
Keesokan harinya Ary berangkat ke rumah sakit setempat Subuh. Mang Udin sopir rumah sakit sudah standby sejak jam tiga dini hari. Mang Udin sampai di rumah Ary, saat Ary menghadiri acara reuni.
Begitu sampai di rumah sakit, Ary disibukkan dengan persiapan kunjungan Bupati. Hingga sore acara kunjungan baru selesai. Walaupun rumah sakit itu kecil, tapi selalu ramai pasien. Bahkan pasien dari kota pun banyak yang berdatangan, mereka memilih berobat ke rumah sakit tempat Ary dinas.
Ary benar-benar berdarah dingin, dengan telatennya membuat rumah sakit itu berkembang pesat dalam kurun waktu tiga tahun. Kunjungan Bupati ke rumah sakit dalam rangka penilaian kinerja rumah sakit dan kelengkapan peralatan medisnya. Untuk bisa mendapatkan akreditasi, sebuah rumah sakit harus memiliki kinerja yang baik dan juga menyediakan peralatan medis yang lengkap.
Sore hari menjelang Maghrib, Ary baru menginjakkan kakinya di rumah. Rasa capek menguasai badannya, sehingga Ary memutuskan untuk berendam air hangat.
Selepas Maghrib, Eno datang membawa anak-anaknya ke rumah Ary. Sehingga rumah Ary yang sepi, seketika menjadi ramai.
"Ary mana, mbak?" tanya Eno begitu masuk ke rumah Ary.
Wati, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Ary yang membuka pintu saat Eno datang.
"Mungkin mbak Ary masih di kamarnya." jawab Wati.
Wati usianya lebih tua dari Ary, wanita itu berumur sekitar empat puluhan tahun. Anak-anaknya sudah besar, jadi dia menerima tawaran Ary untuk bekerja di rumahnya. Awalnya suami Wati bekerja sebagai tukang kebun di perumahan rumah sakit, karena Ary kesepian, dia menawarkan pada pak Nardi dan istrinya bekerja di rumah Ary. Tepatnya rumah dinas yang ditempati Ary.
"Nitip anakku ya, mbak! Mbak Wati sudah makan malam belum? Kalau belum, nanti aja deh." kata Eno plin plan, membuat Wati menjadi bingung.
"Iya, mbak Eno. Saya jaga anak-anak saja dulu, sambil nunggu mbak Ary makan malam." jawab Wati mengambil Richard dari gendongan Eno.
"Okelah kalau begitu. Terima kasih ya! Aku mau ada perlu sebentar sama Ary." cerocos Eno tanpa jeda.
"Iya, mbak." jawab Wati sambil menggandeng tangan anak sambung Eno dan menggendong bayi Eno.
Eno menitipkan kedua anaknya pada Wati, kemudian menuju kamar Ary. Rumah dinas yang ditempati Ary terdapat tiga kamar tidur. Rumah berlantai satu itu sebenarnya sangat cocok untuk orang yang sudah berkeluarga. Ruangan yang luas membuat anak-anak betah bermain di dalam rumah. Begitu juga dengan anak-anak Eno, mereka sangat senang jika diajak ke rumah ini.
Eno mengetuk pintu kamar, begitu sampai di depan kamar Ary.
Tok...tok..tok... suara pintu diketuk.
__ADS_1
Eno langsung membuka pintu kamar itu setelah mengetuknya, tanpa menunggu jawaban dari Ary. Saat Eno masuk tampak Ary sedang menyisir rambutnya.
"Ngapain mengurung diri di kamar, nggak laper emangnya?" kata Eno begitu masuk ke dalam kamar Ary.
"Baru selesai mengadu! Tumben jam segini nyampai sini?" kata Ary sambil mengikat rambutnya yang panjang sepinggang.
"Pak bojo ngantor, ada panggilan darurat!" jawab asal.
Ary mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Eno yang ngelantur.
"Hilih, pinter ya buat alasan!" kata Ary sambil berdiri dari duduknya di depan meja rias.
"Aku mau curhat nih!" kata Eno begitu Ary duduk di sampingnya, di sofa.
"Curhat apalagi? Kurang baik apa coba mas Agam sama kamu! Bersyukurlah karena kamu memiliki suami yang baik seperti beliau." Ary mulai menceramahi Eno.
Eno yang mendapat ceramah dari Ary hanya memutar bola matanya.
