MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Masak Bareng


__ADS_3

"Gimana rasanya, mas? Enak!" tanya Eno penasaran.


"Huk... huk..."


Agam terbatuk-batuk karena rasa manis yang sangat membuat tenggorokannya gatal.


Ya, masakan Eno sangat manis sehingga tenggorokan Agam menjadi gatal. Agam yang tidak bisa makan dan minum yang manis-manis, tenggorokannya terlalu sensitif terhadap rasa manis.


Melihat Agam terbatuk-batuk, Eno langsung menyendok ikan di piringnya dan mulai menyuapkan ke mulutnya. Eno langsung berlari ke wastafel, dia memuntahkan ikan di mulutnya.


"Jangan dimakan lagi, mas! Buang aja!" teriak Eno sambil mendekati Agam kemudian menarik piring Agam.


"Sayang, En! Kita nggak boleh buang makanan, dosa!" jawab Agam sambil merebut kembali piringnya.


Akhirnya mereka saling berebut piring, seperti anak kecil yang berebut mainan. Agam mencoba memberi pengertian pada Eno.


"En, ini masih bisa dimakan. Jangan dibuang, kita daur ulang saja gimana?" Agam memberi usul pada Eno.


Eno menghentikan gerakan tangannya yang menarik piring.


"Emang barang rongsokan, kok didaur ulang?" tanya Eno.


"Kan emang barang!" jawab Agam sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Gimana caranya? Mas Agam bisa masak?" tanya Eno menyipitkan sebelah matanya.


"Bisa dong!" ucap Agam menyombongkan dirinya.


Agam mengambil mangkuk berisi ikan berkuah yang ada di meja makan. Kemudian membawanya ke dapur.


"Kamu punya griller pan kan? Kalau gak ada teflon pun bisa!" tanya Agam sambil mencari benda tersebut di lemari dan rak piring.


"Apaan griller pan? Kalau teflon ada, itu tergantung di dinding!" jawab Eno mendekati Agam sambil menunjuk ke dinding.


"Griller pan itu seperti teflon bentuknya segi empat, ada juga bulat. Fungsinya untuk manggang." Agam menjelaskan seperti apa griller pan.


"Hehehe... aku baru dengar, mas!" jawab Eno nyengir.


Agam menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir jika seorang wanita karir sudah berusia matang seperti Eno, tidak mengenal alat masak.


"Ikannya aku bakar aja ya?!" Agam meminta ijin pada Eno.

__ADS_1


"Emang enak kalau dibakar?" tanya Eno penasaran.


"Enak, tapi ditambah bumbu lagi!" jawab Agam.


"Engng! Bisa minta tolong nggak?" tanya Agam kemudian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Minta tolong apa, mas?" tanya Eno memandang wajah Agam.


"Gilingin baput campur garam, bisa? Diulek ya!" jawab Agam sambil meletakkan teflon ke atas kompor.


"Apa itu baput?" tanya Eno bingung.


"Baput itu bawang putih, sayang!" jawab Agam.


Eno yang mendengar kata sayang langsung membulatkan matanya.


"Sejak kapan aku jadi sayang kamu?" tanya Eno dengan wajah jutek.


"Ehh, emang tadi aku ngomong apa?" Agam menjawab pertanyaan Eno dengan pertanyaan.


"Barusan!" teriak Eno.


Eno mulai mengupas bawang kemudian menguleknya. Masih dengan wajah sekusut kertas ujian yang dirmas. Tak berapa lama, bawang tersebut sudah halus. Eno menyodorkan cobek berisi bawang pada Agam.


Agam mengambilnya, dilanjutkan dengan mengoleskannya pada ikan yang sudah ditiriskan sejak tadi. Setelah semua ikan sudah terbaluri, Agam langsung memasukkan ikan tersebut ke dalam teflon.


Niat hati ingin memasak ikan berkuah, tidak tahunya malah dipanggang karena rasa yang kurang pas.


Mereka berdua tampak kompak memasak ikan gagal tadi. Mereka terlihat sering melemparkan candaan, sehingga orang yang tidak tahu akan mengira mereka sepasang suami istri.


"Coba cicipi!" kata Agam sambil menyodorkan secuil ikan pada Eno.


