MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Kami Sudah Berakhir


__ADS_3

"Maaf, pagi-pagi kami menganggu ayah dan bunda. Kami ke sini hanya ingin menjelaskan tentang hubungan kami." kata Alex begitu Ary dan kedua orang tuanya duduk bersama dirinya dan Tere di ruang tamu.


Hening...


Tak ada yang menanggapi perkataan Alex. Ayah dan bunda menyerahkan semuanya pada Ary. Ary harus belajar bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Saat awal sebelum menerima Alex, Ary sudah diperingatkan. Jika sekarang ada masalah, maka Ary harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah itu sendiri. Orang tua hanya bisa membantu dengan do'a.


"Kedatangan kami kesini untuk menjelaskan tentang kejadian kemarin. Hubungan kami sudah berakhir, jadi Tere mohon Ary mau memaafkan Alex dan mau mendampinginya di kala suka dan duka." kata Tere kemudian, karena dari pihak Ary tidak ada yang menyahuti.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan dalam hal ini, karena semua memiliki andil dalam membuat kesalahan. Di sini yang menjadi korban sebenarnya adalah tante Jessie, bukan Ary." jawab Ary dengan bijak.


Ary tidak mau menyalahkan orang lain, dia juga tidak ingin melihat seorang ibu kehilangan anaknya. Kehilangan perhatian dan kasih sayang dari anaknya. Karena bagaimanapun juga seorang anak laki-laki itu sejatinya milik orang tuanya, bukan milik istri dan anaknya.


"Mami sangat syok malam itu, sehingga kami semua berusaha menghiburnya. Karena kami semua sibuk menghibur mami, jadi kami melupakan keberadaan kamu." kata Tere dengan wajah tertunduk, dia merasa bersalah karena menjadi penyebab kaburnya Ary di acara malam itu.


"Aku bisa mengerti kok, semua ibu pasti kecewa jika anaknya tidak bisa memenuhi keinginannya. Itu hal yang wajar terjadi, jika ibu syok mendapati anaknya diluar pemikirannya." Ary mengatakan pendapatnya.


"Bunda juga kecewa, jika kamu tidak bisa bahagia dengan pilihan kamu sendiri. Bunda lebih baik mati, daripada harus melihat anak-anak menderita." Widya menimpali perkataan Ary dengan nada kecewa.


"Maafkan Alex, Bun! Ini semua salah Alex." Alex kembali memohon maaf pada Widya.


"Sudah tahu salah, masih berani menampakkan diri di depan kami!" jawab Widya ketus.


Sejak aku, sebenarnya Widya kurang setuju jika Ary menikah dengan Alex. Apalagi melihat Alex yang masih labil berpikir, mengikuti arah angin. Mudah sekali terbawa arus. Tidak berani melawan orang tua itu baik, tapi jika menggantung nasib dua wanita sekaligus itu sangatlah buruk. Demi ingin terlihat menjadi anak baik, malah menghancurkan perasaan dua wanita sekaligus.


Seandainya dari awal dia menolak dengan tegas pilihan ibunya, mungkin hanya satu orang saja yang kecewa. Sekarang semua sudah terlambat, tidak hanya ibunya dan Tere yang kecewa, Ary dan kedua orang tuanya pun sangat kecewa.

__ADS_1


"Alex dan Tere benar-benar sudah tidak ada ikatan apapun. Tadi pagi, Alex juga sudah menemui orang tua Tere. Semua sudah clear, jadi Alex mohon pada ayah dan bunda untuk tetap merestui kami untuk menikah." Alex menjelaskan maksud kedatangannya.


Alex mulai menjelaskan bahwa dia dan Tere bertunangan karena keinginan ibunya Alex. Alex dan Tere dipaksa bertunangan walaupun belum ada rasa yang tumbuh di hati keduanya. Sebenarnya bukan keduanya, karena hanya Alex yang tidak bisa melihat keberadaan Tere. Sehingga rasa itu tidak kunjung datang ke hati Alex.


"Semua ayah kembalikan lagi pada Ary, kami sebagai orang tua hanya bisa merestui. Apapun jawaban dia, ayah hanya berharap itu yang terbaik." kata ayah Ary tanpa mau ikut campur urusan anaknya.


Kemal hanya ingin anaknya belajar bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya. Menurut Kemal, anaknya sudah besar jadi tahu yang terbaik untuk diri mereka sendiri dan keluarganya. Jika sudah mengambil keputusan, Kemal berharap anaknya bisa bertanggung jawab. Apapun keputusan yang diambil, Kemal hanya bisa berdo'a untuk anaknya.


