sikap Jessie. Sedangkan Kusuma sangat malu pada besan dan menantunya atas kelakuan Jessie.


"Kamu memang sudah dibutakan cinta! Istri suka kelayapan aja masih kamu pertahankan!" kata Jessie ketus.


"Ary tadi baru saja keluar karena bunda juga dirawat di kamar sebelah, Mi! Mami jangan berprasangka buruk terus pada Ary." kata Alex sedikit berteriak.


Alex heran kenapa ibunya belum juga mau memberikan restunya.


"Ahh, alasan saja!" jawab Jessie kasar.


"Mi! Jaga sikapmu! Besan kita sakit karena ulah mami. Seharusnya mami meminta maaf pada mereka!" kata Kusuma dengan kesal.


Istrinya tidak mau mendengarkan perkataannya dari tadi. Padahal tadi sebelum ke rumah sakit, Jessie berjanji akan ikut menjenguk besannya dan hendak meminta maaf. Jessie juga diminta Kemal untuk meminta maaf pada ibunya Ary.


Jessie sangat keras kepala. Suaminya pun kewalahan membujuk Jessie agar mau meminta maaf pada besan dan menantunya.


Jessie tidak peduli dengan semua omongan suami dan anaknya. Baginya Ary hanya membawa pengaruh buruk untuk anak laki-laki kesayangannya. Alex sekarang begitu jauh darinya, Alex selalu membantahnya. Begitulah cara berpikir Jessie, dia selalu merasa Ary adalah sumber kesedihan Alex dan dirinya.


"Pi, sudah. Kami nggak apa-apa kok. Mungkin Tuhan sangat menyayangi kami, karena itu teguran bagi kami agar banyak istirahat. Tidak terlalu mengejar dunia." kata Ary sambil memegang lengan ayah mertuanya.


"Terima kasih atas pengertiannya. Papi bangga punya menantu kamu. Hatimu begitu luas seperti samudera." jawab Kusuma sambil mengusap tangan Ary yang memegang lengannya.


Alex yang melihat kedekatan Ary dengan ayahnya menjadi cemburu. Tapi dia tidak bisa menghalangi Ary agar tidak berdekatan dengan ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2