MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
I'm single


__ADS_3

Ary meletakkan HP-nya setelah membalas pesan dari Alex. Ary mulai menikmati makan siangnya tanpa memperdulikan HP-nya. Setelah selesai makan dan minum, Ary baru meneruskan berkirim pesan dengan Alex.


Saat Ary hendak membayar makannya,Alex sudah membayar semua makanan yang dimakannya dan makanan pesanan Ary. Ary merasa tidak enak, akhirnya mau tidak mau Ary harus ngobrol bersama Alex di rumah makan itu. Ary merasa tidak enak jika harus menolak ajakan Alex untuk ngobrol sebentar.


"Deb, kamu bawa mobil aku aja ke rumah sakitnya. Mungkin aku agak lama di luar." kata Ary pada Deby, teman sekaligus asistennya di rumah sakit.


"Kamu sekalian beli kue di Omah Roti, buat pendamping kopi untuk para teknisi dari Dinas Infokom. Kamu handle dulu masalah program yang kita bahas tadi, besok pagi biar aku yang menjumpai mereka." imbuh Ary, karena tadi saat di kantor Bupati sudah dibahas hal ini.


"Baik, dok! Tapi nanti dokter pulangnya bagaimana?'' jawab Deby.


"Gampang itu, nanti aku bisa telepon mang Udin atau yang lainnya untuk jemput aku." kata Ary menenangkan Deby.


"Kalau begitu saya pamit dulu, dok!" pamit Deby meninggalkan Ary.


Setelah Deby meninggalkan Ary, Alex mendatangi meja Ary. Teman Alex sudah pergi sejak tadi, karena masih ada urusan.


"Terima kasih ya, kenapa sih repot-repot bayarin makan kami." tanya Ary begitu Alex berpindah tempat duduk, dari mejanya pindah ke meja Ary.


"Nggak apa-apa lagi, sekali-kali traktir cewek cantik. Biar mau dideketin. Hahaha!" jawab Alex sambil tertawa.


"Diih, apaan sih! Lain kali aku yang bayarin semua makan kamu." ancam Ary.


"Iya, nanti kalau kita makan bersama lagi. Kamu boleh traktir aku kok!" kata Alex reflek memegang kepala Ary yang terbungkus rapi oleh jilbab berwarna coklat.


Ary yang merasa ada sesuatu yang menimpa kepalanya langsung menggelengkan kepalanya, untuk menghindari sentuhan di pucuk kepalanya.


"Apaan sih, kek ma anak kecil aja! Pakai pegang kepala!" dengus Ary dengan kesal.


"Sorry, tadi reflek aja!" kata Alex saat mendengar Ary ngedumel sendiri.


"Kok kamu bisa sampai disini, dari mana mau kemana?" tanya Ary untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka berdua.


"Kebetulan aku melewati jalan ini. Aku dari Purworejo hendak pulang, dan secara kebetulan singgah disini karena ada keperluan dengan teman tadi." jelas Alex.

__ADS_1


Ary yang mendengar penjelasan dari Alex hanya ber oh ria saja.


"Purworejo ke rumah siapa? Ada famili yang disana kah?" tanya Ary lagi. Karena Alex sepertinya masih canggung untuk bertanya.


"Aku ada rencana mau buka mall di sana. Kamu sendiri, apa kamu dinas di salah satu rumah sakit dekat sini?" tanya Alex.


"Iya, aku dinas di dekat sini. Sudah sukses sekarang, mall-nya dimana-mana." kata Ary.


"Mall itu milik orang tua sebenarnya, aku hanya meneruskan saja. Saat belum aku pegang sudah besar nama mall itu, aku hanya melanjutkan yang sudah ada." jawab Alex merendah.


"Ngomong-ngomong kapan mall mulai beroperasi?" tanya Ary.


"Sekitar dua bulan lagi. Kenapa? Mau ikut acara grand opening?" tanya Alex sambil tersenyum menggoda Ary.


"Mana sempat ikut acara kek gitu, jadwal di rumah sakit aja padat terus." jawab Ary mengelak.


"Hmm."


Ary ingin membuka outlet komputer di mall milik Alex. Selain itu, Ary juga ingin semua peralatan kantor dan perlengkapannya disuplai oleh perusahaannya. Perusahaannya bisa menyediakan komputer beserta peralatan elektronik lainnya untuk mall Alex.


