MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Undangan Pembawa Petaka


__ADS_3

Sreekkkkk...


Duuggg...


Pyaarrrrr...


Paula melempar semua benda yang ada di kamarnya. Paula kembali depresi seperti lima tahun yang lalu, sesaat setelah perceraiannya dengan Alex diputuskan.


Pasca perceraiannya dengan Alex Paula mengalami depresi berat, bahkan anti depresan yang dikonsumsinya tidak mampu mengobatinya. Akhirnya Paula dibawa ke psikiater oleh ibunya dan Carlos.


Carlos tetap mendampingi Paula walaupun saat itu keadaan Paula sangat menyedihkan. Berbagai cara ditempuh untuk mengembalikan kesadaran Paula. Setelah tiga tahun lamanya menjalani pengobatan rutin, Paula dinyatakan sembuh oleh dokter.


Sampai saat ini Carlos masih setia menemani dan mendampingi Paula, walaupun cinta Paula hanya untuk Alex. Begitu besar cintanya pada Alex telah membutakan hatinya, jika ada seseorang yang yang dengan setia menunggu cintanya berbalas.


"Ini tidak mungkin! Ini pasti bohong! Tidaakkk!" Paula terus berteriak dan melemparkan semua barang yang terlihat oleh matanya.


Ibu Paula segera menghubungi Carlos untuk membantu menenangkan Paula.


"Kenapa bisa seperti ini, bibi?" tanya Carlos begitu sampai di kediaman Paula dan keluarganya.


"Dia menjadi seperti ini, karena mendapatkan surat undangan pernikahan mantan suaminya." jawab nyonya Yung, ibu Paula.


"Hhhh..." Carlos mengambil nafas kemudian membuangnya melalui mulut.


"Bibi harus bagaimana membujuk dia agar tenang. Tadi bibi juga sudah mengatakan mungkin Alex bukan jodohnya. Jodoh dia dengan Alex hanya sebentar. Tapi tetap saja dia tidak terima." cerita nyonya Yung sambil terisak karena menahan tangisnya.


"Bibi tenang saja, aku akan membujuk Paula agar lebih tenang." kata Carlos mencoba menenangkan ibu dari wanita yang telah mencuri hatinya.


"Paula, Dear! Buka pintunya." teriak Carlos sambil menggedor-gedor pintu kamar Paula.


Sudah berulang kali Carlos memanggil Paula, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Akhirnya Carlos mendobrak pintu kamar, karena Paula tidak juga kunjung membukanya.


Carlos begitu terkejut saat melihat pemandangan di kamar Paula yang seperti kapal pecah. Pecahan kaca dimana-mana, baju berserakan di lantai, bantal dan selimut tidak pada tempatnya. Paula meringkuk di sudut kamar itu.


Keadaan Paula begitu memprihatinkan, mata sembab karena terlalu lama menangis. Rambut berantakan dan berkeriap menutupi wajahnya. Tangan dan kakinya tampak lecet seperti terkena pecahan kaca.


Carlos berjalan mendekati Paula dengan berjingkat untuk menghindari pecahan kaca yang berserak di kamar itu.

__ADS_1


"Dear!" kata Carlos menarik Paula ke dalam pelukannya.


"Kenapa seperti ini? Masih pantaskah dirinya mendapatkan cintamu, setelah semua yang telah dia lakukan padamu, hmm?" tanya Carlos sambil mengusap punggung Paula.


Carlos merapikan rambut Paula yang berantakan, mengusapnya kemudian menyelipkan ke belakang telinganya.


"Dia bukan orang yang ditakdirkan bersamamu. Dia dihadirkan Tuhan ke hadapanmu, hanya sebagai jalan yang harus kamu lalui dalam hidup. Dia hanyalah jalan yang pernah kamu lalui, dan kamu tidak akan pernah melalui jalan itu." kata Carlos masih sambil terus mengusap punggungnya.


"Lihat jalan di depan kamu, jalan yang akan kamu lalui. Jangan pernah menoleh ke belakang, karena di belakangmu itu kotoran di atas luka. Harus segera dihilangkan agar tidak terjadi infeksi pada luka itu." Carlos terus berkata walaupun Paula diam saja tanpa mau menanggapi perkataan Carlos.


Melihat kondisi Paula yang menyedihkan, Carlos ingin membalas dendam pada Alex. Carlos merasa ini sudah keterlaluan, Alex tidak akan dibiarkannya menyakiti Paula. Tanpa dia tahu bahwa kartu undangan itu dikirim oleh ibunya Alex.


Paula tertidur dalam pelukan Carlos, hanya Carlos yang bisa menanganinya selama ini. Cinta dan kesabaran Carlos membuat Paula merasa nyaman ketika bersama Carlos.


