MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Ngunduh Mantu


__ADS_3

Sesaat setelah Agam masuk kamar mandi, Eno langsung mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"Okeh! Sudah bisa nih gue tidur, capek banget dah seharian jadi manekin!" monolog Eno.


Setelah dirasa cukup kering, Eno langsung merebahkan tubuhnya di ranjang king size dengan sprei berwarna putih tulang itu.


Tak menunggu lama, Eno langsung tertidur pulas. Mungkin terlalu lelah karena serangkaian acara pernikahan ala militer yang panjang.


Agam keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil terkalung di lehernya. Agam mengusap rambutnya yang basah dengan ujung handuk itu.


Agam berjalan mendekati Eno, dilihatnya selimut yang menutupi Eno tersingkap hingga menampakkan kaki Eno.


"Sepertinya dia sangat kelelahan! Baiklah, tidur yang nyenyak juragan nonaku!" ucap Agam pelan sambil menaikkan selimut hingga batas dada Eno.


Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Agam pun menyusul Eno. Dia merebahkan tubuhnya di samping Eno. Sesaat Agam ragu, akankah dia memeluk tubuh Eno atau membelakanginya.


Akhirnya Agam tertidur dengan posisi terlentang karena menurutnya lebih aman, daripada kena amuk Eno esoknya.


***


Sebelum adzan Subuh berkumandang, Agam sudah terbangun. Agam sudah terbiasa bangun tidur sebelum adzan Subuh, Agam melakukan olahraga ringan seperti biasanya. Dimulai pemanasan, kemudian lanjut ke peregangan. Setelah selesai dengan olahraganya, Agam mengelap keringat yang keluar karena olahraga. Agam mandi sebelum menunaikan ibadah shalat Subuh.


Pagi ini Agam dan Eno harus pulang ke rumah orang tua Eno. Hari ini Agam akan memboyong Eno ke rumah orang tuanya. Oleh karena itu Agam dan Eno pulang dari hotel jam tujuh pagi. Untuk persiapan boyongan.


Di rumah Bu Warni, orang tua Agam, saat ini sedang sibuk mempersiapkan acara ngunduh mantu. Acara ngunduh mantu yang dilakukan oleh Bu Warni bukanlah acara yang mewah dan megah, tapi acara sederhana. Sebagai tanda syukur karena Agam sudah bertemu dengan jodohnya.


Ruang tamu dan teras rumah Bu Warni di dekor seelegan mungkin. Dekorasi kombinasi warna emas dan perak, menjadikan rumah sederhana itu menjadi lebih mewah. Jangan lupakan teratak yang ada di halaman rumah itu! Halaman rumah Agam yang tak seberapa luasnya itu, kini tampak seperti kotak raksasa dengan warna putih keemasan.


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang saat , iring-iringan mobil rombongan pengantin datang.


Ary datang untuk mendampingi Eno, Eno sangat membutuhkan teman di saat ini. Eno pasti akan merasa asing di tengah-tengah keluarga Agam. Ary berinisiatif menemani Eno hari ini karena kemarin tidak bisa menemani Eno.


Acara ngunduh mantu di rumah keluarga Agam berlangsung secara sederhana. Hanya dihadiri oleh keluarga dan tetangga terdekat saja. Eno yang mengenakan kebaya berwarna putih tulang tampak sangat cantik. Sedangkan Agam mengenakan baju batik dan celana formal bahan berwarna gelap.

__ADS_1


Eno berjalan bergandengan menuju tempat duduk yang disediakan. Mereka duduk di kursi yang disediakan khusus untuk pengantin. Sedangkan Ary, mengantarkan Eno sampai kursi pelaminan kemudian mencari tempat duduk yang letaknya tidak jauh dari pelaminan.


Acara ngunduh mantu pun dimulai setelah semua tamu undangan dan mempelai hadir di rumah sederhana itu.


Perwakilan pihak keluarga Eno memberikan sambutan yang berisi penyerahan anaknya pada pihak keluarga Agam. Menitipkan Eno agar dididik dan dijaga dengan baik oleh Agam dan keluarganya. Untuk mengingatkan Eno jika melakukan kesalahan. Dan beberapa wejangan lainnya tentang berumah tangga.


Perwakilan dari keluarga Agam pun menyambut baik kedatangan keluarga Eno. Setelah menjawab semua pernyataan dari pihak keluarga Eno, diakhiri dengan permintaan maaf karena hanya menyambut dengan sederhana. Pihak keluarga Agam menutup acara dengan mempersilahkan para hadirin untuk menikmati hidangan dan hiburan yang telah disediakan.


