MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Kalah Sebelum Berperang


__ADS_3

Minggu pagi, Eno yang baru terbangun dari tidurnya setelah menunaikan ibadahnya. Eno masih bermalas-malasan di atas ranjang empuknya.


Setelah beberapa saat, Eno melihat jam yang berada di atas nakas. Betapa kagetnya Eno, ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Biasanya tokonya dibuka jam delapan pagi. Toko pertanian milik buka setiap hari karena permintaan warga sekitar.


Pagi ini Eno tidak memasak, dia berencana sarapan di warung nasi uduk yang jualan di seberang jalan depan tokonya. Biasanya Ary menginap di rumahnya, tapi karena urusan bisnisnya Ary tidur bisa bermalam mingguan bersama Eno. Sejak Ary turun ke usaha suaminya, Ary semakin sibuk dan jarak berjumpa dengan Eno.


Eno yang sudah terbiasa selalu bersama Ary, mulai merasa kehilangan sosok Ary. Tetapi kesibukan Eno dengan para langganannya sedikit lupa. Ary dan Eno sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Ary dengan usaha melebarkan sayap bisnisnya, sedangkan Eno sibuk dengan beberapa tokonya yang berada di tempat yang berbeda.


"Kasihan ya si Agam, kalah sebelum berperang!" kata Joseph sambil menyendok nasi uduk yang di piring kemudian memasukkan ke mulutnya.


Saat ini Eno sudah sampai di warung nasi uduk langganannya, warung makan sederhana yang berseberangan letaknya dengan tokonya. Saat Eno memesan makanannya, Eno mendengar cerita tentang Agam.


"Yaah, namanya juga dia ingin berbakti pada ibunya. Karena itu dia harus mengubur dalam-dalam perasaannya. Seandainya dia melanjutkan keinginannya, belum tentu bisa berjalan mulus." jawab Rival.


"Ibunya tega kali ke Agam, kenapa tak biarkan saja Agam memilih pasangan hidupnya. Padahal yang menjalani nanti kan Agam, bukan ibunya." jawab Joseph.


"Ibunya Agam takut, kalau Agam menikah dengan pilihannya sendiri. Nanti Agam akan meninggalkan ibunya , dan memilih istrinya." kata Rival.


Eno memilih tempat duduk yang letaknya tidak jauh dari tempat Rival dan Joseph duduk. Sebenarnya dia penasaran dengan cerita Rival dan Joseph, tapi dia enggan berkomentar.


"Eh, ada mbak Eno. Pagi mbak Eno!" sapa Rival.


"Pagi juga! Pagi-pagi kalian sudah disini, gak apel kah?" kata Eno sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


"Ini hari Minggu mbak Eno! Tadi kami lari pagi, karena lapar jadi kami singgah disini." jawab Joseph.


"Jauh amat larinya, naik motor aja sepuluh menit. Kalau lari berapa lama itu?" tanya Eno.


"Kami sudah terbiasa perjalanan jauh hanya berjalan atau berlari, jadi tidak butuh waktu lama. Sekitar setengah jam, kurang lebih lah!" jawab Rival.


"Oh, begitu." Eno mengerucutkan mulutnya hingga berbentuk huruf O.


"Iya, mbak! Mbak Ary kemana kok gak ikut?" tanya Rival, Joseph asik menghabiskan sarapannya karena rasa laparnya.

__ADS_1


"Ary pulang ke Jogja, mengurus usaha peninggalan almarhum suaminya." jawab Eno sambil sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Mbak Ary kelola sendiri usahanya?! Wah, hebat!" Rival memuji kerja keras Ary.


"Sebenarnya sudah ada orang kepercayaan almarhum suaminya, hanya saja akhir-akhir ini mereka akan membangun pabrik baru. Jadi, mau tidak mau dia harus ikut serta mengurus usaha tersebut." jelas Eno.


"Usaha apa rupanya suami dokter Ary?" tanya Joseph penasaran.


"Tentang komputer, katanya sih membuat komputer rakitan serta jual beli komputer dan sparepartnya. Tapi pastinya aku kurang tahu juga sih." jawab Eno.


"Hmm, usaha yang menjanjikan. Tapi modalnya besar, karena membutuhkan tenaga kerja yang benar-benar mengerti IT." gumam Joseph.


Eno akhirnya menghabiskan sarapannya, dan mulai meneguk air teh tawar.


"Mas, boleh tanya nggak tentang percakapan mas tadi sewaktu aku baru nyampai sini." tanya Eno ragu-ragu.


"Yang mana?" tanya Rival.


"Itu lho, kalah sebelum berperang πŸ‘‰πŸ‘ˆ!" kata Eno sambil memainkan jari-jarinya.


