MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Juragan Nona


__ADS_3

"Ya udah bawa aja ini makanan ke atas! Nanti kalau mendoannya sudah matang antar ke sini sepiring aja!" perintah Eno pada karyawannya.


Mereka berempat langsung melongo saking kagetnya. Tempe yang mereka masak cuma sepiring, diminta juragan nona sepiring. Habis!


Mereka saling pandang, bingung mau menjawab apa atas perintah juragan nona. Akhirnya mereka berempat hanya bisa mengangguk patuh. Mereka mengangkat semua lauk yang ada di meja makan, tanpa menyisakan sedikit pun.


"Kawuusssss... kita habisin aja nih ikan, keknya enak!" kata Leli sambil tertawa.


Ya, mereka berempat sudah kembali ke kediaman mereka, di lantai dua bangunan toko.


"Juragan nona aneh-aneh saja! Masak kita cuma punya sepiring mendoan, diminta semua." gerutu Wulan, si penggemar gorengan.


"Mau gimana lagi? Namanya juga juragan nona, suka-suka dia 'lah!' jawab Rani, orang kepercayaan Eno karena dia sudah lama bekerja pada Eno.


"Sudahlah, kita selesaikan goreng mendoannya! Kita ambil dikit aja, nanti sisanya kasih sama juragan nona sama mas ganteng." kata Sari sambil menyimpan makanan yang mereka bawa tadi ke meja makan.


Setelah selesai mendoan masak, mereka mengambil beberapa potong untuk mereka berempat. Sedangkan yang sepiring diantarkan ke kediaman juragan nona, Sari yang kebagian mengantarkan mendoan tersebut.


"Mana cabe kecilnya?" tanya Eno saat mengambil piring berisi mendoan yang disodorkan Sari.


Sari hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Juragan nona memang selalu tidak bisa ditebak keinginannya. Selalu saja ada tingkahnya yang membuat mereka terbengong.


"Anu, mbak! Anu..." jawab Sari sambil memainkan kedua tangannya, telunjuk tangan kanan dan kiri diadu.


"Anu apa? Ona anu nggak jelas?" bentak Eno.


Agam yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara juragan dengan anak buahnya, menahan tawanya. Eno yang selalu tidak tertebak, menjadi hiburan tersendiri baginya. Ternyata mengenal Eno lebih dalam sangat mengasyikkan.


"Cabe kecilnya habis! Tadi kami giling semua sama tomat." jawab Sari akhirnya


"Juragan nona ini gimana sih, tingkahnya bikin keki." batin Sari.


"Bilang kek dari tadi! Ona anu, ona anu! Mau aku tahu!" kata Eno ketus.


"Buahahaha!" tawa Agam akhirnya pecah juga, setelah beberapa menit menahannya.


"Dih, malah ketawa!" kata Eno kesal, dia menghentakkan kakinya ke lantai granit itu.


"Kamu emang gemesin tahu nggak?" ucap Agam disela tawanya.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Eno sambil menatap tajam ke arah Agam seperti mengintimidasi.


"Nggak ada maksud apa-apa. Hanya saja, kamu itu kalau seperti ini bikin aku pen gigit kamu tahu!" jawab Agam.


Agam yang ikhlas menerima perjodohan ini, merasa bersyukur. Hari-harinya pasti akan berwarna jika menikah dengan Eno. Eno membawa atmosfer tersendiri bagi orang yang berada di sekitarnya. Walaupun Eno suka judes dan ketus, tapi pada dasarnya Eno itu wanita yang lemah lembut dan baik hati. Hanya saja, sikap bar-barnya menutupi sisi kelembutannya.


Semua kebaikan Eno tersamarkan oleh sikap bar-barnya. Hanya segelintir orang yang dekat dengan Eno. Bukan karena status atau kedudukan, melainkan sikap bar-barnya yang kadang sulit diterima akal sehat.


"Nah, gigit! Mau yang mana?" kata Eno sambil mendekati Agam.


Entah keberanian dari mana, Eno berani menantang Agam. Melihat sang juragan nona yang kesal, Sari langsung mengambil langkah seribu.


Agam tersenyum smirk, mendengar jawaban Eno.


"Gigit bibir kamu, boleh?" bisik Agam di telinga Eno.


Agam hanya bermaksud menggoda Eno saja, dia ingin tahu bagaimana reaksi Eno mendengar kata-kata mesum darinya.


