
"Masa lalu itu kenangan jadi dia tidak bisa dibuang atau dipisahkan dari kehidupan kita. Untuk melupakan masa lalu pun kita tidak bisa, karena masa lalu adalah bagian dari hidup." ucap Agam setelah keheningan menyelimuti.
Eno terdiam mendengar kata-kata Agam. Kata-kata yang nyata kebenarannya.
"Masa lalu biarlah masa lalu, jangan kau ungkit, jangan ingatkan aku." Eno berdendang mendengar kata-kata Agam.
"Hahaha." Agam tergelak mendengar Eno bernyanyi. Suasana yang tadinya beku, cair seketika karena nyanyian Eno.
Eno hanya tersenyum tipis saja karena malu. Dia tadi hanya spontanitas saja ketika Agam mengatakan tentang masa lalu. Jiwa dangduters Eno meronta-ronta jika tidak disalurkan.
"Jelek ya suara Eno. Maklumlah mas, Eno bukan penyanyi." ucap Eno malu-malu.
"Bagus kok! Kenapa nggak jadi penyanyi saja?" kata Agam memuji suara Eno.
"Apanya yang bagus? Suara kek kaleng jatuh gitu bagus." jawab Eno merendah.
"Besok aku bawa gitar kalau ke sini lagi. Kita duet ya, aku yang main gitar kamu yang nyanyi." kata Agam sambil menatap mata Eno.
Eno yang kebetulan tidak sengaja menatap mata Agam langsung menundukkan kepalanya.
Agam memperhatikan wajah Eno.
"Manis!" gumam Agam.
"Apa mas?" tanya Eno yang kurang jelas mendengar suara Agam.
"Eh... enggak! Kopinya manis seperti yang buat." ucap Agam sambil menganggukkan kepalanya.
"Hahaha, mas Agam lucu. Eno bukan gula, jadi nggak manis." jawab Eno sambil tertawa.
Saat tertawa lepas seperti itu, lesung pipi dan gigi gingsul Eno tampak, sehingga menambah cantik wajahnya.
Agam yang awalnya belum menaruh hati pada Eno pun akhirnya kesengsem melihat tingkah Eno. Semua yang Eno lakukan selalu spontanitas dan natural. Agam merasa hidupnya lebih hidup lagi setelah mengenal Eno.
Awal mula perkenalan yang selalu diingat Agam karena Eno yang ceplas-ceplos. Awalnya Agam kurang menyukai Eno, karena menurut Agam kurang tepat, tidak pada tempatnya. Tapi setelah mengenal lebih dekat lagi, ada rasa nyaman hadir diantaranya.
"Emang yang manis gula saja?" tanya Agam dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Ya nggak gitu juga sih! Tapi..." jawab Eno malu, dia menautkan kedua tangannya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Tapi apa hmm?" tanya Agam mendekatkan wajahnya ke wajah Eno.
Agam hanya bermaksud menggoda Eno saja, apalagi wajah Eno sudah seperti kepiting rebus. Eno semakin gugup ketika wajah Agam hanya berjarak beberapa centimeter saja.
"Apa, hmm? Kok nggak dijawab?" tanya Agam tanpa merubah posisi duduknya.
"Ishhh, mas Agam pulang saja gih! Eno mau mandi, udah jam lima lewat ini." kata Eno mencari alasan agar dia bisa menjauh dari Agam.
Eno tidak menyangka jika Agam yang selalu memasang wajah datar, bisa membuatnya jantungan.
"Iya, saya pulang! Tapi lain kali kita duet ya." kata Agam akhirnya.
Agam langsung menegakkan tubuhnya, kemudian meninggalkan Eno.
Eno menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jantungnya tidak baik-baik saja saat ini. Padahal dia selama ini hanya menganggap Agam hanya sebatas teman saja. Walaupun kadang dia sering menggodanya, tapi tidak pernah sedikitpun terpikir oleh Eno untuk memilikinya.
Selama ini Eno menggoda Agam karena bukan bermaksud mencari simpati, tapi karena Eno suka iseng dan jahil. Banyak laki-laki di luar sana yang Eno jahili, dan Ary tahu itu. Setiap melihat kelakuan Eno yang jahil, Ary selalu mengatakan, "Bukan Eno kalau tidak jahil!"
Sepeninggal Agam, Eno membereskan gelas dan kue yang ada di atas meja. Eno meletakkannya di meja makan, kemudian menuju kamarnya.
Hari berikutnya di malam hari...
