MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Kenapa Juragan Nona?


__ADS_3

"Ada apa ya, kok juragan nona gelisah seperti itu?" tanya Wulan pada Sari.


"Lagi gegana kali, 'kan sudah dua hari mas ganteng ngilang gak ada kabar!?" jawab Sari.


"Apa gegana?" tanya Leli, ikut nimbrung perbincangan kedua temannya.


"Dasar dudul! Gegana aja nggak tahu! Hhh." jawab Sari.


"Sumpah gak tahu aku, makanya aku nanya!" jawab Leli dengan raut wajah serius.


"Gegana, gelisah galau merana!" jawab Wulan singkat sambil berbalik badan meninggalkan Leli dan Sari, untuk melayani pembeli yang datang.


"Gelisah, galau, merana. Baru denger aku!" gumam Leli lirih tapi masih terdengar oleh Sari.


"Hahaha... dasar katrok! Gitu saja nggak tahu!" sahut Sari begitu Leli berhenti bergumam, sambil menggelengkan kepalanya.


Hari pun berganti, tapi Eno masih gelisah tak menentu. Bahkan dia selalu salah dengar jika diajak ngomong, benar-benar gagal fokus. Pembeli sampai jengkel dengannya karena harus mengulang kata-katanya. Selalu saja salah dalam memberikan barang yang dibeli oleh konsumen, bahkan tak jarang dia juga salah memberi uang kembalian.


"Juragan nona kenapa sih? Nggak biasanya kek gini!" tanya Leli, setelah kena semprot pembeli karena Eno salah memberi uang kembalian.


"Kemarin sudah aku bilang juga, dia lagi gegana!" Jawa Sari.


"Iya, lagi gegana! Aku tahu itu! Sekarang pertanyaanku itu siapa yang membuat gegana juragan nona? Terus kenapa bisa sampai segitunya?!" tanya Leli dengan suara keras.


Eno yang mendengar kata-kata Leli langsung mendekati ketiga karyawannya itu. Sari, Leli dan Wulan terkejut, tiba-tiba Eno sudah berjalan mendekati mereka. Rani tidak ada di toko, saat ini sedang mengecek stok barang dagangan di gudang. Jadi dapat dipastikan tidak akan ada yang membela ketiganya, jika Eno mengamuk.


"Kalian ngapain bergerombol di sini? Kalian mau kerja apa ngerumpi?!" tanya Eno dengan suara keras.


Emosi Eno benar-benar sedang berada di puncaknya. Mode senggol bacok. Rasa gelisah memikirkan Dzaky yang tiada kabar, juga memikirkan lamaran dari keluarga Agam.


"Kerja, juragan nona!" jawab Leli dengan kepala tertunduk karena takut.


"Apa? Juragan nona?" kata Eno dengan mata membulat sempurna.


"Aduh! 🤦" kata Sari dan Wulan bersamaan sambil memukul dahi masing-masing.


Kepolosan Leli yang berasal dari Gunung Kidul, kadang menguntungkan kadang juga merugikan. Seperti saat ini, kepolosan Leli membawa petaka bagi mereka bertiga.


Saat Eno memarahi para karyawannya, Agam datang ke toko mencari Eno. Agam tidak sengaja mendengar salah satu karyawan Eno, menyebut Eno juragan nona. Agam langsung terkekeh kecil. Agam masih menguping pembicaraan antara bos dan karyawan.

__ADS_1


"Juragan nona, boleh juga julukannya!" batin Agam.


Saat Eno memarahi para karyawannya, Agam asik berperang batin sendiri.


"Kenapa dia dipanggil juragan nona?"


"Noted! Juragan nona sebagai panggilan sayang."


Setelah lelah memarahi para karyawannya, Eno berbalik arah hendak pulang ke rumahnya. Tapi langkah kakinya langsung berhenti begitu melihat Agam berdiri dengan bersandar pintu.


"Ehemmm!" Eno berdehem untuk menarik perhatian Agam.


Agam yang saat itu masih memikirkan panggilan sayang untuk Eno, langsung berdiri tegak dengan posisi siap.


"Hahaha!" Eno tergelak melihat sikap sempurna Agam.


"Ini di toko pertanian bukan di lapangan upacara!" kata Eno masih dengan tawa renyahnya.


Agam langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menutupi kegugupannya. Agam menggelengkan kepalanya agar kembali fokus pada tujuannya datang menemui Eno.


"Kalian sudah selesai rapatnya? Lain kali kalau mau rapat, toko tutup dulu sementara biar tidak terganggu." kata Agam memberi saran.