Mata Eno terbelalak mendengar bisikan merdu suara Agam di telinganya. Eno tidak menyangka kalau Agam senekat itu. Eno diam saja, menunggu tindakan dari Agam.


"Bagaimana? Boleh, hmm?!" tanya Agam mulai mendekati Eno, setelah melihat reaksi Eno yang diam saja.


1...


2...


3...


Agam mengambil piring berisi mendoan dari tangan Eno. Kemudian meninggalkan Eno sendirian yang berdiri terpaku di tempatnya.


Agam tersenyum melihat tingkah Eno. Agam sengaja menjahili Eno, ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan Eno. Selama seminggu pendekatan, baru malam ini Eno memberikan respon yang bagus.


Agam duduk di ruang keluarga, dia menonton TV sambil menikmati mendoan yang masih hangat. Saat menggigit mendoan itu, Agam merasa ada yang kurang. Setelah menelan mendoan pada gigitan pertama, Agam berdiri dan berjalan menuju dapur. Mengambil cabe kecil yang disimpan di dalam kulkas.


Agam kembali ke ruang keluarga, tapi sebelumnya dia mencuci cabe itu terlebih dahulu.


"Ini enak, En! Kamu nggak mau?" tanya Agam pada Eno.


Eno masih belum bergerak dari tempatnya berdiri tadi. Padahal Agam sudah berjalan mondar-mandir di depannya, seolah-olah itu rumahnya sendiri.

__ADS_1


"Aku habiskan semua nih, kalau kamu nggak mau ke sini!" kata Agam dengan nada mengancam agar Eno mau mendatanginya.


"Habisin aja! Dasar nggak peka!" jawab Eno dengan gerutuan.


"Makanya sini, dong! Atau aku habisin sendiri ini mendoan." jawab Agam.


Dengan menghentakkan kakinya, Eno berjalan mendekati Agam. Masih dengan wajah cemberut, Eno mengambil satu potong mendoan. Dia mulai memakannya.


"Gimana? Enak 'kan?!" tanya Agam begitu Eno menggigit mendoannya.


"Perasaan tadi nggak ada rawitnya, kok sekarang banyak?!" gumam Eno, tapi masih terdengar oleh Agam.


"Aku ambil dari kulkas, terus aku cuci!" jawab Agam.


Eno hanya menganggukkan kepalanya saja menanggapi perkataan Agam. Kemudian melanjutkan memakan mendoannya.


***


Agam terus melakukan pendekatan pada Eno. Walaupun belum sepenuhnya memiliki perasaan pada Eno, Agam yakin suatu saat nanti mereka akan saling mencintai.


Setiap melakukan segala sesuatu, jika mendapat ridho dan restu dari ibunya dan ridho dari Allah. Maka hasil tidak akan mengkhianati usaha. Seperti halnya Agam, dia setiap melakukan segala sesuatu selalu memohon restu dari ibunya. Jika seorang ibu ridho dan restu, maka Tuhan pun akan ridho dan memberi restu.


Tujuan utama Agam menikah adalah karena ibadah. Agam menganggap ibadah, sehingga harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan totalitas, tanpa paksaan dari siapapun.


Eno pun semakin hari semakin stres, Dzaky tidak memberikan kabar sama sekali. Padahal waktu seminggu yang dijanjikan sudah berakhir. Akhir Eno hanya pasrah jika harus menikah dengan Agam. Pilihan kedua orang tuanya.


Malam ini, Agam tidak bisa menyambangi kediaman Eno. Agam masih memiliki beberapa jadwal pelatihan, sehingga menghabiskan seluruh waktunya tanpa sisa.


Eno sudah mulai gelisah, dia merasa ada yang kurang. Eno kehilangan sosok Agam, dan merindukannya. (Ehh, merindukan 😱😱😱, jangan-jangan si Eno sudah ada rasa kali🤔)


Kabar Dzaky juga hilang bagai ditelan bumi, sehingga Eno pun semakin gelisah. Dua hari lagi, keluarga Agam akan datang ke rumah untuk acara lamaran. Eno tidak tahu harus berbuat apa, Dzaky yang diharapkan malah menghilang tanpa jejak.


"Gue harus bagaimana?" gumam Eno sambil berjalan mondar-mandir di samping tokonya.


Para karyawan yang melihat Eno saling berbisik membicarakan tingkah Eno yang aneh hari ini.


"Juragan nona kenapa tuh?" tanya Wulan.


"Mana ku tahu!" jawab Wulan sambil mengangkat kedua bahu dan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2