
Drt...drt...
HP Alex yang diletakkan di meja terus bergetar karena ada panggilan masuk. Alex lupa mengembalikan setelan HP-nya, dari mode diam.
Ary yang kebetulan dekat dengan meja langsung berdiri untuk mengambil HP tersebut, kemudian menyerahkannya pada Alex.
"Terima kasih!" ucap Alex sambil tersenyum.
"Iya!" kata Alex begitu mengangkat panggilan dari tangan kanannya.
Benyamin menghubungi Alex karena dia sudah mendapatkan semua bukti, bahwa kekacauan di kafe Alex karena sabotase. Benyamin memberikan semua laporan yang didapatnya pada Alex.
Ternyata dalang dibalik semua ini adalah Carlos. Begitu juga saat Alex dan Paula masih berstatus suami istri. Carlos sengaja melakukan itu untuk memisahkan Alex dengan Paula. Carlos adalah pacar Paula sebelum Alex. Carlos tidak terima ditinggalkan Paula, sehingga dia ingin merebut Paula dari Alex.
Terbukti usahanya untuk menghancurkan rumah tangga Alex dan Paula berhasil. Tapi sampai saat ini, Carlos belum mendapatkan hati Paula sepenuhnya seperti dulu, saat Paula belum mengenal Alex.
Paula dan Carlos sudah lama pacaran, bahkan bagi mereka berdua melakukan hubungan suami istri sudah biasa. Tapi begitu mengenal Alex, Paula lebih memilih Alex. Padahal kalau dilihat dari segi ekonomi dan fisik, Carlos jelas lebih unggul dibandingkan Alex. Hanya saja kepribadian Alex jauh lebih baik. Karena memiliki kepribadian yang baik itulah yang membuat Paula berpaling dari Carlos
Berbagai usaha telah Carlos lakukan untuk mendapatkan kembali cintanya. Tapi hingga sekarang Paula masih belum mau memberikan hatinya untuk Carlos. Bahkan saat Paula depresi setelah bercerai dengan Alex pun, Carlos yang selalu dengan sabar mengurus Paula.
Setelah Paula mulai tenang, tiba-tiba mendapat kartu undangan pernikahan Alex, Paula kembali depresi hingga memancing kemarahan Carlos. Carlos yang sejak awal tidak menyukai Alex pun semakin nekat ingin menghancurkan Alex.
Carlos mengerahkan mafia untuk menghancurkan usaha Alex. Kafe milik Alex adalah kafe terbesar di daerah itu. Kafe dengan layanan dua puluh empat jam, dengan menu andalan Nusantara serta masakan western menjadikan kafe itu.
Mafia itu tidak serta merta menghancurkan fisik kafe, tapi menyerang secara halus dengan menyebarkan berita bohong. Sehingga konsumen dan masyarakat umum menjadi menilai buruk kafe milik Alex.
Carlos pun memata-matai Alex, dia mencari informasi tentang Alex. Dimulai dari secara umum hingga pribadi, Carlos cari tahu. Dia menyewa ahli IT untuk meretas semua informasi tentang Alex.
Saat mengetahui Alex datang ke Singapura untuk menyelesaikan masalah yang dibuatnya. Carlos diam-diam memantau Alex. Begitu tahu bagaimana Alex dan keluarganya. Akhirnya Carlos membersihkan masalah yang dibuatnya. Dia mengembalikan keadaan kafe milik Alex seperti sebelumnya. Apalagi saat tahu keadaan Alex dan mertuanya saat ini, Carlos menjadi iba pada Alex. Cinta membuat Carlos melakukan hal gila.
Alex bahagia saat mendengar kabar, bahwa kafe yang dirintisnya sejak awal itu sudah berjalan normal lagi. Alex tersenyum lebar begitu Benyamin mengakhiri panggilannya.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, kek orang gila?!" kata Ary ketus.
__ADS_1
"Tega kamu sayang, ngatain suaminya gila! Nanti kalau aku gila beneran gimana, kan kamu juga yang rugi." kata Alex menggoda Ary.
"Dih! Rugi? Nggak lah, kalau kamu gila aku malah bisa bebas pergi kemana saja yang aku mau." jawab Ary riang.
Alex yang mendengar jawaban Ary langsung cemberut.
"Tega kamu, Yang!" kata Alex memasang wajah memelas.
