MENIKAHI DUREN ANSA

MENIKAHI DUREN ANSA
MDA 2. Rebutan


__ADS_3

Eno langsung dibawa ke ruang bersalin untuk diperiksa.


"Baru pembukaan 5!" kata bidan yang memeriksa Eno.


"Masih lama lagi?" tanya Agam sambil menggenggam jemari Eno.


"Lama atau tidaknya tergantung kondisi bayi. Sebentar lagi dokter kandungan akan datang. Beliau masih di jalan. Jadi bapak dan ibu sabar dulu!" kata bidan itu.


"Kamu ini sudah berapa lama menangani kek gini? Kenapa tidak tahu?!' tanya Eno kesal mendengar jawaban bidan yang menanganinya.


Agam yang melihat kekesalan Eno hanya bisa mengusap lengan Eno, untuk meredakan amarahnya. Agam tahu Eno marah karena rasa sakit yang menyerangnya.


"Sebaiknya ibu tenang dulu, simpan tenaga ibu untuk nanti!" jawab bidan itu ketus sambil berjalan meninggalkan Eno dan Agam.


Di ruangan itu masih tersisa seorang perawat sedangkan menyiapkan peralatan medis untuk persalinan.


Agam mengelap keringat di kening Eno, sesekali Agam juga mengusap kepala istrinya itu. Saat ini sudah mulai terdengar suara adzan Subuh berkumandang samar karena letak masjid yang jauh dari rumah sakit. Musholla di rumah sakit masih sepi.


"En, aku tinggal sholat sebentar ya?" ucap Agam meminta ijin istrinya karena Eno cuma berdua dengannya.


"Jangan! Aku takut mas, nggak ada yang temani aku di sini," jawab Eno sambil mengeratkan genggamannya pada tangan Agam.


Agam pun kebingungan mencari perawat yang tadi di ruangan itu. Dia tidak sadar jika perawat yang tadi sudah keluar.


"Aku cari perawat yang tadi dulu ya, sebentar!" kata Agam melepaskan genggaman tangan Eno.


"Aku nggak mau ditinggal sendirian di sini!"jawab Eno lirih.


Saat Agam dan Eno berdebat, seorang dokter laki-laki berjalan mendekati ruangan itu diikuti oleh perawat yang tadi di ruangan itu.


"Selamat pagi, Pak! Bu!" sapa dokter yang akan menangani persalinan Eno.


"Pagi, Dok!" sahut Agam dan Eno bersamaan.


"Bagaimana Bu? Sudah sering mulasnya?" tanya dokter Adrin, nama dokter spesialis kandungan itu.


"Masih satu jam sekali, Dok. Tapi sakitnya semakin lama, tidak seperti sebelumnya." jawab Eno sambil meringis menahan nikmatnya akan jadi seorang ibu.


"Apa saat ini terjadi kontraksi lagi?" tanya dokter Adrin lagi.

__ADS_1


"Iya, Dok! Mulai terasa lagi." jawab Eno sambil mencengkram kuat lengan Agam.


Agam pun ikut meringis menahan sakit di lengannya. Tapi Agam merasa itu belum seberapa dibandingkan dengan rasa sakit yang dirasakan Eno saat ini. Salah satu tangannya yang terbebas Ia gunakan untuk mengusap kepala Eno dengan penuh kasih sayang.


Saat dokter Adrin selesai bertanya pada istrinya tapi masih di ruangan itu, Agam memberanikan diri untuk menitipkan istrinya pada sang Dokter.


"Maaf, Dok! Saya mau minta tolong sebentar. Tolong temani istri saya, saya mau ke mushola." ucap Agam pada dokter Adrin.


"Oh, bisa! Nanti biar suster yang menemani istri Bapak di sini." jawab dokter Adrin.


Senyum Agam langsung terbit begitu mendapat jawaban dari dokter Adrin. Agam merasa tenang karena ada yang menemani istrinya saat dia menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Terima kasih, Dok!" ucap Agam sambil menjabat tangan dokter Adrin sebagai ungkapan terima kasih.


"Sama-sama, Pak!" jawab dokter Adrin tersenyum.


Dokter Adrin menoleh pada perawat yang mendampinginya.


"Sus, tolong temani Ibu..." kata dokter Adrin yang tidak mengingat nama pasiennya.


