
Brugh...
Alex meletakkan ransel yang digendongnya, dia merasa lemas sekali. Perutnya terasa diaduk-aduk, sehingga dia tidak nyaman. Rasanya ingin muntah, tapi tidak bisa. Sungguh tersiksa rasanya.
Awalnya Alex hanya menunduk setelah meletakkan ranselnya. Tapi karena badannya sangat lemas dia kemudian berjongkok. Rasanya tidak sanggup lagi berjalan memasuki pesawat. Beruntung ada penumpang yang berbaik hati padanya. Menolongnya hingga duduk tenang disamping jendela. Kemudian memesankan air hangat pada pramugari.
Selama perjalanan Alex digunakan untuk tidur. Ketika sampai bandara dia baru terbangun. Begitu turun dari pesawat dia langsung menghubungi Anton, meminta dijemput.
"Langsung ke rumah sakit "xx", dimana bunda dirawat. Badanku lemes banget!" ucap Alex begitu masuk ke dalam mobil Anton.
Anton pun heran melihat kondisi Alex yang jauh dari kata baik-baik saja. Wajah Alex pucat sekali, rambut acak-acakan serta baju yang berantakan.
Tadi Alex gelisah dalam tidurnya, sehingga membuat baju dan rambutnya menjadi berantakan.
"Siap meluncur!" jawab Anton.
"Kamu kenapa bisa begini?" kata Anton penasaran, akhirnya dia berani bertanya.
"Entahlah! Perutku rasa seperti diaduk-aduk. Mual tapi tidak bisa muntah. Mau makan pun mulut pahit." jawab Alex sambil bersandar di bangku penumpang dengan mata terpejam.
"Pusing nggak?" tanya Anton sambil memperhatikan jalanan.
"Iya! Pusing banget." jawab Alex lirih.
Setelah mendengar keluhan Alex, Anton memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera sampai di rumah sakit, agar Alex dapat segera diperiksa dokter. Karena melihat kondisi Alex yang seperti saat ini, Anton yakin Alex membutuhkan perawatan yang serius.
Begitu memasuki di halaman rumah sakit, Anton langsung menelpon Ary.
"Bisa keluar sebentar nggak?" tanya Anton begitu panggilan tersambung.
"Ada apa? Kamu kalau mau jenguk bunda langsung aja ke lantai dua, ruang Mawar no. 103." jawab Ary.
"Ini penting! Tolong kamu ke lobby! Sekarang masih di rumah sakit "xx" kan?" kata Anton cemas.
Mendengar suara Anton yang menunjukkan kecemasan, Ary langsung pamit pada orang tuanya. Ary bergegas menuju lobby. Saat di depan pintu, dia melihat Anton sedang berdiri di samping brankar. Ary pun mendatangi Anton.
__ADS_1
Anton langsung membawa Alex ke UGD, setelah menghubungi Ary tadi. Dia tidak tega melihat sahabat sekaligus saudara angkatnya dalam kondisi memprihatinkan.
Ary terkejut, ternyata suaminya sudah terbaring lemas di brankar yang didorong menuju UGD.
"Al!" teriak Ary memanggil Alex cemas.
Alex yang mendengar suara istrinya langsung tersenyum. Bahagia rasanya saat seperti ini ada istri yang di sampingnya.
"Iya, sayang! Aku nggak apa-apa kok, Anton aja yang lebay." kata Alex sambil tersenyum.
Ary dan Anton mengikuti sampai ruang UGD. Sesampainya di sana, Alex langsung diperiksa dan dipasang infus. Alex kekurangan cairan karena selalu muntah. Asam lambungnya naik karena stress dan terlambat makan, selain itu Alex juga kurang istirahat.
Alex pun dirawat di ruangan yang bersebelahan dengan mertuanya. Mau tidak mau dia harus dirawat, karena lambungnya yang sudah parah.
"Kenapa bisa begini? Kamu gila kerja sampai lupa segalanya. Kamu pikir uang itu segalanya. Demi uang kamu korbankan kesehatan dan keluargamu!" omel Ary ketika mereka sudah berdua saja di ruang rawat inap.
"Aturan kamu nggak usah pulang sekalian! Tinggal saja di Singapura, bisnis kan lebih penting dari pada aku. Aku masih bisa sendiri, toh selama ini aku juga sendiri!" lanjut Ary, emosinya sudah di ubun-ubun, dia terus meluapkan kekesalannya pada suaminya itu.
