MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Ingin Sendiri


__ADS_3

Ary meninggalkan mall sekaligus hotel itu. Ary benar-benar kecewa dengan Alex. Ary meninggalkan tempat itu tanpa ada yang menyadari. Bahkan saat ini Ary sudah berada di atas bis menuju Solo. Ary mematikan HP-nya yang biasa digunakan untuk semua orang. Sedangkan HP-nya yang satunya lagi dibiarkan aktif, HP khusus untuk geng ember dan keluarga terdekat saja.


"Baru mulai membuka hati, kenapa sesakit ini? Mungkin aku harus menepati janjiku padamu, Bang. Apakah Abang bisa merasakan apa yang aku rasakan? Abang, aku harus bagaimana?!" batin Ary merasa sesak.


Saat seperti ini, Ary selalu teringat dengan Rendy. Suaminya yang telah meninggal. Rendy tidak pernah membuatnya menangis, kecuali penyakitnya. Siapa pun tidak ingin sakit, tapi semua itu sudah menjadi jalan hidup seseorang.


"Seandainya Abang masih ada, Ary tidak akan terjebak dalam situasi seperti ini. Abang!" Ary terus memanggil almarhum suaminya.


Ary mulai tenang setelah bis yang ditumpanginya memasuki daerah Jogja. Sepanjang perjalanan, Ary terus berdzikir untuk menghubungkan kegundahan hatinya. Begitu bis memasuki terminal Giwangan, Ary mengirim pesan pada Rommy.


"Rom, jemput aku di Janti! Tepatnya di halte bis!" Rommy membaca pesan tersebut merasa heran.


"Tumben! Hari kerja, tengah malam lagi, kok minta jemput di halte bis. Mobil sama sopirnya kemana?" gumam Rommy keheranan


"Siap bos!" jawab Rommy melalui pesan.


"Sekarang ya!" balas Ary.


"Ok 👌!" jawab Rommy.


Setelah sampai tempat tujuan, Ary turun dari bis sudah disambut oleh Rommy.


"Wow ada bidadari turun dari bis!" celetuk Rommy, begitu melihat Ary turun dari bis jurusan Solo.


"Apaan sih, lebay!" jawab Ary sambil tersenyum.


Walaupun Ary tersenyum, senyumannya tidak bisa menutupi mata sembabnya. Ary terlalu menangis, sehingga matanya bengkak.


Mereka berjalan beriringan menuju mobil Rommy yang tidak jauh dari tempat itu. Rommy membukakan pintu mobil untuk Ary.


"Kenapa mata kamu bengkak begitu? Ada apa, hmm?" tanya Rommy begitu duduk di balik kemudi.


Ary hanya menjawab dengan gelengan kepala saja, tanpa mau menjawab pertanyaan Rommy.


"Kalau Rendy masih hidup, dia tidak akan membiarkan air mata jatuh ke pipi mulusmu itu." lanjut Rommy ingin memecah keheningan.


"Kalau Rendy masih hidup, mungkin saat ini aku tidak akan meminta kamu menjemputku." jawab Ary masih dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Kamu tidak usah seperti itu, pura-pura baik-baik saja! Jika ingin menangis, menangislah! Keluarkan semuanya, agar hatimu lega." kata Rommy menasehati Ary.


Mata Ary mulai berembun, menandakan bahwa dia tidak baik-baik saja. Ada beban yang begitu berat menimpanya.


"Kita ini mau kemana? Basecamp kita atau ke rumah?" tanya Rommy kemudian.


"Di basecamp ada siapa saja?" tanya Ary sambil menatap Rommy.


Rommy yang merasa sedang ditatap Ary pun ikut berpaling hadapan ke arah Ary.


"Seperti biasa, cuma ada aku. Brandon ke luar negeri." jawab Rommy setelah pandangan bertemu dengan Ary.


"Kita ke sana aja! Tapi aku tidur di kamar Rendy. Masih seperti dulu kan?" jawab Ary yakin.


"Masihlah! Mana berani kami merubahnya tanpa seijin kamu, sebagai pemiliknya!" jadi Rommy.


Ary ingin menyendiri, dia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Hanya di basecamp yang menjadi pilihannya saat ini. Karena hanya trio ember yang mengetahui tempat itu. Rommy dan Brandon pasti menjaga Ary dengan baik, sesuai pesan Rendy.


"Wokeeh! Meluncur!" teriak Rommy lantang.


Akhirnya mereka menuju tempat dimana mereka bertiga berkumpul bersama. Tempat yang tenang, rumah kecil yang dibeli oleh Rendy, sebagai tempat persembunyiannya dari orang tuanya waktu itu.


