MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
Kecewa


__ADS_3

Jam tujuh malam tepat, Alex mengetuk pintu kamar Ary. Alex sudah berdandan serapi mungkin. Dia ingin terlihat sempurna di mata sang pujaan hati.


"Sudah siap?!" tanya Alex begitu Ary membuka pintu.


Alex tercengang melihat penampilan Ary malam ini. Ary tampak cantik dengan gamis berwarna baby pink polos dipadankan dengan hijab bermotif dengan warna senada. Ary tidak pernah memoles wajahnya dengan make up. Dia hanya mengoleskan lip balm untuk kelembaban bibirnya. Walaupun demikian, malam ini Ary tampil sangat natural tapi cantik.


"Sudah! Tunggu sebentar aku ambil tas." kata Ary sambil kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil tasnya. Tas selempang yang berukuran kecil menghiasi pundaknya.


Tak lama kemudian mereka meninggalkan kamar itu, menuju ke restoran yang berada di lantai bawahnya.


"Banyak tamu undangan malam ini?" tanya Ary saat mereka akan memasuki lift.


"Lumayan! Tamu undangan hanya kolega bisnis yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan ini. Aku juga mengundang seluruh keluarga." jawab Alex dengan kedua tangan masuk dalam kantong celananya.


Saat ini mereka hanya berdua saja di dalam lift. Karena seluruh keluarga Alex sudah berkumpul di restoran.


"Apa perwakilan dari Rend's Comp juga hadir?" tanya Ary lagi.


Tak lama kemudian lift berhenti, mereka telah sampai di lantai dimana restoran itu berada.


"Kata Rommy, asisten Brandon, Brandon tidak ada di tempat. Jadi, tidak ada yang datang dari perusahaan itu." jawab Alex sambil mengatur langkahnya agar sejajar dengan Ary.


"Kan asistennya bisa mewakili!" kata Ary.


Dalam hati kecil Ary berharap bertemu dengan orang yang dikenalnya, selain Alex dan orang terdekat Alex tentunya.


"Itu urusan mereka, yang penting aku sudah melayangkan undangan ke perusahaan itu. Mungkin besok pagi perwakilan dari Rend's Comp hadir." kata Alex memikirkan berbagai kemungkinan tentang kehadiran dari pihak Rend's Comp.


"Oh." jawab Ary.


Akhirnya mereka memasuki sebuah ruangan yang dijadikan sebagai tempat dilangsungkannya acara syukuran. Sebuah restoran yang dekorasinya telah dibuat secantik mungkin.


"Pi!" kata Alex begitu Kusuma mendekati mereka.


"Kenapa kalian baru datang? Tamu undangan sudah banyak yang datang." tanya Kusuma pada Alex.

__ADS_1


"Apa kabar om?" sapa Ary pada Kusuma, tidak lupa Ary pun menyalami tangan Kusuma dan mencium punggung tangannya.


"Jangan panggil om lagi! Panggil papi saja." kata Kusuma sambil mengusap kepala Ary yang tertutup hijab.


"Iya, om eh Pi!" jawab Ary menunduk.


"Ayo kita ke sana, aku perkenalkan dengan keluarga dan rekan bisnis." ajak Alex sambil menggandeng tangan Ary.


Ary mengikuti langkah Alex, berjalan ke arah kerumunan orang yang berada tidak jauh dari mereka. Tampak Jessie tidak jauh dari kerumunan itu. Alex mengajak Ary untuk menemui ibunya terlebih dahulu.


"Itu mami!" kata Alex sambil menunjuk ke arah ibunya.


"Mi, perkenalkan Ary. Seorang kepala rumah sakit milik pemerintah di daerah Kulonprogo." Alex memperkenalkan Ary pada Jessie, begitu sudah berada di samping Jessie.


"Malam, Tante!" sapa Ary mengambil tangan Jessie kemudian menciumnya.


"Jessie, mami Alex." jawab Jessie dengan raut muka bingung.


"Mi, kami langsung ke sana ya!" kata Alex memisahkan ibunya dengan Ary.


Alex tidak ingin Jessie mencerca berbagai pertanyaan padanya atau pada Ary. Alex langsung menarik tangan Ary menuju kerumunan orang yang hendak ditujunya tadi.


"Nah, ini dia! Bintang utama malam ini!" teriak salah seorang diantara orang yang berkerumun tadi.


" Pak Alex, siapa wanita yang kamu gandeng itu?" tanya seorang yang lainnya.


"Oh iya! Kenalkan, tunanganku!" jawab Alex santai.


Mami Alex yang berada tidak jauh dari tempat itu merasa terkejut. Dia merasa malu pada orang tua Tere yang saat ini juga hadir. Padahal dia sudah memperkenalkan Tere sebagai tunangan Alex.


