MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Janda


__ADS_3

"Kalian sudah saling mengenal rupanya?" kata ibunya Agam menengahi keributan mereka.


"Iya, Bu! Kami sudah saling kenal, kedua orang ini yang saya ceritakan waktu itu. Mereka lah yang telah menolong saya, sewaktu jatuh dari jembatan karena terpeleset." jelas Agam.


"Oh, ya? Kenalkan Warni, ibunya Agam!" kata ibunya Agam sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Ary menyambut uluran tangan ibunya Agam, kemudian mencium punggung tangan ibu itu.


"Ary, Bu!" kata Ary sambil mencium punggung tangan ibunya Agam.


Setelah menyalami Ary, ibunya Agam juga menyalami Eno.


"Yang ini siapa namamu, cah ayu?" tanya bu Warni.


"Eno cantik jelita mempesona sepanjang masa!" kata Eno sambil mencium punggung tangan bu Warni. (Yang pernah baca Sepenggal Kisah Ary pasti tahu dong!)


"Narsis!" celetuk Ary sambil memutar bola matanya.


"Kan gue emang beneran cantik!" jawab Eno tak mau kalah.


Agam dan ibunya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, melihat kedua orang bersahabat itu.


"Iya, nak Eno memang cantik kok!" jawab Bu Warni.


"Tuh kan bener, gue emang cantik! Kalau Lo itu manis." kata Eno seperti mendapat angin karena dipuji oleh ibunya Agam.


"Sudah narsisnya? Mau pulang nggak?" tanya Ary sambil mengangkat tanaman yang dia beli tadi.


"Ehh, pamitan aja belum. Lo salim dulu gih emak mertua. Biar dapat restu!" kata Eno sambil cengar-cengir.


"Kami jalan duluan ya, masih banyak yang mau dibeli." pamit Ary pada Agam dan ibunya.

__ADS_1


Balita itu nampak sudah terlelap dalam gendongan ayahnya. Ary menyempatkan mengusap kepala balita itu.


"Diihhh, pakai ngusap kepala anaknya! Usap wajah bapaknya nggak sekalian." seloroh Eno .


Ary tersipu dengan kata-kata Eno yang nggak ada saringannya, kemudian Ary menyalami tangan ibunya Agam. Eno pun mengikuti Ary, menyalami tangan ibunya Agam. Setelah itu mereka berdua meninggalkan Agam dan ibunya, dengan membawa satu tanaman hias ditangan masing-masing.


"Kamu itu ya, nggak enak tahu didengar ibunya mas Agam. Dikiranya beneran aku ada apa-apa sama anaknya." tegur Ary saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Bercanda aja gue! Cuma mancing mas Agam aja, sebenarnya ada perasaan gak ma Lo." jawab Eno sambil meletakkan posisi duduknya.


"Dia mau perasaan atau tidak sama aku, itu gak penting. Karena bagiku, hanya Abang di hatiku. Tidak akan ada yang menggantikan posisinya di hatiku." kata Ary ketus, karena dia tidak suka Eno ikut campur urusan perasaannya.


"Iya, sorry! Gue hanya kesel aja, sudah lama deket tapi masih pura-pura gak ada perasaan. Padahal jelas sekali kalau dia suka sama Lo, tapi jaim banget." kata Eno sambil memegang tangan Ary.


"Biarkan saja! Itu bukan urusan kita, yang penting kita tetap anggap dia teman." kata Ary mulai melajukan mobilnya.


Sementara itu ibunya Agam mulai curiga, karena mendengar kata-kata Eno yang menggoda Ary barusan. Beliau mulai menginterogasi anaknya selam perjalanan pulang.


"Tidak, Bu! Kami hanya teman biasa saja. Setelah menolongku dulu, kebetulan Agam ada tugas membuat j**ban umum di sebelah rumah mereka. Sekarang tempat tinggal dekat, hanya terhalang pagar bangunan saja." jelas Agam.


"Lha, kenapa si Eno tadi bilangnya usap pipi kamu?" tanya bu Warni belum percaya kalau anak laki-lakinya itu tidak ada hubungan istimewa dengan Ary.


Karena tadi bu Warni memperhatikan anaknya, jadi beliau tahu kalau anaknya itu menaruh hati pada Ary. Apalagi tadi saat Agam mengatakan jika dia tidak apa-apa jika Ary menjadi ibu untuk anaknya.