"Ada apa ke sini?" tanya Eno ketus, mengabaikan saran dari Agam.


"Kita duduk di sana aja ya, biar enak ngobrolnya!" ajak Agam sambil menunjuk bangku kayu panjang di bawah pohon mangga yang rindang, letaknya berada di belakang rumah Eno.


Eno berjalan mendahului Agam, menuju tempat yang ditunjuk Agam tadi. Saat ini musim buah mangga, jadi pohon itu sedang berbuah.


"Adem!" kata Agam sambil mendudukkan bokongnya ke bangku kayu tersebut.


"Ada perlu apa, mas?" tanya Eno menatap penampilan Agam hari ini.


Agam menggunakan seragam PDL (Pakaian Dinas Lapangan) bermotif loreng, tampak gagah dan manly.


"Kita pulang bareng nggak besok?" tanya Agam to the point, tanpa basa-basi lagi.


Eno yang mendengar pertanyaan Agam, terkejut.


"Pulang? Ngapain?" tanya Eno pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Agam mengerutkan keningnya hingga alisnya bertaut, menyambung dari kiri ke kanan.


"Jangan bilang kamu lupa atau tidak tahu!" jawab Agam kesal.


"Kita akan segera menikah, Eno!" lanjutnya dengan nada kecewa.


Agam memperlihatkan kekecewaannya pada Eno. Agam tidak tahu kenapa Eno menolak perjodohan ini. Padahal Eno dan Agam sudah saling mengenal, jadi tidak ada yang perlu diragukan ataupun ditakutkan. Bagi Agam, cukup restu ibu dan niat ibadah, Allah pasti memberikan kebahagiaan.


"Mas, aku belum siap menikah dalam waktu dekat ini!" jawab Eno lirih dengan pandangan lurus ke tanah di bawah kakinya.


"Besok acara lamaran, Eno! Kalau kamu tidak pulang, untuk apa acara itu dilaksanakan." kata Agam kesal.


"Maaf!" kata Eno lirih, air matanya sudah mengembun di pelupuk mata.


"Kalau kamu tidak mau, sebaiknya sekarang juga kamu kabari kedua orang tuamu! Agar perjodohan ini batal. Aku tidak mau memaksa, semua terserah padamu. Maju katamu, aku akan maju!" kata Agam akhirnya, dia tidak mau Eno menjalani semuanya karena keterpaksaan.


Eno tahu Agam adalah lelaki idaman kaum hawa. Tidak hanya berparas tampan dan berbadan kekar, tapi sifat dan sikap Agam yang baik. Agam begitu menghormati perempuan, tidak heran jika banyak perempuan yang antri ingin dipinang.


"Akan kupikirkan, apapun keputusanku nanti tolong jangan pernah merubah hubungan kita. Jangan pernah berubah apalagi menjauh!" ucap Eno, meminta waktu lebih lama lagi pada Agam.


"Kapan kamu akan memberikan jawabannya? Besok malam acara lamaran dilaksanakan, jangan mendadak agar semua bisa diantisipasi." kata Agam , berusaha meredam emosinya.


Agam tidak tahu kenapa, ditolak Eno merasa sakit hatinya. Padahal selama ini, dia biasa menolak para cewek yang mendekatinya. Tapi kali ini, dia yang digantung oleh Eno. Perempuan bar-bar yang suka seenaknya sendiri.


Cinta hadir karena terbiasa bersama dan rasa yang nyaman atas kebersamaan, itu benar adanya. Selama hampir satu bulan bersama Eno, Agam merasa nyaman. Dan rasa cintanya sudah mulai hadir, walaupun begitu besar.


"Besok pagi, paling lambat aku kasih kabar ke mas Agam!" jawab Eno menganggukkan kepalanya, kemudian meninggalkan Agam sendirian di bawah pohon mangga.


Tak berapa lama kemudian, Sari datang membawa nampan berisi segelas besar es teh manis dan keripik pisang.


"Diminum dulu mas ganteng, buat basahi tenggorokan!" ucap Sari sambil meletakkan nampan tersebut ke sebelah Agam.


"Terima kasih ya!" ucap Agam sambil tersenyum.


"Sama-sama, mas!" jawab Sari.


Sari hendak meninggalkan Agam, tapi dicegah oleh Agam.


"Tunggu! Boleh tanya sesuatu?" kata Agam melihat ke arah Sari.

__ADS_1


"Mau tanya apa mas ganteng? Tanya saja, semoga Sari bisa menjawabnya!" jawab Sari dengan ramah.


"Kenapa Eno dipanggil juragan nona?" tanya Agam.


__ADS_2