Mami Alex merasa sangat marah dan malu. Tadi saat semua tamu baru datang, dia menyalami tamunya sambil memperkenalkan Tere sebagai calon mantunya.


"Apa-apaan ini! Kenapa wanita lain yang diperkenalkan sebagai tunangannya? Wanita aneh itu pasti sudah mempengaruhi anakku!" gumam Jessie sambil merapatkan giginya menahan emosi.


"Terus yang tadi sama nyonya Jessie, siapa?" terdengar kasak kusuk di sekitar Ary.

__ADS_1


"Iya, tadi nyonya Jessie memperkenalkan seorang gadis yang satu keyakinan dengan mereka."


"Kenapa Alex memperkenalkan tunangan yang beda?"


"Apa Alex sudah berpindah keyakinan?"


Kasak kusuk itu terdengar jelas di telinga Ary dan Alex. Ary yang mendengar kasak kusuk itu merasa terkejut, tapi dengan cepat dia bisa menguasai keadaan.


"Kamu tidak sedang mengigau kan, Al?" tanya Jessie mendekati Alex dan Ary.


"Tidak mi! Alex sudah mengatakan pada Tere sebulan yang lalu, jika Alex tidak bisa melanjutkan perjodohan itu." jawab Alex yakin.


"Kenapa tidak ada yang bilang ke mami kalau kalian sudah berakhir? Dianggap apa mami ini?" teriak Jessie dengan emosi yang memuncak, sehingga saking emosinya badannya lemas seperti tidak bertulang.


Suara Jessie pelan hingga Ary harus menajamkan pendengarannya. Suara pelan Jessie sebagai bukti betapa kecewanya dia terhadap anak laki-lakinya, Alex. Orang tua mana yang tidak kecewa pada anaknya, Alex telah membuat malu dirinya. Terlepas dari paksaannya pada Alex, Alex tetaplah hanya seorang anak yang harus berbakti pada orang tuanya. Walau bagaimanapun juga, seharusnya Alex memberitahu pada ibunya soal pertunangannya.


"Mami kecewa padamu, nak!" kata Jessie terduduk lemas di kursi.


Dia tidak menyangka sama sekali, jika Alex akan melakukan semua ini. Jessie memandang Ary, dia menilai Ary. Memindai dari atas hingga ujung kaki, seperti mencari kekurangan Ary.


Ary sangat cantik di matanya, bahkan Ary seorang dokter yang memiliki kedudukan tinggi di sebuah rumah sakit. Tapi itu semua tidak bisa meluluhkan hatinya. Hanya satu yang menjadi kekurangan Ary di mata Jessie. Beda keyakinan.


Setelah selesai menilai Ary dengan tatapannya, Jessie sempat melamun.


"Jika tutup kepala itu dibuka, pasti dia sangat cantik sekali. Pandangan matanya juga teduh, membuat siapa saja merasa nyaman bersamanya. Seandainya dia mau berpindah keyakinan, aku akan merestuinya." Jessie membatin dalam lamunan.


"Mi, Alex minta maaf! Alex akui, Alex bersalah karena Alex hanya berbicara pada Tere." kata Alex sambil berlutut di kaki ibunya.


"Alex terlalu sibuk, sehingga lupa untuk memberitahu mami. Alex pikir, Tere sudah memberitahukan semuanya pada mami dan Tante Rossana." Alex masih berlutut dengan menggenggam erat tangan Jessie.


Jessie hanya terdiam mendengar pembelaan diri Alex. Dia masih kecewa dengan Alex. Dia sudah sesumbar pada semua orang bahwa Tere akan menjadi menantunya. Dia merasa malu pada orang tua Tere, terlebih pada mama Tere, karena mereka berteman dekat.


Tere sebenarnya sudah memberitahu orang tuanya. Hanya saja mereka menunggu itikad baik dari keluarga Alex. Mereka ingin Alex dan keluarganya datang untuk mengembalikan anaknya secara baik-baik. Karena dulu Jessie, mami Alex yang telah memohon dan meminta pada orang tua Tere. Untuk menjadikan menantu di keluarga Wijaya.


"Maafkan Tere, mi!" kata Tere yang tiba-tiba mendekat.

__ADS_1


"Tere tidak bisa mengambil hati mas Alex. Tere tidak memberitahu mami, karena Tere pikir mas Alex sudah memberitahu mami." Tere melanjutkan perkataannya. Tere pun ikut berlutut di samping Alex.


Tanpa sepengetahuan Alex dan keluarganya, Ary pergi meninggalkan tempat itu dengan kepala yang berkecamuk. Dia merasa kecewa, marah, dan malu bercampur menjadi satu. Dia tidak ingin bertahan di atas luka orang lain.


__ADS_2