Setelah membaringkan Paula di atas ranjang, dan menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar Paula. Carlos menghubungi orang kepercayaannya untuk menjalankan rencana balas dendamnya pada Alex.


***


Widya langsung pingsan ketika membaca surat undangan yang baru saja diterimanya. Widya tidak mengenali tamunya yang tadi memberikan kartu undangan dan meminta restu untuk anaknya.


Surat undangan pernikahan yang berisi kabar pernikahan Alex dan Tere, yang akan dilaksanakan pada hari Minggu nanti. Itu berarti seminggu lagi, Alex akan menikahi wanita pilihan ibunya.


Widya yang memiliki riwayat lemah jantung, langsung syok dan pingsan. Kemal dan Asih langsung melarikan Widya ke rumah sakit. Karena takut terjadi sesuatu pada wanita itu.


Widya masih belum sadar ketika sudah berada di ruang UGD. Widya dinyatakan koma dan diletakkan di kamar ICU. Betapa hancurnya Kemal melihat wanita yang selama ini mendampinginya terbaring lemah dengan peralatan medis di seluruh badannya.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok? Kenapa belum juga bangun?!" cerca Kemal begitu dokter keluar dari ruangan selesai memeriksa kondisi Widya.


Dokter yang ditanya hanya diam dan menggelengkan kepalanya. Rasanya tidak sanggup untuk menyampaikan keadaan pasien pada keluarganya.


"Maaf sekali, pak! Jantung pasien sudah parah, sepertinya selama ini tidak dilakukan pengobatan secara maksimal. Kita hanya bisa berdo'a untuk kesembuhannya." kata dokter itu akhirnya.


Dokter menepuk pundak Kemal untuk memberikan semangat pada Kemal, sebelum meninggalkan Kemal di depan ruang ICU.


Kemal luruh di lantai, di hari tuanya dia hanya ingin bersama istrinya melihat anak dan cucunya bahagia. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain.


Asih menghubungi Handika dan Karina, memberitahukan jika ibu mereka sedang kritis di rumah sakit. Asih tidak berani memberitahu Ary, karena Ary baru saja pulang dari rumah orang tuanya.

__ADS_1


Karina yang jarak rumahnya tidak jauh dari rumah sakit, langsung datang bersama suaminya. Karina tampak terus berlari menuju ruang ICU untuk melihat kondisi ibunya.


"Ayah!" teriak Karina sambil lari menghampiri ayahnya.


Karina terisak dalam pelukan sang ayah.


"Bunda kenapa, yah? Kenapa bisa begini?" cerca Karina dalam isak tangisnya.


"Bunda pasti sembuh, kita berdo'a saja untuk kesembuhan bunda." kata Kemal menenangkan anaknya.


"Asih, kenapa bunda bisa pingsan? Apa yang terjadi sebenarnya?" Karina bertanya pada asisten rumah tangga yang selama ini tinggal bersama orang tuanya.


"Itu, mbak. Ngngng..." Asih takut menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya.


"Apa? Ang eng! Nggak jelas!" bentak Karina.


"Sabar, ma! Jangan teriak-teriak, ini di rumah sakit!" kata Adit mengingatkan istrinya.


"Gimana mau sabar, lihat keadaan bunda! Lihat!" Karina kembali teriak sambil menangis.


Adit langsung mendekap istrinya ke dalam pelukannya. Rasanya ikut sesak melihat kesedihan istri dan mertuanya.


Kemal hanya diam saja melihat anaknya berteriak sejak sampai di sini. Kemal tidak tega memberitahukan kejadian yang memicu istrinya pingsan dan koma.


"Ary mana? Mana anak itu?" tanya Karina setelah menyapu lorong, ternyata adiknya tidak ada diantara mereka.


"Mbak Ary belum diberitahu, mbak!" kata Asih takut.


"Harusnya dia tahu, biar dia bisa menolong bunda. Dia pasti menyalahkan kita kalau tidak diberitahu." kata Karina.


"Dia baru saja sampai di rumahnya, kasihan kalau harus kesini lagi. Kulonprogo itu tidak dekat dari sini." kata Kemal akhirnya setelah terdiam melihat anaknya yang panik.


"Pokoknya dia harus tahu, ayah!" kata Karina tetap pada pendiriannya.


Akhirnya Kemal membiarkan Karina menghubungi Ary, untuk mengabarkan keadaan ibunya saat ini.


Ary seperti dibuat terlena, saat orang-orang yang begitu disayangnya menghadapi sakaratul maut. Saat Rendy hendak meninggal dia tidak merasa akan ditinggalkan, begitu juga saat ini. Ibunya dalam keadaan koma, dia tidak merasakan firasat apapun.

__ADS_1


__ADS_2