Agam kembali menyambangi rumah Eno, seperti janjinya, dia membawa sebuah gitar sebagai temannya.
"Ehemmm." Agam berdehem begitu dekat dengan kerumunan empat orang gadis yang sedang asik bercengkrama di teras.
Para gadis itu langsung menoleh karena mendengar suara seorang laki-laki. Para gadis itu adalah karyawan yang bekerja di toko pertanian milik Eno. Mereka tidak hanya melayani pembeli di toko, tapi mereka juga mengurus rumah bersama. Para karyawan itu diminta tinggal bersama di sana.
Eno menempati bangunan rumah tersendiri, sedangkan para karyawan tinggal di lantai dua bangunan toko. Bangunan gudang toko berada di bagian belakang. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 1 hektar itu, terdiri banyak bagian yang disekat seperti kamar. Ruangan itu memiliki fungsi yang berbeda. Bangunan itu memiliki gudang stok barang yang sangat luas. Selain itu terdapat juga gudang untuk barang rumah tangga. Kamar untuk karyawan di lantai dua pun cukup untuk menampung semua karyawan Eno.
"Ehh, ada tamu! Masuk aja, pak! Mbak Eno lagi sholat keknya." sapa salah seorang karyawan Eno.
"Saya tunggu di sini saja." jawab Agam dengan datar.
Saat ini Agam memakai pakaian santai, sehingga membuat semua karyawan Eno yang masih gadis seperti melihat pangeran turun dari kahyangan.
__ADS_1
"Ganteng banget!" pekik salah satu dari mereka.
"Pasti perutnya kotak-kotak seperti roti sobek!" karyawan yang lain menyahut.
"Iya! Dari mana mbak Eno dapat yang bening kek gini ya." sahut temannya.
"Kalau mbak Eno nggak mau, aku siap kok menampung." ucap teman yang lainnya dengan mata berbinar.
Eno segera keluar begitu mendengar suara ribut di teras. Keributan para karyawannya yang saling bersahutan sangat mengganggunya. Eno penasaran siapa laki-laki yang dipuji oleh para karyawannya.
"Kok ribut ada a-" Eno terkejut melihat Agam sudah duduk manis sambil tersenyum ke arahnya.
Eno tidak menyangka jika Agam akan kembali lagi, menepati janjinya membawa gitar. Walaupun Eno belum merasakan adanya getaran di hatinya, Eno akan berusaha membuka hatinya untuk Agam. Tapi bayangan Dzaky selalu memenuhi hati dan pikirannya, sehingga Eno sering melupakan hal tentang Agam.
"Hai!" sapa Agam masih dengan senyum manisnya sambil memeluk gitar.
"Oh, hai! Sudah lama?" tanya Eno dengan jantung berdegup kencang.
"Belum, baru saja sampai kok." jawab Agam.
Eno meminta salah satu karyawannya untuk menyiapkan minum dan cemilannya.
"Mas Agam nggak ada kegiatan malamkah? Kok jam segini sudah sampai di sini?" tanya Eno basa-basi, sambil duduk di kursi depan Agam.
"Kan kemarin sudah janji mau datang bawa gitar, kita duet." jawab Agam dengan tangan memainkan kunci gitarnya.
"Dih! Padahal sudah dibilang suara Eno jelek juga." ucap Eno kesal.
"Duet sama aku aja mas, aku mau kok!" sahut karyawan Eno kecentilan.
"Aku juga mau! Siapa sih yang mampu menolak pesona mas ganteng?" sahut karyawan Eno yang lain.
Dua orang gadis keluar dari rumah, masing-masing membawa satu nampan minuman dan satu nampan berisi kue kering.
"Waahhh, mas ganteng pinter main gitar! Mau dong nyanyi diiringi petikan gitar mas ganteng." kata karyawan Eno yang membawa nampan berisi kopi.
"Tuh, sudah banyak yang mau nyanyi diiringi petikan gitar mas Agam!" kata Eno cemberut.
__ADS_1
Eno merasa kesal karena tiba-tiba karyawannya kecentilan semua pada Agam. Ada rasa tidak rela melihat Agam dirayu wanita lain. Padahal selama ini dia yang sering menggoda cogan, tapi malam ini dia hanya bisa melihat cogan digoda karyawannya.
Karyawan Eno mulai nyanyi bersama dengan diiringi petikan gitar Agam bak paduan suara. Eno hanya menjadi penonton dengan wajah seperti kertas yang diremas dalam genggaman tangan.