
Eno ikut bergabung di meja makan setelah selesai mandi berdandan. Wajahnya tampak segar karena sudah beristirahat dengan cukup.
"Hmm... wanginya! Pasti sayur kesukaan aku nih!" ucap Eno begitu sampai di samping suaminya.
"Sini!" kata Agam sambil menarik Eno agar duduk di pangkuannya.
Eno tersipu karena perlakuan Agam di depan kedua orang tua dan mertuanya.
"Mas! Malu ihh." ucap Eno sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Agam.
Kedua orang tua Eno dan Bu Warni hanya tersenyum melihat kelakuan anak dan menantunya.
Agam tidak menanggapi perkataan Eno malah mengarahkan sendok berisi nasi dan sayur ke mulutnya.
"Aaa..." kata Agam menyuruh Eno membuka mulutnya.
Eno pun membuka mulutnya menerima suapan dari Agam. Mata Eno berbinar melihat sayur kesukaannya. Sayur asem terong, kacang panjang, jagung, kacang tanah dan belinjo. Selain itu juga ada tempe goreng dan ikan kembung serta sambal terasi. Tidak ketinggalan kerupuk udang kesukaan Eno.
Bu Marini sengaja memasak itu karena kacang tanah dan jagung bisa menambah produksi ASI. Dia ingin cucunya bisa mengkonsumsi ASI kembali. Selain itu sayur asem merupakan sayur kesukaan anaknya, sehingga dapat dipastikan Eno akan banyak makan siang ini.
"Mas, aku berat lho! Aku duduk sendiri aja di samping mas Agam," bujuk Eno agar Agam mengijinkan dirinya turun dari pangkuan Agam.
"Kata siapa berat? Badan kurus begini berat. Kamu yang penting buka mulut saja dan duduk manis!" jawab Agam masih terus menyuapi Eno dengan tangan kiri mengetatkan pelukannya pada pinggang Eno.
"Richard sama nenek yuk! Nenek sudah selesai makannya," kata Bu Warni setelah nasi dan sayur di piringnya telah habis.
Bu Marini menyerahkan cucu pertamanya pada sang besan. Kemudian mulai mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
Tak lama kemudian mereka semua sudah selesai makan. Mereka masih bertahan mengelilingi meja makan itu.
"Ehmm... Mumpung kalian masih berkumpul di sini. Ibu ingin minta maaf pada kalian berdua!" ucap bu Warni lirih sambil mere mas-re mas jemarinya.
Eno langsung meneguk air putih yang ada di depannya, untuk membantunya menelan nasi yang tersangkut di tenggorokan.
"Ibu tidak perlu meminta maaf karena kami yang salah tidak bisa mengerti kemauan orang tua. Keadaan yang membuat kami tidak bisa menemani Ibu menjalani hari tua di kampung halaman," jawab Eno setelah menelan makanan .
Bu Warni yang mendengar jawaban dari menantunya merasa terharu dan bahagia.
__ADS_1
Ternyata aku tidak salah pilih menantu! Tidak hanya wajahnya yang cantik tapi hatinya juga.
Bu Warni langsung berdiri dari duduknya mendekati Eno. Dia langsung memeluk menantu pilihannya itu.
"Ibu yang salah! Maafkan Ibu yang memaksakan kehendak. Ibu hanya ingin menikmati hari tua bersama anak cucu, tapi sepertinya aku harus mengubur dalam-dalam keinginan itu sejak Agam menjadi tentara." ucap bu Warni masih memeluk Eno.
"Percayalah Bu, kami sudah memaafkan Ibu sebelum Ibu memintanya pada kami," jawab Eno lemah lembut, dia tak ingin membuat mertuanya salah paham lagi.
Agam mendekati ibu dan istrinya, dia memeluk keduanya. Mereka bertiga saling berpelukan menumpahkan rasa bahagia dan syukur karena masalah telah terselesaikan.
*
*
*
Dua bulan kemudian...
Agam pulang dari kantor Kodim tampak lesu tidak seperti biasanya.
