MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Kartu Undangan Pernikahan


__ADS_3

"Dad, kata suster Mathilda besok Senin kami ujian. Kami disuruh belajar yang rajin biar nilainya bagus." kata Kevin begitu duduk di bangku penumpang, di samping ayahnya.


"Betul kata suster Mathilda, Kevin harus rajin belajar biar bisa mengerjakan soal ujian nanti." kata Alex sambil mulai melakukan mobilnya.


"Mommy kok nggak ikut jemput Kevin, biasanya kan ikut?!" protes Kevin, karena ibu sambungnya tidak ikut menjemput.


"Mommy masak buat makan siang kita, nak!" jawab Alex.


"Kira-kira mommy masak apa ya, dad?!" tanya Kevin.


"Daddy juga tidak tahu! Yang pasti masakan mommy selalu enak. Iya nggak?!" jawab Alex menatap ke arah anaknya, kemudian kembali melihat jalanan.


"Masakan mommy selalu enak, tidak seperti masakan eyang Jessie apalagi aunty Tere!" kata Kevin dengan polosnya.


"Tidak boleh begitu, nak. Apapun yang orang masakkan untuk kita, kita harus menghargainya. Walaupun kurang pas di lidah kita, kita tidak boleh mencaci makanan." Alex menasehati anaknya, seperti yang dia dengar dari Ary.


"Baik, dad." jawab Kevin sambil menunduk karena merasa bersalah.


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah orang tua Ary. Saat mereka tiba di rumah itu, Ary masih memasak. Sedangkan mertua Alex masih di pasar.


"Mommy!!!" teriak Kevin begitu melihat Ary memasak di dapur.


Ary langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ary mencuci tangannya di wastafel, sebelum menyambut uluran tangan Kevin.


Kevin berlari ke arah Ary kemudian memeluk Ary tanpa mencium tangan Ary. Rasa rindu setelah seminggu tidak bertemu, akhirnya terbayar sudah.


"Kangen!" rengek Kevin.


"Mommy juga kangen Kevin. Sekarang Kevin ganti baju, cuci tangan dan kaki. Setelah itu kita makan siang bersama. Masakan mommy sudah matang." kata Ary menasehati anaknya.


"Siap, mom!" jawab Kevin dengan gerakan memberi hormat tangan pada Ary.


Ary hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak sambungnya itu.

__ADS_1


"Aku juga kangen, Yang! Mau dong peluk!" kata Alex sambil mendekati Ary hendak memeluk Ary.


"Eits, jangan macam-macam!" kata Ary menghindari Alex.


"Nggak macam-macam, Yang! Satu macam aja." jawab Alex melas.


"Sudah sana, cuci tanganmu setelah itu bantu angkat masakan ke meja makan!" titah Ary pada Alex.


Ary sengaja menyuruh Alex membantunya menyiapkan makanan ke atas meja makan, agar Alex tidak memeluknya. Karena jika dibiarkan, bukan hanya pelukan saja tapi akan meminta lebih. Seperti biasanya, Alex akan seperti itu. Jadi Ary sudah hafal dengan modus yang Alex lancarkan.


"Baik, tuan putri! Perintah anda akan kami laksanakan!" jawab Alex dengan mimik serius.


Ary yang melihat wajah suaminya, menjadi tergelak. Wajah Alex saat ini seperti kertas yang baru saja diremas-remas.


Sebelum suami dan anaknya datang tadi, Ary sudah menyiapkan bekal makan siang untuk ayah dan bunda. Dia akan mengantarkan sendiri, setelah urusan di rumah sudah selesai.


Kevin sudah kembali ke ruang makan, mereka bertiga akhirnya makan sambil mendengarkan cerita Kevin. Ary dan Alex tidak mengharuskan makan tetap diam tak bersuara. Karena saat di meja makan itulah yang mendekatkan mereka.


Bagi Ary dan Alex memanfaatkan waktu untuk bercengkrama itu wajib. Jadi ketika ada saat bisa berkumpul, pasti mereka akan saling bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan saat tidak bersama.


"Iya, sayang! Hebat ya anak mommy, banyak makan sayur." kata Ary memberikan pujian pada Kevin, agar Kevin suka sayur.


"Kan mommy yang bilang, kita harus banyak makan sayur dan buah. Biar tubuh kita sehat." jawab Kevin sambil menarik piring yang baru saja diisi Ary.


"Anak pintar! Apa yang dikatakan mommy itu benar, jadi Kevin harus dengarkan apa yang mommy katakan." sahut Alex.


