
Sebulan kemudian...
Pagi yang cerah untuk mengawali hari, Agam sudah berpakaian PDH (Pakaian Dinas Harian) lengkap dengan baret di kepalanya. Agam bersiap berangkat ke kantor Kodim tempatnya bertugas. Tidak biasanya Eno masih terlelap dalam tidurnya. Agam tidak ingin membangunkan Eno. Dia hanya mencium kening dan pipi Eno, tidak ketinggalan juga bibir Eno, Agam sedikit melu matnya. Ternyata tidak ada pergerakan dari Eno sama sekali.
"Aku berangkat dulu, sayang. Tidur yang nyenyak ya!" bisik Agam sebelum meninggalkan Eno.
"Kasihan istriku! Sepertinya aku harus mengurangi waktu bercocoktanamku," gumam Agam pelan saat menutup pintu kamarnya.
Eno sebenarnya tadi sudah bangun saat menjelang Subuh, dia kembali tidur setelah menjalankan ibadah shalat Subuh. Badan Eno terasa lemas pagi ini. Bagaimana tidak lemas, Agam selalu menyerangnya hingga lelah.
Agam laki-laki yang tidak mudah tersenyum di hadapan orang banyak, tapi dia selalu tersenyum anak dan istrinya itu. Tidak hanya senyuman saja tapi juga mesum pada istrinya.
Ketika Agam pulang untuk makan siang pun Eno masih bergelung dalam selimutnya. Bukan karena tidur, tapi karena merasa badannya lemas tak bertenaga.
"Sudah makan, hmm?" tanya Agam sambil duduk di pinggir ranjangnya.
Agam menarik selimut yang membungkus tubuh Eno. Dia mengusap kepala istrinya pelan.
"Malas makan, nggak ada sele ra makan!" jawab Eno sambil memindahkan kepalanya ke pangkuan Agam.
Agam heran hari ini istrinya begitu manja dan malas, tidak seperti biasanya yang selalu energik.
"Kamu sakit? Apanya yang sakit, hmm?" tanya Agam sambil mengusap kepala Eno penuh kasih.
"Nggak ada, males aja!" jawab Eno mendekatkan wajahnya ke perut sixpack Agam sambil sesekali menghirup aroma tubuh Agam.
"Temani aku makan siang, aku sudah lapar. Sebentar lagi aku juga harus kembali ke kantor. Yuk!" pinta Agam sambil mengangkat kepala Eno bangun dari pangkuannya.
Mau tidak mau Eno akhirnya bangun juga, sebenarnya perutnya sudah lapar tapi rasa malas mendominasinya.
"Gendong!" kata Eno manja sambil merentangkan kedua tangannya ingin digendong belakang.
Akhirnya Agam memposisikan dirinya agar Eno bisa naik ke punggungnya. Agam pun menggendong bayi besar itu sampai di ruang makan yang bersatu dengan dapurnya.
Agam menurunkan Eno dengan posisi Eno duduk di atas meja makan.
"Mas Agam ih, kenapa di sini! Di kursi dong!" Eno merajuk karena diturunkan di atas meja makan.
__ADS_1
"Hahaha!" Agam tertawa jahil, dia sengaja menjahili Eno.
Sejak menikah dengan Eno Agam banyak berubah. Dulu dia jarang bercanda dan selalu pasang wajah datar, sekarang sudah ketularan Eno yang ceria.
Sambil tertawa Agam kembali menggendong Eno untuk dipindahkan ke kursi di sebelahnya.
"Sudah?" tanya Agam begitu Eno duduk di kursinya.
"Terima kasih Ayah!" ucap Eno sambil mencium pipi Agam.
Mereka kemudian makan siang berdua, sedangkan anak mereka bermain bersama para karyawan yang merangkap sebagai pengasuh dan teman anak mereka.
Agam langsung kembali ke kantor Kodim begitu selesai makan siang, sedangkan Eno mencari anak sambungnya begitu Agam pergi meninggalkan rumah.
***
Hari-hari berikutnya Eno semakin malas beranjak dari ranjangnya. Bahkan badannya semakin tidak bertenaga. Agam yang sibuk ke lapangan untuk membantu warga yang sedang terkena musibah kekeringan, tidak bisa lagi memanjakannya.
