
"Ishhh... kenapa digandeng sih! Kek anak kecil tahu nggak?" gerutu Ary begitu sampai di mobil Brandon.
"Emang!" jawab Brandon sambil membuka pintu mobilnya.
"Apa!?" teriak Ary tidak terima dibilang anak kecil, sambil melotot tangan Ary hendak memukul Brandon.
"Eits, jangan marah dulu! Emang badan kamu kecil kok, kek anak SMA." kata Brandon menenangkan Ary.
Ary langsung menurunkan tangannya yang mengepal. Kemudian masuk ke dalam mobil, dan duduk.
"Kamu kenapa sih, perasaan sejak aku sampai tadi, kamu bawaannya mau makan orang saja." tanya Brandon begitu duduk di belakang kemudi.
"Huh!" Ary menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan, tanpa menjawab pertanyaan Brandon.
"Laki-laki yang mengajak kamu keluar tadi, mantan pacar kamu ya?" tanya Brandon menyelidik.
"Anak kecil tidak boleh kepo!" jawab Ary mencibir.
"Anak kecil? Yang bener aja, gak salah tuh!" jawab Brandon membulatkan matanya.
"Kamu kan lebih muda dari aku, berarti bener dong!" jawab Ary cengengesan.
"Jangan meremehkan orang yang usianya lebih muda, karena yang lebih tua belum tentu menang dari yang muda." kata Brandon.
"Walaupun lebih muda, seseorang laki-laki tetap menjadi imam bagi perempuan. Ingat itu!" lanjut Brandon kesal.
"So?!" kata Ary sambil menatap Brandon.
"Orang yang lebih muda bisa jadi berpikir lebih dewasa dari pada yang lebih tua. So, don't underestimate younger people!" jawab Brandon sambil melajukan mobilnya.
"Iyaa, oke deh nyerah! Kamu mirip dengan Rendy ya! Keras kepala!" kata Ary sambil menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya jika lelaki yang bersamanya hampir mirip dengan Rendy, almarhum suaminya.
"Kami sudah lama berteman, jadi sedikit banyak kebiasaan kami menular." jawab Brandon.
Ary terdiam mulai mencerna dan mengingat bagaimana Rendy dulu. Tiba-tiba saja Ary merindukan Rendy. Ary menatap keluar jendela, melihat jalanan yang remang-remang karena waktu sudah tengah malam.
__ADS_1
"Aku berharap kamu mau berbagi masalah padaku, karena aku harus amanah menjalankan pesan Rendy yang terakhir kalinya." kata Brandon setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Pesan Rendy? Dia ada pesan apa sama kamu?" tanya Ary memutar tubuhnya ke arah Brandon.
"Pesan agar aku selalu menjaga kamu! Tidak membiarkan kamu bersedih ataupun dalam kesulitan. Aku harus tetap berada di sampingmu, memastikan kebahagiaanmu." kata Brandon menceritakan tentang pesan Rendy seminggu sebelum menikahi Ary.
Dulu saat Rendy meminta Brandon untuk selalu menjaga dan mendampingi Ary, Brandon tidak menanggapi hal itu dengan serius. Brandon berpikir Rendy sedang meracau seperti biasanya.
"Aku sudah besar, sudah dewasa. Tidak perlu dijaga seperti anak kecil. Aku bisa menjaga diriku sendiri." jawab Ary kesal, setelah mengetahui isi pesan suaminya pada sang teman.
"Sekarang boleh tahu nggak, kenapa tadi mukanya bete banget? Judes banget kesannya, padahal selama ini kan kamu lembut." desak Brandon.
"Kalau kamu ketemu mantan, yang sebelumnya pernah meminta kamu untuk menanti kepulangannya?" Ary balik bertanya pada Brandon.
"Yah, walaupun saat dia pergi sudah tidak ada hubungan lagi. Tapi sebelum pergi, dia berjanji akan menjaga hatinya. Dia berjanji akan kembali mewujudkan mimpi bersama." imbuh Ary sambil tersenyum kecut.
Setelah selesai berbicara Ary menggelengkan kepalanya, merasa konyol dengan dirinya sendiri. Seharusnya dia melupakan Alex, tapi pertemuan tadi seperti membuka luka lamanya.
"Kecewa pasti!" jawab Brandon.