"Jangan gitu, Yang! Aku kerja kan buat kalian juga. Buat istri dan anak-anakku kelak." kata Alex membela diri.
"Yang, mau kemana kok aku ditinggal sih!?" kata Alex panik, dia tadi sudah berpikir bisa melepas rindu dengan Ary, ternyata Ary malah meninggalkannya sendiri.
Ary kembali ke ruangan dimana ibunya dirawat inap. Ruang bunda dan Alex hanya bersebelahan, sehingga memudahkan Ary untuk merawat keduanya.
"Dari mana kamu?" tanya Kemal pada anaknya.
"Dari bawah, ayah." jawab Ary sambil berjalan menuju sofa.
"Iya, ke bawah ngapain tadi?" tanya Kemal ikut duduk di sofa. Bunda Widya sedang tertidur setelah meminum obatnya.
"Ada orang bodoh dan gila harta sakit, ayah. Kasihan sekali, manusia kok diperbudak harta. Hadeehh!" kata Ary sambil memukul keningnya sendiri.
"Itulah manusia yang diselimuti hawa naf.su semata. Demi harta rela sakit!' jawab Kemal.
"Kamu kenal dengan orang itu?" tanya Kemal penasaran karena tadi anaknya cukup lama meninggalkannya.
__ADS_1
"Kenal, ayah! Ayah pun mengenalnya." jawab Ary santai.
"Oh ya, siapa?" tanya Kemal antusias.
"Ayah lihat aja sendiri di sebelah, mawar 104." jawab Ary.
"Mumpung bunda tertidur, ayah mau lihat dulu sapa orang bodoh itu!" kata Kemal segera berdiri dan berjalan menuju kamar sebelah.
KemAl terkejut, ternyata orang bodoh yang dimaksud anaknya adalah menantunya.
"Dasar anak itu! Suaminya sendiri dikatain bodoh dan gila harta. Hadeehh!" gumam Kemal sambil menggelengkan kepalanya.
Dilihatnya Alex sedang tertidur, Kemal kembali lagi ke kamar istrinya dirawat. Dia langsung mendekati anaknya kemudian menjewer telinganya.
"Apaan sih, ya? Kok Ary dijewer seperti anak kecil!" protes Ary memasang wajah jutek.
"Istri seperti apa kamu? Ngatain suaminya bodoh dan gila!" kata Kemal semakin menarik telinga Ary, karena Ary tidak merasa bersalah.
"Ampun, ayah! Lepasin telinga Ary dong!" rengek Ary.
"Ayah lepasin, sekarang kamu jagain suami kamu dan jangan lupa minta maaf padanya!" jawab Kemal melepaskan tangannya dari telinga Ary.
"Iyaa... iyaa!" kata Ary sambil berjalan menghentakkan kakinya.
Kemal yang melihat kelakuan anaknya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ternyata usia boleh bertambah, tapi sifat manja Ary pada kedua orang tuanya tidak pernah hilang. Ary anak paling kecil, sehingga sangat dekat dan manja pada keluarganya.
"Ayah selalu merindukan sifat manjamu, nak! Sudah lama kamu tidak menunjukkannya pada kami. Sepertinya sifat itu akan kembali lagi. Semoga kami masih bisa memanjakan kamu hingga akhir usia kami." gumam Kemal.
Semenjak Ary menikah pertama kali, dia menjadi lebih mandiri. Dia bisa mandiri karena belajar dari Rendy. Dia melihat sosok Rendy yang mandiri walaupun bergelimang harta. Ary mengagumi Rendy, sehingga dia banyak belajar dari pengalaman Rendy.
Sebenarnya Ary ingin tetap berjodoh dengan Rendy di akhirat. Tapi dia hanya manusia biasa yang hanya bisa berencana, Tuhan juga yang menentukan jalan hidupnya.
Ary melangkah pelan-pelan mendekati suaminya yang telah tertidur. Ary tatap wajah suaminya. Tampak wajah lelah dan pucat, tapi tidak mengurangi ketampanannya.
"Jadi orang kok suka menyiksa diri! Toh, harta tidak dibawa mati. Kenapa begitu memaksa mengejar harta?" gumam Ary sambil menjauh dari ranjang suaminya. Dia berjalan menuju sofa, kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah.
__ADS_1