"Hanya bercanda, Bu! Eno memang begitu anaknya, gak pernah serius kalau ngobrol." Agam memberikan alasan.


"Terus apa pekerjaan mereka, kok sepertinya santai saja tidak punya pekerjaan?!" lanjut interogasi berikutnya.


"Si Ary itu seorang dokter, kalau Eno punya toko pertanian di kampung dd yang dulu jembatannya diperbaiki." jawab Agam, dia sudah pasrah saja ketika ibunya tidak berhenti menginterogasi.


"Ary yang jadi omongan di asrama itu, Ary yang ini?" tanya bu Warni lagi.

__ADS_1


"Iya." jawab Agam singkat.


"Si janda kembang itu rupanya! Pantes saja mobilnya bagus, ternyata hasil merayu para lelaki. Pokoknya ibu tidak setuju kalau kamu menikahi janda!" kata bu Warni merendahkan Ary.


"Dia memang janda, tapi dia wanita terhormat. Dia tidak seperti janda nakal dalam pikiran ibu. Dia menjadi janda karena suaminya meninggal. Dia menjaga kehormatannya, dia tidak pernah keluar rumah kecuali kerja atau ada urusan penting. Dia juga tidak bergaul dengan laki-laki jika tidak mengenalnya." jelas Agam panjang lebar agar ibunya mengerti.


"Ternyata kamu sudah dibutakan oleh cinta, jadi sejelek apapun dia tetap kamu bela." cibir bu Warni.


"Agam berbicara apa adanya, Bu! Dia memiliki mobil mewah, itu warisan dari suaminya. Suaminya pergi meninggalkannya dengan bergelimang harta. Jadi wajar saja kalau dia kaya, bukan hasil moroti laki orang." bela Agam lagi.


"Siapa tahu dia meracuni lakinya, biar cepetan mati!" jawab ibunya Agam berprasangka.


"Ibu, tidak semua janda itu jelek. Tidak semua janda itu hina. Jangan hanya karena dulu ayah meninggalkan kita demi janda gatel, terus ibu menilai semua janda jelek, hina dan gatel." kata Agam kesal.


Agam tidak habis pikir, ibunya baru sekali bertemu Ary dan tahu janda. Ibunya sudah menghakimi Ary, menyamakan Ary dengan wanita yang merebut ayahnya.


"Sak karepmu!" teriak bu Warni merasa kalah.


Agam akhirnya memilih diam daripada melanjutkan pembelaannya terhadap Ary. Jika dilanjutkan obrolan itu, dia akan menjadi anak durhaka karena menentang ibunya.


Ibunya hanya menilai Ary dari mendengar para prajurit TNI membicarakan tentang Ary yang cantik, Ary yang kalem. Pokoknya all about Ary. Sehingga ibunya Agam menilai Ary itu seorang janda mentel yang suka tebar pesona. Janda gatel yang haus akan belaian. Padahal mereka memuji Ary karena kebaikan Ary. Ary yang benar-benar menjaga kehormatannya sebagai seorang janda, manjadi pujaan para prajurit itu.


Begitulah manusia, hanya bisa menilai orang dari luarnya saja. Tanpa tahu keberadaannya seperti itu. Itulah kenapa ada istilah "Don't judge book by its cover, jangan menilai buku dari sampulnya. (Betul gak sih, othor gak pinter bahasa Inggris πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ. Kalau salah mohon dibetulkan sendiri ya✌️✌️✌️)


Manusia hidup hanya saling memandang dan menilai, tanpa kita sadari bahwa kita tidak bisa memandang dan menilai diri kita sendiri. Jangan hanya karena pernah kecewa, kemudian menyamaratakan semuanya. Ada yang baik, ada yang buruk. Baiknya kita ambil, buruknya kita buang. Seharusnyalah manusia seperti itu, ambil baiknya saja tanpa harus mengikutkan buruknya.


Agam tadinya ibunya akan memberi restu jika dia meminang Ary untuk menjadi ibu sambung Fani. Tapi sepertinya semua itu hanya menjadi angan-angan saja. Hanya mimpi yang sulit diwujudkan. Agam mengenal betul bagaimana ibunya, beliau susah untuk dibujuk bila sudah mengambil keputusan.


Hari ini double up, double juga dong kopinyaπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Edisi ngarep.com

__ADS_1


__ADS_2