
Eno terbangun saat merasa badannya melayang di udara. Dia teringat anaknya yang tadi berada dalam pelukannya tiba-tiba tidak ada.
"Mas, anakku mana?" tanya Eno saat Agam akan meletakkannya di atas ranjang.
"Pertanyaan apa itu? Anak kita, bukan anakku karena dia itu hasil kolaborasi kita berdua. Jangan lagi ucap kata anakku lagi pada suamimu!" jawab Agam sambil meletakkan Eno dengan perlahan kemudian mencubit hidungnya.
"Iya, Richard mana?" tanya Eno lagi menegakkan tubuhnya hendak bangun mencari anaknya.
Agam menahan tubuh Eno agar tidak bangun.
"Kamu tidur aja, mumpung Richard juga tidur. Istirahat yang cukup agar badan fresh dan ASI lancar." nasehat Agam lembut, dia tak ingin kejadian tadi terulang lagi.
"Tapi, Mas?!" bantah Eno masih berusaha bangun dari tidurnya.
"Nggak ada kata tapi! Kamu harus banyak istirahat, jangan banyak pikiran! Semakin banyak pikiran semakin ASI tidak akan mau keluar. Kamu mau sakit, hmm?!" Agam sedikit menguatkan suaranya agar Eno patuh, demi kebaikan Eno dan anaknya.
Eno menggelengkan kepalanya kemudian kembali merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. Agam langsung mengusap kepala Eno begitu Eno berbaring. Tidak hanya kepala yang diusap, tengkuk hingga punggung Eno pun diusapnya juga. Agam melakukan semua itu agar Eno rileks dan tenang sehingga bisa istirahat cukup, serta ASI-nya bisa keluar lagi.
Dua jam kemudian...
Baby Richard terbangun karena rasa haus dan lapar yang menderanya. Bayi itu menangis lagi untuk mendapatkan sumber penghidupannya. Agam dengan sigap langsung menggendong baby Richard yang menangis.
"Ren, tolong buatkan sufor untuk Richard!" teriak Agam sambil menenangkan anaknya.
Ren yang saat itu masih melayani pembeli pun langsung berlari meninggalkan pembeli. Sebelum meninggalkan pembeli tersebut, Reni memanggil Wulan untuk menggantikannya.
"Ada si Arum, kenapa juga masih aku aja yang dicari mas Agam?!" Reni menggerutu pelan karena takut kena sembur sang majikan.
Agam yang mendengar gerutuan Reni langsung menanggapi.
"Arum ngurus Fani! Nggak mungkin aku menyuruh mertua atau ibuku sendiri, mereka bukan pekerjaku!" kata Agam sengit.
Reni yang tidak menyadari adanya Agam di dekatnya menjadi terkejut, kemudian menoleh ke arah suara di mana Agam berada.
"Maaf, Pak! Saya..."
__ADS_1
"Tidak usah banyak alasan, cukup kerjakan!" perintah Agam menyela kata-kata Reni.
"Ba-baik, Pak!" jawab Reni kemudian langsung bergegas ke dapur membuat sufor untuk baby Richard.
Bu Warni yang mendengar tangisan cucunya yang masih bayi, akhirnya keluar kamar. Setelah semalaman dan setengah hari mengurung diri, Bu Warni pun bisa berpikir jernih.
"Biar Ibu yang gendong, Gam!" kata Bu Warni sambil mendekati anaknya.
Agam terkejut tiba-tiba ibunya keluar kamar, padahal tadi pagi saat heboh dengan tangisan Richard dia tidak bergeming sama sekali. Saat ini yang mana bayinya sudah mulai tenang mendapatkan sufor, tiba-tiba saja ingin menggendong.
"Richard masih minum, Bu! Nanti setelah selesai minum saja!" ucap Agam membetulkan posisi duduknya yang memangku baby Richard.
Mendengar jawaban Agam yang menolak memberikan Richard padanya, Bu Warni memilih duduk di sebelah Agam.
"Ibu makan dulu, sejak tadi pagi Ibu belum makan. Nanti Ibu sakit!" ucap Agam pada ibunya.
Bu Warni hampir membuka mulutnya untuk bersuara tapi Agam sudah menyela.
