
"Thanks, bro! You'r my real brother!" kata Alex ketika Anton berjanji akan membantunya menjauhkan dari Tere.
Alex langsung memeluk Anton karena saking bahagianya, bahkan tidak lupa Alex juga mencium pipi kanan dan kiri Anton.
"Stop! Apa-apaan sih! Najis gue, Lo peluk ma ciumin gue! Lo cowok apa waria sih?!" kata Anton berusaha mengurai pelukan Alex.
Anton meronta-ronta ingin lepas dari pelukan Alex, tapi Alex malah semakin mengetatkan pelukannya. Alex terus memeluk Anton sambil tertawa. Alex masih terus terkekeh walaupun pelukan itu sudah terlepas.
"Jijik gue!" kata Anton sambil mengibaskan baju bekas pelukan Alex. Tidak lupa dia juga mengelap kedua pipinya bekas ciuman Alex.
"Ngapain dilap, aku gak punya penyakit menular?!" kata Alex begitu melihat Anton terus saja mengelap bagian yang terkena badannya.
"Najis gue, seumur-umur baru kali ini gue dipeluk ma dicium cowok!" kata Anton kesal.
"Kalau yang peluk gue cewek cantik atau paling tidak si Tere, gue mah pasrah aja!" lanjutnya.
"Udah! Anggap aja gue cecan atau si Tere." jawab Alex sambil mengulum senyum.
"Ogah, Lo kan waria!" kata Anton.
"Enak aja! Aku sudah ada buktinya ya, noh si Kevin bukti kejantananku!" jawab Alex dengan percaya diri.
"Halah, bukti yang salah!" kata Anton menanggapi perkataan Alex.
"Salah kek mana maksudnya?" tanya Alex penasaran.
"Salah karena Lo tidur dan menitipkan benih Lo pada orang yang salah. Kalau Lo waktu itu menitipkan benih Lo pada orang yang tepat, nasib pernikahan Lo gak akan seperti ini." jawab Anton meninggalkan Alex, menuju kamar mandi.
Alex merasa tersindir dengan perkataan Anton. Bukan salah dia juga, jika dia mabuk dan meniduri Paula. Semua sudah menjadi garis jalan hidupnya, kemanapun dia berlari menjauh dan menghindar, jika itu sudah menjadi takdirnya dia bisa apa.
__ADS_1
***
Tere siang ini bertandang ke rumah Alex, dia ingin menemui Jessie untuk membicarakan masalah pertunangannya dengan Alex.
"Mami apa kabar?" sapa Tere begitu Jessie menyambutnya di ruang tamu, Tere dan Jessie saling berpelukan dan cipika-cipiki.
"Mami baik! Mama sama papa kamu bagaimana?" jawab Jessie sambil menggandeng tangan Tere dan mengajaknya ke halaman belakang dekat kolam renang.
"Mereka baik, mi!" jawab Tere.
"Kita duduk disini saja ya, adem. Kevin sebentar lagi pulang dari les." kata Jessie sambil duduk di gazebo taman belakang, dekat dengan kolam renang.
"Iya, mi!" jawab Tere mengikuti Jessie duduk di bangku di sebelah Jessie.
"Sudah lama kamu tidak kesini. Kemana saja?" tanya Jessie sambil menuangkan teh ke dalam cangkirnya.
Jessie sangat menyukai teh yang diseduh dalam sebuah poci kecil. Setiap dia ingin bersantai di gazebo taman belakang rumah, dia selalu meminta dibuatkan teh. Jessie merasa dengan menikmati teh dari poci, pikirannya menjadi lebih tenang.
"Tere mau, nanti pas Tere menikah dengan mas Alex. Tere tidak bekerja lagi. Makanya Tere merekrut karyawan baru, dan mengajarinya. Biar nanti pas Tere sudah tidak ada, dia sudah bisa mandiri." Tere melanjutkan menjelaskan kenapa dia tidak datang ke rumah itu.
Tere memanggil Alex, mas, karena Jessie yang memintanya. Kata Jessie, panggilan mas itu terasa lebih menghormati dan lebih dekat. Bahkan saat mereka masih duduk di bangku sekolah. Tetapi Alex tidak mau dipanggil mas oleh Tere. Setelah menjadi duda, barulah Alex mau dipanggil mas, itupun juga karena Jessie yang meminta langsung di depan Alex.