"Ayah, Fani tadi belajar menyanyi di sekolah!" adu Fani ketika melihat sang ayah sudah pulang kerja, duduk di ruang tamu karena baru saja masuk rumah.
"He'eh! Nyanyi lagu satu-satu aku sayang ibu." jawab Fani sambil memainkan kancing baju ayahnya.
"Fani bisa menyanyikannya?" tanya Agam lagi, rasa lelahnya hilang begitu melihat dan mendengar suara anak dan istrinya.
"Bisa dong! Fani 'kan pinter kek Ayah," jawab Fani bangga.
"Coba Ayah mau dengar!" goda Agam dengan senyum terukir di bibirnya.
Fani pun menyanyikan lagu yang diceritakannya tadi. Sedangkan Eno yang sedang memasak langsung mematikan kompornya, melihat ke arah suara berisik dari ruang tamu.
"Mas?! Sudah lama pulangnya? Kok nggak langsung cuci tangan dan kaki sih?!" cerca Eno begitu mendapati suaminya masih berpakaian PDH lengkap bercanda dengan Fani.
"Belum lama kok! Nanti aku sekalian mandi, masih capek!" jawab Agam mengulurkan tangannya untuk disalam Eno.
"Mau ngeteh apa ngopi?" tanya Eno setelah mencium punggung tangan suaminya.
__ADS_1
"Air putih hangat saja!" jawab Agam.
"Mana si Richard?" tanya Agam tak lama setelah dia diam.
"Itu di toko sama Arum. Mas kalau mau gendong dia, mandi dulu biar kotoran yang menempel hilang!" kata Eno melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil air minum suaminya.
"Beres!" jawab Agam sambil mengacungkan jempolnya.
"Fani, Ayah mau mandi! Kamu main sama adik dan mbak-mbak di toko ya!" kata Agam setelah berbalik menghadap anaknya.
"Oke, Yah! Ayah mandi yang bersih ya, biar wangi dan ganteng!" jawab Fani nyengir.
Agam heran, siapa yang mengajarkan anaknya berkata seperti itu. Padahal dia dan istrinya tidak pernah memberikan contoh genit pada anaknya itu.
"Hmmm!" jawab Agam sambil meninggalkan ruang tamu menuju dapur untuk mengambil minumnya.
"Lho, kok malah ngikutin ke sini. Padahal sudah aku siapkan air putih hangat ma pisang goreng," kata Eno terkejut saat dia hendak mengantarkan minum Agam.
"Aku minum di sini aja! Mau mandi, sudah kangen berat ma si Embul!" jawab Agam sambil mengambil air minum di atas nampan yang dipegang oleh Eno.
"Ihh, kok si Embul sih?! Nama sudah bagus malah diganti yang aneh!" ucap Eno sambil menggelengkan kepalanya tidak mengerti jalan pikiran sang suami.
"Iya, Richard Embul! Hahaha!" jawab Agam sambil meninggalkan Eno sendiri.
***
Malam harinya sebelum tidur, Agam hendak memberitahu Eno jika dia akan dimutasi ke Sumatera Utara bulan depan. Agam bingung cara menyampaikan berita itu pada istrinya.
Agam mulai gelisah memikirkan bagaimana jika mereka berpisah sedangkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Dia juga memikirkan perasaan istrinya. Berat rasa Agam meninggalkan keluarganya di sini sedang dia entah di mana.
"Mas kenapa sih, dari tadi mondar-mandir nggak jelas!?" tanya Eno akhirnya karena sudah pening kepalanya melihat Agam seperti gosokan baju.
"Hhhh... bagaimana ya? Aku mau tanya sesuatu, jawab yang jujur ya!" jawab Agam naik ke ranjang, kemudian duduk memeluk Eno bersandar pada headboard.
"Iya! Tanya saja, kek sama siapa aja! Aku ini bini kamu!" jawab Eno kesal.
"Bulan depan aku mutasi ke luar Jawa. Tepatnya di Sumatera Utara!" Agam berhenti sebentar sedangkan Eno masih diam tanpa mau menyela.
__ADS_1
"Kamu mau tetap di sini atau ikut ke luar Jawa?" tanya Agam dengan mimik serius.