"Cepetan habiskan makannya, setelah ini kita akan ke pasar. Antarkan makan siang untuk eyang, kita buat surprise buat eyang." kata Ary pada Kevin.


"Yeeeaaaay, kita ke pasar! Nanti Kevin mau beli es dawet di dekat kios eyang. Boleh ya mom?!" teriak Kevin, dia membujuk ibunya agar membelikan apa yang diinginkan.


"Memang sehat jajanan di pasar?" tanya Alex, dia bergidik membayangkan makanan di pasar yang dikerubuti lalat.


"Kalau tempatnya bersih dan yang jualan juga bersih, apa salahnya? Kuman itu suka tempat yang kotor. Belum tentu restoran besar itu sehat, sehat tidaknya itu tergantung kebersihan dan cara pengolahan makanannya. Mau di pasar ataupun di restoran besar, kalau tempatnya tidak bersih dan cara mengolah makanannya tidak benar. Yang ada bukannya sehat tapi malah keracunan." kata Ary panjang kali lebar kali tinggi, menjelaskan bahwa tidak semua kedai makanan kecil itu buruk.

__ADS_1


"Baik, Bu dokter! Terima kasih atas penjelasannya." jawab Alex dengan candaan.


"Ini bukan candaan, tapi ini fakta. Bahwa rumah makan itu harus bersih dan mengolah makanan dengan benar, agar menciptakan makanan yang sehat." jawab Ary.


Setengah jam kemudian mereka berangkat ke pasar terbesar di daerah itu. Kemal membeli beberapa kios yang saling bersebelahan. Sehingga toko kelontong milik Kemal banyak dikenal orang. Hanya toko milik Kemal yang paling laris karena terkenal murah dan lengkap.


Kevin dan Alex sudah pernah diajak Ary mendatangi kios itu. Kios yang tidak pernah sepi pengunjung. Di depan kios itu ada kedai es dawet. Ary sering duduk di situ sambil menikmati semangkuk es dawet.


"Mommy ayok beli es dawet!" teriak Kevin begitu sampai di deretan kios milik orang tua Ary.


"Sebentar, kita ke kios milik eyang. Kasihan eyang belum makan siang." kata Ary memberi pengertian pada Kevin.


Akhirnya mereka masuk ke dalam kios, berdesakan dengan pembeli yang mengantri. Tampak oleh Ary ayah dan bunda sedang menghitung belanjaan pelanggan. Mereka berdua tampak lelah dan kewalahan menghadapi banyaknya pembeli.


"Setiap hari ramai seperti ini, Yang?" bisik Alex.


"Iyaa, alhamdulilah. Namanya grosir alias reseller, jadi banyak yang belanja di sini untuk dijual lagi. Tidak hanya pengecer yang belanja di sini, konsumen akhir pun banyak yang datang kesini untuk belanja." jelas Ary sambil meletakkan rantang di meja yang biasa digunakan untuk menyimpan berkas.


"Eyang, kami bawa makan siang untuk eyang berdua." teriak Kevin sambil menarik tangan Widya, karena sejak tadi kedatangan mereka tidak dihiraukan oleh orang tua Ary.


"Ehh, cucu eyang kesini! Sebentar ya, bentar lagi selesai kok." kata Widya menanggapi Kevin.


***


Minggu sore Alex dan Ary mengantarkan beberapa ke rumah Kusuma. Biasanya, Anton yang menjemput Kevin di rumah Kemal. Alex sengaja mengantarkan Kevin, sekalian ingin menemui Jessie. Alex ingin mendekatkan dua wanita yang paling penting dalam hidupnya.


Tapi sepertinya kedatangan mereka tidak tepat waktu, karena Jessie sedang pergi. Kata asisten rumah tangganya, Jessie menyebar kartu undangan pernikahan. Alex pun dibuat heran, karena sepengetahuannya tidak ada yang menikah di waktu dekat ini.


Jessie mengantarkan kartu undangan pernikahan ke rumah Kemal dengan diantar sopirnya. Sopir itu pernah diajak Kusuma mendatangi rumah Kemal. Sehingga dia tahu dimana letak rumah besannya.


"Saya hanya ingin mengantarkan surat undangan saja. Semoga kalian semua berkenan hadir untuk memberikan restu pada anak kami." kata Jessie sambil menyerahkan kartu undangan pernikahan itu.


Terima kasih atas dukungannya, baik berupa like, komen dan vote/gift😍😍😘😘😘

__ADS_1


Tanpa kalian saya bukanlah apa-apa 🤧🤧🤧


__ADS_2