"Bagus itu! Mami juga maunya punya menantu itu di rumah mengurus anak dan suami. Mami benar-benar tidak salah memilih kamu menjadi menantu mami." kata Jessie berbinar mendengar jika Tere memilih menjadi ibu rumah tangga saja.
"Tapi mi, sepertinya mas Alex belum siap untuk menikah dalam waktu dekat ini. Mas Alex belum bisa move on dari kegagalannya dalam membina rumah tangga." kata Tere sesaat setelah menyesap tehnya.
"Kalau tidak dipaksa, dia tidak akan mau menikah lagi! Makanya mami paksa dia bertunangan dengan kamu, agar dia melupakan masa lalunya." jawab Jessie.
"Tapi, mi!?" kata Tere meragu.
__ADS_1
Tere ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi dia takut Jessie akan marah pada Alex. Begitu besar rasa cintanya pada Alex, sehingga Tere tidak tega jika Alex mendapatkan murka dari ibunya.
"Kamu tidak usah bimbang, biar mami dan mama kamu yang akan mengurus pernikahan kalian nanti. Kamu dan Alex hanya perlu menyiapkan fisik saja." kata Jessie menghibur Tere.
Jessie tahu, sampai saat ini Alex belum mencintai Tere. Tapi Jessie merasa yakin, dengan berjalan waktu rasa cinta itu akan hadir. Seperti dirinya dulu, pernikahannya dengan Kusuma juga karena perjodohan. Bertahun lamanya menikah dengan Kusuma, berkat kesabarannya akhirnya Kusuma mau menerima dia sebagai istrinya.
Jessie merasa Alex sangat mirip dengan ayahnya, susah menerima kehadiran orang baru dalam hatinya. Kusuma dan Alex type laki-laki setia, dia tidak mau bermain wanita. Jika sudah jatuh cinta, dia akan tetap menjaga cintanya.
"Tapi mi! Bagaimana kalau mas Alex, pergi saat acara pernikahan berlangsung?" tanya Tere takut, dia takut kejadian itu aka. terjadi saat pernikahannya nanti.
"Itu tidak akan terjadi! Mami sendiri yang akan menjaga Alex agar tidak bisa kabur di hari pernikahan kalian nanti. Kamu tenang saja!" Jawa Jessie.
"Siang, yang ti!" teriak Kevin dari gawang pintu dapur yang menghubungkan dengan kolam dan gazebo.
"Cucu eyang sudah pulang rupanya!" Jessie melambaikan tangannya ke arah Kevin agar Kevin mendatanginya.
Kevin yang merasa dipanggil, dia langsung berlari ke arah gazebo, dimana eyangnya berada.
"Siang aunty!" sapa Kevin begitu sampai gazebo.
"Kok manggilnya aunty lagi sih? Kan selalu eyang bilang, jangan panggil aunty lagi." tegur Jessie pada cucu kesayangannya itu.
"Kata daddy, Kevin panggil aunty Tere tidak boleh mommy. Katanya aunty Tere bukan istri daddy." jawab Kevin sambil memainkan mainan yang dibawanya.
"Tapi kan, nanti aunty Tere menjadi istrinya daddy." sahut Jessie.
Tere hanya melihat interaksi antara nenek dan cucu itu. Dia tidak ingin menengahi perdebatan itu, karena dia tidak berani melawan Jessie. Bagi Tere, Jessie sudah seperti ibunya sendiri. Kasih sayang Jessie padanya sejak dulu tidak berubah, layaknya seorang ibu pada anaknya. Wajar jika Tere dan Jessie lebih dekat dibandingkan dengan Alex.
Tidak hanya dekat dengan Jessie, Tere juga sangat dekat dengan kakak Alex yang bernama Bernadette. Saat ini Bernadette ikut suaminya ke luar pulau Jawa. Suami Bernadette kerja di perusahaan pertambangan dengan gaji yang fantastis. Walaupun bukan seorang pengusaha, Johan, suami Bernadette memiliki penghasilan yang cukup besar.
__ADS_1
"No! Aunty Tere bukan mommy Kevin." jawab Kevin sambil berlari menuju ke dalam rumah.