"Eno!" jawab Agam dan Eno kompak.


Agam pun meninggalkan Eno bersama perawat setelah mencium kening dan pipi Eno.


"Jangan lama-lama!" teriak Eno ketika Agam berada di gawang pintu.


Agam langsung mengacungkan jempolnya ke arah Eno sambil berlalu.


Agam menghubungi Ibu dan mertuanya setelah selesai melakukan sholat Subuh di mushola. Dia mengatakan jika Eno akan melahirkan cucu mereka.


Agam kembali ke ruangan dimana Eno berada saat ini. Eno mulai tenang dan mengantuk. Agam pun berjalan pelan-pelan mendekati Eno. Perawat yang menemani Eno pun meninggalkan ruangan itu saat tadi dilihatnya Agam membuka pintu ruangan.


"Saya permisi, Pak!" ucap si perawat.


Agam menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih pada perawat tersebut.


Tiga jam kemudian...


Eno semakin merasa sakit yang intens. Agam sebagai tempat menyalurkan rasa sakitnya. Dia terus mencengangkan lengan Agam tanpa mau melepaskannya. Tidak hanya itu saja, dia bahkan mencakar lengan berotot Agam. Agam hanya bisa menahan sakit bekas cakaran Eno.

__ADS_1


"Sakiittt Dok! Rasanya seperti di ujung batas." teriak Eno dengan keringat dingin sebesar jagung membasahi keningnya, cengkeramannya pun semakin kuat.


Dokter Adrin pun akhirnya memeriksa jalan lahir.


"Eh, Dok! Istri saya mau diapain, kok dipegang itunya?" tanya Agam dengan mata melotot, dia tidak rela surga miliknya disentuh oleh laki-laki lain.


Maklum saja, dulu sewaktu istri pertama melahirkan dia terlambat datang. Anita tinggal bersama orang tuanya sedangkan Agam dinas di luar kota. Agam sampai di rumah sakit saat istrinya sudah tidak bernyawa, akibat pendarahan hebat pasca melahirkan.


"Kepalanya sudah tampak!" kata dokter Adrin.


"Suster!" sambungnya, kemudian dua orang perawat yang menjadi asistennya datang membantu dokter Adrin.


Tak lama kemudian terdengar suara merdu tangis bayi laki-laki. Bayi itu dibersihkan perawat kemudian diletakkan di dada Eno untuk IMD. Bayi dan Eno dibiarkan bertelanjang agar bisa skin to skin. Eno dan Agam menangis bahagia atas kelahiran buah hati mereka. Agam pun mengadzani putranya yang masih telungkup di dada istrinya.


***


Orang tua Eno dan ibunya Agam datang setelah beberapa jam Eno melahirkan. Jarak yang jauh membuat mereka terlambat datang.


"Mana cucu Mama?" teriak Marini begitu masuk ke ruang rawat Eno.


"Cucuku!" sahut bu Warni tak mau kalah.


Kedua nenek itu saling berebut cucu yang saat ini sedang tertidur pulas di dalam boxnya. Mereka berebut siapa yang duluan menggendong bayi merah itu.


Agam dan pak Mundarman hanya geleng kepala melihat tingkah dua nenek tersebut. Sedangkan Eno masih tertidur di ranjangnya karena kelelahan sehabis melahirkan tadi.


"Siapa nama cucu Mama, Gam?" tanya mertua Agam, Marini.


"Iya, Gam! Sudah dikasih nama 'kan cucu Ibu?" kata Bu Warni tidak mau kalah.


"Richard Wicaksana!" jawab Agam mantap. (Sesi pertama nama Richard disebut saat dibawa ke rumah Ary dan saat Reuni)


"Nama yang bagus, Papa setuju!" sahut pak Mundarman, papa Eno.


"Iya, Mama juga suka! Bagus namanya. Siapa yang pilih?" kata mama Eno.


"Eno, Ma!" jawab Agam, Bu Marini mengangguk saja.


"Richard! Susah Ibu mengucapkannya. Lidah Ibu, lidah wong ndesa! Angel wis angel!" ucap bu Warni cemberut.

__ADS_1


Bu Warni berharap nama cucu-cucunya mudah dilafalkan tapi menantunya memilih nama yang susah.


__ADS_2