"Bukan mendo'akan tapi lebih baik mencegah daripada mengobati." lanjut Agam.
"Katanya mau pulang, Jeng? Nggak jadi?" tanya Bu Warni basa-basi sambil mendekati besannya.
"Richard tiba-tiba rewel, mana mungkin aku membiarkan anakku kerepotan sendirian. Apalagi semalaman suntuk putri kami tidak bisa tidur karena memikirkan keegoisan seorang ibu." Bu Marini menjawab dengan sindiran sambil mengaduk sayur yang sudah menggelegak.
Bu Marini sangat kesal dengan sikap besannya itu. Apa salahnya mendengar kata-kata anak, toh bukan sepenuhnya salah anaknya. Mana bisa orang tua memaksa anaknya untuk tinggal bersamanya, apalagi anak tersebut memiliki ikatan pekerjaan. Jika anaknya seorang pengusaha atau wirausaha, bisa saja anak itu mengembangkan usahanya di kampung halaman. Jika anak tersebut seorang abdi negara, seorang ibu harus merelakan anaknya dimiliki oleh negara.
Bu Warni hanya diam saja, mendengar sindiran dari besannya. Dia memang salah, dan kesalahannya berdampak pada menantu dan cucunya yang masih bayi.
"Maafkan saya, Jeng!" ucap bu Warni lirih.
Bu Marini mematikan kompor setelah merasa bumbu dan kematangan sayurnya pas.
"Jangan minta maaf padaku, aku nggak ada hubungannya?" jawab Bu Marini meninggalkan Bu Warni.
Bu Marini mengambil mangkuk sayur untuk tempat sayur yang baru saja matang. Dia mulai memindahkan sayur tersebut, kemudian menghidangkannya di meja makan.
__ADS_1
"Agam!" panggil Bu Marini pada menantunya yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Iya, Ma!" jawab Agam mendekati mertuanya masih dengan Agam dalam gendongannya.
Baby Richard tidak mau tidur lagi, dia ingin mengajak bermain sang ayah yang menggendongnya.
"Cucu Eyang mau bermain ya?" kata Bu Marini sambil mengambil Richard dari gendongan Agam.
"Mama mau bawa Richard ke mana?" tanya Agam saat melihat anaknya dibawa menjauh dari meja makan.
"Bangunin Eyang Kakung sama Mama. Iya 'kan, sayang?!" jawab Bu Marini sambil menatap cucunya yang gembul.
Richard tertawa ketika melihat sang nenek berkata dengan menatapnya. Dia merasa diajak ngobrol. Bu Marini yang gemas melihat Richard pun menciumi pipi gembul bayi itu.
Agam mendekati ibunya yang masih berdiri bersandar dinding dapur. Bu Warni menangis sesenggukan. Dia merasa bersalah dan menyesal karena telah membuat kekacauan di rumah menantunya.
"Ibu!" sapa Agam begitu di dekat ibunya.
"Ada apa, Bu? Ibu sakit?" tanya Agam cemas.
Siapa yang tidak cemas saat melihat ibunya menangis tergugu sendirian tanpa ada yang menemani.
"Ibu tidak apa-apa. Maafkan Ibu, Gam!" kata Bu Warni dalam Isak tangisnya.
"Kenapa Ibu minta maaf? Ibu tidak ada salah, di sini kami 'lah yang salah. Sekarang kita makan dulu karena nangis juga butuh tenaga," bujuk Agam sambil memegang lengan ibunya.
Bu Warni menuruti kata Agam. Mereka pun berjalan menuju meja makan untuk makan siang bersama.
Tak lama setelah Agam dan ibunya duduk, Bu Marini datang masih dengan baby Richard dalam gendongannya. Di belakang Bu Marini ada papa Eno mengikuti langkah Bu Marini sambil sesekali mengajak bercanda Richard.
"Eno mana, Ma?" tanya Agam pada ibu mertuanya.
"Sebentar lagi juga ke sini, katanya tadi mau mandi dulu biar seger. Maklum dia tadi masih tidur saat Mama masuk kamarnya. Sekarang kalian makan duluan saja, biar Richard Mama gendong." jawab Bu Marini.
Maaf lagi, belum bisa up secara rutin padahal tinggal dua atau tiga bab lagi🙏
__ADS_1