
"Aku masih ingat dengan jelas, saat kamu menasehati aku. Aku yang saat itu berkeras tidak mau datang saat pertama kali akan dikenalkan dengan pilihan budhe. Apakah kamu masih mengingatnya?" kata Eno sambil memegang lengan Ary.
"Terus, apa hubungannya dengan aku?" tanya Ary.
"Aku hanya ingin kamu juga merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan." jawab Eno pikirannya mulai melayang pada kejadian kurang dari 3 tahun yang lalu. Saat Ary dinas ke Surabaya untuk mengikuti seminar kesehatan.
***Flashback on***
"No, aku gak pulang seminggu ya. Ada seminar kesehatan di Surabaya." isi sebuah pesan dari Ary untuk Eno.
Eno membaca pesan Ary dengan raut wajah putus asa. Saat ini dia membutuhkan Ary untuk berbagi masalah. Eno butuh masukan dari Ary.
Tadi siang Eno mendapatkan telepon dari mamanya. Mamanya meminta Eno untuk pulang, karena ingin memperkenalkan Eno dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya.
Eno menolak dijodohkan, karena saat ini sedang dekat dengan seorang dokter. Dokter itu teman Ary saat kuliah. Eno mengenal Dzaki dari Ary, saat Ary masih dinas di Jogja.
Eno dan Dzaki baru beberapa bulan terakhir menjalin hubungan asmara. Sebelumnya mereka hanya berkomunikasi melalui media sosial. Karena merasa ada kecocokan, akhirnya mereka pacaran.
Sejak awal Eno memang tidak mau bersuamikan seorang tentara. Eno takut terkena karma kedua orang tuanya. Mama Eno adalah istri kedua Mundarman, seorang anggota TNI. Pak Mundarman sering ditugaskan di daerah pelosok di Indonesia. Beliau selalu berpindah-pindah tempat tugas, tapi istrinya tidak pernah mau mengikuti kemana pak Mundarman ditugaskan.
Sebagai seorang lelaki normal, pak Mundarman juga ingin kebutuhan biologisnya terpenuhi. Suatu waktu pak Mundarman bertemu dengan mama Eno yang saat itu usianya jauh dibawah pak Mundarman. Melihat kecantikan dan kebaikan mama Eno, akhirnya pak Mundarman menikahi mama Eno. Karena pak Mundarman sudah beristri dan berbeda keyakinan dengan Suryati, mama Eno, mereka menikah secara siri (sah secara agama saja).
Suryati selalu mendampingi kemanapun pak Mundarman ditugaskan, setelah menjadi istri pak Mundarman. Hal ini ketahui oleh istri pertama pak Mundarman, istri pak Mundarman mengajukan gugatan cerai. Setelah bercerai, pernikahan pak Mundarman dan Suryati baru didaftarkan ke KUA. Pak Mundarman mengikuti keyakinan istrinya, Suryati.
Eno yang mengetahui masa lalu kedua orang tuanya, menjadi takut bersuamikan seorang tentara. Eno takut, suatu saat nanti suaminya akan berpaling darinya. Seperti papanya yang menikah lagi, saat ditugaskan ke luar Jawa.
Eno menolak perjodohan itu, begitu tahu bahwa dia dijodohkan dengan seorang tentara. Eno saat itu belum tahu bahwa dia akan dijodohkan dengan Agam. Saat akan dikenalkan dengan Agam, Eno tidak datang.
Setelah Ary pulang dari rumah mertuanya, Eno datang pada Ary. Eno menceritakan semuanya pada Ary, jika dia akan dijodohkan mamanya dengan seorang tentara. Kedua orang tua Eno sangat senang jika mendapatkan menantu seorang tentara.
__ADS_1
Ary mulai menasehati Eno, agar menerima perjodohan itu.
"Tidak ada salahnya kamu berkenalan dengan laki-laki itu. Siapa tahu sesuai dengan kriteria kamu." kata Ary sambil mengusap lengan Eno.
"Tapi..." Jawa Eno menggantung.
"Tapi apa? Tapi laki-laki itu seorang tentara? Memang apa salahnya kalau dia seorang tentara, bukannya bagus memiliki suami seorang abdi negara?" kata Ary.
"Aku takut, saat aku tidak bisa mendampingi dia. Dia mencari yang baru. Kata ibu, karma pasti berlaku. Mama sudah merebut suami orang, pasti nanti suami anak-anaknya akan ada yang direbut." kata Eno dengan mata berkaca-kaca.