"Kamu lebih tega! Aku masih waras aja kamu tinggal pergi tanpa kabar. Bunda lagi sakit lagi! Sekarang siapa disini yang tega, aku atau kamu?!" kata Ary membeberkan kekesalannya.
"Aku kan udah pulang, masak masih aja diungkit." kata Alex.
"Mulut bisa berkata bisa memaafkan, tapi dan pikiran tidak bisa berbohong. Walaupun sudah berusaha ikhlas, tapi..." kata Ary menggantung percakapan karena dia tiba-tiba teringat ibunya.
Kemarin ibunya meminta Ary membawa Alex menjenguknya.
"Tapi... tapi apa Yang?" tanya Alex penasaran.
"Kamu sudah kuat berdiri kan?" tanya Ary tiba-tiba.
"Kita melihat keadaan bunda, gimana?" tanya Ary dengan mimik wajah imut.
"Kalau itu sih, ayok aja! Kirain sudah gak tahan mau anu." kata Alex cengengesan.
"Apaan sih, malah bahas anu!" kata Ary memutar bola matanya jengah.
"Bantu pegang botol infusnya ya!" kata Alex sambil turun dari ranjangnya.
Ary mengambil botol infus kemudian mengangkatnya sejajar telinga. Agar cairan infus bisa lancar masuk ke dalam tubuh Alex. Selain itu agar darah tidak naik ke selang infus.
Mereka berjalan beriringan menuju kamar bunda Widya. Alex sudah merasa lebih sehat dibandingkan dengan tadi pagi, saat baru sampai di Jogjakarta.
"Bunda!" sapa Alex pada ibu mertuanya.
__ADS_1
Alex menyalami dan mencium punggung tangan ibu mertuanya. Widya yang sudah merindukan menantunya itu hanya bisa mengelus kepala Alex pelan.
"Kamu kenapa?" tanya Widya lirih.
"Kecapekan, Bun." jawab Alex cengengesan.
"Ary, kenapa kamu nggak urus suami kamu dengan baik?" tanya Widya menuduh Ary tidak bisa menjadi istri yang baik.
"Gimana mau ngurusnya, orang dia kabur ninggalin Ary! Itu sebagai peringatan bahwa dia masih ada istri dan anak yang perlu dia urus selain bisnisnya." jawab Ary ketus.
Ary merasa kedua orang tuanya lebih menyayangi Alex dari pada dirinya, anaknya sendiri.
"Apa maksud kamu, Ary?" tanya Widya heran.
"Sewaktu bunda tidak sadar, dia ninggalin Ary disini. Dia memilih pergi mengurusi bisnisnya dari pada disini mendampingi Ary. Padahal Ary saat itu sedang down, karena bunda koma." kata Ary sedih.
"Bukan maksud Alex ninggalin Ary, Bun. Alex lupa mengabari Ary, selama Alex di Singapura. Alex juga lupa makan dan istirahat, sehingga Alex sakit. Jadi, bukan salah Ary kalau Alex sakit." kata Alex akhirnya.
"Alex minta maaf sama ayah dan bunda, sudah meninggalkan Ary tanpa kabar. Tapi ini semua karena ketidaksengajaan Alex. Alex janji tidak akan lagi meninggalkan Ary tanpa kabar." lanjut Alex sambil memohon maaf, karena lalai.
Ayah dan Widya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Anak dan menantunya itu sudah dewasa tapi cara berpikir mereka seperti pasangan remaja.
Cinta membuat Alex dan Ary seperti anak remaja yang baru saja pacaran.
Hoek... hoek...
Alex kembali mual dan ingin muntah. Dia berjalan perlahan menuju kamar mandi diikuti Ary di sisinya.
Hoek... hoek...
Alex memuntahkan semua isi perutnya. Bubur serta makanan lainnya yang Alex makan, keluar semua. Bahkan hingga cairan berwarna kuning saja yang keluar. Hal ini membuat Alex menjadi lemas tak bertenaga.
"Alex sakit apa, yah?" tanya Widya pada suaminya, Kemal.
__ADS_1
"Kata Ary, asam lambungnya naik karena stress dan terlambat makan. Selain itu dia kurang tidur, kebanyakan konsumsi kopi." jawab Kemal pelan, agar anak dan menantunya itu tidak mendengar.
"Gila kerja ternyata menantu kita ya, yah?" kata Widya meminta persetujuan Kemal.