MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Kekesalan Eno


__ADS_3

Tepat jam sembilan malam, Agam pamit pulang. Karena memang jam berkunjung hanya sampai jam sembilan malam, kecuali malam Minggu. Keempat karyawan Eno tampak tidak rela melepas kepulangan Agam.


"Cepet banget mas ganteng pulangnya! Kita kan masih pengen nyanyi lagi." kata salah seorang karyawan Eno.


"Iya, nih belum puas memandangi wajah mas ganteng. Seandainya dia jadi suamiku, pasti aku sangat bahagia." sahut temannya.


"Dasar kalian nggak punya malu. Jadi cewek itu jual mahal kenapa? Kek nggak ada harganya saja!" maki Eno, kekesalannya sudah diambang batasnya.


Siapa yang tidak kesal, tuan rumah hanya jadi penonton saja. Mereka berlima bernyanyi bersama tanpa mempedulikan keberadaan Eno. Bahkan Eno yang bertingkah laku hiperaktif juga dicuekin mereka. Seolah tidak ada diantara mereka.


Setelah capek sendiri, Eno masuk ke dalam kamar dan mencoba menghubungi Dzaky. Tapi masih seperti hari-hari sebelumnya, selalu operator yang menjawab. Eno pun juga menghubungi teman Dzaky, Mira, tapi sama saja. Kekesalan Eno pun semakin bertambah, akhirnya dia keluar lagi ke teras.


Mendengar Agam pamitan pada semua karyawannya, Eno langsung berdiri di gawang pintu masuk. Ternyata dia masih juga tidak dianggap oleh Agam. Kekesalan Eno semakin tak terbendung lagi, maka keluarlah kata-kata kasar seperti tadi.


Para karyawan Eno yang mendengar kata-kata pedas dari bosnya pun merasa bersalah. Tamu itu bermaksud menemui Eno, tapi malah mereka yang menemani tamu itu tanpa mempedulikan keberadaan Eno.


"Maaf mbak, tadi kami khilaf. Soalnya masnya ganteng banget, berasa dapat door prize kami." ucap salah satu karyawan Eno mewakili teman-temannya.


"Hmm!" jawab Eno meninggalkan teras menuju kamarnya.


Keempat karyawan Eno langsung membereskan teras. Ada yang menyapu, ada yang membawa masuk gelas dan piring, dan juga ada yang mengelap meja.


Eno mengunci diri dalam kamarnya, tidak peduli dengan rumah berantakan karena ulah tamu dan karyawannya.


***


Keesokan harinya, Eno masih memasang wajah cemberut. Dia tidak mau menyapa para karyawannya. Dia juga tidak mau membantu menjaga tokonya. Eno masih kesal pada mereka, sehingga malas untuk bertemu apalagi menyapa.


Siang harinya, Eno bermaksud jalan-jalan ke pantai yang dekat dengan tempatnya saat ini. Walaupun pantai kecil yang sepi, tapi Eno suka karena jauh dari keramaian.


Eno menyusuri pantai sendirian. Di pantai ini dia banyak bertemu dengan nelayan langganan di tokonya. Para nelayan itu menyapa Eno, bahkan ada yang memberinya ikan hasil tangkapan.


"Maaf pak, saya nggak bisa masak. Bapak bawa pulang saja untuk anak istri bapak." begitulah jawaban Eno ketika hendak diberi ikan oleh nelayan.


Tapi ada satu nelayan langganan Eno yang kurang mampu, dia sering kasbon, tapi sama Eno selalu diberi diskon. Eno membuka toko di daerah itu bermaksud membantu para warga yang di bawah kemampuannya, sehingga dia tidak mau ambil untung banyak.

__ADS_1


"Tolong diterima, mbak. Ini sebagai ucapan terima kasih kami atas bantuan mbak Eno selama ini." mohon nelayan itu.


Melihat wajah bapak nelayan itu, akhirnya Eno menerima ikan tersebut.


"Terima kasih ya, pak! Semoga ikannya membawa berkah untuk kita semua. Semoga juga hasil tangkapan bapak semakin banyak." ucap Eno sambil menerima ikan tersebut.


"Aamiin." ucap keduanya sama-sama.


Eno meninggalkan pantai setelah hatinya merasa tenang. Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Karena dari kejauhan tampak olehnya beberapa prajurit TNI sedang latihan.


Dan sesuai dugaannya, Agamlah yang melatih prajurit itu. Eno mempercepat langkahnya begitu matanya tak sengaja bertatapan dengan mata Agam.


Eno tidak tahu kenapa dia bisa begitu kesal atas kejadian tadi malam. Padahal saat ini dia masih memikirkan cara untuk membatalkan perjodohannya dengan Agam.