***


Malam harinya...


"Yah, mbok!" teriak Fani celat, anak Agam sambil menarik tangan Agam.


Saat ini Agam dan Eno sedang duduk santai di teras rumah, menikmati semilir angin yang berhembus serta sinar rembulan. Fani tiba-tiba mendatangi keduanya.


"Mbok apaan sih, mas?" tanya Eno menghadap ke Agam.


Agam mengangkat Fani dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Dia biasanya tidur sama siapa, kalau mas pulang?" tanya Eno lagi, jiwa keponya sudah meronta-ronta.


"Nggak tentu juga! Kadang sama aku, kadang sama ibu. Kenapa, hmm?"


Eno merasa tidak enak hendak meminta Fani tidur bersama mereka. Eno tiba-tiba memiliki ide untuk tidur bertiga setelah melihat Fani merengek pada ayahnya.


"Ngng... kalau Fani tidur sama kita aja bagaimana, mas?" tanya Eno ragu-ragu.


"Itung-itung pendekatan gitu!" imbuhnya sambil menautkan jemarinya untuk menutupi kegugupannya.


Agam sudah menebak pikiran Eno sebelumnya. Agam tahu Eno belum bisa menerima dirinya sepenuhnya. Agam ingin menyentuh Eno jika Eno sudah bisa menerima dirinya. Agam tidak akan memaksakan kehendaknya pada Eno, dia akan bersabar menunggu waktu itu tiba.


"Nggak pengen ngerasain MP gitu?" goda Agam.

__ADS_1


Eno langsung lesu mendengar godaan dari Agam. Eno masih belum ingin melakukan MP, bukan karena tidak mau melayani suami. Tapi terlebih karena dia ingin menyerahkan harta berharganya di saat dia sudah bisa mencintai Agam. Eno ingin melakukan itu karena adanya perasaan cinta diantara mereka.


"Nggak usah dipikirin, aku cuma bercanda aja!" lanjut Agam karena Eno hanya diam saja tanpa menjawab.


Akhirnya Agam mengajak Eno masuk karena Fani sudah tertidur di pangkuannya.


Fani diletakkan di tengah ranjang berukuran besar itu, sebagai pembatas antara Aya dengan ibu sambungnya.


Setelah meletakkan anaknya di kamar, Agam keluar dari kamar itu. Eno yang mengikuti Agam ke kamar, akhirnya memilih ke kamar mandi setelah Agam keluar dari kamar.


"Mana istrimu?" tanya bu Warni sambil mendekati Agam yang sedang menonton TV di ruang keluarga.


"Di kamar, Bu!" jawab Agam dengan pandangan masih tertuju pada layar TV di depannya.


"Istri di kamar kok, malah nonton TV di sini!" ucap bu Warni sambil menggelengkan kepalanya.


"Belum ngantuk, bu! Lagian ibu kenapa belum tidur juga?" Agam balik bertanya pada ibunya.


"Ibu belum ngantuk juga! Ibu pengen ngobrol sama mantu ibu, tapi sepertinya mantu ibu kecapekan. Besok saja ibu mengobrol dengannya," jawab bu Warni panjang kali lebar kali tinggi.


"Ibu istirahat saja! Beberapa hari ini kan ibu mempersiapkan acara ini, ibu pasti capek 'kan?" Agam meminta ibunya untuk tidur tanpa ingin menyinggung perasaan ibunya.


"Baiklah kalau begitu, ibu tidur dulu. Kamu jangan lupa mengunci semua pintu dan matikan lampu yang tidak terpakai!" pesan Bu Warni sebelum meninggalkan anaknya.


Agam mulai mengecek semua pintu, apakah sudah terkunci semua atau belum. Setelah memastikan semua pintu terkunci, Agam pun mematikan lampu ruang tamu, dapur dan ruang keluarga.


Agam masuk ke kamarnya. Dilihatnya anak dan istrinya sudah tidur dengan posisi saling berpelukan. Agam pun membersihkan dirinya kemudian menyusul mereka ke alam mimpi.


Maaf ya kezheyengankuuuhhh... Si bocil lagi rewel, simboknya diajak begadang terus tiap malam. Jadi setiap mau nulis pegang hp malah ketiduran duluan. Bayangkan satu bab tiga hari 🤧🤧🤧🤧, kalau ada typo dikomen aja ya 🙏


Jangan lupa like dan komen, kalau ada vote atau gift juga boleh 🤭


Terima kasih masih setia dengan karya recehku 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2