"Bener kan dugaan aku, kalau dia masa lalu yang belum usai." Brandon bermonolog.
"Yap! Belum usai karena dia tidak pernah memberikan kabar. Bahkan dia menikah dan punya anak pun aku tak tahu. Aku tahu saat anaknya sudah besar. Itupun dari orang lain, bukan dari dia." jawab Ary, matanya mulai berembun. Tapi Ary pandai menyimpan lukanya.
"Perempuan tadi yang bersamanya, itu istrinya?" tanya Brandon lagi.
"Bukan! Itu tadi calon istrinya. Mereka belum menikah." kata Ary.
"Aku kira istrinya. Aku tadi heran, sudah gandeng bini masih berani ngobrol berdua sama kamu." kata Brandon sambil membelokkan mobilnya memasuki daerah perumahan milik Ary.
"Dia hanya menanya kabar dan meminta no yang bisa dihubungi." kata Ary.
Brandon menganggukkan kepalanya mendengar cerita Ary. Ary tidak menceritakan semuanya pada Brandon. Cukup dia sendiri yang tahu hal yang bersifat pribadi.
"Besok kamu berangkat ke Kulonprogo bawa mobil sendiri atau dijemput sopir?" tanya Brandon ketika mobilnya memasuki halaman rumah Ary, rumah peninggalan almarhum Rendy.
__ADS_1
"Mang Udin sudah sampai kelihatannya, besok aku pulang ke Kulonprogo sama mang Udin." Ary menjawab tepat saat mobil Brandon berhenti di belakang mobil dinasnya.
"Oke! Kalau begitu aku langsung pulang aja ya, selamat malam! Selamat tidur, mimpi yang indah!" kata Brandon sambil mengunci pintu mobilnya setelah Ary turun dari mobil.
Ary hanya menjawab dengan lambaian tangannya, kakinya terus melangkah menuju pintu utama. Brandon pun meninggalkan rumah besar itu.
***
Alex uring-uringan di kamar hotel, karena tadi melihat Ary kembali digandeng Brandon saat meninggalkan aula. Alex, Anton dan Tere menginap di Sheraton, karena mereka tidak mau menempuh perjalanan malam walaupun jaraknya hanya sekitar satu setengah jam. Karena tidak mau menanggung resiko di jalan.
"Sengaja banget, pamer kemesraan di depanku! Emangnya aku gak bisa apa? Akupun bisa mengumbar kemesraan di depan umum. Dasar tidak tahu malu!" Alex marah-marah sendiri di dalam kamar itu. Sedangkan Anton hanya menonton teman rasa saudara itu marah tidak jelas.
"Buahahaha!" akhirnya pecah juga tawa Anton.
Alex yang melihat Anton menertawakannya, langsung melempar bantal yang disampingnya ke arah Anton. Anton pun dengan gesit mengelak.
"Makanya, kalau masih cinta itu ngomong! Jangan dipendam aja, kan repot sendiri jadinya! Kebakaran jenggot!" kata Anton semakin mengeraskan tawanya.
"Siala* Lo! Bukannya bantu malah, tertawa!" kata Alex kesal.
"Lagian ada kesempatan ngobrol berdua, bukannya ngomong masih cinta. Masih ingin membina hubungan yang tertunda. Malah cari penyakit!" kata Anton sambil berpindah tempat dari sofa menuju ranjang, dimana Alex duduk.
Alex duduk bersandar headboard ranjang, setelah capek marah tak jelas.
"Ngapain Lo tadi nanya siapa cowok yang bersamanya, aturan tadi Lo nanya mau nggak nikah sama Lo!" imbuh Anton begitu duduk di atas ranjang.
"Aku tidak bisa menahan diri, hatiku sudah panas rasanya! Ingin menghancurkan wajahnya itu!" kata Alex emosi, mengingat bagaimana perlakuan Brandon terhadap Ary.
Brandon selalu memperlakukan Ary bak Ratu, tidak mengenal tempat. Dia hanya ingin ratu di hatinya itu selalu merasa senang. Apa yang dilakukan Brandon saat reuni tadi, berhasil memancing emosi Alex.
"Itulah kalau emosi sudah menguasai pikiran Lo! Jadi tidak bisa berpikir jernih." kata Anton mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Jangan lupa ya readers, like, komen dan vote/gift🙏🙏🙏
Terima kasih 😘😘😘
__ADS_1