Eno langsung membuka mulutnya, karena tangan Agam menuju ke mulutnya. Eno mulai mengunyah dan mengetes seperti apa rasanya.


"Hmmm, yummy!" kata Eno sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Gimana, sudah layak untuk dimakan belum?" tanya Agam, sambil memindahkan ikan ke dalam piring.


"Sudah! Sudah mantap." jawab Eno.


"Wokeeh! Kita makan dulu!" jawab Agam sambil membawa piring berisikan ikan menuju meja makan.

__ADS_1


"Mas Agam belajar masak dari siapa sih?" tanya Eno sambil menyendok nasi.


"Nggak pernah belajar, kalau laper nggak ada makanan mateng ya dimasak. Coba-coba aja, lama-lama bisa." jawab Agam sambil mengambil piring yang disodorkan oleh Eno.


Agam yang sejak kecil hidup serba pas-pasan sudah terbiasa masak sendiri. Apalagi jika kerjaan ibunya banyak, dia akan membuat makanan sendiri untuk mengganjal perutnya. Jadi tidak heran jika dia pintar masak, apalagi sebagai prajurit masak adalah hal biasa bagi mereka. Jika mereka sedang latihan di dalam hutan, mau tidak mau mereka harus bisa memasak. Orang yang awalnya tidak bisa memasak pun jika sudah menjadi prajurit pasti bisa memasak, walaupun ala kadarnya saja.


"Hmm... enak banget!" jerit Eno begitu ikan bakar buatan Agam masuk ke dalam mulutnya.


Dengan mulut penuh, Eno berkata sambil mengunyah. Seolah-olah baru pertama makan ikan bakar. Ikan bakar hasil daur ulang masakan buatan Agam memang enak. Eno terus menjejali mulutnya dengan ikan bakar dengan sambal matah.


Agam yang melihat Eno makan dengan lahapnya, hanya tersenyum tipis. Melihat begitu banyaknya ikan yang dimasak, Agam berpikir untuk membaginya pada para karyawan Eno.


"Ngng... En! Ikan segini banyak mana habis kita makan berdua. Bagaimana kalau kita bagi juga ke anggota kamu?" tanya Agam hati-hati, agar tidak menyinggung perasaan Eno.


"Mana habis kita itu, mas! Nanti habis makan aku panggil mereka buat ke sini." jawab Eno masih menikmati ikan bakar buatan Agam.


Mereka berdua melanjutkan makan malam dalam keheningan. Setelah selesai makan, Eno membiarkan makanan itu di meja. Eno meninggalkan meja makan, untuk memanggil para karyawannya. Eno memanggil mereka menggunakan mik yang dihubungkan dengan speaker kecil di lantai dua bangunan toko.


"Reni, Wulan, Sari, Leli! Turun sekarang juga!" teriak Eno.


Suara Eno yang tiba-tiba menggelegar di ruangan itu, membuat semua karyawan Eno terkejut. Mereka yang saat ini masih menyiapkan makan malam, langsung bergegas menuju bangunan tempat tinggal Eno.


Eno memang memisahkan bangunan toko dengan rumah yang ditinggalinya. Eno menginginkan privasinya tidak ada yang mengganggu.


Tak lama kemudian para karyawan Eno datang dengan penampilan yang berantakan. Ada yang masih memakai celemek, ada yang wajahnya penuh dengan tepung, dan ada juga yang membawa ulekan penuh cabe.


Agam dan Eno yang melihat keempat karyawan itu langsung tertawa.


"Buahahaha..."


"Kalian tadi ngapain?" tanya Eno menahan tawanya.


"Kami masih memasak untuk makan malam kami, mbak." jawab Leli, memakai celemek.


"Kalian masak apa, kompak bener?!" ucap Agam, menatap mereka satu persatu.


"Kami mau buat mendoan, terus sayur bening bayam sama sambel tomat." jawab Reni dengan wajah penuh tepung.


"Sudah mateng belum masakan kalian?" tanya Eno, kembali ke mode garang seperti tadi pagi.


"Sayur bening bayam sudah masak, mbak! Terus sambelnya masih diulek sama Wulan. Mendoannya belum masak, masih dipotong. Tepungnya juga baru diadon sama Reni." jawab Leli, menjelaskan kegiatan mereka barusan.

__ADS_1


__ADS_2