
Jum'at pagi Ary sudah mulai berkemas, dia menyiapkan apa saja yang akan dibawanya pulang ke kampung halamannya. Ary berencana berangkat langsung dari rumah sakit. Karena jika pulang ke rumah dinas dulu, akan membuatnya bolak-balik di jalan. Arah rumah dinas dengan kampung halaman berlawanan arah.
Siang hari selepas sholat Dzuhur dan makan siang, Ary mulai meninggalkan rumah sakit menuju kampung halamannya. Ada rasa bahagia mengiringi perjalanan menuju kampung halaman. Bahagia karena bisa bertemu dengan keluarganya, yang sudah lama tidak bertemu. Sejak Ary ikut mengurus perusahaannya, Ary dan keluarganya jarang bertemu.
Jam empat sore, Ary sampai di rumah masa kecilnya. Rumah penuh kenangan. Di rumah ini juga, dulu Alex menyatakan cintanya. Ary tersenyum lebar begitu mobilnya memasuki halaman rumah. Halaman yang luas, yang dipenuhi berbagai macam buah-buahan.
"Assalamualaikum!" teriak Ary sambil menggedor-gedor pintu rumahnya.
Suasana rumah sore ini sepi, sejak bunda Widya pensiun dari guru, bunda lebih memilih membantu ayah Kemal menjaga kios di pasar. Apalagi sekarang kios itu sudah semakin bertambah besar. Bahkan ayah sudah membuka cabang di beberapa tempat. Toko grosir yang ayah dirikan kini berkembang pesat, jadi tidak heran jika Ary pun memiliki bakat berbisnis.
"Kok sepi? Padahal sudah jam segini, kenapa tokonya masih buka?" Ary bermonolog di depan pintu.
Karena terlalu lama menunggu kepulangan kedua orang tuanya dari pasar, Ary tertidur di kursi panjang yang ada di teras rumah. Rasa lelah dan mengantuk membuat Ary mudah tertidur dengan lelapnya. Padahal tidak berselang lama dia duduk dan merebahkan badannya, kedua orang tuanya pulang.
Berulang kali ayah dan bunda membangunkan Ary, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Ary akan bangun. Akhirnya ayah Kemal menggendong Ary ke kamarnya. Walaupun ayah sudah tua, tapi ayah masih sehat dan kuat. Wajahnya pun tidak terlihat menua, hanya dari rambutnya saja orang tahu beliau sudah tidak muda lagi.
"Capek, Yah!" tanya bunda begitu melihat ayah mengatur nafasnya yang memburu.
"Ternyata ayah sudah tua ya, Bun! Dulu sewaktu Ary masih kuliah, ayah masih sering menggendongnya. Dulu ayah masih kuat, kalau sekarang ini..." ayah menjeda kalimatnya untuk mengatur nafasnya.
"Sekarang ini kenapa, yah?" tanya bunda menggoda sambil menyerahkan segelas air putih pada ayah.
"Terima kasih, sayang!" ucap ayah begitu menerima segelas air putih dari tangan bunda.
"Iyaa!" jawab Bunda, mendudukkan bo*kongnya di kursi meja makan .
"Sekarang ayah sudah nggak tahan lagi menggendong Ary. Muehehe...!" kata ayah malu-malu.
"Siapa juga yang suruh ayah gendong Ary! Aturan tadi kan dibiarkan saja tidur di teras, biar jadi tontonan gratis!" kata bunda sambil mengupas jeruk.
"Kasihan, Bun!" jawab ayah sambil mengambil jeruk yang baru saja bunda kupas.
"Ary sudah besar, bukan anak kecil lagi!" sahut bunda.
__ADS_1
"Bagi ayah, Ary tetaplah anak kecil ayah. Sejak kecil hidupnya jauh dari kata bahagia, walaupun dia selalu tersenyum menjalani hidupnya." jawab ayah kemudian mendesah mengingat perjalanan hidup Ary sejak kecil hingga sekarang.
Sejak kecil Ary sudah sering sakit-sakitan, agak besar sedikit mengalami kecelakaan hingga harus dioperasi kepalanya. Setelah berumah tangga, umur pernikahannya hanya beberapa jam saja, karena suaminya meninggal dunia.
"Sudah begitu jalan hidup Ary, yah! Kita hanya bisa berdo'a, semoga Ary menemukan kebahagiaannya suatu hari nanti." ucap bunda sedih.
Saat mereka membicarakan Ary, anak bungsu kesayangan, tiba-tiba Ary berjalan mendekati mereka.