Rumah berlantai dua dengan 4 kamar tidur utama dan 1 kamar pembantu. Dua kamar di bawah dan dua lainnya di atas. Ary menempati kamar Rendy di lantai atas dengan balkon yang luas. Sedangkan Rommy dan Brandon menempati kamar di lantai bawah.


Rumah itu selama ini ditempati oleh Brandon dan Rommy, beserta pasangan suami istri yang bekerja membersihkan dan menjaga rumah.


"Karena sepi, kami memilih tempat ini. Tempat ini masih segar, karena lingkungan yang masih bersih. Penduduk disini masih jarang, jadi tenang. Cocok untuk orang yang ingin sendiri." jawab Rommy.


"Kamu tidak kejauhan ke kantor, kalau tinggal disini?" tanya Ary begitu mereka duduk di ruang tamu.


"Aku jarang kesini. Hanya pas suntuk aja kesini." Jawa Rommy.


"Oh, kamu bisa suntuk juga ya?!" ledek Ary.


"Semua orang bisa stress, Ary! Pekerjaan yang menumpuk kadang membuat kita stress. Jadi biar nggak stress aku kesini." jawab Rommy.


"Sebaiknya kamu tidur, ini sudah malam! Kalau kamu masih galau, lebih baik kamu curhat saja. Biar lega!" saran Rommy sebelum meninggalkan Ary sendiri.

__ADS_1


Ary hanya menganggukkan kepalanya, mendengar saran dari Rommy. Kemudian Ary berdiri dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas.


Rumah ini dibeli Rendy secara kredit, dengan DP motor besarnya. Cicilannya dibayar dengan penghasilan dari penjualan komputer. Saat itu Rendy sedang marah pada orang tuanya. Sehingga meninggalkan rumah pemberian orang tuanya, rumah yang sekarang menjadi milik Ary.


Ary mengamati seluruh ruangan di kamar itu. Dia baru dua kali masuk ke dalam kamar ini. Saat sebelum menikah, Rendy pernah mengajaknya ke sini. Tapi itu hanya beberapa menit saja, hanya mengambil berkas yang ketinggalan.


"Tidak ada yang berubah." gumam Ary sambil terus memasuki kamar itu.


Setelah puas berkeliling, Ary masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, Ary mulai mengadukan nasibnya pada sang Maha Penyayang. Dia lebih percaya mencurahkan segala keluh kesahnya pada Tuhan, dibandingkan dengan manusia. Karena Tuhan pasti menjaga rahasianya dengan rapat.


****


Pagi harinya Ary mulai mengaktifkan kembali HP-nya yang telah dia matikan saat meninggalkan mall Alex. Saat aktif, banyak pesan masuk dari Alex yang menanyakan keberadaannya. Serta ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Alex. Ary kembali mematikan HP-nya, karena dirasa tidak ada yang penting.


"Pagi bidadarinya Rendy!" sapa Rommy begitu Ary berjalan mendekati meja makan.


"Pagi juga!" jawab Ary dengan senyum terukir di bibirnya.


"Kamu terlihat segar! Apa tadi malam tidurmu nyenyak?" tanya Rommy sambil duduk di depan Ary.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Tidurku sangat nyenyak, rasanya tadi malam aku dipeluk Abang." jawab Ary dengan candaan.


"Abang sudah di surga, mana mungkin bisa memeluk kamu!" jawab Rommy.


Ary mengambil roti bakar dan mengolesinya dengan selai coklat kesukaannya.


"Mau?" tawar Ary pada Rommy.


"Terima kasih, aku sudah sarapan tadi. Aku mau menjemput Brandon di bandara, kamu mau ikut?" kata Rommy sambil mengetuk meja dengan jarinya.


"Tidak! Aku disini saja!" jawab Ary sambil mendekatkan roti ke mulutnya.


"Baiklah, aku pergi dulu. Kalau butuh apa-apa kamu hubungi aku atau Brandon saja!" Rommy pamitan pada Ary.


"Siippp!" jawab Ary mengacungkan jempol tangan kirinya.


Setelah mendapat jawaban dari Ary, Rommy meninggalkan Ary sendiri di rumah itu. Asisten rumah tangga yang berada di situ sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

__ADS_1


Tempat yang cocok buat Ary untuk menyendiri, merenungi semua yang telah dilaluinya bersama Alex. Saat ini Ary hanya ingin sendiri tanpa diganggu siapapun.


__ADS_2