Tidak mendapatkan kabar dari Dzaky membuat mood Eno semakin berantakan. Sehingga Agam dan para karyawannya yang mendapat imbasnya.


Eno berlari menuju motornya, dia tidak mau menoleh ke arah Agam dan para anggotanya. Dia tidak ingin kekesalannya, membuat dia dan Agam menjadi musuh. Karena saat kesal, Eno sering melakukan hal-hal bodoh yang merugikan dirinya dan orang lain.


Agam yang melihat Eno menghindarinya hanya menyunggingkan senyum tipisnya.


"Kenapa juga harus ketemu di sini. Huh!!!" umpat Eno kesal.


Eno langsung menghidupkan mesin motornya kemudian memacunya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera pergi jauh dari hadapan Agam. Rasanya Eno malas bertemu lagi dengan Agam.


"Sok jual mahal! Begitu dikerubuti cewek, huh langsung tebar pesona!" gerutu Eno, sepanjang perjalanan dia mengumpat Agam.


Agam memang terang-terangan mendekati Eno. Eno yang sedikit bar-bar dan ceplas-ceplos membuat Agam sedikit merasa nyaman dan terhibur. Selama ini Agam telah banyak mengenal perempuan, tapi tidak ada yang unik seperti Eno. Baginya Eno adalah wanita yang manja tapi kuat. Berbeda dengan yang lainnya, manja dan sensitif, mudah sakit hati bila ada kata-kata yang tak sengaja terucap.


Setelah Eno jauh dan latihan selesai, Agam langsung menyusul Eno menggunakan motor trailnya. Agam memacu kuda besinya dengan kecepatan penuh tapi hati-hati, karena di jalanan banyak warga yang melintas.


Tak lama kemudian, Eno sudah memarkirkan motornya di halaman rumah, disusul oleh Agam di belakangnya.


"En! Tunggu, ada yang mau aku bicarakan!" kata Agam begitu turun dari motornya.


"Sorry, mas! Badanku kotor, lain kali saja! Lagian aku juga mau masak ini!" jawab Eno sambil menunjukkan ikan yang diberikan oleh nelayan di pantai tadi.

__ADS_1


"Oh, oke! Kalau begitu habis Maghrib aku datang lagi ke sini. Masak yang enak ya, aku numpang makan." ucap Agam dengan senyum mengembang.


Eno hanya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya saja, kemudian berlalu meninggalkan Agam di halaman.


Akhirnya Agam meninggalkan rumah Eno, menuju ke asramanya di belakang kantor Kodim. Agam melupakan anak buahnya yang sedang berlatih di pinggir pantai. Padahal tadi berangkat bersama-sama mereka, tapi karena mengejar jodoh jadi melupakan anggotanya. (Hadeehh mas Agam 🤦🤦🤦)


****


Sesuai janji yang telah terucap, setelah menunaikan ibadah shalat Maghrib Agam langsung meluncur ke rumah Eno.


Agam sudah membayangkan masakan olahan ikan laut. Agam sangat menyukai olahan seafood, jadi wajar jika air liurnya serasa mau menetes, walaupun hanya membayangkan saja. Agam berdandan serapi dan sewangi mungkin.


Sesampainya di halaman rumah Eno, rumah tampak sepi. Tidak seperti tempo hari, yang penuh gelak tawa para karyawan Eno.


Agam mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tanda dia sudah datang. Agam menunggu beberapa saat, hingga akhirnya Eno membuka pintu masih dengan wajah masamnya.


"Sudah masak kan ikannya? Aku boleh numpang makan di sini?" tanya Agam begitu masuk ke dalam rumah Eno.


"Boleh! Anggap saja sedekah sama orang miskin." jawab Eno ketus.


Eno mengarahkan tangannya ke ruang makan, Agam mengikuti Eno dari belakang. Begitu sampai di ruang makan, bau sedap memenuhi ruangan tersebut.


"Hmm, harumnya aroma masakan ini!" kata Agam sambil menghidu aroma yang menguar di ruangan itu.


"Silahkan!" ucap Eno sambil menarik kursi untuk tempat duduknya.


Agam pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Eno. Eno mengisi piring dengan nasi, sayur dan lauk ikan laut yang tadi dimasaknya.


"Silahkan, semoga cocok di lidah!" kata Eno menyerahkan piring yang berisi nasi, sayur dan ikan pada Agam.


Agam langsung menyendok ikan, karena sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan Eno.


Agam berhenti mengunyah makanan di mulutnya, kemudian langsung mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya hingga tandas.


"Gimana rasanya, mas? Enak!" tanya Eno penasaran.

__ADS_1


__ADS_2