
Ary pingsan saat acara akan berakhir, Alex langsung membawanya ke rumah sakit takut terjadi apa-apa.
"Sayang, bangun! Jangan bikin aku khawatir!" Alex terus membangunkan Ary dengan menepuk kedua pipinya bergantian.
Alex duduk di bangku penumpang dengan kepala Ary di pangkuannya. Sopir keluarga yang biasanya membawa Kusuma, diminta mengantarkan ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, mereka sampai juga di rumah sakit.
Alex langsung membopong Ary sambil berlari.
"Suster tolong istri saya, suster!" teriak Alex begitu sampai di UGD.
Alex meletakkan istrinya dengan hati-hati ke atas brankar yang disediakan.
"Dokter, tolong istri saya!" kata Alex panik, dia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Tunggu sebentar ya, pak! Kami periksa dulu. Silahkan bapak tunggu di luar." kata seorang dokter jaga menangani Ary.
Alex keluar dari ruangan itu untuk memudahkan dokter memeriksa istrinya. Alex sangat mengkhawatirkan keadaan Ary, karena sejak Alex keluar dari rumah sakit, Ary mulai terlihat pucat dan sakit.
Beberapa menit kemudian dokter itu keluar dan Alex langsung mendekati dokter tersebut.
"Bagaimana, dok? Istri saya baik-baik saja kan?" tanya Alex panik.
"Istri bapak hanya kecapekan serta sedikit banyak pikiran. Seharusnya istri bapak harus banyak istirahat dan jangan tertekan, agar tidak mempengaruhi janin yang dikandungnya." jawab dokter.
"Janin!? Istri saya hamil, dok?" tanya Alex antusias, dia merasa bahagia mendengar kabar kehamilan Ary.
"Iya, istri bapak hamil. Usia kehamilannya masih sangat muda, baru tiga minggu. Tadi kami sudah melakukan tes kehamilan, untuk memastikannya silahkan periksakan istri bapak ke bagian obgyn." jawab sang dokter.
"Terima kasih, dok!" ucap Alex sambil menyalami dokter.
"Sebaiknya istri bapak rawat inap dulu, karena beliau sepertinya juga mengalami anemia. Silahkan urus administrasi untuk kamar inapnya!" dokter menyarankan.
"Baik, dok! Terima kasih." jawab Alex dengan wajah berseri-seri.
Setelah percakapan tadi, dokter meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Alex langsung menemui istrinya yang sudah sadar dari pingsannya.
Ary menempati kamar inap di depan kamar ibunya, karena hanya ruangan itu yang paling dekat yang kosong saat ini.
"Kenapa kita jadi gantian sih, tidur di rumah sakit?" tanya Ary dengan wajah cemberut.
"Namanya kita lagi diuji, sayang!" jawab Alex sambil mengusap pipi Ary.
"Dedek seneng banget mommy dan daddy tidur di rumah sakit. Ternyata kehadiranmu ingin selalu dikenang ya, semua harus tidur di rumah sakit." kata Ary sambil mengusap perut yang masih datar.
__ADS_1
"Tidak boleh begitu, kehadirannya harus disyukuri. Karena dia anugerah terindah dari Tuhan. Rejeki yang paling besar yang Tuhan berikan pada kita." kata Alex lembut.
Perasaan Alex saat ini sangat bahagia, sehingga sulit untuk diungkapkan. Bibir Alex selalu menyunggingkan senyuman.
"Terima kasih Tuhan, atas hadiah yang engkau berikan pada kami." kata Alex dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, sayang! Sudah mau mengandung anak-anakku." ucap Alex kemudian menggenggam tangan Ary dan menciumnya.
"Terima kasih, sudah hadir untuk melengkapi kebahagiaan kami." imbuh Alex seraya mengusap perut Ary lembut.
***
Kabar kebahagiaan Alex dan Ary sampai juga pada Jessie. Jessie ikut merasakan kebahagiaan itu. Dalam waktu dekat cucunya akan bertambah lagi, anak Alex dan Anton. Karena Anton sudah memberikan panjar dulu pada Tere. Sehingga wajar jika Tere lebih dulu hamil dari pada Ary.
Keesokan harinya, Jessie dan Kusuma pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ary. Kusuma sangat antusias ingin menemui menantunya, karena dia sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Ary.
"Pagi!" sapa Kusuma sambil membuka pintu ruang rawat inap Ary.
"Pagi, Pi!" jawab Alex sambil berjalan mendekati kedua orang tuanya kemudian memeluk ayahnya, baru ibunya.