"Lho, kenapa memangnya? Kamu kan tinggal menyiapkan barang kalian, setelah itu dikirim via JNE, JNT, POS atau jasa pengiriman lainnya." cerocos Ary.
"Kenapa jadi mengabsen kurir sih!?" kata Eno sambil menepuk jidatnya.
''Lha terus apa? Dirimu saja tidak menceritakan secara detail, mana ku tahu!" jawab Ary dengan mengangkat kedua tangannya.
"Aku lagi bingung nih, mau ikut apa nggak!" kata Eno sedih.
"Kamu itu sudah menjadi seorang istri, seorang istri itu kemana suaminya harus mendampingi." nasehat Ary.
"Si Fani saat ini sekolah PAUD, kan enam bulan lagi dia masuk TK. Kata emak mertua, nunggu si Fani sekalian biar gak repot ngurus pindahan. Nanti disana mas Agam juga sudah pasti tinggal dimana. Kalau sekarang ikut repot, ngurus anak ngurus barang, ngurus tempat tinggal." cerocos Eno panjang kali lebar.
"Kok gitu, bukannya lebih baik dari sekarang mengikuti kemana suami pergi. Kalau anak masih sekolah PAUD, masih gampang. Kalau masalah tempat tinggal kan sudah disediakan Satuan. Apalagi yang menjadi ganjalan?" kata Ary.
__ADS_1
"Ng..." Eno tidak berani mengungkapkan kegelisahannya, dia takut menyinggung perasaan Ary.
"Apa?" tanya Ary memandang Eno.
"Kamu gak apa-apa, kalau aku tinggal sendiri disini?" tanya Eno was-was, takut menyinggung Ary.
"Aku kenapa? Aku sudah besar, sudah tua malah. Tidak usah mengkhawatirkan sesuatu yang tidak seharusnya dikhawatirkan." kata Ary sambil tertawa kecil.
"Seandainya saja kamu sudah menikah, aku akan dengan tenang mengikuti kemanapun suamiku pergi. Aku tahu kamu bisa, kamu mandiri. Tapi sebagai seorang wanita pasti membutuhkan sandaran. Membutuhkan perhatian, butuh dimanja juga." kata Eno.
"Mau sampai kapan kamu akan sendiri terus? Aku yakin, kamu butuh bersandar dari rasa lelah hati, rasa lelah pikiran dan lelah badan. Karena jika memiliki pasangan untuk berbagi, rasa lelah dan beban yang kita miliki akan berkurang. Kita akan merasa memiliki kekuatan menghadapi ujian, jika ada tempat kita bersandar." imbuh Eno.
"Sekarang makin pintar ya, semenjak menjadi nyonya Agam." ledek Ary, menutupi kegelisahan hatinya karena tersentil ucapan Eno.
"Berkat nasehat kamu dulu, kamu berhasil meyakinkan aku. Kalau menerima perjodohan itu aku akan bahagia." jawab Eno.
"Sekarang saatnya aku yang mengorek telinga kamu, mencuci otak kamu. Agar kamu mau menikah. Banyak di luar sana laki-laki yang siap menikahi kamu." imbuh Eno.
"Aku dulu nyuruh kamu menerima perjodohan itu, karena semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Apalagi aku lihat mas Agam itu bagus akhlaknya, dia bisa menjadi pemimpin yang baik. Nggak ada salahnya menerima, dan sekarang kamu bahagia bersama dia kan?" jawab Ary.
"Kalau untuk menikah lagi, terus terang aku belum siap. Kami tahu sendiri, aku sekarang semakin sibuk. Aku takut tidak bisa mengurus suamiku nantinya." Ary mulai mencari alasan, bila didesak untuk segera menikah lagi.
"Ada Alex yang masih berharap bisa bersamamu. Ada Brandon yang selalu siap sedia jika kamu butuhkan. Kamu tinggal pilih yang mana?" kata Eno menunjukkan orang yang akan dipilih Ary.
"Alex sudah ada Tere disampingnya, Brandon melakukan itu semua karena pesan Abang. Bukan dari hatinya, kalau saja dia melakukan semuanya karena dia memang memiliki perasaan lebih, mungkin aku bisa mempertimbangkannya." jawab Ary.
"Dasar kamunya aja yang gak peka! Dari matanya memandang kamu sudah ketahuan, gak usah ragu lagi." teriak Eno sambil memukul lengan Ary pelan.
Silahkan dikasih jempol, komen dan vote. Mode malak onπ€π.
Terima kasih πππ
__ADS_1
Podium gift masih berlanjut ya genksπππ