"Ary, bagaimana? Semua terserah padamu, sebaiknya kamu pikir dengan matang. Jangan sampai kamu menyesal jika sudah mengambil keputusan. Ayah hanya bisa membantu dengan do'a." kata Kemal setelah lama Ary tidak juga memberi jawaban.


"Maaf ayah, Alex ingin bicara berdua dengan Ary. Sebentar saja!" Alex meminta ijin pada Kemal untuk berbicara empat mata dengan Ary.


"Ary!" teriak Widya kesal.


"Baiklah! Kita berbicara di halaman belakang atau dimana?" kata Ary akhirnya.


Walaupun kecewa terhadap Alex, tapi rasa cintanya lebih besar sehingga Ary masih bisa memaafkan Alex. Tapi Ary belum mau dengan mudahnya membiarkan Alex merasa menang.


"Kita ke tempat pariwisata yang dekat sini, tempat yang hari itu kita pergi bersama Kevin." ajak Alex, Ary menyetujuinya karena itu tempat umum jadi dia akan aman.


Alex dan Ary berpamitan pada kedua orang tua Ary. Sedangkan Tere sudah ada sopir ya menjemputnya. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di tempat tujuan.


"Apa yang akan kamu katakan sebagai pembelaan diri?" tanya Ary begitu mereka sampai tempat tujuan.


Ary dan Alex memilih duduk di gubuk yang terpisah dengan yang lainnya. Walaupun gubuknya terpisah, tapi tempatnya strategi sehingga banyak orang yang bisa melihat mereka dari kejauhan.

__ADS_1


"Aku beneran minta maaf, aku dan Tere sudah tidak ada hubungan lagi. Kemungkinan besar Tere dan Anton yang akan menikah. Jadi orang tua Tere tetap menjadi besan Kusuma Wijaya." Alex mencoba menjelaskan kembali, jika dia dan Tere sudah berakhir.


"Lalu?" tanya Ary dengan tangan bersedekap di dada.


"Percayalah, hanya kamu wanita yang aku cintamu. Hanya kamu, dari dulu hingga akhir nafasku. Tidak pernah ada yang lain. Jadi, aku mohon maafkan aku. Kita menikah secepatnya, agar mami merestui kita. Karena dengan kita menikah, lambat laun mami pasti merestui." Alex mengulurkan tangannya hendak memegang tangan Ary.


"Mari kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan restu mami. Aku yakin, jika kita sudah menikah dan memiliki anak. Mami pasti luluh dan merestui kita." ajak Alex dengan semangat membara.


Alex benar-benar ingin pernikahannya segera dilakukan agar ibunya memberikan restunya. Alex yakin jika ibunya sudah mengenal Ary lebih dalam lagi, pasti akan segera memberikan restunya.


"Besok aku akan berikan jawabannya. Tapi..." kata Ary bimbang.


"Tapi apa, sayang? Kamu masih meragukan cintaku, hmm?" tanya Alex sambil memegang kedua tangan Ary.


"Tapi bisakah kita menikah mengikuti keyakinan kami?" kata Ary menunduk.


Ary tidak berharap banyak pada pernikahannya dengan Alex. Karena perbedaan mereka merupakan hal yang sangat sensitif.


"Apapun akan aku lakukan, asalkan kita bisa bersama selamanya." jawab Alex dengan yakin.


"Hanya saat pengucapan janji suci saja. Tapi semua itu kembali pada kamu. Aku tidak memaksa." kata Ary cepat menimpali.


"Kamu tenang saja, aku sudah mulai belajar. Jadi nanti saat pernikahan kita, pasti berjalan lancar." kata Alex meyakinkan Ary.


Bagi readers maaf jika ada yang kecewa dengan jalan ceritanya. Alurnya aku buat sesuai dengan wawancara dengan beberapa narasumber. Narasumber yang aku wawancara kebetulan memiliki pasangan yang berbeda agama, mereka bisa menjalani pernikahannya hingga memiliki anak cucu. Jadi yang jika ada yang tidak berkenan dengan jalan ceritanya, aku ucapkan beribu maaf. Aku nulis cerita ini berdasarkan pengamatan orang di sekitar, bukan berdasarkan hayalan semata. Sekali lagi maaf 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2