"Itu kan kata ibu tirimu, karena dia kesal suaminya menikahi mama kamu." kata Ary menenangkan Eno.
"Kamu buang jauh-jauh pikiran kamu itu. Kalau kamu setia, suami kamu nantinya juga setia. Semua sudah menjadi jalan hidup kita, kita ikuti saja kemana air mengalir." kata Ary dengan wajah berbinar menasehati Eno, sambil menganggukkan kepalanya.
Akhirnya Eno pun mau bertemu dengan calon suaminya. Dan betapa terkejutnya Eno saat tahu, Agam lah yang akan dijodohkan dengannya.
"Ary, kamu tahu nggak siapa yang mau dijodohkan sama aku?" kata Eno begitu memasuki kamar Ary.
"Nggak! Mana ku tahu, yang dijodohkan kan kamu!" jawab Ary datar.
" Yee, datar amat mukanya! Kek tembok!" kata Eno mencebik.
"Emang siapa laki-laki itu?" tanya Ary akhirnya, agar Eno tidak kesal padanya.
"Mas Agam!" kata Eno mantap.
Ary memandang Eno, Eno langsung menganggukkan kepalanya tanda dia membenarkan ucapannya.
"Terus, masalahnya dimana?" tanya Ary lagi.
__ADS_1
"Masalahnya mas Agam itu menyukai kamu, bukan aku!" kata Eno menunduk lemas.
"Sok tahu!" jawab Ary sambil mengibaskan tangannya.
"Iya, bener kok! Aku sudah tanya sama mas Agam." kata Eno memasang wajah serius.
"Teruuusss, aku bilang wow gitu?" jawab Ary cengengesan.
"Bukan ishhh, tapi kata mas Agam. Dia memilih ibunya karena ibunya cinta pertamanya. Jadi mau tidak mau, mas Agam menuruti keinginan ibunya." kata Eno yang awalnya keras makin lama makin lirih, takut menyinggung perasaan Ary.
"Nah itu tahu! Lagian aku gak ada perasaan apapun sama dia. Di hatiku masih ada Rendy." kata Ary.
"Kamu beneran nggak apa-apa, kalau aku nikah sama dia. Terus kalau dia nikah lagi saat dinas jauh, gimana? Aku takut kata-kata ibu betulan terjadi, karena karma itu ada." tanya Eno khawatir.
"Sekarang, hilangkan ketakutan kamu akan karma. Karma itu tidak akan terjadi padamu, selama kamu bisa menjadi istri yang baik. Jadi pendamping disaat suka dan dukanya. Dengan kamu selalu berada di sisinya, suamimu pasti tak akan berpaling dari kamu." nasehat Ary pada Eno agar Eno lebih tenang.
"Menuruti keinginan orang tua itu, salah satu bukti anak yang berbakti pada orang tua. Dengan begitu, kamu sudah mencicil balas budi pada orang tua. Karena hanya dengan menyenangkan hati orang tua, kita bisa membalas budi pada mereka." imbuh Ary sambil memegang kedua tangan Eno.
Eno memeluk Ary sambil menganggukkan kepalanya. Eno mendengarkan nasehat Ary, kemudian memikirkannya lagi dengan baik. Akhirnya Eno pun memutuskan untuk menerima perjodohan itu.
Esok harinya, Eno menghubungi orang tuanya. Eno menyetujui perjodohan itu, tapi Eno meminta waktu untuk lebih dekat dan mengenal Agam. Selain itu, Eno juga ingin memutuskan hubungannya dengan sang pacar. Eno tidak mau, saat menikah dia masih memiliki hubungan dengan laki-laki lain.
Beberapa bulan kemudian, Eno menikah dengan Agam. Acara pesta pernikahan Eno dan Agam dibuat secara besar-besaran, karena Eno anak perempuan pertama. Selain itu koneksi dan relasi pak Mundarman sangat banyak. Mengingat pak Mundarman adalah seorang pensiunan perwira TNI.
Maaf baru bisa up🙏🙏🙏
Kerjaan banyak jadi lupa jaga kesehatan, kerjaan kelar sekarang malah tumbang. Do'akan othor manis sehat sehat ya, biar cepet kelarin novel ini. Kalau kerjaan di RL gak bakalan kelar, hanya berkurang 🤭.
Terima kasih 😘😘😘🤗🤗🤗
__ADS_1