
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" kata Ary kemudian.
"Aku hanya ingin tahu, masih adakah kesempatan itu." jawab Alex pelan.
Rasa percaya dirinya menguap entah kemana. Sejak dulu Alex selalu kehilangan rasa percaya dirinya ketika bersama Ary. Baginya, Ary adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga sulit untuk digapai.
"Kesempatan apa?" Ary pura-pura tidak tahu.
"Kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, sehingga kita bisa bersama." jawab Alex, akhirnya dia bisa juga mengeluarkan isi hatinya. Untuk bersama Ary, membangun sebuah rumah tangga dambaan setiap orang.
"Kesempatan itu selalu ada, Alex! Hanya saja, keberuntungan itu tidak selalu berpihak pada orang yang sama." kata Ary sambil tersenyum.
"Maka dari itu selalu gunakan kesempatan yang ada, mana tahu saat itu keberuntungan sedang berpihak kepadamu." lanjut Ary.
"Karena masih ada kesempatan, ijinkan aku untuk menggunakan kesempatan itu dengan baik. Dan semoga keberuntungan berpihak padaku." kata Alex menyahuti Ary. Dia merasa harus bertindak cepat, sebelum ibunya menyebar kartu undangan pernikahannya dengan wanita lain.
"Kamu maju, aku malah yang meragu. Karena perbedaan kita, membuat aku takut keberuntungan tidak akan pernah berpihak." jawab Ary menunduk, karena dia merasa tidak yakin bisa bersatu dengan Alex.
Mengingat perbedaan antara mereka yang sangat banyak. Dari perbedaan keyakinan hingga status sosial. Walaupun Ary bukanlah orang miskin, tapi keluarga Alex masih jauh dari jangkauannya. Orang tuanya yang hanya pensiunan guru SD, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang tua Alex yang seorang pengusaha.
"Kenapa meragu? Apa kamu meragukan perasaanku?" tanya Alex mulai tersulut emosi, karena kata ragu yang keluar dari mulut Ary.
"Bukan meragukan perasaanmu, tapi meragukan keberuntungan. Aku ragu keberuntungan akan berpihak pada hubungan kita nantinya." jelas Ary.
Alex mulai sedikit terpancing dengan perkataan Ary. Rasanya dia ingin mengatakan, barusan kamu bilang harus sering menggunakan kesempatan dengan baik, mana tahu Dewi Fortuna sedang berpihak. Alex menepikan mobilnya, lebih baik berbicara saat tidak menyetir.
__ADS_1
"Kamu masih memikirkan perbedaan kita?" tanya Alex begitu mobil berhenti di bawah pohon yang rindang.
"Nyatanya banyak sekali perbedaan kita. Menikah itu bukan karena cinta saja. Tapi juga harus ada unsur kesamaan juga." jawab Ary memberi alasan untuk mengelak.
"Di dalam sebuah hubungan itu, perbedaan itulah yang membuat kita untuk saling melengkapi. Bukan untuk saling menjauhi, bukan pula untuk membenci. Seperti halnya anggota tubuh kita, tangan kita kanan dan kiri. Itu jelas berbeda, tapi saling melengkapi, saling bekerja sama sehingga tubuh kita seimbang." jelas Alex.
"Di dunia ini, ada siang dan malam. Ada panas dan hujan. Mereka semua beda tapi bisa menjadi pasangan dan bisa saling melengkapi." lanjut Alex.
Ary yang ingin menolak secara halus, merasa tersindir. Sebenarnya dia sudah tahu, bahwa perbedaan bukanlah alasan yang tepat. Terkesan dibuat-buat untuk menjauhi Alex.
Sebenarnya Ary belum siap, karena walau bagaimanapun, perbedaan mereka akan sulit diterima oleh kedua belah pihak. Baik dari keluarga Alex maupun keluarganya sendiri.
"Mau kan berjuang bersamaku, membangun sebuah mahligai rumah tangga, hingga maut memisahkan?" tanya Alex kemudian karena Ary hanya diam saja sejak dia mengatakan perbedaan itu untuk melengkapi.
Sebenarnya Alex tidak ingin melamar Ary dengan cara seperti ini. Mumpung ada kesempatan untuk berbicara dengan Ary. Karena seperti pesan dari Eno dan juga perkataan Ary tadi, bahwa dia harus menggunakan kesempatan sebaik mungkin. Jadi akhirnya, di pinggir jalan raya Jogja-Kulonprogo, Alex melamar Ary. Bermodalkan cincin yang telah lama disimpannya.