"Ayah sama bunda kenapa nggak bangunin Ary sih? Malah digendong kek anak kecil aja!" kata Ary sambil berjalan mendekati kedua orang tuanya.
"Sudah dibangunkan berulang kali, kamu tidurnya pules banget. Jadi ayah pikir, kamu minta digendong ayah. Kan sudah lama tidak digendong ayah." jawab ayah dengan seloroh.
"Kan Ary berat, yah! Nanti kalau ayah sakit pinggang karena menggendong Ary, bagaimana?" tanya Ary, duduk kemudian mengambil jeruk ditangan bunda yang sudah terkupas.
"Ambil sendiri! Sudah besar masih aja suka ganggu ayah bunda makan." kata bunda saat Ary kembali mengambil jeruk dari tangan bunda.
"Muehehe..." Ary hanya nyengir kuda saat ditegur bunda.
"Sudah dong, sudah wangi!" jawab Ary menyombongkan diri.
"Makasih ayah, ayah memang d'best father!'' lanjut Ary sambil menerima jeruk itu.
"Ayah terlalu memanjakan Ary!" tegur bunda.
Ary memang yang paling lengket pada ayahnya, dibandingkan dengan kedua kakaknya. Kedua kakaknya lebih dekat pada bunda.
"Yah... Bun..." kata Ary ragu-ragu, dia ingin meminta pendapat kedua orang tuanya tentang lamaran Alex tempo hari.
"Ada apa, sepertinya penting nih? Karena nggak biasanya anak ayah bicara serius." tanya Ayah penasaran.
"Ada laki-laki yang mengajak Ary berumah tangga." kata Ary dengan kepala tertunduk, Ary belum berani mengangkat kepalanya.
"Lalu?" tanya bunda mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Bagaimana kepribadian orang itu?" tanya ayah.
"Selama Ary kenal, dia baik sih. Tapi kalau mengenal secara keseluruhan, Ary belum begitu tahu." jawab Ary jujur.
"Kalau dia baik menurut kamu, dan kamu merasa cocok. Ayah nggak masalah." kata ayah.
"Tapi dia duda beranak satu, yah. Selain itu..." Ary tidak berani melanjutkan kata-katanya, takut ayah dan bunda marah.
"Selain itu?" tanya ayah sudah tidak sabar.
Ayah adalah orang pertama yang akan membantu Ary dalam menyeleksi calon suaminya. Dulu pun sebelum menikah dengan Rendy, ayah lah yang selalu menemani Ary. Memberikan dukungan pada Ary, bahkan saat Ary terpuruk sepeninggal Rendy.
"Selain itu, kita berbeda keyakinan, yah!" kata Ary akhirnya dengan wajah tertunduk lesu.
"Apa?!!" kata bunda terkejut begitu mendengar kata-kata Ary baru saja.
"Apa tidak ada laki-laki lain yang melamar kamu?" tanya ayah, menutupi rasa terkejutnya.
Ary hanya menundukkan kepalanya saja, tanpa berani memandang kedua orang tuanya. Ary tahu, pasti kedua orang tuanya akan sulit memberikan restu padanya. Itulah kenapa, Ary selalu menghindar dari Alex. Walaupun dia mencintai Alex, sebisa mungkin dia menghapus rasa itu.
Perbedaan dia dan Alex, bukanlah masalah biasa. Yang dengan mudah diterima begitu saja. Perbedaan mereka berhubungan dengan kepercayaan suatu agama, hal itu sangat sensitif. Jadi biasanya perbedaan seperti ini, sulit untuk diterima. Beda halnya dengan status sosial, karena status sosial lebih mudah diterima oleh masyarakat pada umumnya. Sedangkan perbedaan agama, yang ada hanya toleransi dan menghormati, tidak bisa lebih, tidak bisa dicampur adukkan menjadi satu.
"Kamu sudah meminta petunjuk dari Allah?" tanya ayah kemudian setelah keheningan menyelimuti.
"Sudah, yah! Sudah sering Ary lakukan itu, setelah bertemu kembali dengannya saat acara reuni beberapa Minggu yang lalu." jawab Ary.
"Karena Ary tidak ingin salah mengambil keputusan dalam hal sebesar ini." lanjut Ary.
"Dan, hasilnya?" tanya ayah memandang Ary.
Ary pun menatap wajah ayah dan bundanya satu per satu.
"Apa keputusan kamu, kamu harus bisa bertanggung jawab atas pilihan kamu!" kata bunda mengingatkan.
__ADS_1