"Selamat! Semoga ibu dan janinnya sehat hingga lahir nanti." kata Kusuma, mendekati menantunya.
Jessie masih diam saja, tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.
"Maaf, mi! Tadi malam kami meninggalkan pesta tanpa memberitahu mami." kata Alex lirih, takut ibunya marah karena meninggalkan acara begitu saja.
Ary yang canggung berhadapan dengan ibu mertuanya, hanya diam tanpa berani menyela. Ary akan berbicara jika ditanya saja.
"Bagaimana keadaan kamu, nak?" tanya Kusuma sambil duduk di kursi samping kanan ranjang Ary.
"Sudah mendingan, Pi!" jawab Ary sambil menunduk, karena tidak berani berhadapan dengan ibu mertuanya.
Ary takut ibu mertuanya akan kembali murka padanya, padahal Ary tidak melakukan kesalahan.
"Syukurlah kalau begitu. Tetap jaga kesehatan, jangan lupa minum vitamin!" nasehat ayah mertuanya.
"Iya, Pi!' jawab Ary singkat.
"Mi! Kapan?" tanya Kusuma pada istrinya.
Kusuma geram melihat istrinya masih saja belum mau menerima Ary. Padahal Ary menantu yang baik.
"Iya, Pi! Iyaa!" jawab Jessie kesal.
Dengan menahan kekesalannya, Jessie melangkahkan kakinya mendekati Ary yang sedang duduk bersandar.
__ADS_1
"Ary!" panggil Jessie.
"Iya, mi!" jawab Ary dengan suara lembut.
"Mami minta maaf, karena belum bisa sepenuhnya menerima kamu. Mami tahu, mami salah. Yang penting sekarang Tere tetap menjadi menantu kesayangan mami!" kata Jessie setelah duduk di dekat Ary.
Kusuma duduk di sebelah kanan ranjang, sedangkan Jessie berada di sebelah kiri. Alex sendiri berdiri berpegang pada besi pinggiran ranjang.
Akhirnya mereka ngobrol bersama dengan diiringi sendau gurau. Walaupun masih ada kecanggungan antara menantu dan mertuanya, tidak mengurangi kegembiraan keluarga itu.
***
"Mi, ayo kita jenguk besan kita! Mumpung masih di sini dan ruangannya tidak jauh dari kamar ini." bujuk Kusuma pada istrinya.
"Mami malu, Pi!" jawab Jessie tertunduk.
"Tak apa, yang penting kita sudah menjenguk, apa pun tanggapannya. Jangan pernah memasukkannya dalam hati dan pikiran." kata Kusuma.
Akhirnya Jessie mau menjenguk Widya, di depan kamar Ary.
"Siang!" sapa Kusuma sambil mengetuk pintu kamar tersebut.
"Siang." jawab Kemal membuka pintu.
Kemal sedikit terkejut melihat kedatangan kedua besannya.
"Oh, ada besan! Silahkan masuk!" kata Kemal kemudian begitu tersadar dari rasa terkejutnya.
"Iya." jawab Kusuma canggung, dia merasa tidak enak pada Kemal karena ulah istrinya, besannya harus opname di rumah sakit.
"Bun, ada besan!" kata Kemal memberitahu istrinya.
Kemal membantu mengatur posisi ranjang agar sedikit tegak, karena Widya belum bisa duduk terlalu lama. Tapi Widya berusaha duduk, untuk menghormati besannya.
"Sudah rebahan saja, nggak usah dipaksa untuk duduk." kata Kusuma dengan tangan mengarah pada Widya.
Melihat perhatian suaminya pada mantan kekasih sekaligus besannya, membuat Jessie kembali meradang. Rasanya Jessie ingin mencakar wajah suaminya, karena rasa cemburunya.
"Bagaimana keadaan kamu, jeng?" tanya Jessie sambil mendekati Widya.
"Alhamdulillah, sudah mendingan." jawab Widya sambil tersenyum.
"Kedatangan kami kesini, yang penting untuk menyambung tali kekeluargaan. Dan yang kedua, kami ingin meminta maaf karena salah memberikan surat undangan pernikahan. Sehingga terjadi salah paham, dan akhirnya mengakibatkan Widya harus dirawat di sini." ucap Kusuma.
"Kami sudah memaafkan. Sudah tidak perlu dipikirkan lagi." jawab Kemal, Kemal dan istrinya sudah ikhlas menjalani semua ini.
__ADS_1
Semua kejadian yang menimpa keluarganya, Kemal anggap itu sebagai tanda sayang Allah kepadanya dan keluarganya.