Tidak ada salahnya, memprospek perusahaan Alex. Tapi Ary tidak ingin Alex tahu jika dia sedang menawarkan kerjasama. Ary masih bekerja di belakang layar. Dia tidak ingin dikenal di dunia bisnis. Dia ingin orang mengenalnya sebagai seorang dokter.


"Untuk sementara masih dengan perusahaan yang selama ini bekerja sama, tapi tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan perusahaan lain." jawab Alex memandang Ary.


"Aku ada teman, dia memiliki usaha bidang komputer. Mana tahu kalian bisa bekerja sama. Tidak ada salahnya kan mencoba bekerja sama dengan perusahaan baru. Karena aku disini juga bekerja sama dengan perusahaan ini. Semua komputer yang ada di Pemkab dan Pemprov DIY, disuplai oleh perusahaan ini." Ary mencoba ilmu marketing yang dipelajarinya dari Brandon.


Ary menyerahkan selembar kartu nama milik Brandon yang selalu tersimpan rapi di dompetnya. Ary sengaja membawa beberapa lembar kartu nama Brandon. Hal itu dilakukan karena Ary merasa ada untungnya. Dengan menyimpan kartu nama Brandon, Ary bisa berkelit jika nanti ada orang yang mengatakan dialah pemilik perusahaan itu.


"Brandon! Ini bukannya laki-laki yang kamu perkenalkan padaku waktu reuni?" tanya Alex penasaran.


"Iya, dia pemilik Rend's Comp. Perusahaannya memiliki kinerja yang bagus kok. Aku berani menjamin perusahaan itu benar-benar bagus. Dari segi manapun." Ary berusaha meyakinkan Alex untuk melakukan kerjasama dengan perusahaannya.


"Kenapa jadi melenceng begini sih? Padahal aku tadi ingin bertanya masalah pribadi padamu." kata Alex sambil mengguyar rambutnya ke belakang.

__ADS_1


"Mau nanya apa? Penting banget ya?" tanya Ary.


"Sebelumnya kamu janji dulu, kamu gak akan marah. Apapun pertanyaanku, kamu tidak boleh marah atau menangis." kata Alex.


"Gak janji, apa dulu pertanyaannya?!" jawab Ary sekenanya.


"Gak jadi aja deh! Nanti kamu malah ngamooookkk" kata Alex sambil tertawa.


"Nggak lucu! Kalau nggak ada yang mau ditanya ataupun diomongkan, lebih baik kita akhiri percakapan kita ini." jawab Ary ketus.


"Kan ngambek duluan!" teriak Alex.


"Nggak ngambek, cuma kesel aja. Habisnya kamu kerjain aku." jawab Ary cemberut.


"Kalau cemberut gitu, makin cantik lho. Bikin gemes!" kata Alex sambil mencubit pipi Ary.


"Ya udah, nanya aja! Kalau nggak jadi, aku mau balik ke rumah sakit. Tadi sudah janjian sama teknisi dari Infokom, karena ada perintah dari Bupati. Bahwa semua instansi pemerintah harus menggunakan program baru untuk sistem administrasinya.


"Kamu sama Brandon punya hubungan apa? Apa kalian pacaran?" tanya Alex akhirnya, setelah berusaha memendam rasa cemburunya.


"Buahahaha!" Ary tergelak mendengar pertanyaan Alex.


"Malah tertawa, serius nanya malah diketawain!" kata Alex dengan wajah memelas.


"Pertanyaan kamu lucu." kata Ary masih dengan tawanya.


"Nggak ada lucunya, cuma nanya! Emang salah aku nanya begitu?" tanya Alex mulai kesal, karena Ary menganggap pertanyaannya dengan gurauan.


"Ok, aku jawab. Aku sama Brandon hanya rekan bisnis saja. Aku memakai produk buatannya, dia yang menyediakan barang untukku. Lebih tepatnya untuk rumah sakit tempat dinasku." jawab Ary serius.


"Berarti kamu single?" tanya Alex antusias. Pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya akhirnya terjawab sudah.


"Yap! I'm single and i'm very happy!" jawab Ary mantap.

__ADS_1


__ADS_2