Ary tidak ingin nantinya salah dalam mengambil keputusan. Karena dia ingin hanya sekali dalam berumah tangga, kalaupun harus berulang kali disebabkan kematian bukan perceraian.
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk memikirkannya?" tanya Alex menatap mata Ary.
Ary menjadi gugup karena secara tidak sengaja mata mereka saling menatap. Seakan waktu berhenti berputar ketika keduanya hanya saling menatap dalam diam. Ary yang pertama kali tersadar langsung memalingkan wajahnya kearah jalanan.
"Tiga, iya tiga hari lagi! Aku akan berikan jawaban itu." jawab Ary akhirnya.
Menurutnya waktu tiga hari sudah cukup untuk mengambil keputusan. Ary tidak mungkin mengambil keputusan sendiri, dia juga akan meminta pendapat dari kedua orang tuanya. Besok hari Jum'at, jadi besok siang Ary bisa pulang ke rumah orang tuanya meminta pendapat mereka.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggumu. Semoga jawaban kamu tidak mengecewakan aku." Alex berharap Ary menerima lamarannya.
Ary tidak pernah habis pikir, kenapa selalu dalam keadaan yang tidak terduga dia dilamar laki-laki. Saat bersama Rendy dulu, tiba-tiba saja Rendy melamarnya padahal Rendy dalam keadaan sakit berat. Sekarang ini, saat dalam perjalanan ke tempat kerja, Alex melamarnya.
Selama ini tidak ada komunikasi, tiba-tiba saja dilamar. Bagaimana sifat Alex saja, Ary belum paham betul karena komunikasi yang kurang. Bahkan, apa saja yang dilakukan Alex, Ary tidak tahu. Ary hanya tahu jika Alex adalah seorang duda beranak satu. Tentang sepak terjang Alex di dunia bisnis, Ary kurang begitu tahu. Hanya tahu, dia meneruskan usaha kedua orang tuanya. Yaitu mempunyai beberapa mall yang tersebar di pulau Jawa.
Mereka berdua diam, tenggelam dengan pikiran masing-masing yang sedang berkecamuk. Ary dengan pikirannya tentang Alex. Sedangkan Alex memikirkan bagaimana caranya meyakinkan Ary untuk tetap bertahan disampingnya walau apapun yang terjadi. Selain itu, Alex juga berpikir bagaimana caranya membatalkan pertunangannya dengan Tere, sehingga ibunya tidak marah dan mau menerima Ary.
"Kamu mau diantar ke Purworejo sekalian atau turun di kota Kulonprogo?" tanya Ary untuk memecah keheningan.
"Aku turun di Kulonprogo aja, sekali-kali naik kendaraan umum tidak ada salahnya. Ikut merasakan seperti warga umumnya. Menambah pengalaman, anggap aja seperti itu." jawab Alex sambil tersenyum.
"Yakin, bisa?" tanya Ary, karena selama mengenal Alex, dia tidak pernah melihat Alex naik kendaraan umum. Bisa dipastikan nanti Alex tidak tahan dengan bau keringat orang banyak.
"Pasti bisa! Harus itu, karena sewaktu di Singapura aku pun sering naik kendaraan umum." jawab Alex dengan semangat.
"Semoga saja tidak mabuk kendaraan." kata Ary merasa tidak yakin Alex bisa tahan naik kendaraan umum.
Daerah itu memang tidak ada taksi, yang ada hanya bis antar kota. Sehingga jika ingin bepergian mau tidak mau harus membaur dengan orang banyak dalam satu kendaraan. Bagi yang tidak terbiasa, pasti akan susah untuk beradaptasi dalam bis.
"Aamiin!" jawab Alex lantang.
Begitu sampai di Kulonprogo kota, Alex tetap memilih naik bis. Walaupun Ary sudah berulangkali menawarkan diri atau sopirnya untuk mengantarnya hingga di tempat pembangunan mall. Tapi Alex tetap kekeuh ingin naik bus saja. Alex harus bersiap dari sekarang jika suatu saat orang tuanya tidak memberi restu.
Alex sudah memantapkan hatinya untuk memilih Ary sebagai pendamping hidup. Walaupun tanpa restu kedua orang tuanya, dan harus rela dicoret dari kartu keluarga. Tapi dalam hati kecilnya, Alex selalu berharap kedua orang tuanya memberikan restu padanya.
__ADS_1
"Hati-hati, banyak copet di dalam bis. Jaga baik-baik barang bawaan kamu!" pesan Ary sebelum Alex naik bus tujuan Purworejo.
"Asiiaaapp!" jawab Alex dengan senyuman yang tidak pernah hilang.