Anehnya Eno merasakan lemas tak bertenaga hanya saat tidak digarap oleh Agam. Hal itu tidak disadari keduanya. Setiap selesai melakukan hubungan suami istri di malam hari, keesokan harinya Eno merasa segar. Itu berlangsung selama Agam sibuk di lapangan. Agam ditugaskan membantu warga membuat saluran air dari bukit. Warga sedang mengalami kekeringan jadi para TNI diminta bantuannya untuk mengalirkan air dari bukit untuk disalurkan pada warga.
Seminggu telah berlalu, Agam pulang dari dinasnya disambut dengan muka kusut Eno. Penampilan Eno sangat berantakan. Rambut seperti tidak pernah bersisir karena semua rambutnya tegak seperti rambut singa. Wajahnya pucat dan kusam seperti tidak pernah mandi. Agam terkejut dengan penampilan istrinya yang tidak biasa. Slogan Eno "cantik mempesona sepanjang masa" sepertinya sudah dilupakan.
"Istri mas kok jadi begini?" ucap Agam pelan tapi masih terdengar oleh Eno.
"Nggak ada yang ngurusin jadi kek gini 'lah!" jawab Eno sambil mendekati Agam.
Eno mencium punggung tangan suaminya kemudian memeluknya erat untuk mencurahkan rasa rindu yang terpendam. Eno seakan-akan takut ditinggalkan Agam.
"Kamu kenapa, hmm? Kangen?" tanya Agam sambil mengusap kepala Eno kemudian merapikan rambut istrinya itu.
Eno hanya menganggukkan kepalanya kemudian merentangkan kedua tangannya sebagai tanda minta gendong. Eno sangat manja dengan Agam saat disadarinya bahwa dia jatuh cinta pada suaminya itu.
Agam langsung menggendong istrinya di punggung dan menggendong anaknya di depan. Para karyawannya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah para juragan itu. Reni membawakan ransel Agam ke kamar Agam tanpa disuruh.
***
"Huek! Huek! Huekkk!" suara dari kamar mandi.
__ADS_1
Agam yang pagi ini masih terlelap karena kurang istirahat selama dinas di lapangan, harus terbangun karena suara berisik dari kamar mandi.
Perut Eno terasa diaduk-aduk, sangat mual. Eno hanya memuntahkan cairan saja, dari cairan bening hingga berwarna kuning. Eno bersandar di dinding dengan posisi duduk jongkok. Badan Eno terasa lemas sekali, apalagi tadi sudah seminggu tidak mendapat suntikan tumpul. Tadi malam pun tidak juga mendapatkan karena Agam kurang istirahat selama di lapangan.
"Masya Allah, Eno! Kamu kenapa lagi, hmm?" teriak Agam begitu mendapati istrinya berjongkok sambil bersandar di dinding.
Agam langsung mengangkat Eno ala bridal style dan membawanya ke ranjang. Kemudian Agam menghubungi Ary, saat itu yang ada dalam pikirannya dokter yang dikenalnya hanya Ary.
Setengah jam kemudian Ary sampai di rumah itu. Sebenarnya rumah itu tidak terlalu jauh dari rumah dinas Ary, hanya saja tadi Ary belum beres urusan rumah jadi terlambat datang.
Ary langsung diajak menuju kamar Eno oleh Reni, sesuai perintah Agam tadi.
"Sudah lama Eno sakit?" tanya Ary pada Reni saat akan memasuki kamar Eno.
"Mbak Eno sudah seminggu ini hanya tiduran di kamar saja, nggak mau turun. Bahkan makan saja minta diantar ke kamar nasinya." jawab Reni menjelaskan keadaan Eno selama seminggu ini.
"Hmm." gumam Ary sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Tanpa mengetuk pintu kamar, Eno langsung nyelonong masuk sedangkan Reni kembali bekerja di toko.
"Kamu kenapa, No! Cantik mempesona sepanjang masamu kemana?" goda Ary.
"Usah meledek!" jawab Eno cemberut.
"Hahaha... lihatlah penampilan kamu! Jauh dari kata cantik tahu nggak?" kata Ary sambil menunjuk kaca.
Eno langsung berkaca, Eno berteriak dengan keras begitu melihat dirinya dalam pantulan cermin.
"Huwaaaa!"
Maaf ya, aku beneran sibuk RL jadi nggak sempat nulis 🙏🙏🙏
Tapi aku usahakan nulis jika senggang kok.
Jangan lupa like dan komen ya, kalau ada vote dan gift juga boleh 🤭
Terima gajeeeeeee 😘
__ADS_1