
Alex segera menghubungi Ary, tapi sepertinya Ary sedang sibuk mengurus bunda Widya. Ary tidak mendengar HP-nya berbunyi. Alex kemudian membuka beberapa pesan yang masuk, salah satunya dari istrinya. Alex pun membalas pesan satu persatu.
Alex pun menghubungi Anton, karena Anton juga menghubunginya. Alex benar-benar teledor. Tapi dia tidak menyadari jika keteledorannya dapat dengan mudah dimanfaatkan orang.
Setelah selesai menghubungi Anton dan menanyakan keadaan keluarganya, Alex kembali menghubungi Ary. Dia tinggalkan kerjaannya yang tinggal sedikit lagi.
"Halo, sayang! Maaf ya, aku sibuk banget. Jadi lupa kasih kabar." cerca Alex begitu mendengar suara istrinya.
"Oh!?" jawab Ary singkat sambil memutar bola matanya jengah.
Ary merasa kesal pada suaminya, bisa-bisanya dia melupakan istri yang baru dinikahi satu bulan. Semua wanita pasti akan marah jika diperlakukan seperti ini.
"Sayang... jangan marah ya! Please!" kata Alex memohon.
Tapi Ary hanya diam saja, tidak menjawab.
Silahkan ngoceh sendiri, emang enak dicuekin! batin Ary.
"Sayang..." panggil Alex lagi sambil melihat HP-nya siapa tahu Ary mematikan sepihak, ternyata masih tersambung.
Kemudian Alex merubah pengaturan, dari mode panggilan suara menjadi panggilan video. Tapi Ary tidak menanggapinya sama sekali.
Alex merasa frustasi menghadapi sikap Ary. Sudah bisnis yang dibangunnya sejak nol dalam masalah ditambah lagi istri yang merajuk, kepala Alex menjadi berdenyut.
"Sayang, kalau tidak mau ngomong aku tutup nih!?" kata Alex dengan nada ancaman karena sejak tadi Ary tidak mau bersuara.
Tut.. Tut... Tut...
Panggilan pun terputus, Alex langsung melihat ke HP-nya lagi.
"Yaahhh, beneran ngambek deh!" kata Alex sambil mengacak rambutnya kasar, kemudian meninju udara.
Rasanya Alex ingin mengamuk saja, masalah yang dihadapinya tidak kunjung selesai. Alex yang banyak dirundung masalah dan kurang tidur pun, akhirnya daya tahan tubuhnya melemah.
Tiba-tiba tubuh Alex tumbang, tapi masih sadar. Kepalanya terasa pening dan berputar, rasa mual juga menyerangnya.
Benyamin yang kebetulan masih berada di ruangan itu bersamanya, langsung berlari mendekati Alex.
__ADS_1
"Tuan, anda kenapa?" tanya Benyamin.
Alex memberikan isyarat pada Benyamin untuk membantunya berdiri. Setelah berdiri Alex menyeret langkahnya menuju kamar mandi karena rasa mual yang sangat.
Benyamin menguasai bahasa Indonesia tapi jarang menggunakannya. Hanya saat-saat tertentu saja dia menggunakan bahasa Indonesia.
Benyamin kemudian membantu Alex bangun dan membawanya ke kamar mandi. Alex ingin muntah tapi tidak bisa. Keringat dingin pun mulai membasahi wajah dan telapak tangannya.
"Tuan, anda harus segera dibawa ke rumah sakit. Saya tidak bisa menjaga tuan, jika tuan disini." kata Benyamin setelah mereka keluar dari kamar mandi dan membawa tuannya ke dalam kamarnya.
Alex selama di Singapura tidur di ruangannya, karena dia malas bolak balik perjalanan dari hotel ke kantornya. Di ruangan Alex terdapat kamar dengan ranjang queen size dan lemari dua pintu berisi pakaiannya.
"Panggil dokter saja! Aku tidak mau ditusuk jarum." jawab Alex lemas.
Akhirnya Benyamin meninggalkan Alex sendirian di kamarnya. Benyamin menghubungi dokter langganannya untuk datang dan memeriksa tuannya.
Dalam kesendiriannya, Alex tersadar jika kembali melakukan kesalahan yang sama. Kesalahan mengabaikan anak dan istrinya saat sedang menghadapi masalah. Alex mulai curiga, mungkin orang yang sama yang membuat usahanya hampir ditutup pemerintah setempat.
Alex masih memikirkan siapa dalang dari kekacauan kafenya, saat dokter langganan Benyamin datang bersama Benyamin.
Benyamin meminta dokter tersebut memeriksa kondisi tuannya. Dokter itupun dengan teliti mulai memeriksa Alex. Setelah konsultasi sebentar, dokter pun menuliskan resep untuk ditebus di apotik.
***
Hari pun semakin malam dan dingin.