"Maksudnya?" tanya Eno belum mengerti maksud kata-kata Joseph.


"Agam menyukai cewek, tapi belum menyatakan perasaannya sudah ditentang ibunya." jawab Rival menjelaskan maksud ucapan Joseph.


"Mas Agam kok mau saja dijodohin ma ibunya. Kan sudah bukan jaman Siti Nurbaya lagi, yang harus dijodohin. Mas Agam kan bisa mencari sendiri jodohnya. Orang ganteng kek mas Agam pasti banyak yang mau, apalagi mas Agam perilakunya sangat baik. Mas Agam itu idaman para wanita 😍." puji Eno dengan mata berbinar penuh cinta, jika membicarakan Agam.


Begitulah Eno jika melihat cowok ganteng, matanya selalu saja bersinar terang. Sejak dulu Eno selalu suka melihat cowok ganteng, tapi tidak pernah benar-benar masuk ke hatinya. Hanya sebatas mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang paling seksi, itulah jawaban Eno ketika ditanya kenapa bisa begitu.


"Agam ingin menjadi anak yang berbakti pada ibunya, makanya dia menerima saja apa kata ibunya." jawab Rival.


"Anak soleh si Agam itu!" ejek Joseph.


"Setiap anak kan tidak sama jalan pemikirannya, jadi kita harus menghormati Agam yang lebih memilih menyenangkan hati ibunya." jawab Rival atas ejekan Joseph yang ditujukan untuk Agam.

__ADS_1


"Hmm, kalau boleh tau! Siapa sih cewek yang disukai Agam?" tanya Eno penasaran seperti apa gadis yang telah menarik perhatian Agam.


"Dokter Ary, mbak!" jawab Joseph.


Rival yang mendengar ucapan Joseph hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menepuk jidatnya sendiri. Ternyata mulut Joseph tidak mempunyai rem, setiap perkataannya hanya menimbulkan masalah saja.


"Kenapa kamu?" tanya Joseph.


Eno tidak merasa heran, jika Agam menyukai Ary. Laki-laki mana yang tidak tertarik dan menyukai Ary. Cewek berwajah manis, lembut tutur katanya, selalu ceria, suka menolong dan baik hati. Walaupun lebih sering dingin dengan laki-laki. Ibarat binatang, Ary seperti burung merpati. Didekati terbang, menjauh malah datang.


"Oh Ary, wajar sih kalau mas Agam suka ma Ary. Apalagi kalau sudah pernah makan masakannya. Pasti langsung falling in love deh!" kata Eno.


"Kenapa dengan masakan Ary?" tanya Joseph penasaran.


"Bagi keluarga Ary, menaklukkan laki-laki itu melalui lidah turun ke perut. Artinya untuk mendapatkan hati seorang laki-laki itu dari masakan. Jika masakan enak, berarti dia akan mudah mendapatkan hati orang yang disukainya. Kebalikannya juga, kalau tidak bisa masak susah mendapatkan hati laki-laki idamannya." jelas Eno.


"Wow, pantes si Agam tidak butuh waktu lama mengenal Ary langsung klepek-klepek. Ternyata kuncinya masakan Ary. Tapi masakan Ary memang enak kok." kata Joseph.


"Ary tidak pernah memakai ramuan pemikat atau apa gitu dalam masakannya?" tanya Rival.


"Tidak! Ary tidak sepicik itu. Ary tidak pernah memakai itu semua, dan Ary juga tidak belajar memasak. Dia memasak jika ingin saja dan tidak pernah merasai masakannya itu sewaktu memasak, walaupun begitu masakannya selalu enak." jawab Eno.


"Bagaimana dia tahu rasanya sudah pas atau belum, kalau tidak dirasai dulu sewaktu masak?" tanya Joseph.


"Pakai insting saja!" jawab Eno.


"Berarti bakat terpendam dong!" celetuk Rival.


"Itu sudah turun temurun dari keluarganya. Makanya dalam keluarga Ary, prinsipnya itu tadi. Cinta datang dari lidah turun ke perut." kata Eno membongkar rahasia Ary.


Hayooo sapa yang kalau liat cogan matanya langsung melekπŸ˜‚


Kaum hawa pasti selalu demen liat cogan, karena cogan enak dipandang mata. Betul apa betulπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Untuk para readers terima kasih banyak sudah merelakan voucher vote-nya dan poinnya untuk mas Agam. Terima kasih juga untuk like dan komen-nya. Terima kasih banyak atas dukungannya untuk karya recehku ini. Tanpa kalian semua saia bukan apa-apa. Sekali lagi terima kasih banyak atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2