Ary merasa cemas setelah mematikan HP-nya. Perasaannya tidak tenang. Dia menjadi kepikiran suaminya yang tidak peka itu.
"Kenapa perasaanku nggak enak ya?! Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya." gumam Ary sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Ary ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena kurang tidur beberapa hari terakhir. Akhir-akhir ini badannya terasa mudah lelah dan mengantuk. Kebiasaan baru setelah menikah, yaitu sebelum tidur Ary selalu mematikan HP-nya, karena di ingin istirahat total tanpa gangguan dari siapapun.
***
Alex tertidur setelah meminum obatnya, Benyamin tidur di sofa yang ada di ruangan Alex yang juga menjadi ruangannya. Benyamin dan Alex sepakat memakai ruangan yang sama, tapi tidak untuk kamarnya. Kamar itu hanya dipakai oleh Alex seorang, dan selalu dibersihkan oleh petugas di sana.
Paginya Alex terbangun karena rasa mual yang mengaduk perutnya yang kosong. Alex langsung berlari menuju kamar mandi hendak mengeluarkan isi perutnya.
__ADS_1
"Hoek... Hoek..." Alex berusaha memuntahkan isi perutnya, tapi hanya cairan berwarna kuning saja yang keluar hingga badannya lemas.
Benyamin yang masih di alam mimpi pun terbangun karena suara dari kamar mandi. Suara muntahan Alex yang kuat mengganggu tidur Benyamin.
Benyamin pun bangun kemudian menenggak segelas air putih yang ada di meja. Setelah minum, Benyamin berjalan mendekati Alex. Benyamin memijit tengkuk Alex untuk membantu mengurangi rasa sakitnya.
"Tuan, sebaiknya anda dirawat di rumah sakit saja. Saya tidak bisa menjaga tuan disini, jika tuan di rumah sakit akan ada perawat yang menjaga anda!" Benyamin kembali menyarankan Alex untuk opname di rumah sakit.
Alex hanya menjawab dengan gelengan kepala saja. Badannya terasa lemas, benar-benar tidak ada tenaga lagi.
Melihat kondisi Alex yang memprihatinkan, Benyamin berinisiatif menghubungi Eno. Karena hanya Eno yang dia kenal dekat dengan Alex.
Setelah memberitahu Eno soal keadaan tuannya, Benyamin pamit pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Benyamin tinggal tidak jauh dari kafe tersebut.
Sepeninggal Benyamin, Alex merenung. Dia sangat menyesal karena terlalu memikirkan bisnisnya, hingga lupa anak istrinya dan kesehatannya. Padahal saat ini, istrinya butuh dukungan darinya karena sang bunda terbaring di rumah sakit.
Alex pun mengingat beberapa tahun yang lalu, saat dia masih bersama Paula. Kafenya juga diambang kebangkrutan, dia sibuk dengan kafenya. Sehingga Paula mencari sandaran pada laki-laki lain. Alex pun takut, Ary akan melakukan hal yang sama padanya.
Dalam keadaan badan lemas, Alex mengemasi barang-barangnya. Dia bertekad untuk pulang menemui anak dan istrinya. Dia harus mendampingi Ary saat dirundung duka.
Selesai berkemas, Alex kemudian memesan tiket pesawat untuk penerbangan yang dekat dengan waktu sekarang. Setelah memesan tiket, Alex langsung mandi. Walaupun badannya menggigil, dia harus mandi karena badannya sangat bau. Semalaman badannya mengeluarkan keringat dingin, sehingga menimbulkan bau tidak sedap.
Selesai mandi, Alex meminta sarapan pada karyawannya. Kafe milik Alex buka dua puluh empat jam, sehingga memudahkannya untuk mendapatkan makanan.
Alex menghubungi Benyamin agar segera ke kantor, saat menunggu makanannya datang.
"Tuan mau kemana? Tuan belum sehat, jika terjadi sesuatu pada tuan saya tidak bisa menolong." kata Benyamin cemas.
"Saya mau pulang saja, anak dan istri saya sudah menunggu kepulangan saya." jawab Alex sambil memaksa menelan sarapannya.
Saat Benyamin datang tadi, sarapan Alex juga diantarkan ke ruangannya.
"Tapi keadaan Tuan belum baik." kata Benyamin.
"Karena itu saya harus segera pulang, biar ada yang mengurus. Kamu fokus saja sama kafe, tolong kamu urus yang benar! Jangan urus diriku!" jawab Alex memberi alasan.
Akhirnya Benyamin mengantarkan Alex ke bandara, karena satu jam lagi pesawat yang akan dinaiki Alex berangkat.
__ADS_1
Sesampainya di bandara, Alex meminta Benyamin langsung kembali ke kafe. Alex pun mengurus segala sesuatunya, kemudian check in. Saat berjalan menuju pesawat tiba-tiba kepala Alex berdenyut hebat.
Brugh...